"Nikahi aku, Abang Tukang Bakso!"
Demi menyelamatkan warisan Rumah Sakit dari ibu tiri yang kejam, Dokter Airine Rubyjane nekat menikahi Nata, pria penjual bakso di depan RS-nya. Airine pikir Nata hanyalah rakyat jelata yang mudah ia kendalikan.
Namun, ia salah besar. Di balik celemek berminyak itu, suaminya adalah Arnold Dexter, Komandan Intelijen legendaris yang sedang dalam misi penyamaran mematikan.
Satu per satu musuh Airine tumbang secara misterius. Saat cinta mulai tumbuh, Airine menyadari bahwa pria yang ia anggap "miskin" itu adalah predator paling berbahaya di negara ini yang sedang mengincar rahasia gelap kakeknya.
"Aku bukan sekadar tukang bakso, Istriku. Aku adalah alasan musuhmu takut pada malam hari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Perburuan Sang Kobra
"Komandan, seluruh tim sudah berada di posisi. Sektor C telah dikepung. Tunggu perintah Anda untuk mendobrak."
Suara dari earpiece itu memecah kesunyian di dalam mobil SUV hitam yang melaju kencang membelah jalanan kota. Arnold Dexter—tidak ada lagi Nata di sana—duduk di kursi belakang dengan tatapan kosong yang mematikan. Ia sudah mengganti kemejanya dengan rompi taktis hitam. Di pangkuannya, sebuah senapan serbu tergeletak, siap memuntahkan timah panas.
"Tahan," sahut Arnold pendek. Suaranya dingin, tanpa intonasi. "Jangan ada yang bergerak sampai aku tiba di lokasi. Tuan Shen bukan tikus biasa yang bisa kalian tangkap dengan gertakan. Dia ingin bermain? Aku akan berikan neraka."
"Bagaimana dengan Nyonya Airine, Komandan? Tim Shadow melaporkan beliau masih mengurung diri di laboratorium."
Arnold memejamkan mata sejenak. Bayangan wajah Airine yang menangis histeris tadi melintas di benaknya, menusuk tepat di ulu hati. "Biarkan dia. Jangan biarkan siapa pun mendekat dalam radius lima puluh meter, termasuk staf rumah sakit. Jika ada satu helai rambutnya yang terluka karena kelalaian kalian, aku sendiri yang akan mengeksekusi kalian."
"Siap, Komandan!"
Mobil itu berhenti dengan decitan ban yang kasar di depan sebuah gudang tua di pinggiran dermaga—Sektor C. Lokasi yang disebut-sebut sebagai pusat distribusi Cobra-9. Arnold turun dari mobil, gerakannya taktis dan penuh perhitungan.
Di sana, di bawah lampu merkuri yang remang-remang, ia melihat sesosok pria berdiri di balkon lantai dua gudang. Tuan Shen. Pria itu memegang cerutu, tampak sangat tenang seolah sedang menunggu tamu lama.
"Arnold Dexter!" teriak Shen dari kejauhan, suaranya parau karena tawa. "Akhirnya kamu melepaskan celemek baksomu yang menjijikkan itu. Bagaimana rasanya kembali menjadi mesin pembunuh?"
Arnold melangkah maju ke tengah area terbuka, membiarkan dirinya menjadi sasaran empuk para penembak jitu Shen yang bersembunyi di kegelapan. "Turunlah, Shen. Jangan jadi pengecut di balik tembok itu. Kamu sudah menghancurkan laboratorium kakek Airine, sekarang giliran aku menghancurkan setiap tulang di tubuhmu."
"Oh, galak sekali," Shen menghisap cerutunya dalam-dalam. "Tapi apa istrimu tahu, Arnold? Apa dia tahu bahwa kakeknya, Edward Jane, adalah orang yang mendanai riset awal formula ini? Kakeknya adalah pencipta monster ini, dan kamu... kamu hanyalah anjing penjaga yang mencoba membersihkan kotorannya."
"Diam!" bentak Arnold. Ia mengangkat senjatanya, membidik tepat ke arah dahi Shen. "Kebenaran itu tidak akan mengubah fakta bahwa malam ini adalah malam terakhirmu menghirup udara."
"Kamu yakin?" Shen tersenyum licik. Ia mengangkat sebuah pemicu remot kecil di tangannya. "Aku sudah memasang sisa peledak di sistem pendingin rumah sakitmu. Satu klik, dan laboratorium tempat istrimu menangis sekarang akan meledak menjadi debu. Pilih, Arnold. Kepalaku, atau nyawa istrimu?"
Arnold membeku. Jarinya yang berada di pelatuk gemetar. Ini adalah situasi yang paling ia benci. Checkmate.
"Jangan lakukan itu, Shen," desis Arnold.
"Kalau begitu, lepaskan senjatamu. Masuk ke dalam sendirian. Kita bicarakan soal warisan Edward Jane seperti pria terhormat," tantang Shen.
Arnold melepaskan senjatanya ke tanah. Ia memberi kode tangan ke arah timnya di kegelapan untuk tetap diam. Ia mulai melangkah masuk ke dalam gudang, menuju jebakan yang sudah disiapkan.
...****************...
Sementara itu, di laboratorium, Airine masih terduduk di lantai. Isakannya sudah berhenti, digantikan oleh kekosongan yang dingin. Tiba-tiba, ia melihat sebuah berkas tua yang terjatuh dari balik lemari saat ia menabraknya tadi.
Sebuah map berwarna cokelat dengan stempel: "TOP SECRET - PROJECT COBRA".
Airine meraih map itu dengan tangan gemetar. Ia membukanya dan membaca baris pertama:
'Penanggung Jawab Proyek: Edward Jane.'
Mata Airine terbelalak. "Kakek...?"
Belum sempat ia mencerna informasi itu, lampu laboratorium mendadak padam. Suara sirene darurat berbunyi nyaring.
"Peringatan! Kebocoran gas terdeteksi di sektor laboratorium. Segera evakuasi!"
Airine terperanjat. Ia teringat kata-kata terakhir Arnold: "Misiku adalah memastikan kamu tetap bernapas sampai matahari terbit besok."
"Nata... Arnold... apa yang kamu lakukan?" bisik Airine panik. Ia menyadari bahwa Arnold mungkin sedang bertaruh nyawa di luar sana sementara ia terjebak di dalam konspirasi kakeknya sendiri.
...****************...