"Kau tidak punya pilihan lain selain menikah dengan ku Embun."ucap Alfaro.
Sementara gadis yang kini tengah menundukkan kepalanya itu tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Hanya karena satu peristiwa yang terjadi di malam kelahirannya gadis itu harus terjebak bersama seorang pria yang tidak pernah ia kenal sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erny Su, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Alfaro pun pergi meninggalkan rumah yang kini ditempati oleh istri kontrak nya itu pun seolah berat meninggalkan wanita yang sangat ia cintai itu, tapi dia tidak bisa terus berada di sana karena takut membuat orang tuanya curiga karena dia tidak pulang sejak kemarin malam.
Sesampainya di rumah benar saja semua orang tengah bersiap sementara dia yang baru datang langsung diminta bersiap untuk pergi menghadiri undangan makan malam dari keluarga tunangan nya itu.
"Alfaro anak mommy yang paling tampan kamu darimana saja nak, mommy tidak bisa menghubungi mu sejak tadi pagi."ucap nyonya Arkan Wijaya.
"Al baru kembali dari luar kota mom, ada yang harus Al urus."ucap Alfaro yang kemudian berjalan menuju lift.
"Hmm... baiklah sekarang segera bersiap."pintanya.
Alfaro pun langsung pergi menuju lantai tiga Mansion yang terkenal dengan kemewahan yang tercipta di luar dan dalam nya itu.
Hingga saat ia tiba di dalam kamar nya, bayangan wajah cantik Embun membuat dia enggan untuk pergi tapi dia tidak bisa mengecewakan kedua orang tuanya.
Andaikan saja Embun terlahir dari keluarga yang utuh dan bukan anak haram dari keluarga Nelson mungkin saat ini dia bisa menikahi Embun secara resmi tapi sepertinya itu hanya angan-angan saja.
Alfaro pun hanya bisa menatap Embun dari kamera cctv kamarnya yang terhubung ke handphone miliknya.
"Kamu sedang apa sayang bukankah sudah aku bilang untuk istirahat."ucap Alfaro yang kini menatap lekat layar handphone nya melihat Embun yang kini duduk termenung di atas ranjang empuk nya itu.
"Aku tau kamu kesepian tunggu saat besok semua yang kamu inginkan akan aku wujudkan."ucap Alfaro.
"Kamu anteng sekali boy lihat apa?"ucap tuan Arkan Wijaya.
"Ah mengecek pekerjaan dad."ucap Alfaro yang kemudian mematikan ponselnya.
"Al sayang mommy ingin kamu temani mommy ke butik bersama Eveline besok bisa?"ucap sang mommy.
"Mom mommy ingatkan besok pagi itu hari apa, Alfaro tidak bisa pergi karena banyak pekerjaan mungkin lain kali saja mom."ucap Alfaro.
"Ah mommy lupa putra mommy itu terlalu sibuk sejak dia memegang bisnis keluarga."ucap nyonya Arkan.
"Aku akan usahakan lain hari mom tapi tidak di minggu-minggu ini."ucap Alfaro.
"Hmm... baiklah sayang."ucap nya, tidak terasa mereka pun sampai di rumah Eveline calon istri Alfaro yang kini turun dari mobil dan langsung disambut pelukan oleh Eveline.
Sementara Alfaro hanya mencoba untuk tersenyum sambil mengusap lengan Eveline.
"Thanks honey sudah datang."ucap Eveline yang dijawab anggukan pelan.
Sementara itu di kediaman Embun kini dia tengah membuka laptop miliknya yang ia dapatkan saat ia mendapatkan perlombaan renang yang diadakan di kampus nya.
Sering tengelam karena ditindas oleh keempat kakaknya termasuk Alfaro yang kini menjadi suami kontraknya dia berhasil menjadi perenang hebat meskipun bukan atlet renang yang selalu ikut kejuaraan.
Bahkan kemampuan nya itu dia sembunyikan dari orang rumah nya.
Laptop yang sangat bagus itu dia gunakan untuk kuliahnya dan selalu dia titipkan di rumah teman nya sepulang kuliah.
Teman Embun adalah seorang pria yang menjadi guru renang baginya selama ini, hingga saat ia pandai dan menjadi juara.
Dia seorang duda cerai mati, dan sampai saat ini dia tidak menikah lagi dia fokus mengurus putrinya yang masih berusia lima tahun.
Pria itu sering membantu Embun saat Embun dalam kesulitan kecuali saat berada di dalam rumah keluarganya.
Tidak jarang Embun pun membantu menjaga putrinya disaat pria bernama Alvin itu sibuk dengan pekerjaannya.
Pertemanan itu terjalin begitu saja, Alvin yang memiliki rumah satu tipe dengan kediaman keluarga Nelson, yang membedakan rumah Alvin penuh kehangatan sementara rumah keluarga Nelson penuh dengan kemunafikan.
Embun mulai mengaktifkan sosial media nya dan dia melihat banyak pesan masuk dari beberapa teman kuliah nya dan juga Alvino yang berulang kali menanyakan tentang keberadaannya.
Embun pun mulai menjawab satu persatu pesan nya dan kini mereka tengah chating dan Embun mengatakan bahwa ia tinggal di suatu tempat yang tidak boleh ia beritahukan kepada siapapun dan dia bilang bahwa dia tidak bisa seenaknya untuk bermain media sosial.
Alvin pun berkata jika Embun dalam masalah pintu rumah nya terbuka lebar untuk nya.
Namun Embun bilang dia baik-baik saja dia akan memberitahu nya jika dia dalam masalah.
Alvin pun merasa bersyukur setidaknya menghilang nya Embun bukan karena dia celaka tapi karena dia minggat dari rumah bak neraka itu.
Embun pun meletakkan laptop nya, kemudian dia pun membaringkan tubuhnya diatas ranjang yang menjadi saksi bisu percintaan nya dengan Alfaro.
Embun masih kesulitan untuk memejamkan mata hingga dia teringat dengan almarhum ibunya yang selalu menasehati dirinya setiap kali dia akan terlelap dalam tidurnya.
Iya pun hanya bisa menitikkan air mata sambil memejamkan matanya, dia berjanji dalam dirinya bahwa ia akan membalas kesombongan nyonya Ananta yang telah membuat ibunya sengsara hingga akhir hayat nya.
Sementara itu di kediaman Eveline tepat setelah makan malam berakhir Alfaro pun pamit ke kamar kecil, disana dia langsung mengambil handphone nya dan melihat istri kontrak nya itu dari rekaman Cctv.
Rekaman Cctv itu menunjukkan bahwa Embun sempat menggunakan laptop nya dan terlihat sangat anteng hingga satu jam lebih setelah itu dia pun berbaring diatas ranjang.
Alfaro pun langsung bergegas keluar dari dalam kamar mandi dan melihat kedua orang tuanya tengah berbincang."Mom aku duluan ada pekerjaan yang harus diurus."ucap Alfaro.
"Al calon istri mu butuh kamu itu terus saja fokus pada pekerjaan."ucap nyonya Arkan.
"Tidak apa aunty lagipula itu juga untuk masa depan kita iya kan honey?"ucap Eveline.
"Hmm..."lirih Alvaro yang kini tersenyum dipaksakan.
Sampai akhirnya Alvaro pergi lebih dulu menuju rumah yang baru tadi sore dia tinggalkan.
Sesampainya di sana Alfaro langsung masuk kedalam rumah setelah memastikan bahwa asisten pribadinya pergi meninggalkan rumah tersebut dengan mobil nya itu.
Alfaro pun langsung masuk kedalam rumah dan berjalan menuju lantai dua menuju kamar nya.
"Sayang kamu benar-benar sudah tidur."ucap Alfaro yang kini meraih laptop yang tidak menggunakan password apapun saat ini entah Embun lupa tapi itu tidak mungkin Saat laptop itu menyala di layar utama laptop tersebut terdapat foto kelima orang yang wajah nya Embun tandai dengan tanda panah.
Dan Alfaro tau bahwa itu adalah fotonya dan anak dari keluarga Nelson dan dia pun tersenyum kecil saat melihat itu. dia tidak marah sama sekali karena dia tau dulu mereka sudah sangat keterlaluan terhadap Embun.
Namun saat melihat akun sosial media milik Embun, pria itu dibuat penasaran hingga saat chat dari seseorang membuat dia hampir tidak bisa mengontrol emosi nya.
"Alvin kau berani bermain-main dengan milikku maka kau akan rasakan kau akan rasakan akibatnya."ucap Alfaro.
Dia cukup mengenal siapa pria itu karena Alvin juga seorang pengusaha meskipun tidak sesukses dirinya.
...🌡️🌡️🌡️...
Alfaro baru selesai menghubungi seseorang saat Embun terjaga dari tidurnya dan mendapati laptopnya hancur berantakan di lantai.
"Laptop ku!"teriak gadis cantik itu.
"Kau lebih tertarik pada laptop mu itu sayang dibandingkan pada suamimu ini."ucap Alfaro yang kini terlihat menatap datar kearah Embun yang kini terlihat sangat marah.
"Kau menghancurkan nya Al, kau tidak tau betapa sulit nya perjuangan ku untuk mendapatkan nya! hiks... hiks laptop ku."ucap gadis yang kini terduduk lemas di lantai sambil mengumpulkan satu persatu komponen yang berhamburan di lantai.
Alfaro pun kembali melihat tangis istrinya saat dia masih belia dulu. Hatinya terenyuh tapi dia tidak mentolerir kesalahan istrinya yang chatting dengan pria lain meskipun bukan chat yang berbau kemesraan tapi perhatian Alvin mampu membuat Alfaro terbakar emosi.
"Jangan ambil laptop itu lagi atau aku akan menghancurkan pria itu, tidak peduli jika aku harus menyingkirkan dia dari dunia ini."ucap Alfaro yang kini membuat Embun tidak bisa berkutik.
"Aku tidak punya hubungan apapun selain pertemanan dengan nya Al, tapi kamu tega ngelakuin hal itu."ucap Embun.
"Aku tega? Lalu suami mana yang tidak akan pernah cemburu saat melihat istrinya tengah malam buta berbalas chat dengan pria lain tidak peduli apa hubungan mereka tapi jelas-jelas kau sadar bahwa aku adalah suamimu suka atau tidak kau harus menghargai aku."ucap Alfaro.
Embun tidak berkata apa-apa lagi selain menangis tanpa suara hingga Alfaro meraih lengan nya lalu kemudian berkata."Aku akan belikan laptop yang baru tapi tidak boleh digunakan untuk chatting dengan pria manapun, dan satu lagi kau boleh menargetkan ku untuk balas dendam seperti foto yang di beri tanda panah itu."ucap Alfaro yang kini membuat Embun menatap lekat wajah Alfaro mencari kemarahan disana tapi tidak ditemukan.
"Aku membenci mu Al, aku membenci mu kau selalu menghancurkan apa yang aku miliki dan apa yang aku dapatkan dengan susah payah selama satu tahun lamanya aku berusaha untuk memiliki benda itu."ucap Embun.
"Aku akan belikan laptop termahal yang jauh lebih baik dari itu babe tapi satu hal yang aku minta jangan berhubungan dengan pria manapun selama kontrak itu masih berlaku, lagipula kontrak itu hanya berlaku 365 hari setelah itu kau bebas memilih pria manapun tapi dengan satu syarat."ucap Alfaro.
"Aku tidak tahu apa aku bisa bertahan disisimu selama itu, karena sekarang saja aku sudah sangat marah padamu."ucap Embun yang kini hendak pergi dari hadapan Alfaro yang langsung memeluk nya dari belakang dengan penuh kelembutan.
Embun pun hanya bisa memejamkan mata dia tidak tau pria seperti apa Alfaro sebenarnya. Apa sikap aslinya seperti saat ini ataukah seperti Alfaro yang dulu yang selalu berbuat semena-mena terhadap dirinya.
"Temani aku bobo sayang aku terlalu lelah saat ini."lirih Alfaro.
Sementara Embun tidak bisa menolak dan kini Alfaro membawa dia ke atas ranjang dan membaringkan embun lalu ia menyusul dengan selimut tebal yang ia tarik untuk menutupi tubuh mereka.
Alfaro membawa Embun kedalam dekapannya hingga Embun memejamkan mata saat menghirup parfum maskulin yang mampu membuat Embun merasa tenang.
Alfaro sendiri pun tidak lama langsung bisa terlelap dalam tidurnya setelah memeluk wanita yang sangat ia cintai tersebut.
Hingga keesokan paginya Alfaro sudah bangun dan dengan terburu-buru dia bangun dan membersihkan diri tanpa menunggu istrinya bangun terlebih dahulu karena pagi ini dia harus sudah berada di meja makan bersama dengan kedua orang tuanya itu.
"Babe aku pulang dulu kamu baik-baik disini nanti siang akan ada orang yang datang untuk mengantar peralatan menjahit dan juga laptop baru untuk mu jangan menangis ya, nanti aku kirimkan foto terbaru ku untuk kamu simpan di laptop mu."ucap Alfaro yang kini mencium bibir Embun yang baru saja bangkit dan juga kening nya.
"I love you babe, love you more."ucap Alfaro yang akhirnya pergi dengan terburu-buru karena Alfaro sudah dijemput saat ini oleh asisten pribadinya.
Sementara Embun hanya menatap kepergian nya dari dinding kaca yang menjulang tinggi tersebut.
"Al aku membenci mu sangat membenci mu."ucap Embun sambil meraih laptopnya itu.
Dia pun pergi setelah membereskan tempat tidur nya untuk membersihkan diri sebelum kemudian dia beraktifitas di bawah dan berolahraga pagi sebelum sarapan pagi seperti saat dia berada di villa.
Embun masih merasa sedih karena laptopnya itu, tapi dia tidak bisa terus meratapi nasibnya seperti selama ini air mata itu selalu dia hapus dengan kebencian yang teramat dalam hingga dia mampu untuk bertahan hidup dalam dunia yang sangat kejam.
Alfaro sendiri kini sudah selesai sarapan pagi bersama dengan keluarga tercinta nya."Boy semalam kamu tidur dimana?"tanya tuan Arkan yang mewakili rasa penasaran istrinya itu.
"Di apartment dad."jawab Alfaro singkat.
"Hmm..."lirih tuan Arkan.
"Sayang ingat jangan berbuat yang macam-macam kamu harus fokus pada persiapan pernikahan mu nantinya dan pembangunan rumah yang akan kalian tempati nanti harus benar-benar diperhatikan dengan baik agar Eveline bisa nyaman tinggal di rumah impian nya nanti."ucap nyonya Arkan.
"Ya mommy ku sayang."balas Alfaro.
"Baiklah mommy merasa lega karena putra mommy satu-satunya benar-benar sangat bertanggung jawab."ucap wanita cantik yang kini mengusap lembut punggung putranya.
"Alfaro pergi dulu mom,"ucap nya.
"Ya sayang hati-hati di jalan."ucap nyonya Arkan.
Hingga akhirnya Alfaro berangkat bersama dengan asisten pribadinya itu, dia tetap fokus pada handphone nya yang memperlihatkan istrinya sedang berada di ruang makan menikmati sarapan pagi nya sendirian.
"Lain kali aku akan menemanimu sarapan pagi honey bersabarlah sampai aku berhasil untuk meyakinkan mommy bahwa aku bisa tinggal di luar dengan baik."lirih Alfaro.
Seperti halnya orang tua pada umumnya nyonya Arkan dan suaminya tuan Arkan Wijaya selalu mengkhawatirkan putranya yang selama ini mereka jaga dengan baik, bahkan saat kuliah di luar negeri pun tuan Arkan rela pulang pergi bersama dengan istri untuk bisa menjaga putranya itu.
ajaran dari mana itu ????????