Aku hanyalah setetes air di tengah samudra luas.Melangkah di dunia ini semata-mata agar tetap merasa hidup.
Dengan pedang di tanganku, aku menolong mereka yang terjatuh.
Aku menebas musuh, menghabisi iblis, dan menghadang kegelapan.
Namun aku ragu…Mampukah aku menyelamatkan diriku sendiri?
Dengan kekuatan yang bahkan mampu menumbangkan naga,
Akulah legenda yang bangkit dari darah dan luka—Sang Legenda Naga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Monopoli Penderitaan
Desa itu bernama Lembah Sunyi, namun tak ada ketenangan di sana.
Yang ada hanyalah bau busuk kemiskinan yang menyengat dan debu kering yang menyesakkan dada.
Bangunan-bangunan kayu reyot berdiri miring seolah lelah menopang beban dunia.
Di sudut-sudut jalan, warga duduk bersandar dengan tulang rusuk yang menonjol, mata mereka cekung, menatap kosong ke tanah yang tak lagi memberi kehidupan.
Tidak ada suara tawa anak-anak, hanya isak tangis lemah yang terputus oleh batuk kering.
Tian Shan melangkah masuk dengan jubah hitamnya yang menyapu debu.
Capingnya sedikit terangkat, memperlihatkan tatapan kelabu yang sedingin es.
Di tengah jalan setapak, ia berhenti di depan seorang anak kecil yang duduk meringkuk, memeluk lututnya yang gemetar.
Tian Shan mengulurkan tangannya yang kasar. Bukan dengan kelembutan seorang penyelamat, melainkan dengan ketegasan seorang hakim.
"Inilah dunia, bukan?" suaranya rendah, nyaris berbisik namun tajam. "Tempat di mana napas adalah kutukan dan rasa lapar adalah satu-satunya teman yang setia."
Anak itu tidak mengerti filosofi pahit yang diucapkan pria di depannya.
Namun, insting bertahan hidup membuatnya meraih tangan dingin Tian Shan.
Ia bangkit dengan sisa tenaga, mengikuti bayangan hitam pria misterius itu menuju sebuah bangunan yang berdiri angkuh di tengah kemelaratan—rumah besar milik sang penguasa desa.
BRUUUK!!
Tanpa peringatan, satu tendangan dari kaki Tian Shan menghancurkan pintu kayu jati yang kokoh itu hingga menjadi serpihan.
Di dalam, pemandangan kontras tersaji: meja makan yang penuh dengan daging berlemak, tumpukan karung beras yang meluap, dan guci-guci arak berkualitas tinggi.
"SIAPA DI SANA?!" sebuah teriakan parau menggelegar dari lantai atas.
Seorang pria berperut buncit dengan pakaian sutra yang licin berlari turun.
Wajahnya merah padam saat melihat pintunya hancur dan seorang pengelana kotor membawa anak desa masuk ke wilayahnya.
"APA-APAAN KAU INI?! DATANG-DATANG MENGHANCURKAN PINTU ORANG!" teriaknya. Ia adalah sang Kepala Desa, penguasa kecil yang membangun kemewahan di atas nisan rakyatnya sendiri.
Tian Shan tidak membuang energi untuk berdebat. Dalam satu kedipan mata, ia sudah berada di depan pria itu.
Tangannya mencengkeram leher sang Kepala Desa, mengangkat tubuh tambun itu hingga kakinya menendang-nendang udara.
"Jelaskan!" desis Tian Shan. Tekanan jarinya membuat urat-urat di leher sang pejabat menonjol keluar.
Kematian terasa begitu dekat hingga sang Kepala Desa tersedak ludahnya sendiri.
Setelah merasa nyawa pria itu hampir putus, Tian Shan melepaskan cekikannya dengan kasar. Pria itu jatuh tersungkur, terbatuk-batuk mencari oksigen.
"Haah... haah... bajingan!" maki Kepala Desa itu sambil memegangi lehernya. "Walaupun kau mengancamku, aku tidak akan menjelaskan apapun kepada orang gila sepertimu! Aku lebih baik mati daripada—"
SHING!
Cahaya dingin melintas di udara. Tian Shan tidak membiarkan kalimat itu selesai.
Pedang besarnya terhunus dan kembali ke sarungnya dalam satu gerakan yang nyaris tak terlihat.
Detik berikutnya, kepala sang penguasa desa menggelinding di lantai kayu yang bersih, menyipratkan darah hangat ke wajah anak kecil yang berdiri di belakang.
"ARRGHHH!" Anak itu menjerit, jatuh terduduk dengan tubuh bergetar hebat.
Matanya membelalak ketakutan melihat kepala yang terpisah dari tubuhnya.
"Jangan takut," ucap Tian Shan tanpa menoleh. Ia berjalan ke meja makan seolah tidak terjadi apa-apa. "Inilah cara dunia bekerja. Yang kuat memakan yang lemah, dan yang lemah... menunggu giliran untuk mati. Aku hanya mempercepat prosesnya."
Tian Shan mengambil semangkuk sup yang masih mengepul, lalu menyodorkannya pada anak itu.
Di saat yang sama, ia menarik kursi, duduk dengan tenang, lalu meraih kepala yang tergeletak di dekat kakinya.
Dengan kekuatan Qi-nya, ia meremukkan tengkorak itu dalam genggaman tangannya hingga hancur berkeping-keping.
"Makanlah!" perintahnya datar.
Lantai itu kini menjadi genangan darah dan sisa-sisa kehidupan yang mengerikan.
Alih-alih merasa lapar, anak itu justru merasakan gejolak hebat di perutnya. Bau amis darah yang bercampur dengan aroma sup membuatnya mual.
"UEEKK!" Anak itu muntah, tubuhnya meringkuk ketakutan di sudut ruangan.
Tian Shan tetap diam. Wajahnya tidak menunjukkan amarah ataupun simpati.
Baginya, muntahan dan darah adalah dekorasi yang jujur dari dunia yang busuk ini. Ia berdiri, melangkah masuk ke ruang kerja Kepala Desa, dan menemukan tumpukan surat berstempel resmi.
Ia membaca salah satu surat dari Gubernur Kota Air Tenang. Isinya singkat dan kejam: Tingkatkan pajak lima kali lipat.
Siapa pun yang menolak, biarkan mereka mati kelaparan agar populasi tetap terkendali.
"Yang kaya memonopoli sumber daya, yang miskin memonopoli penderitaan." gumam Tian Shan.
Ia berjalan keluar dari rumah besar itu, berdiri di ambang pintu yang hancur.
Warga desa sudah berkumpul di luar, menatapnya dengan campuran antara harapan dan ketakutan yang mendalam.
Tian Shan mengangkat surat gubernur itu, lalu membiarkannya terbang ditiup angin.
"Kepala desa kalian sudah mati," suaranya menggema ke seluruh penjuru desa. "Sekarang, akulah kepala desanya. Siapa pun yang merasa keberatan... silakan maju dan jemput kematian kalian."
Tidak ada yang maju. Hanya ada keheningan yang mencekam saat mereka menyadari bahwa mereka baru saja menukar seorang tiran dengan sesosok iblis yang jauh lebih hampa.