NovelToon NovelToon
Dikira Miskin: Ternyata Suamiku CEO

Dikira Miskin: Ternyata Suamiku CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:985
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Larasati, wanita pekerja keras yang sudah lelah hidup dalam kesulitan dan pernah terluka oleh orang yang hanya mementingkan harta, jatuh hati pada Agung—pria sederhana yang tampak tidak memiliki apa-apa, namun selalu menyayanginya dengan tulus dan penuh perhatian. Meski diperingatkan kerabat dan teman agar tidak membuang waktu pada pria yang dianggap tidak mampu mensejahterakannya, Larasati tetap teguh memilih Agung. Mereka menikah dengan sangat sederhana, berjanji untuk membangun kehidupan bersama dalam suka maupun duka.

Selama berbulan-bulan mereka berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan gaji yang pas-pasan, namun kasih sayang Agung tak pernah berkurang sedikitpun. Hingga suatu hari, kedatangan seorang pria tua berwibawa dengan mobil mewah mengubah segalanya. Larasati akhirnya mengetahui kenyataan yang disembunyikan Agung selama ini: suaminya bukanlah orang miskin, melainkan pewaris tunggal keluarga konglomerat Wijaya yang sengaja menyamar menjadi orang biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Harga yang Tak Ternilai oleh Emas

Hari itu, ruang rapat utama gedung Saraswati Kopi Nusantara terasa lebih dingin dari biasanya, meski pendingin ruangan disetel sama seperti hari-hari biasa. Di ujung meja panjang, duduk seorang pria paruh baya berpakaian sangat rapi, membawa aura kekuasaan yang sulit disembunyikan—Tuan Hendrik, perwakilan dari konglomerat pangan terbesar di Eropa yang namanya tercatat di bursa saham dunia. Di sebelahnya, tumpukan dokumen setebal telapak tangan menanti untuk dibuka.

Agung dan Larasati duduk berdampingan, bergandengan tangan di bawah meja seperti biasa. Di samping mereka, Ibu Saras, Aditya, dan Arif menatap waspada. Dewan komisaris yang biasanya bersuara tegas kini tampak terdiam, seolah takut memecah keheningan.

“Kami tidak datang untuk berunding soal kerja sama,” suara Tuan Hendrik rendah namun tegas, membuka pertemuan itu tanpa basa-basi. “Kami datang untuk membeli seluruh aset perusahaan ini. Termasuk seluruh perkebunan, merek, jaringan distribusi, dan—yang paling penting—hak eksklusif atas varietas kopi langka yang kalian miliki: Kopi Melati Saraswati.”

Ia berhenti sejenak, membiarkan kalimatnya meresap, lalu melanjutkan perlahan: “Nilai tawaran kami adalah tujuh ratus lima puluh miliar rupiah. Tunai. Hari ini juga bisa ditandatangani perjanjiannya.”

Ruangan itu seketika hening total. Angka itu begitu besar, cukup untuk membuat setiap anggota keluarga hidup mewah berkali-kali lipat seumur hidup, bahkan untuk anak cucu mereka yang belum lahir sekalipun. Beberapa komisaris tua tak kuasa menahan napas, saling berpandangan dengan mata berbinar—angka itu jauh melampaui perkiraan nilai pasar perusahaan yang sebenarnya.

“Kami akan mengembangkan varietas itu ke seluruh dunia,” tambah Tuan Hendrik seolah merayu. “Kalian bisa pensiun dengan tenang, menikmati kekayaan yang tak akan habis sampai tujuh turunan. Tidak perlu lagi bangun pagi, tidak perlu lagi menghadapi risiko gagal panen atau persaingan bisnis yang kejam.”

Saat ia selesai bicara, debat panas segera meletus di antara jajaran direksi dan komisaris.

“Ini tawaran yang tidak akan datang dua kali!” seru salah satu komisaris yang selama ini selalu mengutamakan keuntungan. “Kita sudah bekerja keras bertahun-tahun, sudah melewati badai demi badai. Sekarang saatnya kita memanen hasilnya!”

“Kalau kita tolak, siapa yang jamin besok harga kopi tidak anjlok?” timpal yang lain. “Kita bisa bangkrut dalam sekejap!”

Di tengah riuh itu, Agung diam saja. Ia menatap tumpukan dokumen di depannya, lalu perlahan mengangkat wajah menatap Tuan Hendrik. “Anda menawarkan angka yang sangat besar. Tapi boleh saya tahu, apa yang akan terjadi pada dua belas kelompok petani di Temanggung, pada ratusan pekerja perkebunan, pada pusat pelatihan yang sedang kita bangun? Apa yang akan terjadi pada mereka jika perusahaan ini berpindah tangan?”

Tuan Hendrik tersenyum tipis, seolah pertanyaan itu tak penting. “Kami akan menyesuaikan sistem kerja kami. Mungkin saja kami akan mengganti pemasok agar lebih efisien. Mengapa kalian terlalu memikirkan mereka? Uang tunai itu sudah cukup menolong mereka berkali-kali lipat jika kalian ingin menyumbangkan sebagian saja.”

Kata-kata itu bagaikan percikan api yang membakar kesabaran Larasati. Ia berdiri perlahan, tangannya masih menopang perutnya yang membesar lima bulan, tapi tatapannya sekeras baja.

“Maaf, Tuan Hendrik,” suaranya tenang namun bergetar penuh keyakinan. “Kami tidak menjual tanaman saja. Kami tidak menjual tanah saja. Kami tidak menjual merek saja. Kami menjual kepercayaan. Kepercayaan dari ratusan keluarga yang sudah bertahan bersama kakek buyut kami, bersama Bu Wulan, sampai kepada kami sekarang. Uang tujuh ratus lima puluh miliar itu bisa habis dalam sekejap, bisa habis untuk keperluan yang tidak berguna. Tapi kepercayaan yang sudah terjalin tiga generasi… tidak ada harta di dunia ini yang cukup mahal untuk membelinya.”

“Dan soal Kopi Melati Saraswati,” potong Arif yang baru pertama kali bersuara, tangannya memegang sebuah botol kaca berisi biji kopi berwarna hijau keemasan yang berkilau aneh. “Anda menginginkannya karena Anda tahu ini satu-satunya varietas yang tersisa di dunia. Kakek buyut kami menemukannya di hutan pedalaman pulau Jawa seratus tahun lalu, dan menjaganya agar tidak punah dengan cara menanamnya bersama petani kecil, bukan di perkebunan pabrik yang merusak alam. Jika berpindah ke tangan Anda, saya yakin Anda akan menanamnya secara massal, menggunakan pupuk kimia berlebih, memaksakan panen sepanjang masa sampai varietas aslinya rusak dan hilang selamanya. Itulah yang sebenarnya Anda inginkan, bukan?”

Wajah Tuan Hendrik sedikit berubah, namun ia mencoba tetap tenang. “Kalian terlalu emosional dalam berbisnis. Bisnis adalah soal untung dan rugi. Kalian memilih untuk merugi karena perasaan?”

“Kami tidak merugi,” jawab Agung tegas sambil berdiri, berdiri sejajar dengan istrinya. “Kami sedang menjaga warisan. Bu Wulan pernah berkata: ‘Jangan pernah menjual jati diri hanya demi uang’. Jika kami menjual perusahaan ini hari ini, kami mungkin kaya raya. Tapi kami akan miskin jati diri. Kami akan kehilangan alasan mengapa perusahaan ini didirikan dulu.”

Ia melangkah maju sedikit, menatap tajam ke arah Tuan Hendrik. “Tolong sampaikan pada atasan Anda: kami menolak tawaran ini. Seberapa pun besarnya angka yang Anda tawarkan.”

Reaksi dewan komisaris pecah belah. Beberapa merasa sangat kecewa dan marah, mengancam akan mundur jika keputusan itu tetap diambil. Namun sebagian besar lainnya—yang melihat langsung perjuangan keluarga ini bangkit dari keterpurukan—perlahan berdiri satu per satu di belakang Agung dan Larasati.

“Kalian benar,” kata Pak Harto sang pengacara tua yang hadir sebagai saksi kehormatan. “Harta bisa dicari lagi. Tapi kepercayaan dan nama baik yang dibangun dengan keringat dan air mata, tidak akan pernah bisa dibeli kembali.”

Siang itu, setelah perwakilan konglomerat itu pergi dengan wajah kecewa, ketegangan belum benar-benar usai. Sebagian pemegang saham minoritas yang tergiur uang mulai menyebarkan isu bahwa Agung dan Larasati memimpin dengan perasaan, bukan akal sehat, dan berusaha menggalang dukungan untuk menggulingkan kepemimpinan mereka dalam rapat umum pemegang saham bulan depan.

Sore harinya, saat suasana hati sedang gundah gulana, Lala datang berlari membawa selembar kertas tua yang ia temukan terselip di balik lemari buku tua Bu Wulan di rumah lama. Di atasnya ada gambar sketsa tangan kakek buyut mereka, lengkap dengan tulisan samar yang bisa terbaca:

Kopi ini bukan milik kita. Kita hanya dipercaya untuk merawatnya sampai waktunya tiba diserahkan kembali kepada alam dan sesama manusia. Jangan pernah jadikan dia alat untuk mengumpulkan harta, tapi jadikan dia jembatan untuk menyambungkan persaudaraan antar manusia.

Malam itu, keluarga berkumpul kembali di kebun melati. Agung memeluk pinggang Larasati dari belakang, menempelkan pipinya di pipi istrinya yang dingin terkena angin malam.

“Apakah kita sudah mengambil keputusan yang benar?” tanyanya pelan, bukan karena ragu, tapi ingin mendengar penegasan dari orang yang paling ia percaya.

Larasati memegang tangan suaminya yang melingkar di perutnya. “Kita sudah mengambil keputusan yang sesuai dengan ajaran mereka yang pergi lebih dulu. Kalau nanti kita jatuh, kita jatuh bersama-sama dengan menjaga harga diri kita. Kalau kita bangkit, kita bangkit membawa banyak orang bersama kita.”

Di kejauhan, di balik jendela kamar, Lala sedang tertidur pulas sambil memeluk boneka beruang pemberian Arif. Ia belum tahu bahwa keputusan yang diambil ayah dan ibunya hari itu justru akan menjadi kunci kesuksesan yang jauh lebih besar dari angka tujuh ratus lima puluh miliar. Bahwa berita tentang penolakan mereka yang teguh memegang prinsip justru akan terdengar sampai ke telinga pecinta kopi sejati di seluruh dunia, membuat nama Saraswati Kopi Nusantara semakin dihormati dan dicari—bukan karena harganya yang mahal, tapi karena nilai kejujuran dan kasih sayang yang terkandung di dalam setiap butir kopinya.

Dan mereka belum tahu juga, bahwa ancaman pemecatan dari pemegang saham itu justru akan menjadi pintu gerbang pertemuan dengan sosok yang selama ini mencari keberadaan varietas langka itu demi alasan yang jauh lebih mulia daripada sekadar keuntungan bisnis.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!