NovelToon NovelToon
Pernikahan Dini

Pernikahan Dini

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Teman lama bertemu kembali / Romansa / Cintapertama
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: hanisanisa_

Melia-Dimas yang bermula dari Hubungan Tanpa Status berakhir di jenjang pernikahan yang masih terlalu muda.

Takdir seolah tak membiarkan keduanya asing, setelah berpisah karena orang tua yang harus berpindah negara, mereka kembali di pertemukan dengan satu sama lain dengan perasaan yang masih sama tanpa berkurang sedikitpun.

Bagaimana kelanjutannya? Simak selengkapnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hanisanisa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Melia mengerucutkan bibir nya saat keluar dari ruangan dokter yang memeriksa dan memberikan nya obat pereda phobia.

"Kenapa harus ke sini sih? Bau obat dimana-mana" cibir Melia dengan tangan berlipat di depan dada.

Dimas tak menanggapi, ia hanya berjalan dengan pandangan lurus di belakang Melia, layaknya bodyguard pribadi.

"Padahal obat di rumah masih ada, kenapa harus ke rumah sakit lagi" oceh Melia sembari melirik ke belakang untuk melihat reaksi Dimas, yang ternyata tak ada reaksi apapun.

Melia berdecak. "Asik juga ternyata ngomong sama tembok" ucap Melia lalu menepuk tembok di samping dan kembali melangkah karena takut ada yang melihat tingkah nya.

...****************...

"Lia pulang!" seru Melia saat sudah berada di ambang tangga hendak menuju ke kamar nya.

"Dimas mana Lia?" tanya Emelin yang tiba-tiba muncul di belakang Melia. Membuat Melia tersentak dan berbalik sembari memegang dada kiri nya.

"Eh Tante" kikuk Melia, ia kepergok berteriak. Lagi-lagi ia melupakan ada nya tamu di rumah.

Emelin tersenyum. "Kamu pulang bareng Dimas 'kan nak?" tanya Emelin lagi mendapat anggukan dari Melia.

"Dimana Dimas nya sekarang nak?" tanya Emelin membuat Melia menatap ke arah ruang tamu dan menunjuk Dimas yang baru berjalan masuk.

"Itu Tante, Kak Dimas nya" jawab Melia. Emelin mengikuti pandangan Melia dan tersenyum melihat putra nya.

"Makasih ya Lia, maaf tadi bikin kamu kaget" ucap Emelin di angguki Melia disertai senyuman. Melia pun berpamitan menuju kamar nya.

Emelin segera mendekati Dimas yang duduk di sofa sembari mengeluarkan hp nya yang belum ia buka sejak tadi.

"Dim, ke halaman belakang yuk, ada yang mau di obrolin 'kan?" ajak Emelin membuat Dimas terdiam dan mengangguk.

Dimas segera merangkul Emelin menuju halaman belakang yang ternyata sudah ada para orang tua disana.

"Nah ini dia orang nya, langsung ke topik lagi aja kalau gitu" ucap Rico saat melihat kedatangan sang istri dan putra nya.

Dimas duduk di samping Rico, dan di apit oleh Emelin.

"Papa tadi udah bicara sama Papa nya Lia perihal kita pulang ke Indonesia untuk apa" cetus Rico di angguki yang lain.

"Sekarang tinggal keputusan kamu sama Lia untuk penentu tujuan kita" lanjut nya lagi seraya mengangkat gelas kopi dan bersulang dengan Josep.

"Kamu juga udah 22 tahun, udah pas kalau kamu siap menikah Dim" ucap Josep di angguki Rico.

"Masalah nya, Lia belum 19 tahun Dim.. Dan juga Lia itu masih punya sifat membangkang dan labil, Tante takut kamu kesusahan mengurus nya" sahut Gina dengan kata-kata bijak nya yang sudah ia rangkai agar Dimas mengerti.

Dimas mengangguk. "Iya Tante, saya paham. Tapi semakin saya berpikir, semakin saya yakin untuk menikahi nya, selama ini saya hanya diam dan memantau dari jauh tanpa bisa melakukan apapun untuk nya, dan kali ini saya datang dengan membawa janji yang pernah saya ucapkan dengan nya" jawab Dimas dengan panjang lebar dan bahasa yang terbilang kaku.

"Mungkin saat itu berjanji itu, Lia masih berusia 14 tahun dan belum mengerti apapun, tapi saya sudah lebih dewasa 4 tahun dari nya, dan saya tidak main-main dalam janji saya dulu" lanjut Dimas membuat Gina tersenyum kaku karena tak bisa menjawab dengan kata-kata lagi.

"Kenapa nggak nunggu Lia 19 tahun? Sebentar lagi.. Hanya tinggal beberapa bulan" sahut Josep sembari menatap Dimas dengan tatapan mata serius.

Dimas tersenyum. "Takut ada yang lebih duluan menjadikan nya pasangan" jawab Dimas membuat Josep ikut tersenyum.

"Tenang aja Dim, Om selalu jaga anak Om itu biar nggak pacaran dulu sampai dia kerja" ucap Josep dengan alis naik turun.

Dimas terkekeh pelan. "Terlalu lama Om. Apalagi setelah kejadian tadi di perpustakaan, saya semakin yakin untuk memperistri Lia"

"Loh? Ada apa tadi di perpustakaan? Lia nggak bikin masalah sampai ngerepotin kamu 'kan?" tanya Josep dengan nada khawatir. Begitu juga Gina yang ikut khawatir.

Dimas menggeleng. "Orang lain yang membuat masalah lebih dulu, Lia hanya membela diri nya" jawab Dimas mendapat anggukan serta helaan napas lega dari Josep dan Gina.

"Mama mau tanya deh" cetus Emelin menyela yang sejak tadi diam menyimak.

Dimas menoleh ke arah Emelin menunggu pertanyaan dari sang Mama.

"Kalian dulu itu pacaran atau bukan sih?" tanya nya, membuat Dimas tersenyum tipis dan merangkul Emelin. Rico melirik nya kesal.

"Bukan Ma, waktu itu Dimas masih mikirin usia Lia yang belum memasuki fase remaja. Jadi bisa di katakan kalau Dim dulu belum berani buat ungkapin perasaan" jawab Dimas dengan jujur.

"Dan sekarang kamu udah bisa ungkapin nya?" sahut Gina di angguki Dimas.

"Secara perlahan-lahan, kelihatan nya Lia tidak seperti dulu yang langsung manja kalau bertemu" balas Dimas membuat para orang tua tersenyum.

"Dulu kamu juga manggil dia Sayang duluan, padahal nggak punya hubungan. Jangan gantungin perasaan ke anak Om" sahut Josep membuat Dimas mengusap tengkuk nya.

"Jadi hasil akhir nya gimana?" tanya Rico kembali ke topik awal. Membuat Josep berdecak sebal.

"Kau ya dari tadi Ric, selalu balikin topik ke awal lagi, nggak bosan kamu sama topik itu?" ucap Josep dengan mencibir.

Rico menggeleng. "Belum dapat hasil akhir berarti harus kembali ke topik awal walau bosan" balas Rico dengan nada santai.

"Dim tetap akan menikahinya secepatnya" ujar Dimas sebagai hasil akhir dan mendapat anggukan dari Rico yang sudah mendapat jawaban yang sesuai pikiran nya.

Prang

Para orang tua beserta Dimas langsung tersentak mendengar ada suara barang yang berbahan kaca jatuh ke lantai dari arah belakang.

Serentak mereka menoleh ke belakang dan terlihat Melia yang membeku dengan kaki yang lemas dan siap untuk jatuh ke pecahan kaca.

"Lia!" Dimas langsung berlari ke arah Melia sebelum Melia tumbang seutuhnya ke lantai yang penuh pecahan kaca.

Para orang tua juga sama panik nya, tapi mereka tak bisa secepat Dimas yang langsung menangkap Melia.

Melia tadi datang dengan membawa gelas berisi susu coklat yang masih lumayan hangat di nampan untuk nya minum bersama para orang tua setelah mengetahui keberadaan para orang tua dari pembantu.

Dan Melia tak sengaja mendengar jawaban akhir dari Dimas yang menyebut kata menikah, membuat Melia kaget dan tangan langsung lemas.

"Nikah?" lirih Melia sebelum telinga berdengung bersamaan dengan nampan dan isi nya yang jatuh ke lantai.

Ia mengira, Dimas akan menikahi perempuan lain dan mengingkari janji yang dulu sempat terucap pada nya.

"Cepat bawa Lia ke rumah sakit!" seru Josep yang bergegas berlari mengambil kunci mobil, sedangkan Dimas sudah menggendong Melia yang tak sadarkan diri.

1
ハニサ
yg smpt bca komen aku, baca ya🙏

buat yg vote, like, komen, dan meraih peringkat 1 akan aku kasih hadiah kecil-kecilan buat nambah semangat kalian supaya rajin ngegift hehe🤭
ハニサ: klau bsa rebut peringkat ku jg sih🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!