NovelToon NovelToon
The Abandoned Wife'S Revenge

The Abandoned Wife'S Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Transmigrasi / Single Mom / Mata-mata/Agen / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Mengubah Takdir
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: eka zeya257

Bagi kebanyakan orang, aku adalah penjahatnya. Tapi bagi seseorang, aku adalah pelindungnya.

Clara Agatha, agen pembunuh bayaran kelas kakap di organisasi Blade. Hidupnya yang monoton membuat dia tak memiliki teman di organisasi, sampai pada akhirnya penghianatan dari organisasinya membawa dia ke dalam kematian.

Clara pikir semua sudah selesai, namun dia terbangun di raga orang lain dan menjadi ibu dua anak yang di buang suaminya. Clara tak tahu cara mengurus anak kecil, dia berpikir jika mereka merepotkan.

Namun, pemikiran itu berubah saat kedua anaknya menunjukan kebencian yang begitu besar padanya. Clara merasa aneh, bagaimana bisa anak polos seperti mereka membenci ibunya sendiri? Clara bertekad untuk mencari tahu alasannya, dan menuntut balas pada suami dan juga organisasinya yang telah membuat dia mengalami kejadian menyedihkan seperti itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Setibanya di hotel, Clara yang kini sudah mengganti nama menjadi Aurora Alverez mengajak kedua anaknya memasuki lobi untuk melakukan pendaftaran lebih dulu sebelum mereka beristirahat.

"Permisi, ada yang bisa saya bantu Nyonya?" Tanya resepsionis ramah.

Aurora mengangguk. "Aku memerlukan kamar yang bisa menampung tiga orang."

"Anda mau kamar VVIP atau yang biasa?"

Aurora menghela napas singkat. Dia menoleh sekilas ke arah kedua anak itu yang berdiri sedikit di belakangnya. Arjuna berdiri tegak dengan bahu tegang, sementara Riven memegang ujung jaket kakaknya, matanya mengamati sekeliling lobi dengan waspada.

"Yang biasa saja," jawab Aurora akhirnya. Suaranya tenang, tanpa ragu. "Yang penting bersih dan hangat."

Resepsionis tersenyum profesional. "Baik, Nyonya. Kamar keluarga masih tersedia. Satu ranjang besar dan satu ranjang kecil. Apakah itu cukup?"

Aurora kembali menoleh pada Arjuna. "Bagaimana? Atau kalian mau dua ranjang terpisah?"

Arjuna terdiam sejenak, lalu mengangguk kecil. "Tidak apa-apa."

Aurora mengangguk pada resepsionis. "Yang kamar keluarga."

"Baik." Resepsionis mulai mengetik di komputer. "Atas nama siapa, Nyonya?"

Aurora terdiam sepersekian detik. Nama Clara hampir saja lolos dari bibirnya. Namun dia menahannya.

"Aurora Alverez," jawabnya mantap.

Jari resepsionis berhenti sejenak sebelum kembali bergerak. "Baik, Bu Aurora. Mohon kartu identitasnya."

Aurora mengeluarkan dompet dari tasnya. Tangannya sedikit gemetar saat menyerahkan kartu identitas itu, seolah nama yang tertera di sana masih terasa asing. Namun begitu resepsionis mengembalikannya, Aurora menggenggam kartu itu lebih erat.

Mulai sekarang, inilah namanya.

Inilah hidup yang harus dia jalani.

"Apakah anak-anak ini putra Anda?" tanya resepsionis ramah sambil melirik Arjuna dan Riven.

Aurora mengangguk pelan. "Iya."

Resepsionis tersenyum lebih hangat. "Baik. Ini kunci kamar Anda. Lantai lima, kamar 512. Lift ada di sebelah kiri."

Aurora menerima kartu kunci itu. "Terima kasih."

Mereka berjalan menuju lift. Suara langkah kaki mereka bergema lembut di lantai marmer lobi. Riven menoleh ke arah Aurora, ragu-ragu.

"Mommy…" panggilnya pelan.

Aurora berhenti sejenak, lalu menoleh. Tidak ada penolakan di wajahnya. Tidak juga keterkejutan.

"Iya?"

"Kita… benar-benar tidur di hotel?" tanya Riven lirih, seolah takut jika jawabannya bisa menguap kapan saja.

"Iya," jawab Aurora lembut. "Malam ini kita istirahat dulu."

Pintu lift terbuka dengan bunyi pelan. Mereka masuk. Arjuna berdiri di samping Aurora, jaraknya tidak terlalu dekat, tapi tidak lagi sejauh sebelumnya.

Lift bergerak naik dalam keheningan.

Aurora menatap pantulan mereka di dinding lift yang mengilap. Seorang wanita dengan wajah pucat dan mata lelah. Dua anak kecil yang terlalu cepat belajar bertahan hidup.

Dia mengepalkan tangan perlahan. Masa lalu Aurora mungkin penuh luka. Tapi malam ini, dia memilih satu hal sederhana bertahan demi menjaga dua anaknya.

***

Beberapa saat kemudian, Aurora baru saja selesai mandi. Sedangkan kedua anaknya sudah berada di atas ranjang kecil yang tampak sesak bagi dua orang, Aurora mengamati kedua anak itu dengan seksama.

"Sebenarnya apa yang sudah di lakukan tubuh ini?" Aurora melangkah mendekati anak-anak itu. "Kalian begitu kecil, bagaimana kalian bisa bertahan hidup sendirian?"

Tadi ketika dia hendak memandikan kedua anaknya, Arjuna langsung menolak bahkan mendorongnya. Wajah anak itu memerah, dan ketakutan terlihat jelas di wajah Arjuna.

Aurora hendak menanyakan alasannya, namun suaranya tercekat saat melihat mata kedua anaknya berkaca-kaca.

Tangan Aurora terulur menyingkap pakaian Arjuna, seketika raut wajahnya berubah syok begitu melihat luka sayatan memanjang di punggung anak itu.

"Apa-apaan ini?" Gumamnya terkejut.

Dia beralih membuka baju Riven, dan anak itu juga memiliki luka bekas cambukan di punggungnya.

Aurora membeku.

Udara di kamar hotel itu mendadak terasa terlalu sempit untuk bernapas. Jantungnya berdegup keras, begitu keras hingga telinganya berdenging. Luka-luka itu tidak baru. Garis-garis tipis dan memanjang di punggung Arjuna sudah memudar di beberapa bagian, namun masih jelas terlihat di kulit anak sekecil itu.

Bekas yang terlalu rapi untuk disebut jatuh.

Terlalu teratur untuk disebut kecelakaan.

Aurora menelan ludah dengan susah payah.

"Apa… apa yang terjadi?" suaranya nyaris tak keluar.

Arjuna refleks bangun dari tidurnya lalu menarik bajunya turun begitu menyadari keberadaan Aurora di dekatnya, dia mundur setengah langkah di atas ranjang. Tatapannya tajam, defensif, seperti anak kecil yang sudah terlalu sering disakiti setelah berkata jujur.

"M-Mommy?" Ucap Arjuna ketakutan.

Kalimat itu menghantam Aurora lebih keras daripada apa pun.

Dia beralih ke Riven dengan tangan gemetar. Anak itu tidak melawan. Tidak juga menangis. Dia hanya menunduk pasrah saat bajunya disingkap. Luka cambukan di punggungnya lebih tipis, tapi lebih banyak. Bekasnya saling bersilang.

Aurora menutup mulutnya dengan tangan.

"Siapa…" napasnya tersendat. "Siapa yang melakukan ini pada kalian?"

Riven mengangkat bahu kecilnya. "Tidak tahu."

Aurora tahu itu bohong. Dan lebih menyakitkan lagi, itu kebohongan yang sudah terlalu sering mereka ucapkan sampai terdengar alami.

Dia berjongkok perlahan di depan ranjang, menyamakan tinggi tubuhnya dengan mereka. Tidak menyentuh. Tidak mendekat terlalu jauh.

"Apa aku yang melakukannya?" katanya pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri. "Aku mencabuk dan menganiaya kalian?"

Arjuna tertawa kecil. Tawanya kosong. "Mommy suka bilang kami bandel, dan ini hukuman yang kami dapat."

Aurora memejamkan mata. Kilasan memori kembali muncul, lebih kejam dari sebelumnya. Tangan yang terangkat. Suara bentakan. Ikat pinggang yang dilempar ke atas meja. Kalimat dingin yang berkata bahwa disiplin adalah satu-satunya cara mendidik kedua anaknya.

Aurora membuka mata dengan napas bergetar.

"Itu salah," katanya lirih, tapi tegas. "Apa pun alasan yang dipakai… itu salah."

Arjuna menatapnya ragu. "Mommy marah lagi?"

Aurora menggeleng cepat. Dia mendekat setengah langkah, lalu berhenti. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, menahan dorongan untuk memeluk dorongan yang belum tentu mereka terima.

"Aku marah," katanya jujur. "Tapi bukan pada kalian."

Riven mengangkat wajahnya perlahan. "Lalu… ke siapa?"

Ke wanita yang dulu tinggal di tubuh ini.

Ke keputusasaan yang dibiarkan tumbuh tanpa kendali. Ke dirinya sendiri, karena datang terlalu terlambat untuk mencegah luka itu muncul di tubuh Arjuna dan Riven.

"Ke orang dewasa yang seharusnya melindungi kalian," jawab Aurora. "Dan gagal."

Arjuna menelan ludah. "Kalau kami nakal… Mommy mau pukul lagi?"

Aurora menggeleng, kali ini lebih tegas. "Tidak."

"Janji?" suara Riven bergetar.

Aurora mengangguk tanpa ragu. "Janji."

Dia berdiri perlahan, mengambil kotak P3K kecil dari tas yang tadi dibelinya. Tangannya masih gemetar saat mengoleskan salep tipis ke luka-luka itu, sangat hati-hati, nyaris seperti menyentuh kaca rapuh.

"Kalau sakit, bilang," ucapnya lembut.

Arjuna mengernyit. "Biasanya Mommy tidak peduli."

Aurora menahan napas. "Mulai sekarang, aku peduli. "

Anak itu terdiam.

Setelah luka-luka itu ditutup kembali oleh pakaian, Aurora mengulurkan kedua tangannya ke arah Riven. "Ayo pindah ke ranjang besar, kalo di sini kalian bakal kesempitan."

"Tapi–"

Aurora mengangkat tubu Riven, dan membawanya ke ranjang besar. "Jangan membantah, ini demi kebaikanmu."

Dia beralih menatap Arjuna. "Kau mau Mommy gendong juga, Jun?"

1
shabiru Al
pendek amat thor,, nungguin nya lama... baru scroll sekali langsung abis aja
shabiru Al
aurora sendiri masih belum bisa menebak siapa mereka,,, apa mungkin pamanya..
Heni Mulyani
lanjut💪
Heni Mulyani
lanjut
shabiru Al
siapa yang menyerang aurora,, apa black spider ?
Warni: Kayaknya suruhan si mantan
total 1 replies
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
bintang⭐⭐⭐⭐⭐ biar lebih semangat up bab nya karena penasaran 🫶
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
idih selain pengen muntah 🤮
shabiru Al
memang benar laki2 spt delvin tdk layak untuk d kenang tpi d buang ke tempat sampah
shabiru Al
akhirnya sidelvin muncul juga,, tpi kok udah mulai muncul lagi pria lain hhhmmm makin menarik...
mustika ikha
uh, siapakah dia, laki2 arogan, dingin, jgn benci2 amatlah mas arogan nnt kamu kepincut ma aurora, buci loh 🤣🤣semangaaaat 💪💪💪
shabiru Al
tdk mudah membuktikan diri bahwa aurora sudah berubah terutama pada riven
Zee✨: udh kepalang sakit hati makanya susah🤭
total 1 replies
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
kenapa ya anak-anak aurora g sekolah
Zee✨: hooh sampe lupa tanggung jawab
total 3 replies
shabiru Al
seru x ya kalo aldric ketemj sama aurora...
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
semangat rora
shabiru Al
ternyata bukan hanya calix tpi aldric pun sama misterius malah berbahaya....
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
lanjut thor
Heni Mulyani
lanjut
shabiru Al
jadi makin penasaran siapa calix sebenarnya ?
Zee✨: ya kan, masih abu2 pokoknya
total 1 replies
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
aurora suka karakter nya
shabiru Al
apa aurora mengenal siapa calix... ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!