Alya Renatha tak pernah menyangka akan diceraikan oleh Leonhart Varellion, CEO dingin dari Leonhart Corporation yang menikahinya tanpa cinta. Saat ia pergi dari hidup pria itu, Alya tidak tahu bahwa dirinya sedang mengandung anak kembar tiga.
Bertahun-tahun berlalu. Alya kembali ke kota itu bersama ketiga putranya. Tanpa sengaja, mereka bertemu dengan Leon di sebuah lobi hotel.
“Om, mau nggak jadi Papa kami?” tanya ketiga bocah itu serempak—membuat Leonhart Varellion terpaku dengan tatapan datar, karena wajah mereka mirip dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julian_06, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekerasan
Ancaman Leon mulai terjadi, saat malam pertama yang harusnya pasangan pengantin baru itu bercumbu mesra malah Alya ditinggal seorang diri di hotel.
Alya memperhatikan kamar pengantin penuh dengan hiasan bunga serta beberapa lilin yang menyala.
Apa yang dia harapkan? Malam pertama dengan pria arogan itu? Tidak! Dia hanya ingin Leon menghargainya dengan cara tidak menemui wanita yang bernama Miki tersebut.
"Hah! Sudahlah, aku tidur saja."Alya memutuskan tidur di sofa karena di atas tempat tidurnya penuh dengan bunga dan dia tidak mau merusaknya. Karena sudah sangat lelah, ia pun pada akhirnya terlelap dan tidak mempedulikan suaminya sedang ada di mana.
Keesokan harinya.
Sinar mentari menyerobot masuk dan mengenai wajah Alya.
Gadis itu bangun lalu menguap dan matanya melihat ke arah tempat tidur yang kosong. Dia sudah menduga jika Leon tidak akan ke kamarnya.
Suara pintu terbuka terdengar, Leon masuk lalu mendekati Alya dan menyeret istrinya itu ke kamar mandi."Sakit!" rintih Alya.
Rambut Alya disiram dengan air dingin.
"Apa yang kamu lakukan?!"
"Rambutmu harus basah dan jangan adukan kepada Kakekku jika aku tidak datang ke kamar ini," jelas Leon.
Alya melihat rambut Leon basah, jadi pria itu malah malam pertama dengan wanita lain? Sungguh sangat menyakitkan bagi Alya, dia merasa tidak dihargai sebagai seorang istri.
"Mandi dan buat rambutmu basah! Setelah ini kita akan sarapan bersama keluarga besarku," ucap Leon.Pria itu pergi dari kamar mandi meninggalkan Alya yang kedinginan dan menangis. Andai saja dia bisa memilih, dia tak mau menikah dengan pria sombong itu. Beberapa saat kemudian setelah mandi, dia berkaca dan melihat wajahnya yang memucat. Tak mau memperlihatkan kesedihannya kepada orang lain, ia pun merias dirinya sebaik mungkin dan mengenakan yang sudah disiapkan.
Di sisi lain.
Leon sudah menuju ke restoran dekat hotel di mana keluarga besarnya makan bersama.
"Leon, di mana istrimu?"tanya Alfred.
"Dia sedang bersiap diri," jawab Leon.
"Alfred, aku senang sekali kita akhirnya berbesan," ucap Sukma, nenek dari Alya.
Alfred mengangguk. "Kita tidak bisa berjodoh dan siapa sangka cucu kita yang berjodoh."
Sampai detik ini pun Sukma tidak tahu cucunya dinikahkan karena pemerkosaan oleh Leon dan jika dia tahu tentu saja akan tidak menyetujui pernikahan mereka.
Tak berselang lama kemudian, seluruh mata memandang ke arah perempuan cantik yang berjalan ke arah mereka. Siapa lagi jika bukan Alya? Dia berdandan secantik mungkin dan mengeluarkan auraaslinya. Leon melihatnya lalu membuang muka, baginya Alya hanya seorang pelayan saja yang mendapatkan hoki bisa menikahi pria kaya sepertinya.
"Alya, duduklah di sebelah suamimu!"
"Baik, Tuan."
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu! Panggil aku kakek."
"Baik, Kakek."
Mereka lalu makan bersama-sama sambil mengobrol ringan, Leon dan orang tuanya sejak tadi juga diam saja. Mereka tidak bisa berkutik jika terkait keinginan Alfred.
"Mereka sangat serasi sekalikan, Sukma?" tanya Alfred.
"Iya, wajah mereka juga terlihat mirip," jawab Sukma.
"Leon adalah cucu pertamaku, sementara cucuku yang satunya masih di luar negeri," ucap Alfred.
"Oh iya, darimana Leon dan Alya saling kenal?" tanya Sukma.
Leon menyahut. "Di Resort Indraloka , aku tamu di sana dan Alya bekerja di sana."
"Wah, menarik. Pasti cinta pada pandangan pertama," ucap Sukma.
Leon melirik ke arah Alya, Alya hanya menunduk kemudian tiba-tiba Leon meremas tangan istrinya itu membuat Alya kesakitan.
"Rasa sakit ini belum seberapa," bisik Leon.
Setelah sarapan pagi, Leon dan Alya masuk ke dalam kamar mereka lagi. Pria itu melempar pil pelancar menstruasi supaya Alya tidak hamil.
"Minum itu dan jika tidak mempan aku akan memberikan pil aborsi," ucap Leon.
"Aku tidak hamil!"
"Mungkin sekarang belum karena kita baru melakukannya beberapa hari yang lalu. Kamu harus minum ini supaya tidak ada bayi diantara kita. Aku sangat mencintai seseorang dan tidak mau membuatnya kecewa," jelas Leon.
"Jadi kamu lebih memilih wanita itu daripada anakmu?" tanya Alya.
"Aku tidak sudi mendapat keturunan dari kasta rendah sepertimu!"
Kata-kata Leon membuat hati Alya menjadi sakit. Leon lalu mendorong Alya ke tempat tidur dengan kasar lalu dia keluar dari kamar itu, Alya hanya bisa menangis karena suaminya sangat kasar.
"Satu lagi, jangan pernah coba-coba menyembunyikan kehamilanmu dariku!" ucap Leon terhenti langkahnya saat sudah berada di depan pintu.Setelah pria itu benar-benar pergi, Alya memeluk perutnya sendiri, dia berharap benih-benih itu tidak menjadi bayi di perutnya.
Lalu bagaimana jika itu sampai terjadi? Leon pasti akan membunuh darah dagingnya sendiri.
"Jika aku memang hamil, aku akan melindungi anak ini," gumam Alya sambil mengusap air matanya.
Leon lalu pergi menemui Miki, gadis itu kemarin malam menangisinya dan kemarin juga Leon menemaninya semalaman.
Leon memang terkenal playboy tapi sekalinya dia menemukan wanita yang dicintainya maka dia akan memperjuangkannya apalagi kasta mereka sama tingginya.
Miki menginap di hotel ini juga tapi di lantai yang berbeda.
Leon keluar dari lift kemudian menuju ke kamar kekasihnya, tanpa mengetuk pintu dia masuk ke dalam sana dan melihat Miki termenung di tempat tidur.
"Leon, kamu datang juga."
Miki berlari memeluk kekasihnya.
"Maafkan aku! Aku tidak bisa membawamu ke acara sarapan dengan keluargaku."
"Tak apa, sekarang kamu sudah di sini."
Kemudian mereka berciuman dengan mesra dan melanjutkan apa yang harus mereka lakukan. Hubungan mereka memang sudah sejauh itu tapi terhalang restu keluarga Leonhart.
Leon mendorong Miki ke atas tempat tidur, mereka melakukan pergulatan di sana bahkan desahan mereka memenuhi seisi ruangan dan tidak mempedulikan Alya yang sedih di kamarnya sendiri.
Keesokan harinya.
Alya dan Leon pulang ke apartemen, Leon memang sudah tinggal sendiri di sana sebelum menikah. Tak ada bulan madu kali ini, pernikahan mereka memang hanya status saja.
"Kamu tidur di sini," ucap Leon sambil menunjuk sofa yang berada di ruang tamu.
Di apartemennya memang ada dua kamar, tapi dia memang sengaja tidak memberikan kamar untuk Alya supaya gadis itu tidak betah menjalani pernikahan ini.
"Oke," jawab Alya tidak mau ambil pusing.
"Kenapa Kakekku dan Nenekmu bisa saling kenal?" tanya Leon.
"Entah," jawab Alya cuek.
Leon yang kesal dengan sikap istrinya yang kurang ajar itu langsung menarik tangan Alya dan dia dorong ke tembok.
"Aaah!" teriak Alya.
"Sialan!"Apa yang kamu mau, Leon?" ucap Alya kesakitan.
Tangan Leon menjambak rambut Alya dan menariknya supaya wajah gadis itu bisa menghadapnya.
"Setidaknya sopan sedikit kepadaku! Dasar pelayan sampah!"
"Ampun!" Alya meringis karena tarikan tangan Leon di rambutnya semakin kuat.
Leon lalu mendorong Alya ke lantai, belum apa-apa Leon tak hanya memberikan luka batin kepada Alya melainkan luka fisik.
cuma ada oma riana jd pembantu menantunya gdang salad.
biar nyaman ada halaman nya untuk keluarga dgn anak banyak
sesalah apapun ibu jgn tega begitu membiarkan dia kerja sm menantunya.
klw nikah di grreja artinya agama kristen.
yg menikahkan penghulu,biasanya klw nikah di gereja pendeta
aga membingungkan