NovelToon NovelToon
Target Di Balik Gerobak Penyamaran Sang Komandan

Target Di Balik Gerobak Penyamaran Sang Komandan

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Dokter / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:38.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

​"Nikahi aku, Abang Tukang Bakso!"
​Demi menyelamatkan warisan Rumah Sakit dari ibu tiri yang kejam, Dokter Airine Rubyjane nekat menikahi Nata, pria penjual bakso di depan RS-nya. Airine pikir Nata hanyalah rakyat jelata yang mudah ia kendalikan.
​Namun, ia salah besar. Di balik celemek berminyak itu, suaminya adalah Arnold Dexter, Komandan Intelijen legendaris yang sedang dalam misi penyamaran mematikan.
​Satu per satu musuh Airine tumbang secara misterius. Saat cinta mulai tumbuh, Airine menyadari bahwa pria yang ia anggap "miskin" itu adalah predator paling berbahaya di negara ini yang sedang mengincar rahasia gelap kakeknya.
​"Aku bukan sekadar tukang bakso, Istriku. Aku adalah alasan musuhmu takut pada malam hari."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Dinginnya Ujung Belati

​Langkah kaki Airine bergema di lorong sempit yang menghubungkan restoran The Pier dengan deretan gudang tua di belakangnya. Udara di sini terasa berbeda; lembap, berbau garam laut, dan sangat sunyi. Reo berjalan di depannya dengan langkah cepat, punggungnya tampak tegang.

​"Reo, berhenti! Di sini tidak ada kantor. Kamu mau membawaku ke mana?" Airine berhenti melangkah, tangannya mencengkeram tas kecilnya erat-erat.

​Reo berbalik. Wajahnya yang biasanya tampak rapi dan berwibawa kini terlihat kacau di bawah lampu neon yang berkedip-kedip. "Masuk saja, Airine. Aku hanya ingin kita bicara tanpa gangguan tukang bakso itu. Kamu tahu betapa aku membencinya, kan?"

​"Aku tidak peduli apa yang kamu benci!" teriak Airine. "Katakan apa yang ingin kamu katakan sekarang, atau aku pergi!"

​Reo tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat tidak sehat. Ia melangkah mendekati Airine, membuat wanita itu mundur hingga punggungnya menabrak pintu besi gudang sektor C. "Kamu selalu keras kepala. Sama seperti ibumu. Dan lihat apa yang terjadi padanya? Dia mati dalam kesendirian karena terlalu sombong untuk menyerahkan apa yang bukan miliknya."

​Wajah Airine memucat. "Apa maksudmu membawa-bawa Ibu? Reo, kamu tahu sesuatu tentang kematian Ibuku, kan?"

​"Aku tahu semuanya, Airine," desis Reo. Ia kini hanya berjarak beberapa senti dari wajah Airine. "Aku tahu zat apa yang masuk ke dalam infusnya malam itu. Aku tahu siapa yang mematikan kamera pengawas di lantai empat. Dan aku tahu... bahwa kamu akan segera menyusulnya jika kamu tidak menyerahkan hak kelola RS itu padaku malam ini."

​"Kamu... kamu membunuh Ibuku?" suara Airine bergetar hebat. Air mata kemarahan mulai menggenang. "Bajingan! Kamu yang membunuhnya!"

​Airine mengangkat tangannya hendak menampar Reo, namun pria itu menangkap pergelangan tangannya dengan kasar. "Jangan berani-berani, Airine! Sekarang, masuk ke dalam!"

​Reo mendorong pintu besi itu hingga terbuka. Di dalam, ruangan itu remang-remang, hanya diterangi oleh lampu dari beberapa kontainer farmasi. Di sudut ruangan, dua pria bertubuh besar dengan tato kobra di leher mereka sudah menunggu.

​"Tuan Reo, Anda terlambat lima menit," ucap salah satu pria itu sambil memainkan sebilah pisau lipat.

​"Bawa dia ke dalam," perintah Reo dingin, mengabaikan rontaan Airine.

​Namun, sebelum pria bertato itu sempat menyentuh Airine, sebuah bayangan bergerak sangat cepat dari arah kegelapan langit-langit gudang.

​BUK!

​Sebuah kaleng bekas yang dilempar dengan akurasi mematikan menghantam pergelangan tangan pria berpau itu hingga pisaunya terlepas.

​"Siapa di sana?!" teriak Reo panik, matanya liar menyapu kegelapan.

​"Lima menit sudah lewat, Dokter Reo. Dan istrimu tidak keluar seperti yang kujanjikan."

​Suara itu tenang, namun berat dan menggetarkan nyali. Nata muncul dari balik tumpukan peti kayu. Ia masih mengenakan kemeja hitam yang tadi, namun kancing atasnya sudah terbuka, menampakkan kalung rantai perak yang menggantung di lehernya—sebuah alat enkripsi yang disamarkan.

​"Nata! Pergi dari sini! Mereka punya senjata!" teriak Airine, meski di dalam hati ia merasa secercah harapan.

​Nata melangkah maju perlahan, seolah sedang berjalan-jalan di pasar. "Senjata? Maksudmu mainan kecil itu?"

​"Hajar dia!" perintah Reo pada dua anak buah Tuan Shen.

​Kedua preman itu menerjang. Nata tidak lari. Ia justru maju menyongsong mereka. Gerakannya sangat efisien—setiap pukulan yang ia lepaskan mendarat di titik saraf yang membuat lawannya lumpuh seketika. Airine hanya bisa menonton dengan mulut ternganga. Ia melihat Nata menghindari sabetan pisau hanya dengan pergeseran kaki yang sangat tipis, lalu membalas dengan pukulan upper-cut yang membuat preman kedua terkapar tak sadarkan diri.

​Reo gemetar. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah pistol kecil. "Berhenti, atau aku tembak wanita ini!"

​Reo menarik Airine dan menempelkan moncong pistol ke pelipisnya. Airine membeku, napasnya tertahan.

​Nata berhenti melangkah. Matanya yang biasanya datar kini berubah menjadi sangat gelap, seperti jurang yang tak berdasar. "Reo, letakkan benda itu sebelum aku benar-benar marah."

​"Kamu? Marah? Memangnya tukang bakso sepertimu bisa apa?!" teriak Reo histeris. "Aku punya senjata! Aku punya kekuasaan! Kamu hanya sampah!"

​Nata tertawa pelan, tawa yang membuat bulu kuduk Reo berdiri. "Kamu tahu, Reo? Orang sepertimu terlalu banyak bicara. Kamu bilang kamu tahu zat apa yang membunuh Ibu Airine? Aku juga tahu. Itu adalah succinylcholine dosis tinggi yang disamarkan dalam antibiotik. Dan aku tahu siapa yang memesannya dari pasar gelap luar negeri."

​Reo tertegun. "Bagaimana... bagaimana kamu bisa tahu detail itu?"

​"Karena aku sudah memperhatikanmu sejak lama," ucap Nata. Tiba-tiba, ia menyentuh jam tangannya. "Matikan lampu."

​KLIK.

​Seluruh gudang menjadi gelap total dalam sekejap. Airine merasakan tarikan di lengannya. Ia ditarik ke belakang, ke dalam pelukan yang terasa sangat aman dan keras seperti baja.

​"Jangan bersuara," bisik suara Nata tepat di telinganya.

​Terdengar suara tembakan yang melesat ke arah tembok, disusul suara teriakan kesakitan Reo. Airine hanya bisa mendengar suara benturan fisik yang sangat cepat. Tak sampai satu menit, lampu kembali menyala.

​Reo sudah terkapar di lantai dengan tangan terkilir ke belakang. Pistolnya sudah berada di tangan Nata—yang kini memegangnya dengan cara yang sangat profesional, seolah senjata itu adalah bagian dari tangannya.

​"Nata... kamu..." Airine menatap suaminya dengan takjub sekaligus takut. "Kamu bisa menggunakan pistol?"

​Nata segera menyadari tatapan Airine. Ia melempar pistol itu ke lantai dengan wajah muak, lalu kembali memasang wajah "Bang Nata" yang panik. "Eh? Tadi... tadi aku cuma rebut saja, Dok! Terus aku pukul tangannya pakai teknik yang aku lihat di film laga! Wah, ternyata pistol beneran berat ya?"

​Airine tidak bodoh. Ia melihat cara Nata memegang senjata tadi. Itu bukan gaya amatir. "Nata, jangan bohong padaku. Tadi itu bukan gerakan orang yang nonton film."

​Nata menggaruk kepalanya, mencoba mencari alibi. "Aduh, Dok... kan aku sudah bilang, aku dulu debt collector. Kerjaanku ya begini, rebutan barang sama preman. Sudahlah, yang penting Dokter aman. Lihat, si pengecut ini sudah pingsan."

​Airine menatap Reo yang tak berdaya, lalu menatap Nata lagi. Ia ingin bertanya lebih banyak, tapi kepalanya terasa sangat pening karena ketegangan tadi. "Kita harus lapor polisi, Nata. Dia mengaku membunuh Ibuku."

​"Polisi akan ke sini, aku sudah menelepon mereka tadi lewat jam tanganku yang punya fitur SOS," ucap Nata, lagi-lagi memberikan alasan teknis. "Ayo kita keluar dari sini sebelum teman-temannya yang lain datang."

​Nata menuntun Airine keluar dari gudang. Namun di pintu keluar, Nata berhenti. Ia menoleh ke arah kegelapan di atas kontainer, memberikan kode jempol ke bawah yang hanya bisa dilihat oleh tim intelijennya yang bersembunyi di sana.

​Berikan Reo pada polisi, tapi pastikan dia tidak bicara soal aku, perintah Arnold lewat sinyal mata.

​Saat mereka kembali ke mobil, Airine terus diam. Ia melihat tangan Nata yang sedikit berdarah di bagian buku jari. Tanpa sadar, Airine meraih tangan itu dan mengusapnya pelan.

​"Terima kasih, Nata. Sekali lagi, kamu menyelamatkanku," ucap Airine tulus.

​Nata menatap tangannya yang dipegang Airine, lalu tersenyum tipis. "Sama-sama, Istriku. Tapi ingat, besok jangan potong gajiku ya gara-gara aku merusak kemeja ini."

​Airine tersenyum kecil, namun di dalam hatinya, kecurigaannya semakin besar. Siapa kamu sebenarnya, Nata? Tukang bakso, debt collector, atau... pelindung yang dikirim dari langit?

​Tanpa Airine ketahui, di saku belakang Nata, ada sebuah kartu memori berisi rekaman suara pengakuan Reo tadi. Bukti yang akan ia gunakan bukan hanya untuk menjebloskan Reo ke penjara, tapi untuk memancing Tuan Shen keluar dari persembunyiannya.

...****************...

1
Erna Ladi Yanti
luar biasa
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Erna Ladi Yanti
mc berada di tengah2 keluarga yang kapan saja bisa melenyapkannya tapi mc nya sangat lemah dan kapan saja bisa terbunuh,ini gimana si thor.
Ariska Kamisa: di awal dia masih syok gitu kak, seiringnya berjalan waktu dia menerima dan mulai berani menunjukan kelebihannya. 🙏🙏🙏🙏🙏
maaf kalo kurang sempurna yaa... 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Ika Fitri Ana
bagus semuanya...sampai baca berulang2 yang udah tamat
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak♥️♥️♥️♥️
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
bukannya Shen udah diamankan dan si kakek semalam pingsan apa banyak jalan keluar dari lubang bawah tanah semalam 🤔🤔
Ariska Kamisa: penjahat mah lebih pinter kak🤭🤣🤣
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
si kakak tiri jadi apa ya di RS🤔🤔
Ariska Kamisa: jadi pajangan doang kak 🤭🤭🤭🤭
benalu... 🤣
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
mampir lagi
Ariska Kamisa: terimakasih kak ♥️♥️♥️
total 1 replies
Ririn Nursisminingsih
lagian harta2 milik airin dasar orang2 serakahnmau mencuri harta yg bukan miliknya
Ariska Kamisa: iya ada aja ya manusia seperti itu...

eh, tapi terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Niken Dwi Handayani
Ternyata benang merahnya adalah para kakek😱
Niken Dwi Handayani
Ekor nya sudah tertangkap. Tinggal kepalanya yang belum 😤
Niken Dwi Handayani
lha.. Renata ga ditahan juga. malah dilepas
Ariska Kamisa: iya ... sabar ya beb🤭🙏🙏🙏
total 3 replies
Abinaya Albab
beneran sudah tamat ini
Ariska Kamisa: season 2 aku sudah buat draft kak ..
judulnya The silent shadow biar agak keren dikit soalnya bang nata naik level bukan tukang bakso lagi, karena kasus baru lebih elite bang nata jadi profesor Adrian. ini tentang marriage life gitu jadi agak ada panasnya dikit disamping menegangkan nya. 🙏🙏🙏🙏
total 3 replies
Pa Muhsid
terakhir kata otor mah harus dipertanyakan deh 😭😭😭
Ariska Kamisa: tenang Pa Muhsid... belum berakhir kok.. masih akan deg-degan .. gimana? siap ?
total 1 replies
Maria Yanti
msh adakah sambungannya atau sudah selesai alias tamat padahal seru skali
Ariska Kamisa: masih kak belum tamat
total 1 replies
Maria Yanti
sampe tegang sy bacanya seru banget critany.
Ariska Kamisa: masih dong kak... 🤭
total 1 replies
Abinaya Albab
beneran ini perang terakhir? duhhhh capek gk sih mereka baru mau bernafas lega ada lagi
Ariska Kamisa: betul sekali kakak... 🤭🤭🤭🤭🤭
total 5 replies
Abinaya Albab
baru ini aku baca novel yg tegangnya tak beesudahan... lanjut
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
kakek jahat ga
aditya rian
sekalian updatenya banyak dong soalnya jadi penasaran banget
aditya rian
keren arnold
aditya rian
jangan marah dong... di awal jug udh bilang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!