"Saya menyukai kamu, Maura. Tapi, saya sadar bahwa perbedaan umur kita terlalu jauh."
Pengakuan Setya membuat Maura mengernyitkan dahi. Mengapa dirinya ini seolah menjadi pilihan pria dewasa dihadapannya?
"Saya bukan pilihan, Pak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biby Jean, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 4 - Bukan Tanpa Alasan
“Sebagian orang tidak akan berani mengatakan itu kepada saya,” Setya berucap seraya matanya tidak lepas dari Maura.
Maura menegakkan bahunya. “Saya tidak bermaksud tidak sopan, Pak. Tapi saya juga tidak ingin berdiri di sini sambil merasa diremehkan oleh seseorang yang seharusnya saya hormati.”
“Menarik,” respon Setya dengan mengangguk perlahan.
Ia kembali duduk, lalu memberi isyarat kecil dengan tangannya. “Kamu boleh pergi.”
Maura sedikit terkejut. “Itu saja, Pak?”
“Untuk hari ini, iya hanya itu saja,” jawab Setya seolah mengulang tanya yang sempat diberikan Maura.
Maura mengangguk sopan, lalu melangkah keluar dengan perasaan campur aduk.
“Gila,” gumamnya lirih.
Dadanya masih berdegup terlalu cepat untuk ukuran pertemuan profesional. Langkahnya begitu cepat dari biasanya untuk keluar dari gedung megah itu.
“Pemilihan katanya arogan dan menyebalkan,” bisiknya, lebih pada dirinya sendiri.
Ia berjalan di lobi untuk keluar sepenuhnya dari gedung ini, lalu saat sudah di luar, Maura berhenti lagi. Tangannya mengepal tanpa sadar.
“Tapi kenapa aku kepikiran?” gumamnya pelan, hampir marah pada diri sendiri.
Ia berjalan, lalu berhenti sejanak saat kaca gedung memantulkan bayangannya. Maura menatap wajahnya sendiri dengan mata yang masih sedikit membesar, bibir yang ditekan rapat.
“Apa istimewanya aku sampai dia minta aku datang lagi?” tanyanya pada bayangan itu.
Maura berjalan untuk menghentikan taxi dan menaikinya untuk menuju universitas. Memberitahukan apa yang sudah ia dapatkan di gedung Pradana ini. Begitu turun dari taxi, Maura langsung melangkah menuju ruangan rektorat.
Tok tok tok
“Masuk,” responnya dari dalam sana.
“Selamat siang, Pak,” sapa Maura sambil menutup pintu ruangan.
Sang rektor tersenyum dan Maura mendekat untuk berdiri di seberang meja. Si dosen muda yang kerap mendapatkan decak kagum karena usianya yang terbilang muda, tapi sudah memiliki karir gemilang itu tersenyum sopan.
“Saya sudah memberikan dan menjelaskan singkat terkait dengan undangan acara amal universitas. Tetapi, sayangnya beliau belum bisa memberikan jawaban sekarang juga, Pak,” jelas Maura.
Terdengar helaan nafas lelah yang keluar dari Bapak Hamdani sambil punggungnya menyender pasrah di sandaran kursi.
“Beliau memang sangat sulit. Saya sendiri sampai bingung harus bagaimana membuat beliau datang menghadiri acara amal kita, Bu Maura.”
Maura melihat bagaimana berharganya kedatangan Bapak Setya Pradana yang terhormat, tapi tidak bisa memilih kata yang sopan itu.
“Sebenarnya, Pak Setya sedang mempertimbangkan, Pak,” ucapan Maura membuat binar terang di mata Pak Hamdani.
“Ini maksudnya apa, Bu?”
Terlihat sekali beliau sangat bersemangat dan menantikan kalimat lanjutan Maura.
“Bapak Setya meminta saya untuk bertemu beliau lagi minggu depan dan akan memberikan jawabannya. Ada banyak hal yang sedang beliau pertimbangkan. Saya tidak tahu ini adalah hal bagus atau tidak, Pak.”
Pak Hamdani tampak menghela napas panjang, kali ini bukan napas putus asa, melainkan napas yang sarat harap.
“Itu sudah lebih dari cukup, Bu Maura. Fakta bahwa beliau meminta pertemuan lanjutan saja sudah sangaat luar biasa,” ucapnya pelan namun tegas.
Maura menahan diri untuk tidak menunjukkan reaksi berlebihan. Ia hanya mengangguk sopan, meski dalam hatinya muncul sensasi aneh antara lega dan tertekan.
“Saya akan berusaha bersikap seprofesional mungkin, Pak. Tapi saya tidak bisa menjanjikan apa pun” katanya.
Pak Hamdani tersenyum kecil. “Saya tidak meminta apa pun. Saya hanya berharap.”
Kalimat itu entah kenapa terasa lebih berat daripada permintaan apa pun. Maura pamit, keluar dari ruangan rektorat dengan langkah yang kini lebih pelan. Begitu pintu tertutup, ia berhenti sejenak di lorong, menyandarkan punggungnya ke dinding dingin.
“Aku cuma pembawa undangan. Kenapa rasanya jadi seperti taruhan besar?” ,” gumamnya lirih.
Ia menggeleng cepat, seolah ingin mengusir pikiran itu. Setelah mengatur napas, Maura melanjutkan langkahnya untuk masuk ke ruang dosen dan bersiap-siap untuk kelas sore nanti.
“Huff.”
Dan di tengah perjalanannya itu, wajah Setya Pradana kembali muncul tanpa izin. Tatapan itu dengan nada suaranya yang datar. Cara ia mengatakan menarik seolah sedang menilai objek, bukan orang.
“Menyebalkan,” desis Maura.
Maura membuka pintu ruangan dosen dan setelahnya gadis itu dikerubungi oleh dosen lain yang ternyata sudah menunggu kedatangannya.
“MAURA! GIMANA?” suara Bu Rina langsung membahana, penuh antusias.
“Apanya, Bu?” heran Maura.
“Gimaa Pak Setya? Ganteng banget? Pasti ganteng banget dong.”
Maura berkedip beberapa kali, jelas tidak menyangka arah pembicaraan akan berbelok sejauh itu. Ia menatap wajah-wajah di hadapannya, Bu Rina, Pak Dimas, dan dua dosen lain yang kini terlihat lebih seperti sekumpulan penggemar gosip daripada tenaga pendidik.
“Bu, Pak, saya ke sana membawa undangan acara amal, bukan katalog pria,” ucap Maura datar.
Ruangan itu justru dipenuhi tawa.
“Yah, serius amat,” Bu Rina melambaikan tangan, “tapi jujur saja, dari semua donatur besar, dia yang paling bikin penasaran. Orangnya benar-benar dingin, ya?”
Maura menghela napas, meletakkan map di meja. “Dingin. Singkat. Dan sangat profesional.”
“Berwibawa,” potong Pak Dimas cepat.
“Dan juga intimidatif,” sahut Maura tanpa ragu.
Beberapa dosen saling pandang, lalu kembali tertawa.
“Berarti cocok,” celetuk salah satu dosen perempuan sambil menyenggol Bu Rina.
“Cocok apa?” Maura mengangkat alis.
“Cocok bikin orang grogi,” jawabnya santai.
Maura menarik kursi dan duduk. “Kalau itu tujuannya, beliau berhasil.”
“Jadi, beliau mau datang atau tidak?” Bu Rina kembali ke inti.
Maura menggeleng pelan. “Belum memberi jawaban. Tapi beliau minta saya datang lagi minggu depan.”
Ruangan itu mendadak hening.
“Lho,” Pak Dimas mendekat sedikit, “kenapa Bu Maura lagi? Biasanya beliau bahkan tidak mau ditemui dua kali.”
Maura mengangkat bahu. “Saya juga tidak tahu.”
Bu Rina menatap Maura lebih saksama, seolah baru menyadari sesuatu.
“Atau bisa jadi beliau tertarik?”
“Tidak mungkin. Saya yakin beliau masih kebingungan dan banyak pertimbangan, Bu,” Maura menjawab terlalu cepat.
“Tenang, Bu Maura. Kami cuma bercanda. Tapi tetap saja, itu perkembangan besar,” Bu Rina terkekeh.
Maura tersenyum tipis, tapi perutnya terasa mengencang. Ia tidak suka bagaimana semua orang menganggap pertemuan itu sebagai hal positif tanpa melihat ketidaksopanan seorang pria yang diidamkan banyak orang itu.
“Intinya,” lanjut Maura, “Pak Setya sedang mempertimbangkan. Ada hal-hal yang menurut beliau perlu dipastikan sebelum memberi keputusan.”
Pak Dimas mengangguk. “Itu sudah bagus. Sangat bagus.”
Percakapan mulai mereda, satu per satu dosen kembali ke meja masing-masing. Maura berdiri, merapikan mapnya, bersiap keluar. Namun tepat sebelum ia benar-benar melangkah pergi, Bu Rina berseru lagi, setengah berbisik tapi cukup keras untuk terdengar.
“Hati-hati, Bu Maura. Pria seperti itu biasanya tidak suka bertemu orang tanpa alasan.”
Langkah Maura terhenti sesaat.