Dijodohkan dengan putra seorang bos mafia? Fiorella Ferraz, delapan belas tahun, sudah bertekad menolak. Dia diseret dari Berlin ke Sydney untuk pesta pertunangan yang tidak pernah dia inginkan, dan di depan semua orang dia berani berkata: aku tidak mau menikah.
Satu orang tidak terima dibantah. Argo Romanov, bos mafia Australia sekaligus calon mertuanya, pria dingin yang tak pernah ditentang siapa pun. Gadis keras kepala itu langsung dia tahan di rumahnya, "sampai tahu aturan".
Namun semakin sering mereka bertengkar, semakin sulit Fiorella menjelaskan kenapa tubuhnya bereaksi setiap kali pria itu mendekat. Dan semakin keras Argo berusaha menjauh, semakin ia kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Di tengah peperangan antar mafia, kontrak pernikahan yang membelenggu dua keluarga, dan rahasia yang menunggu terbongkar, siapa yang sebenarnya sedang menaklukkan siapa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larissa Marcelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4 - Pesta Pertunangan
...FIORELLA FERRAZ...
Pesta pertunangan diadakan di sebuah aula raksasa. Tempatnya sempurna, penuh mawar putih, dan pelayan hilir mudik di mana-mana. Sialnya, banyak juga penjaga bersenjata di sekelilingnya. Orang-orang berhati busuk memenuhi tempat ini. Kalau polisi datang, mereka pasti berpesta merayakan tangkapan para bos mafia paling berbahaya.
Kami datang dengan mobil sendiri, tanpa keluarga Romanov. Mereka sudah berangkat duluan untuk menyambut para tamu. Kebanyakan orang menoleh ke arahku, seolah mereka sudah tahu aku tunangan Jared. Semuanya berpakaian rapi, para pria berjas dan para perempuan bergaun anggun.
Entah apa yang bisa kulakukan di sini sendirian, sial. Aku tidak kenal siapa-siapa, tidak punya teman, tidak ada kegiatan supaya waktu cepat berlalu. Seorang pelayan lewat di sampingku, dan aku mengulurkan tangan mengambil segelas sampanye.
"Apa yang kamu lakukan, Fiorella?"
"Sekarang aku sudah dewasa, Papa. Papa mau melarangku minum juga?"
"Kamu belum pernah minum, Fiorella."
"Semua orang pasti punya yang pertama." Kulepaskan lenganku dari tangan Papa dan berjalan menyusup di antara para tamu. Aku melangkah tanpa tujuan, hanya ingin menjauh dari Papa.
Aku menoleh ketika merasakan sebuah tangan memegang bahuku.
"Dansa denganku?"
Jared tampak tampan dengan setelan jasnya. Rambutnya disisir ke samping, matanya yang kehijauan berkilau di bawah lampu aula.
"Dansa, sekarang? Aku baru saja datang." Aku ragu.
Dia memegang pinggangku dan memutar tubuhku. Mataku membelalak kaget karena merasakan tangan laki-laki menyentuhku. Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana, jantungku berdebar kencang.
"Kamu bisa dansa lagu seperti ini?"
"Belum pernah, Jared."
"Kamu hebat. Peluk leherku." Aku ragu, tapi kuturuti juga. Sambil memegang gelas, kulingkarkan lenganku di leher Jared. Cowok ini kelihatannya penyayang. "Fiorella..," bisiknya di telingaku. "Namamu bagus banget."
"Hm, terima kasih."
"Aku paham kamu menentang pernikahan kita. Aku juga nggak setuju."
"Serius?" Aku menatapnya, dan astaga! Kami dekat sekali. Mata Jared menyelam ke dalam mataku.
"Kamu sempurna, Fiorella. Cewek yang seksi banget."
"Apa?" Aku mundur dengan kasar. "Seksi?"
"Maaf. Udah kebiasaan."
"Kamu panggil semua cewek seksi?" Dia menggaruk kepala, tak tahu mau bilang apa. "Aku ngerti. Terserah, 'tunanganku'."
Aku pergi dan meninggalkannya. Dari atas panggung, kudengar Loretha mengumumkan pertunangan putranya.
"Selamat malam, para tamu! Terima kasih sudah datang ke pesta yang sangat penting bagi kami ini. Putra tunggal sekaligus pewaris kami, Jared Romanov, akan bertunangan." Suaranya bergetar haru dan semua orang bertepuk tangan. "Saya ingin mengundang ke sini Tuan Adalberto Ferraz, ayah calon menantu kami yang berasal dari Jerman."
Amit-amit, untung bukan aku yang dipanggil. Aku buru-buru kabur, tidak mau naik ke panggung itu dan dipamerkan seperti piala. Aku masuk ke sebuah lorong dengan banyak pintu. Pintu pertama yang kubuka ternyata dapur, penuh pelayan dan juru masak. Aku keluar lagi dan masuk ke pintu berikutnya. Di dalam gelap gulita. Kututup pintu di belakangku dan aku bernapas lega.
"Bagus, aku sembunyi dari semua orang, di sini nggak akan ada yang menemukanku. Pesta membosankan, orang-orang membosankan, isinya cuma orang-orang dengan ego segede gaban." Aku mengeluh sambil bersandar di pintu dengan mata terpejam.
Terdengar bunyi pemantik api menyala. Aku membuka mata, kaget. Di depanku ada nyala api kecil, tapi langsung padam.
"Siapa kamu?" Tidak ada jawaban. Aku meraba mencari saklar dan menyalakan lampu. Mataku terpejam sesaat karena silau. Jantungku seperti berhenti ketika melihat Argo Romanov duduk di atas meja, mengisap cerutu sambil memandangiku.
"Kamu bilang kami membosankan dan egonya segede gaban?" Suara berat itu menggema di ruangan.
Sial! Dia mendengar semua keluhanku.
"B-bukan, bukan begitu..." Suaraku tak mau keluar. Aku tidak tahu kenapa jadi begini. Dia ada di sana, menatapku lekat-lekat, dan wajahnya tidak seperti pitbull galak. Dia hanya memperhatikanku.
"Lidahmu dimakan kucing?"
"M-maaf." Aku membuka pintu untuk kabur.
"Tunggu!" Aku berhenti ketika dia menggeram, lalu menoleh ke belakang.
Argo bangkit dari kursi sambil merapikan dasinya. Pakaiannya pas melekat di tubuh, menonjolkan lengan dan dadanya. Dia raksasa, besar dan lebar. Aku mencoba mundur selangkah saat dia mendekat, tapi dinding di belakangku menghalangi.
"Kenapa kamu kabur?" Dia menutup pintu di sampingku dan berhenti di depanku, menyisakan jarak yang lumayan di antara kami.
"Aku... nggak apa-apa, Tuan Argo."
"Kamu takut padaku?"
"T-takut? Kenapa aku harus takut?"
"Kamu kelihatan seperti anak kecil yang ketakutan."
"Anak kecil yang ketakutan? Aku bukan anak kecil, aku sudah 18 tahun, aku perempuan dewasa." Dia memandangku tanpa tanda-tanda marah. Kutunggu dia mengerutkan dahi seperti biasanya. Di sudut bibirnya malah muncul senyum tipis. "Apa yang lucu?" tanyaku.
"Kamu bilang kamu perempuan dewasa." Dia mendekat sedikit lagi.
Jantungku berdebar, dan yang lebih membuatku takut, perutku terasa panas. Ada sengatan di antara kedua kakiku dan merinding di kulitku. Belum pernah aku merasakan ini pada siapa pun. Aku tidak tahu tubuh bisa bereaksi hanya karena orang lain berdiri sedekat itu. Rasanya luar biasa. Mulutku kering saat dia memandangi bibirku. Pria yang lebih mirip binatang buas ini membangkitkan perasaan-perasaan yang belum pernah kurasakan.
"Aku... aku perempuan dewasa, Tuan Romanov." Punggungku menempel ke dinding, menekan sekuat tenaga ke belakang. Aku ingin menembus dinding itu dan lari dari sini. Aku bergairah padanya, tapi aku juga takut.
"Tahu kapan kamu jadi perempuan dewasa?"
"K-kapan aku jadi perempuan dewasa? Kalau sudah menikah dengan putramu?"
"Kalau sudah ditiduri pria sejati."
Celana dalamku basah. Aku melongo mendengar ucapannya. Tak kusangka Argo Romanov akan mengatakan itu padaku. Dia menarik tubuhnya mundur, memberiku ruang untuk bernapas. Meski ketakutan, aku melihat dia lengah, lalu aku memancingnya.
"Siapa... pria sejati itu? Putramu?" Aku berusaha bicara tanpa suara bergetar, tapi susah kalau dia sedekat ini.
"Jared tidak akan pernah jadi pria sejati." Dia tersenyum meremehkan.
Rupanya hubungan mereka tidak akur. Seorang ayah menjelek-jelekkan anaknya sendiri. Argo membelakangiku, punggungnya seperti tembok. Dia duduk lagi di kursi dengan kaki terbuka lebar. Kulepaskan punggungku dari dinding dan mendekati meja dengan sangat waswas.
"Tuan Argo, aku nggak punya masalah dengan kalian secara pribadi. Aku cuma nggak mau secepat ini, dan dengan orang yang nggak kusuka, mengerti, kan?"
"Kamu bisa bicara tanpa gagap, bagus."
Ya Tuhan, beri aku kesabaran menghadapi pria ini. Kuabaikan provokasinya dan kulanjutkan bicara.
"Tuan mengerti aku, kan? Tolong lupakan pernikahan ini."
Dia menyilangkan kaki dan menyalakan cerutunya lagi.
"Aku paham, kamu mau aku membatalkan kesepakatan dengan ayahmu, begitu?" Dia mengisap cerutunya dan mengembuskan asap ke arahku. Aku terbatuk sedikit dan mengibaskan tangan di depan wajah. Cerutu macam apa ini? Baunya manis, seperti buah jeruk.
"Kalau... Tuan bisa membatalkan kesepakatan itu, aku akan senang."
"Oke!"
Hah! Dia bilang "oke"?!
"Tuan bilang apa tadi?"
"Aku bilang, oke." Dia mengulanginya.
Dadaku terasa ringan sekali. Sejak tiba di sini, ini senyum pertama yang bisa kuberikan. Mata cokelatnya bertemu mataku saat aku tersenyum padanya. Ternyata Argo tidak SEBURUK itu. Aku salah menilainya terlalu cepat.
"Tapi jangan bilang apa-apa soal aku. Papa nggak akan memaafkanku kalau tahu aku bicara denganmu."
"Padaku, kamu harus bilang Tuan."
"Tuan?" tanyaku bingung.
"Aku mau kamu memanggilku Tuan Argo."
"Baik, Tuan Argo."
"Begitu lebih baik." Dia menaruh cerutu di asbak dan berdiri. Saat dia membuka pintu, aku langsung mengikutinya.
Aku tak percaya aku bebas dari pernikahan ini. Rasanya enteng sekali, seperti bisa terbang.
Argo naik ke panggung, dan aku memperhatikan sosok besar itu di tengah para tamu. Dia mengucapkan selamat malam dan minta maaf karena menghilang tadi. Dia berbohong bilang sedang mengurus beberapa urusan, padahal dia ada di ruangan gelap, entah ngapain.
"Atas permintaan Fiorella Ferraz." Dia menunjuk ke arahku, membuat semua orang menoleh. Dia sudah salah langkah, padahal kubilang jangan menyebut-nyebut aku. "Anak malang itu begitu gelisah menunggu pernikahan dan tidak sabar lagi."
"Ah, jangan!" Aku merintih sambil memegang dadaku mendengar ucapannya.
"Saya ingin mempercepat pernikahan ini jadi sebulan lagi."
Tidak, tidak, tidak, dia nggak mungkin melakukan ini, nggak mungkin.