NovelToon NovelToon
Jodoh CEO Lumpuh

Jodoh CEO Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Terpaksa Menikahi Suami Cacat / CEO
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Itsaku

Pernah sesekali terlintas untuk pergi dari dunia ini selamanya. Mengakhiri takdir yang telah digariskan, yang terkesan tak adil. Karena sudah terlalu lelah dengan semuanya. Akan tetapi hati kecilnya kerap berkata, 'Jangan...!!'

Hingga suatu ketika dia benar-benar tak ingin melawan lagi. Bahkan untuk protes saja tak bisa dia lakukan lagi. Karena menurutnya itu tidak akan mengubah apapun pada kehidupannya...
Karena ketidakadilan sudah terlanjur mendarahdaging dalam dirinya...
Menjalani semuanya, apapun itu. Hingga tiba waktunya. Itulah keputusan terakhirnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itsaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4. Tanda Itu...

"Tante..." Yumna memanggil Sasa seperti seorang anak yang sedang merajuk pada ibunya.

"Eh, Yumna. Ayo sarapan." sahut Sasa yang sedang mengoleskan selai kacang pada roti tawarnya.

"Tante..., aku butuh bantuan..." rengeknya dengan manja sambil duduk di kursi.

"Katakan saja." balas Sasa lagi.

"Hari ini adalah hari pertama aku ngajar private. Tapi aku ke sini nggak bawa baju ganti." adunya.

"Kita beli setelah sarapan, oke?" ujar Sasa memberi solusi.

"Apa keburu? Aku harus datang sebelum jam sembilan, lho..." sahut Yumna, yang khawatir tidak akan bisa memberi kesan baik di hari pertama kerja.

Sasa kemudian melihat jam tangannya. Sudah hampir jam 08:00, belum macetnya, belum dandannya. Sekalipun Yumna bukan tipe gadis yang suka berlebihan dalam bersolek, seperti gadis seumurannya. Tapi tetap saja akan butuh waktu yang lumayan panjang untuk bersiap. Apalagi di hari pertama kerja. Pandangan Sasa beralih pada dirinya sendiri, lalu menatap Yumna dari atas sampai bawah.

"Ikut Tante!"

Sasa menarik tangan Yumna. Membawa Yumna ke sebuah ruangan di bawah tangga. Ruangan itu seperti sebuah toko pakaian. Terdapat baju-baju tergantung dengan rapi dan berlapis plastik. Ada yang terlipat di dalam lemari juga. Semua itu adalah baju-baju milik Sasa yang sudah tidak terpakai. Sebagian sudah disumbangkan. Sebagian lagi laku di online shopnya. Jika ada teman, rekan kerja, atau bahkan asisten rumah tangganya yang membutuhkan, dia juga memberikannya dengan percuma.

"Bukan maksud Tante merendahkan kamu. Tapi kalau kita belanja dulu, takut tidak keburu kan. Kalau pakai baju tante yang sekarang, atau yang belum pernah Tante pakai. Pasti kebesaran di kamu. Jadi..."

"Tante, sudah!" sahut Yumna memotong ucapan tantenya.

"Aku tahu maksud Tante Sasa baik. Aku sangat berterimakasih." katanya lagi sambil memeluk Sasa.

"Kalau begitu. Pilih yang kamu mau. Lalu cepat bersiap, nanti Tante antar kamu biar tidak telat. Kamu harus memberi kesan terbaik di hari pertama." ujar Sasa.

"Seriusan aku boleh memakai ini?" tanya Yumna tak percaya.

"Tentu. Ambil semua yang kamu mau. Tante tunggu di meja makan." Jawab Sasa.

Karena pakaian itu sudah disusun sesuai kegunaannya. Yumna lantas menuju lemari kaca berisi barisan pakaian formal. Dia memilih yang paling sesuai dengan kriteria Aluna. Pilihan Yumna jatuh pada blouse lengan 7/8 warna biru pastel. Dipadukan dengan rok panjang plisket warna krem.

Setelah memastikan penampilannya sempurna, Yumna segera kembali bergabung dengan Sasa di ruang makan. Sasa memandang kagum pada Yumna. Bagaimana tidak, karena Yumna tidak pernah gagal dalam penampilannya. Selalu terlihat pantas, manis, dan tidak membosankan.

"Terkadang..., Tante berpikir kalau kamu tidak cocok menjadi anak mamamu. Entah bakat siapa yang kamu warisi..." celetuk Sasa tiba-tiba.

Karena menurut Sasa, Yumna tidak seperti mamanya yang selalu tampil heboh dengan barang bermerek. Meski terkadang terlihat tidak pantas. Yumna juga tidak seperti papanya yang gila bisnis. Entahlah...

"Kalau kata kakek, aku mirip nenek." sahut Yumna.

"Oh, begitu ya..." gumam Sasa. "Mama memang paling trendi pada masanya. Bahkan sekarang pun masih tak mau ketinggalan trend." imbuhnya sambil tersenyum.

"Dan Tante juga seperti nenek menurutku. Selalu tampil elegan dan cantik..." puji Yumna.

Deg...!!

Tiba-tiba saja dada Sasa terasa sakit. Seperti ada yang meremas-remas di dalam sana. Ketika Yumna mengucapkan kalimat itu. Sasa pun menghentikan aktivitasnya, yang sedari tadi sibuk dengan tabletnya. Dia menatap Yumna yang sedang menikmati sarapannya, dengan tatapan yang sulit diartikan.

___

Di kediaman Bu Kartika pagi itu. Bu Kartika sedang berbicara serius dengan putranya. Elbara Wiranata. Putra bungsunya yang baru saja pulang semalam.

"Bagaimana dengan yang kita bahas waktu itu?" tanya Bu Kartika.

"Maaf..., ma. Aku tidak bisa." jawab Elbara dengan datar, tanpa menatap sang mama.

Bu Kartika kemudian mendekati Elbara. Berjongkok sambil meraih tangan putranya itu.

"Nak..., sampai kapan kamu seperti ini? Masa depan kamu masih panjang." ujarnya.

"Kursi roda ini tidak akan mempengaruhi masa depanku." balasan itu membuat hati seorang ibu terasa sangat sakit.

"Bukankah mama lihat sendiri...? Selama dua tahun ini aku baik-baik saja. Dan tidak merepotkan siapapun." ujar Elbara menegaskan.

"Iya, mama tahu itu. Dan mama juga tahu alasan kamu tidak ingin melanjutkan pengobatan. Karena perempuan itu kan?" Bu Kartika kemudian berdiri.

"Jangan menyebutnya lagi, ma!" sahut Elbara tak suka.

"Nak..., sakit hatimu mungkin memang karena Felly. Tapi jangan pernah berpikir semua perempuan seperti dia. Mama yakin, suatu saat nanti. Pasti akan ada perempuan baik yang tulus mencintai kamu." tutur Bu Kartika yang masih enggan menyerah.

"Tulus itu omong kosong. Bahkan aku cacat pun, masih ada saja yang berusaha mendekatiku. Hanya untuk menunggu ajalku, dan memanfaatkan materi keluarga kita." katanya dengan sarkas.

"Aku melakukan ini, karena aku ingin menjaga mama dan Aluna dari orang-orang berhati busuk dan serakah." tandasnya sekali lagi.

"Demi mama dan Aluna juga." sahut Bu Kartika dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.

"Kita lanjutkan pengobatan kamu. Kita belum terlambat, nak..." katanya lagi.

Elbara menarik tangannya dari genggaman sang ibu tercinta. Kemudian memutar kursi rodanya ke arah pintu keluar.

"Ini kesempatan terakhir mama. Kalau sampai guru baru pilihan mama itu berulah. Maka aku akan membawa Aluna pergi bersamaku. Dan Mama tidak boleh lagi mencampuri apapun yang berhubungan dengan Aluna dan aku!!" kita Elbara dengan tenang, namun meninggalkan kesan mendalam bagi sang ibu.

Ucapan itu seperti sebuah ancaman yang semakin membuat Bu Kartika sakit hati. Sejak kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tua Aluna, dan membuat Elbara lumpuh. Elbara benar-benar berubah. Dan Bu Kartika tidak pernah bisa meluluhkan hatinya lagi.

Di luar ruangan itu, Elbara disambut oleh asisten pribadinya, Niko. Dia menyerahkan CV milik Yumna yang diberikan oleh Bu Kartika.

"Kamu tahu tugasmu!" ujarnya dengan dingin.

Niko tak banyak bicara, dia mengangguk dengan mantap karena sudah tahu harus melakukan apa.

"Papa...!!"

Suara yang selalu dia rindukan beberapa hari terakhir, akhirnya terdengar juga. Seorang gadis dengan dress merah berlari ke arah Elbara. Rambut yang dikuncir dua melambai-lambai mengikuti setiap langkah kecilnya.

"Cantik sekali tuan putri kecil ini..." ujar Elbara sambil mengangkat tubuh mungil Aluna ke pangkuannya.

"Kapan papa datang?" tanya Aluna.

"Semalam."

"Kenapa tidak menemui aku? Apa papa tidak merindukan aku?" celotehnya.

"Tentu saja sangat rindu. Tapi semalam Aluna sudah tidur. Papa tidak mau ganggu putri tersayang papa, dong..." Elbara kemudian mencium kening Aluna penuh kasih.

"Apa itu benar?" Aluna menoleh pada Vivi, Vivi pun mengangguk.

"Papa bawa hadiah buat kamu. Biar suster yang ambil." katanya lagi.

Tanpa menunggu instruksi, Vivi segera mengambil sebuah paperbag yang berada di atas meja.

Tak berselang lama bel, seorang ART datang bersama Yumna. Semua yang ada di sana menoleh ke arahnya.

......................

Yumna yang baru saja datang, merasakan suasana yang berbeda. Sedikit mencengkram, dibanding hari kemarin. Apalagi kedatangan Yumna disambut dengan tatapan dingin dari sosok pria yang duduk dikursi roda yang belum dia ketahui siapa. Sorot mata dan ekspresi itu, seolah mengatakan kalau dia tidak menginginkan kehadiran Yumna.

"Papa..., itu Bu Yumna. Kita akan belajar bersama. Iya kan, Bu..." Aluna kemudian turun dari pangkuan Elbara.

Mulut Yumna seolah terkunci oleh tatapan tak bersahabat milik Elbara. Yumna hanya mengangguk dan tersenyum ramah.

Melihat Aluna turun dan menghampiri Yumna, Elbara merasa ada sesuatu yang aneh. Apalagi saat Aluna menarik Yumna ke arahnya.

"Bu Yumna, ini papa Bara." Aluna memperkenalkan Yumna pada Elbara.

Karena sangat canggung, atau lebih tepatnya takut. Yumna hanya menangkupkan tangannya di depan dada, sambil sedikit membungkuk.

Deg...!!

Dada Elbara tiba-tiba bereaksi aneh.

"Tanda itu..." batinnya.

Tak ingin orang lain menyadari apa yang terjadi pada dirinya, Elbara segera menetralkan emosinya yang tiba-tiba aneh itu dengan menarik nafas panjang.

"Aluna belajar yang baik ya." hanya itu yang diucapkan Elbara. Tak lupa dia mengecup kening Aluna.

"Apa kamera masih berfungsi?" tanya Elbara pada Niko. Tentunya setelah Aluna dan yang lain tak terlihat lagi.

Niko tahu yang dimaksud bosnya pasti CCTV di kamar Aluna.

"Menurut laporan Vivi, semua masih berfungsi dengan baik. Kemarin waktu nona kecil ngobrol dengan nona Yumna, semua masih terekam jelas." lapor Niko.

"Mereka bertemu kemarin?!" Elbara terkejut. Kenapa dia bisa melewatkannya.

"Maaf, tuan. Ketika saya dapat kabar dari Vivi, tuan sudah beristirahat. Lalu tadi pagi kita langsung ke sini. Jadi saya belum sempat mengatakan semuanya pada tuan." begitulah tutur Niko menjelaskan.

"Kita ke ruang kerja!" titahnya.

......................

1
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
bagus ceritanya doubel up thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!