"Hi, Señorita!" Nero tersenyum miring seraya mengacungkan senjata api tepat di kening Elle.
"Kau ingin membunuhku?!" Elle terisak ketakutan saat pria itu hendak menarik pelatuk senjata apinya. Sebentar lagi dia akan mati.
DOR!
Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Nero ingin melenyapkan wanita yang sangat dicintai.
Penasaran? Ikuti terus kisahnya. Dan jangan lupa, Follow IG Author @Thalindalena
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lena linol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemuda itu?
"Nona Ava, ada apa?" tanya Botak yang baru saja tiba dan melihat Ele mengamuk.
"Sepertinya siklus bulanannya tidak lancar maka dari itu emosinya tidak stabil," jawab wanita itu dengan asal seraya menatap Ele yang berjalan di tangga menuju lantai atas.
"Benarkah begitu?" Botak menatap punggung Ele yang semakin jauh dari pandangan.
"Mungkin." Ava kembali bicara sambil menaikkan kedua bahunya. "Tugasku sudah selesai menjemputnya dan mengantarnya dengan selamat," tambahnya sebelum pamit pulang.
"Tunggu! Jadi bukan Tuan Nero yang menjemput Nona Ele?" tanya Botak dengan raut terkejut.
Ava menggeleng pelan.
"Lalu di mana Tuan Nero? Kenapa dia tidak menjemput Nona Ele?"
"Aku tidak tahu, Paman." Ava segera beranjak pergi karena harus kembali ke kantor, pekerjaannya sangat banyak.
Botak menghela nafas panjang, "Tuan Nero, kenapa Anda selalu saja menghindar?"
*
Nero bertepuk tangan sambil berteriak menyemangati anak buahnya yang sedang bertarung di atas ring tinju.
"Tuan Nero." Pedro menunjukkan ponselnya pada boss-nya, kemudian berbisik tepat di dekat telinga Nero.
Raut wajah Nero seketika berubah dingin, rahangnya mengeras dan urat-urat ditangannya menonjol seiring kepalan tangannya semakin kuat.
"Kau yakin?" tanya Nero, dingin.
"Yakin, Tuan."
Nero segera beranjak berdiri menghentikan pertarungan tersebut.
Sontak para anak buahnya yang sedang bersorak sorai menyemangati dua rekannya yang sedang bergulat di ring langsung terhenti, suasana yang tadinya riuh berubah senyap dan mencekam.
Apakah mereka ada yang membuat kesalahan? Pikir mereka, bertanya-tanya dalam hati dengan perasaan takut.
"Bubar, dan segera kembali ke Markas besar!" tegas Pedro memberikan intruksi pada semua anak buah, lalu ia segera berlari mengikuti Nero yang sudah keluar lebih dulu meninggalkan ruangan itu.
"Berani sekali dia menginjakkan kakinya di Italia! Apa dia sudah bosan hidup!" geram Nero dengan penuh emosi.
"Yang pasti dia datang ke sini untuk mengejar Nona Elle," jawaban Pedro semakin membuat jiwa iblis Nero bangkit.
Nero menyeringai, "tak akan kubiarkan dia mendekati Ele!"
"Anda benar sekali. Pemuda itu hanya memanfaatkan Nona Ele untuk balas dendam atas kematian keluarganya," sahut Pedro, menggebu. "Anda harus bisa melindungi Nona Ele. Bukankah itu tujuan Tuan Ben memindahkan Nona Ele ke Italia," tambahnya membuat Nero sangat terkejut.
"Jadi Tuan Ben sudah mengetahui identitas asli pemuda itu?" Nero menatap tajam Pedro.
Pedro mengangguk, "aku rasa begitu, tapi dia masih merahasiakan semua ini dari Tuan Damon dan Nona Glam mengingat mereka sedang menanti kelahiran anak ke tiga." Pedro memberikan penjelasan.
"Apa? Nona Glam hamil lagi?" Ini sebuah kejutan untuknya.
"Jadi Anda belum tahu? Usia kehamilan Nona Glam telah memasuki 8 bulan."
"Aish! Kurang ajar sekali mereka karena tidak memberitahu kabar bahagia ini," kesal Nero.
"Sepertinya mereka merajuk karena Anda tidak pernah mau datang ke Barcelona," jawaban Pedro membuat Nero menghembuskan nafas kasar.
*
Ele membuka pintu kamarnya. Kamar yang sudah lama tidak ia tempati, akan tetapi semuanya masih sama seperti dulu saat ia meninggalkan kamar tersebut. Sangat bersih, rapi, dan wangi, menandakan kalau kamar tersebut di rawat dengan baik.
"Tuan Nero terkadang tidur di kamar ini," suara Botak membuat Ele sadar dari lamunannya.
Ele menoleh, menatap pria botak itu yang berdiri di ambang pintu.
"Paman, apa kabar?" tanya Ele, tersenyum lebar saat menatap pria tersebut.
"Seperti yang Anda lihat." Botak melebarkan kedua tangan diiringi dengan senyuman tipis, menandakan bahwa dirinya baik-baik saja. "Wah, Anda sekarang sangat berbeda, sudah dewasa dan sangat cantik," puji Botak, memperhatikan penampilan Ele yang sangat cantik dan modis. Semua yang menempel pada gadis itu adalah barang branded.
"Paman, bisa aja." Ele tersipu malu mendapat pujian seperti itu. "Tadi, Paman bilang kalau Tuan Nero sering tidur di sini?" Ele meminta penjelasan.
"Ah, maksudku, Tuan Nero sering memeriksa kamar ini." Botak segera meralat ucapannya dengan gelagapan karena tadi ia sudah keceplosan, dan untung saja gadis itu percaya kepadanya.
*
Like dan komentarnya!
Botak tidak mengenali wanita cantik yang bersama Cammora.
Botak tentu sangat geram melihat Cammora pulang tidak bersama Berta.
Cammora memuji Berta sangat cantik, bagaikan berlian langka.
Berta pemilik wajah terkejut melihat pantulan dirinya di cermin. Nyaris tak mengenali dirinya.
nikmati kegengsianmu botak 🤣🤣
Cammora tidak peduli dengan aturan Botak untuk Berta. Camorra mengajak Berta bersenang-senang. Cammora menggenggam erat tangan Berta menuju mobilnya.
Cammora membawa Berta ke salon kecantikan.
Cammora ingin pegawai salon merubah penampilan Berta menjadi cantik, sampai membuatnya pangling.
Elle senang tersenyum puas menikmati kegalauan Botak.
Cammora pria yang bisa membuat Berta bisa tersenyum. Berta merasa di hargai, di inginkan, dan di perhatikan.
Berta hatinya tersentuh dengan perhatian-perhatian kecil dari Cammora.
Apalagi Cammora memberikan Berta semangat dan dukungan moril, juga memberi nasehat.
Berta tumbuh dengan rasa ketakutan, tidak percaya diri, dan terasingkan.
Kini ada pria yang mengatakan Berta berharga. Jangan pernah lagi merasa rendah diri. Berta gadis hebat dan kuat.
Berta dengan mata berkaca-kaca mengucapkan terima kasih pada Cammora.
Berta tersentuh, terharu dengan apa yang dikatakan Cammora.
Cammora bertanya pada Berta - Botak yang menjawab.
Cammora tak terima pada Botak yang ikut campur urusannya dengan Berta.
Elle datang - menyelamatkan Berta dari aturan Botak yang seenaknya sendiri.
Botak kalau suka sama Berta bicara terus terang. Sok meremehkan Berta. Nyatanya cemburu Berta didekati Cammora.
Rasain Batak. Suka memarahi Berta - mana bilang bukan hanya wajah Berta yang jelek, tapi cara kerjanya juga jelek.
Lihat tuh si jelek disukai Cammora yang kaya raya. Botak tak ada apa-apanya dibanding Cammora.
Cammora memanfaatkan waktunya untuk mendekati Berta.
Bahkan kemanapun Berta pergi, Cammora mengikuti.
Berta sampai protes pada Cammora.
Berta menyebut nama sekalian nama panggilannya.
Elle dan Nero berada di kamar menatap mereka.
Nero tak terima istrinya memuji Cammora yang gentelman.
Meronalah kedua pipi Berta mendengar tamu majikannya mengatakan - berliannya Berta.
Di kasih waktu satu minggu oleh Nero.
Nero mengancam Cammora akan kehilangan kepalanya kalau melakukan hal bahaya atau melukai penghuni rumah Nero.
Elle memperbolehkan Cammora menginap - biar Botak cemburu dan sakit hati.
Elle syok mendengar penuturan Nero - Botak tidak pernah mau menikah. Mungkin Botak tidak tertarik pada wanita.
Sepertinya Botak tidak mau menikah bukan karena gay, Elle.