NovelToon NovelToon
Memorable Love

Memorable Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Selingkuh / Nikah Kontrak / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Obsesi / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:131
Nilai: 5
Nama Author: Eva Hyungsik

Siapa yang sanggup menjalani sebuah hubungan tanpa cinta? Apalagi pasangan kalian masih belum usai dengan masa lalunya. Dua tahun Janice menjalani hubungan dengan seorang pria yang sangat ia cintai, dan hidup bersama dengan pria tersebut tanpa ikatan pernikahan. Selama dua tahun itu Stendy tidak pernah membalas cinta Janice. Bahkan Stendy sering bersikap dingin dan acuh pada Janice. Sampai akhirnya wanita di masa lalu Stendy kembali, hingga membuat Janice terpaksa mengakhiri hubungannya dan melepaskan pria yang selama ini sangat ia cintai. Semua Janice lakukan, hanya untuk membuat Stendy bahagia bersama wanita yang dicintainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva Hyungsik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CYTB 4

Pukul 10 malam Stendy baru saja tiba di villa. Dahinya berkerut saat memasuki villa. Sepi, itu yang dirasakan olehnya. Biasanya saat ia pulang larut malam Janice akan selalu menunggunya sampai tertidur di sofa ruang tamu. Namun, malam ini dia tidak menemukan sosok yang selalu menunggunya. 

Sementara bibi Jane, sudah kembali ke villa utama. Karena ia hanya bekerja di villa Stendy dari pukul 7 pagi sampai 5 sore. Stendy tidak peduli dengan keberadaan Janice, dia pun segera naik ke lantai atas menuju kamarnya. 

Namun, sebelum ia benar-benar sampai di depan kamar. Matanya melirik sekilas kamar yang biasa ditempati oleh Janice. Stendy menatap cukup lama ke arah pintu kamar Janice. Ia baru sadar, kalau beberapa hari ini ia dan Janice sudah hampir tidak pernah berinteraksi. Tanpa sadar Stendy mengayunkan kakinya mendekati kamar Janice. 

Stendy hendak mengetuk pintu kamar, namun segera dihentikan. Ia tidak ingin mengganggu tidur Janice. Perasaannya seperti ada hal yang mengganjal, entah itu perasaan rasa bersalahnya pada Janice atau tidak enak. Sebab dirinya terlalu sibuk sampai mengabaikan Janice. 

Akhirnya Stendy memberanikan membuka pintu kamar Janice tanpa mengetuknya terlebih dahulu. 

Suasana kamar terlihat remang-remang. Hanya ada sorot lampu tidur saja. Stendy melangkahkan kakinya dengan hati-hati. 

Sendy menatap lurus ke arah Janice yang sedang terlelap menghadap ke arah dimana dirinya sedang berdiri saat ini. 

Pria itu menghela nafasnya, ada rasa bersalah dalam dirinya saat melihat wajah polos Janice ketika sedang terlelap. Stendy pun mendekat dan duduk di tepi ranjang dengan pelan-pelan. Ditatapnya kembali wajah Janice, wajah putih mulus itu terlihat semakin cantik. Stendy menjulurkan tangannya untuk mengusap wajah Janice. Namun, belum sempat menyentuh pipi Janice, Stendy sudah menggantung tangannya itu. Kemudian ia pun menurunkan kembali tangannya. 

“Maafkan aku,” 

Suara Stendy terdengar lirih dan sangat pelan. Lalu ia pun kembali bangkit dari duduknya, dan berjalan meninggalkan kamar Janice. 

Setibanya di dalam kamarnya, Stendy langsung menjatuhkan bobot tubuhnya ke atas kasur. Ia memijat keningnya yang terasa sedikit pusing. 

Pandangannya lurus menatap langit-langit kamar. Pikirannya melayang kembali saat dirinya kembali ke villa tadi. Ucapan Rodez nyatanya membuat dirinya merasakan kegelisahan. 

Saat di perjalanan pulang tadi, Rodez sempat mengatakan hal-hal yang menyinggung ke arah Janice. Stendy pun kembali mengingat obrolan mereka. 

“Mau sampai kapan kamu akan melukai Janice, dan memilih untuk mengkhianatinya dengan kembali bersama Harisa?” tanya Rodez saat itu. 

“Apa maksudmu? Sudah aku katakan jangan ikut campur dengan apa yang aku lakukan,” jawab Stendy dengan begitu tegas. 

“Aku hanya mengingatkan saja. Jangan sampai suatu saat kamu menyesal setelah menyadari kesalahanmu, Stendy.” 

Stendy hanya mendengus dan mengabaikan apa yang dikatakan oleh Rodez. Sampai ketika mereka telah sampai di villa, saat hendak masuk ke dalam villa, Rodez kembali bersuara. 

“Stendy,” panggil Rodez, dan Stendy pun menoleh dengan satu alis yang terangkat. 

“Ada apa?” 

Rodez menatap Stendy dengan tatapan dingin. “Bagaimana jika suatu saat nanti Janice memutuskan untuk pergi?” 

Mendengar ucapan Rodez membuat Stendy tertawa dan menggeleng. Pria itu merasa sangat konyol mendengar ucapan Rodez, mana mungkin Janice meninggalkannya. Stendy sangat tahu kalau wanita itu sangat mencintainya. Bahkan Janice rela menjatuhkan harga dirinya hanya untuk mengejar cintanya. 

“Itu tidak akan mungkin,” Stendy masih tertawa seakan meremehkan Janice. 

Rodez mendesah kasar, dan kembali bersuara. “Ada masanya seseorang akan memilih untuk menyerah dengan cintanya. Apalagi jika dia tahu kalau selama ini kamu tidak pernah mencintainya,” 

Stendy menghentikan tawanya setelah mendengar ucapan Rodez. Ia pun menatap Rodez dengan tatapan datar. 

“Itu tidak akan mungkin terjadi. Karena aku tahu dia seperti apa. Janice adalah wanita bodoh yang begitu mencintaiku,” Stendy menyanggah semua ucapan Rodez. 

Rodez tersenyum sinis. “Kita lihat saja nanti,” ucap Rodez yang langsung masuk kedalam mobil. 

Mengingat semua obrolan mereka membuat Stendy memejamkan matanya dan mengusap wajahnya dengan kasar. Ia pun bangkit dan langsung menuju kamar mandi. 

Sementara itu di dalam kamar Janice, wanita itu bangun dari posisi tidurnya. Nyatanya ia tidak tidur saat Stendy masuk ke dalam kamarnya. Matanya merah seolah sedang menahan tangisnya. 

“Maafmu tidak akan pernah bisa aku terima, Stendy.” 

Ya, Janice tadi masih dapat mendengar apa yang dikatakan Stendy. Hatinya kembali terasa sakit ketika mengingat apa yang dikatakan Stendy sebelum pria itu masuk ke dalam villa. 

Janice mendengar semua obrolan Stendy dan Rodez. Lebih tepatnya tidak sengaja mendengar apa yang Stendy katakan. 

Sebenarnya Janice sudah tertidur sejak sore hari. Namun, dirinya terbangun saat merasakan haus. Ia pun bangun dan melirik sekilas ke arah ponselnya. Janice cukup terkejut saat melihat jam di layar ponselnya. 

Janice bangun dan segera menuju dapur, karena tenggorokannya terasa sangat kering. Setelah minum, Janice hendak kembali ke kamar. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar suara Rodez memanggil nama Stendy. Janice pun memilih untuk mengintip dari balik jendela. 

Diam-diam dirinya menjadi penguping. Tangannya terkepal kuat dan tatapannya tajam dan penuh kebencian setelah mendengar ucapan Stendy yang mengatainya ‘wanita bodoh’. Janice sudah tidak tahan lagi, ia pun memilih untuk segera kembali ke dalam kamar. Setibanya di dalam kamar ia pun menangis sambil mendekap mulutnya. Ia tidak ingin Stendy mendengar tangisannya. 

Saat merasakan tenang, Janice samar-samar mendengar langkah kaki Stendy. Ia pun segera menuju tempat tidur dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut. 

Janice berpura-pura tidur, ia juga tidak menyangka kalau Stendy akan mendatangi kamarnya. Setelah pria itu pergi dari kamarnya, Janice langsung membuka matanya. Tatapannya penuh kebencian pada sosok pria yang dulu pernah mengisi hatinya. 

Keesokan paginya, Stendy bangun kesiangan. Pria itu mengerutkan dahinya saat kepalanya terasa sedikit pusing. Ia pun menyandarkan punggungnya di headboard tempat tidur. Lalu mengambil ponselnya untuk melihat jam. 

“Sudah jam setengah 8. Kenapa Janice tidak membangunkan ku?” 

Stendy merasa sangat kesal dengan Janice. Ia pun segera bangun dan bergegas mandi. 

Di lantai bawah, Rodez baru saja tiba di villa. Bibi Jane menyambut kedatangan asisten bosnya itu. 

“Selamat pagi, Tuan Rodez.” 

Rodez pun tersenyum, “Pagi juga, Bi. Tuan sudah bangun?” tanya Rodez. 

“Belum, Tuan. Bibi sudah berkali-kali membangunkannya, tapi tidak ada jawaban dari dalam kamar.” 

Rodez mengerutkan dahinya. “Dimana Nona Janice? Kenapa dia tidak membangunkannya?” 

“Nona sudah pergi setengah jam yang lalu,” 

“Pergi? Kemana?” tanya Rodez sedikit curiga. 

“Itu, katanya Nona ingin lari pagi di sekitar danau,” 

Rodez hanya mengangguk, dan tidak lama terdengar suara langkah kaki dari arah tangga. Stendy menatap ke arah Rodez, lalu pandangannya mencari sosok yang semalam membuat hatinya gusar. Stendy semalam sadar kalau dirinya tidak melihat Janice beberapa hari yang lalu. Baru semalam dirinya melihat wajah Janice, dan itu pun Janice sedang tertidur. 

Bibi Jane paham siapa yang dicari oleh tuannya, ia pun sedikit maju mendekat dan berkata. 

“Nona Janice sedang lari pagi di dekat danau, Tuan.” 

Stendy menatap bibi Jane dengan dahi berkerut. “Lari pagi?” beo Stendy. 

“Iya, Tuan.” 

“Tumben,” gumam Stendy yang merasa sedikit heran dengan kegiatan Janice. 

Sebab selama tinggal bersama dengannya, Janice tidak pernah keluar dari villa. Kecuali ke mall atau bertemu dengan ketiga sahabatnya. 

“Apa Tuan mau sarapan?” tanya bibi Jane. 

Stendy hanya mengangguk dan mengajak Rodez untuk sarapan bersama. Akan tetapi asistennya itu menolak, karena sudah sarapan. 

Rodez memilih untuk menunggu di dalam mobil saja, sementara Stendy menuju meja makan. Stendy duduk sendirian, dengan cekatan bibi Jane menyiapkan sarapan untuk tuannya. 

Stendy menatap kursi yang biasa diduduki oleh Janice, dan menghela nafasnya. Stendy hanya menyentuh makanya beberapa suap saja, entah mengapa nafsu makannya menghilang. Suasananya terasa hambar, Stendy merasa ada sesuatu yang hilang. Tapi, dirinya masih belum menyadarinya. Tanpa sadar pula ia sesekali menoleh ke arah belakang. Ia berharap sebelum dirinya berangkat dapat melihat Janice dan berpamitan dengannya. 

Stendy meletakkan sendok dan garpunya, lalu ia berdiri dan meninggalkan meja makan. Pria itu memilih untuk segera berangkat ke kantor. 

Rodez menoleh ke belakang kursi penumpang. Dahinya berkerut sambil melirik jam tangannya. Rodez merasa heran, sebab ini waktu tercepat Stendy makan sarapannya. 

“Berangkat sekarang?” tanya Rodez. 

“Hmm,” jawab Stendy yang terlihat muram.

Rodez mengangkat kedua bahunya dan memilih menyalakan mesin mobilnya. 

“Kita lewat danau saja,” ucap Stendy saat mobil sudah keluar dari villa. 

Rodez melirik sekilas dari kaca spion tengah. “Kamu ingin menemui Janice dan berpamitan dengannya?” tanya Rodez. 

“Tidak. Aku hanya ingin memastikan saja. Siapa tahu dia berbohong dengan alasan lari pagi,” sahut Stendy. 

Rodez melihat wajah Stendy yang sejak tadi terlihat muram. Dalam hati Rodez tersenyum, ia tahu kali ini Stendy sudah mulai gelisah jika Janice tidak ada. Rodez berharap sangat, kalau sahabatnya ini menyadari kesalahannya dan mau memperbaiki semuanya sebelum terlambat. Ya, Rodez berharap sebelum Janice pergi ke luar negeri, Stendy sudah menyadari perasaannya. 

Mobil milik Stendy sudah melewati danau, mata pria itu terus mengawasi hampir seluruh area danau. Namun, Stendy sama sekali tidak menemukan sosok yang dicarinya. Hatinya pun  mulai gelisah. 

“Rodez, coba kamu turun dan cari tahu keberadaan Janice.” 

Tanpa berkata lagi, Rodez keluar dari dalam mobil. Sambil mencari sosok yang dicari, Rodez juga mencoba menghubungi Janice melalui ponselnya. 

“Ada apa, Rodez?” 

 “Kamu dimana Janice?” tanya Rodez dalam sambungan telepon mereka. 

“Aku sedang lari pagi bersama teman-temanku. Ada apa?” 

“Dimana?” 

“Apa itu penting bagimu?” 

“Bukan bagiku, tapi tunanganmu. Dia memintaku untuk mencarimu di danau. Karena kata Bibi Jane, kamu sedang lari pagi di danau. Tapi sejak tadi aku tidak melihatmu disini,” 

Janice di seberang sana terdiam sejenak. Dirinya sedikit heran mengapa Stendy tiba-tiba mencari dirinya. Apalagi Rodez juga mengatakan ‘disini’. Janice baru menyadari pasti mereka sedang berada di danau dekat villa. Sementara dirinya sedang di danau tidak jauh dari kampus para sahabatnya. 

“Apa kamu sedang di danau dekat villa?”  tanya Janice. 

“Iya,” 

Janice mendesah sambil menepuk keningnya. “Aku di danau Universitas Galar,” jawab Janice terdengar santai. 

“Apa?” Rodez sangat terkejut mendengar jawaban Janice. 

Ingin rasanya ia memaki kekasih tuannya itu. Namun, itu tidak mungkin sebab Janice tidak ada di hadapannya. 

“Kau dalam masalah besar, Janice!” 

“Mengapa begitu? Aku hanya keluar untuk berolahraga,” 

Rodez mendesah kasar. “Kau tahu sejak tadi Stendy terlihat muram. Dia pasti tambah kesal karena kamu tidak aku temui di danau ini,” 

“Bukan urusanku. Dia terlihat muram mungkin tidak dapat jatah ciuman dari cinta pertamanya itu. Suruh saja si Harisa menemuinya. Pasti Stendy tidak akan muram lagi,” 

Rodez tidak habis pikir, kalau Janice akan berkata seperti itu. Ia pun memejamkan matanya dan kembali berkata. 

“Bisakah kamu segera kembali ke villa?” tanya Rodez dengan nada memohon. 

“Sebentar lagi aku akan pulang. Oh, ya, apakah kamu sudah mendapatkan apa yang aku minta?” 

“Sudah. Nanti aku kirimkan semua buktinya,” 

“Hmm, baiklah. Sebaiknya kamu katakan saja pada Tuan kamu itu, untuk tidak memperdulikan diriku seperti biasa.” 

Janice langsung mengakhiri sambungan telepon secara sepihak. Membuat Rodez merasa serba salah. Ia pun memilih kembali ke dalam mobil. 

“Bagaimana? Apakah dia ada?” tanya Stendy. 

“Tidak. Tapi aku sudah menghubungi Nona Janice. Katanya dia sedang berada di Universitas Galar,” jawab Rodez. 

“Universitas Galar?” gumam Stendy. “Mengapa dia ada di sana sepagi ini?” 

“Olahraga,” jawab Rodez. “Sekalian dia bertemu dengan teman-temannya,” sambung Rodez. 

Stendy mengeratkan rahangnya, ia kesal karena Janice tidak mengatakan apapun saat ingin keluar dari villa dan menemui teman-temannya. 

“Apa kita perlu menjemput Nona Janice?” tanya Rodez sambil melihat ekspresi wajah Stendy. 

“Tidak perlu,” 

“Baiklah,” Rodez sudah paham dengan tuannya itu. 

Ia pun segera mengendarai kembali mobilnya menuju perusahaan. Sementara itu di kampus Galar, Janice dan ketiga sahabatnya sengaja bertemu di dekat danau. 

Janice ingin memberitahukan ketiga sahabatnya tentang kepergiannya ke luar negeri. 

“Kalau kamu pergi, bagaimana dengan kekasihmu itu?” tanya Freya. 

“Ya, dilupakan saja. Lalu fokus dengan kuliahku,” jawab Janice dengan santai. 

Ketiga sahabatnya saling melirik, tidak seperti biasanya Janice terlihat cuek jika bersangkutan dengan Stendy. Janice yang mereka kenal biasanya akan terlihat sedih dan antusias ketika memikirkan Stendy. Tapi, lihatlah Janice malah terlihat cuek dan bahkan terlalu santai. 

“Kau tidak salah makan sarapan pagi ini, kan?” tanya Briant. 

Janice menaikkan satu alisnya, “Memangnya aku kenapa?” 

“Kamu berbeda, Janice. Tidak seperti biasanya yang begitu khawatir terhadap kekasihmu,” ungkap Jeremy. 

Janice tertawa mendengarnya. “Kalian terlalu berlebihan. Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Bukankah kita sudah berjanji untuk meraih gelar sarjana  bersama-sama. Mulai sekarang sebaiknya kita fokus untuk tujuan utama kita saja. Walau aku tahu nantinya kalian bertiga lah yang akan lebih dahulu mendapatkan gelar sarjana itu. Tapi, jangan lupa doakan aku juga agar bisa menyusul kalian,” kata Janice sambil menggenggam tangan Freya. 

Freya, Jeremy dan Briant pun tersenyum dan mengangguk. 

“Tentu saja kami akan selalu mendoakan kamu dan menunggu kamu kembali ke negara ini,” jawab Briant dengan senyum tulus. 

Janice menatap pria berambut ikal dengan kacamata bulatnya itu. “Kita akan bertemu kembali saat kita semua sudah sukses,” ucap Janice dengan semangat. 

“Tentu saja,” jawab ketiganya. 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!