Franceska wanita cerdas berpendidikan tinggi, berparas cantik dan berprofesi sebagai guru matematika. Suatu kombinasi yang melengkapi penampilannya yang good looking, cemerlang dan bersinar dari keluarga sederhana.
Prestasi akademik, serta kecerdasannya mengola waktu dan kesempatan, menghentarkan dia pada kesuksesan di usia muda.
Suatu hari dia mengalami kecelakaan mobil, hingga membuatnya koma. Namun hidupnya tidak berakhir di ruang ICU. Dia menjalani penglihatan dan petualangan dengan identitas baru, yang menghatarkan dia pada arti kehidupan sesungguhnya.
》Apa yang terjadi dengan Franceska di dunia petualangannya?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Petualangan Wanita Berduri."
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 04. PWB
...~•Happy Reading•~...
Papa mertua Rina terkejut melihat Rina membuka pintu dengan kuat dan membentak. Sesuatu yang tidak pernah terjadi. Tapi dia tidak kalah gertak melihat Rina berdiri di depan pintu sambil menatap tak berkedip.
"Kau sudah berani melawan kami? Rasakan ini." Tangan mertua Rina menarik ikat pinggang kulit dari pinggang dan langsung diayunkan ke arah Rina.
'Diam, Rina.' Ceska merasa gerakan tangan yang akan digerakan Rina disertai degup jantung yang sangat kuat. Sebagai isyarat, dia mulai takut pada mertuanya.
Setelah merasa tubuhnya mulai santai, Ceska mengangkat tangan menahan ikat pinggang yang diayunkan ke arahnya lalu menggulung di tangannya, dan disentak dengan sekuat tenaga.
"Rasakan? Kau yang rasakan ini tua bangka." Mertua Rina yang tidak siap akan ada perlawanan, tidak daya saat ditarik. Sehingga dia terbang ke dalam kamar mandi dan jatuh di lantai tanpa gaya.
Ceska berdiri gagah melihat mertua Rina seperti kambing yang berguling, berusaha membalikan badan dan mengusap dagu yang sakit saat menyentuh lantai.
'Mba Ceska, boleh aku menendang dia?' Rina jadi berani melihat mertuanya terletak di lantai, tidak berdaya.
'Silahkan.' Ceska membiarkan dan senang merasakan Rina mulai berani.
Rina berjalan mendekat dan menendang bagian terlarang mertuanya. Hingga terdengar suara tercekat seperti sapi melenguh dan mertua Rina berputar di lantai sambil memegang daerah pribadinya.
Hal itu membuat Ceska terkejut. 'Apa dia melecehkanmu juga?' Ceska bertanya karena merasakan gemuruh amarah Rina saat menendang dan yang ditendang adalah daerah terlarang Papa mertuanya.
'Iya, Mba.' Ucap Rina dengan suara bergetar. Ceska jadi emosi mendengar Rina dilecehkan juga oleh mertuanya.
Dia mengayunkan ikat pinggang yang masih ada di tangannya untuk memukul pintu kamar mandi berulang kali. Sehingga bunyi suara ikat pinggang menyentuh pintu bagaikan sapi yang sedang dipecut. Hal itu sengaja dilakukan Ceska, agar memberikan efek kejut kepada mertua Rina.
Ketika mendengar suara tertawa senang di luar kamar disertai nada girang 'rasakan' berulang kali, Ceska terus memukul pintu. Dia jadi mengerti, ada orang di luar kamar yang sedang menunggu dan tertawa girang, karena mengira Rina sedang dipukul oleh Papa mertuanya.
Ceska menunduk dan mendekatkan wajahnya ke mertua Rina. "Keluar dari sini, sebelum ikat pinggang ini membunuh ular tuamu." Ceska mengancam dan menarik mertua Rina keluar kamar mandi dan menendangnya keluar kamar. Dia ingin berbicara dengan Rina sebelum mengambil tindakan, karena terkejut mengetahui banyak kekerasan yang dialami Rina.
Apa yang dialami Rina tidak bisa diselesaikan dengan membalas orang-orang yang menyakitinya. Ceska ingin menyelesaikan secara tuntas. 'Mba, mereka akan mengunci...' Ucapan Rina belum selesai, terdengar pintu kamar dikunci dari luar.
Ceska jadi berjalan dalam kamar sambil memikirkan cara agar bisa keluar dari kamar. Ketika dia melihat perlengkapan tukang mertua Rina tertinggal di depan pintu kamar mandi, Ceska tersenyum.
Dia duduk tenang di atas tempat tidur yang sudah seperti perahu. Bagian tengahnya lebih cekung dari pinggir. Ceska menarik nafas panjang sebelum berbicara dengan Rina.
'Rina, apa kau bisa melihat wajahku di cermin?' Ceska ingin tahu.
'Tidak, Mba.'
'Tidak? Lalu kenapa kau langsung menyebut aku Mba?'
'Suara Mba, perempuan.'
'Oh, iya. Tidak terpikirkan.'
Ceska menyadari, dia hanya tahu namanya dan apa yang dia alami dengan kedua penjaga di tempat menakjubkan.
Selain itu, dia tidak tahu apa pun. Tapi dia merasa ada sesuatu yang meluap dari dalam dirinya, jika terjadi ketidakadilan. Hal itu mendorongnya untuk bertindak atau lakukan sesuatu.
'Ok, apa ini sering terjadi? Kau dikunci seperti ini?'
'Iya, Mba. Kalau aku merasa sakit dan tidak bisa mengerjakan permintaan mereka, akan dikurung di sini.'
'Baik. Kau tinggal dengan siapa dalam rumah ini? Sebutkan nama mereka, supaya aku tahu dan mereka tidak curiga padamu.'
'Aku tinggal dengan mertua, Dony dan Sice. Kakak ipar Carso.'
'Lalu suamimu?'
'Suamiku Bobby, tapi tidak tinggal di sini. Hanya sesekali datang ke sini.' Suara Rina jadi sedih.
'Hanya sesekali datang ke sini?'
'Iya, Mba.'
'Kalian menikah?'
'Iya, Mba. Kadang Bobby datang untuk kasih kebutuhan.' Rina menjelaskan. Ceska jadi heran.
'Suamimu bilang apa, lihat luka dan lebam seperti ini?'
'Tidak, Mba. Karna orang tua dan kakaknya bilang ini akibat aku mau kabur. Aku dinikahi dari panti asuhan untuk menjaga keluarganya.' Rina jadi sedih dan meneteskan air mata.
'Kau punya uang?'
'Tidak, Mba. Semua diambil sama mereka.' Ceska menghembuskan nafas kuat.
'Nanti kita bicara lagi ada yang harus diselesaikan.' Ceska memutuskan, karena bawah perut dan daerah pribadinya tiba-tiba sakit. Dia mulai mengerti, ada yang harus ditangani.
'Apa kau pernah keluar dari rumah ini?'
'Tidak Mba. Setelah menikah dan tinggal di sini, mereka menjagaku, supaya tidak keluar. Mama mertua dan ipar agak sakit pada waktu tertentu.' Rina menyilangkan jari telunjuk di dahi.
'Ok. Mari kita keluar untuk lihat yang terjadi selanjutnya.' Ceska mengambil obeng lalu mencungkil kunci pintu. Dia mengambil apa saja yang ada dalam kamar untuk melepaskan kunci pintu.
Ketika kunci pintu lepas, Ceska tidak langsung keluar. Dia merasa ada orang yang menunggu di depan pintu. Oleh sebab itu, dia perlu memastikan. Saat dia melempar selimut keluar kamar, ketiga orang sudah menunggu dengan berbagai alat di tangan langsung memukul, seakan Rina yang keluar.
Ceska langsung lompat dan menginjak peralatan, lalu melangkah keluar sambil menendang satu persatu hingga jatuh bergulingan. 'Rina, aku perlu tali.' Rina mengangguk. Karena terkejut, dia lupa pada kesepakan agar tidak mengangguk atau menggeleng.
Dia menuntun Ceska ke tempat penyimpan. Ceska terkejut melihat rumah yang cukup besar dan rapi, sangat berbeda dengan kamar Rina yang kecil dan kusam.
Ceska segera mengambil tali dan mengikat ketiga orang yang belum menyadari keadaan. Mereka memaki sambil mengusap kepala. 'Mba, mereka kadang mengurung aku di kamar ini, setelah disiksa. Tapi itu kamarku.' Rina menunjuk salah satu kamar.
'Ok. Aku ikat ini dulu.' Ceska bergerak cepat mengikat kaki dan tangan mereka di lantai secara terpisah lalu dijadikan satu. "Kalian akan merasakan sakitnya disiksa." Ucap Ceska.
'Rina, kita cari uang mereka.' Ceska perlu uang, agar bisa menolong Rina.
Maka terdengar teriakan ketiga orang itu, ketika Rina masuk ke kamar mertuanya. Kemudian keluar sambil menjinjing tas besar berisi uang. "Rinaaaa, kembaliii..." Teriak Mama mertuanya makin keras saat melihat Rina membuka pintu ruang tamu.
"Tinggal di situ. Aku akan jadikan kalian santapan harimau." Ceska mengunci pintu dari luar. Lalu berjalan keluar sambil membawa tas berisi uang. Di pikirannya hanya rumah sakit.
Tiba-tiba suara teriakan dari rumah Rina terdengar sampai di luar. 'Ayo cepat. Jangan sampai mereka bisa keluar dan kejar kita.' Ceska memacu semangat Rina, karena dia merasakan sesuatu yang lain dari respon Rina dalam tubuhnya.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~•○¤○•~...