Ditinggalkan tepat dihari pernikahan membuat Elisabeth hidup tak tentu arah. Ia akhirnya bertemu dengan sosok pria tampan yang baik hati. Si pria muslim pengidap anhedonia. Menikah? Kenapa tidak? Toh kami sama sama tak bisa memiliki cinta. Apa bedanya menjadi teman seumur hidup, dalam bingkai sebuah rumah tangga?
Tapi saat benih cinta mulai tumbuh. Bagaimana seorang Elis akan mencintai si anhedonia sedangkan si anhedonia terus tersiksa karena cinta nya terhadap Elis. Berhasil kah mereka? Yuk baca kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NCY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IAAM-030
Elis dan Khafi tiba dirumah pukul sepuluh malam itu. Suasana rumah sepi saat abi tak berada dirumah, artinya Shaleh dan Hardian juga tak berada dirumah. Bi Saodah duduk sendirian sambil fokus pada acara musik dangdut malam mingguan disebuah stasiun TV.
“Assalamualaikum,” sapa Khafi dan Elis.
“Waalaikumsalam, kalian sudah pulang?”
“Iya bi, ini Elis bungkus Sponge Cake dari toko roti langganan bibi. Bibi sudah makan?” tahya Elis.
“Tentu bibi sudah makan, ini kan sudah jam sepuluh.”
“Maaf bibi menunggu agak lama, tadi jalanan macet. Arus balik dari puncak sangat padat,” ucap Khafi.
“Kalian istirahatlah, bibi juga akan ke mess sekarang.”
Khafi menggenggam jemari Elis menuju ruang makan, kemudian meniti anak tangga hingga ke kamar mereka.
Seakan tak percaya Saodah menoleh dan terus memperhatikan Elis dan Khafi. Mereka terlihat berbeda dari biasanya. Batin Saodah berucap syukur pada yang maha kuasa atas berkahnya untuk kedua keponakannya itu.
....
Seperti biasa saat hari minggu, Elis akan berlama lama berada didapur membantu ibu ibu yang mengurus dapur. Ia betah berbagi dan mendengar cerita cerita konyol mereka yang terkadang membuatnya terbahak bahak. Pembahasan seperti tak pernah ada habisnya di dapur berukuran 10 X 12 meter itu.
Dan sepertinya hari ini, giliran Elis lah yang mendapat serangan pertanyaan dari para wanita wanita super itu.
“Neng Elis. Kapan isi? Kan sudah setengah tahun lebih kenapa masih sepi aja?” tanya bi Sum.
“Hah? Maksud bibi?” tanya Elis heran, ia sama sekali tak mengerti ucapan bi Sumiati.
“Ya kita kan lagi bahas cucu bu Minah, kemarin anaknya melahirkan lagi. Emang neng Elis belum berencana hamil gitu?” jelas bi Sum.
“Oh itu, haha kapan ya?” Elis tersenyum kikuk.
Gimana bisa punya anak? Tidur aja kami pisah. Lagian itu hal yang nggak mungkin hadir diantara aku dan Khafi.
“Harus buru buru loh neng, supaya jang Khafi nggak melirik mencari keturunan ke wanita lain. Saya waktu seumuran neng sudah punya dua anak loh. Sekarang anak saya empat masih kecil kecil. Saya takut, suami saya pernah mengancam kalau nggak mau punya banyak anak ia akan mencari wanita diluar yang bersedia melahirkan banyak anak untuknya,” ujar mbak Rima yang usianya terpaut sepuluh tahun dengan Elis.
“Lagian coba lihat contoh Amel. Ia begitu mencintai suaminya. Karena ia tidak bisa memberi keturunan, ia mencarikan wanita lain untuk suaminya agar bisa memiliki anak. Nah sekarang madunya sudah mengandung sembilan bulan, suaminya malah jarang pulang. Tiap hari tinggal dirumah madu, jatah pulang kerumah Amel hanya sabtu atau minggu aja. Kasihan Amel sekarang Kesepian,” ujar bu Minah.
Aku baru tau teteh punya masalah seperti itu. Selama ini teteh terlihat kuat dan tegar dia bahkan tidak pernah berbagi cerita mengenai rumah tangganya.
“Amel adalah contoh wanita yang memiliki kebesaran hati yang luar biasa. Ia mau mengalah demi kebahagiaan suaminya, Allah pasti membalas pahalanya sebagai istri sholehah berkali kali lipat,” ujar mbak Rima.
“Aamiin,” sahut beberapa ibu ibu disitu.
Saat semuanya masih sibuk dengan pekerjaan masing masing didapur. Saodah tiba dan langsung menghampiri Elis.
“Assalamualikum.”
“Waalaikumsalam,” balas mereka.
“Nak, kamu dipanggil suamimu. Sepertinya ada telpon penting dari keluarga mu.” ucap Saodah.
“Keluarga? Siapa bi?” tanya Elis.
“Nggak tau, tadi dia cuman titip pesan seperti itu diponsel bibi.”
“Neng Elis pergilah, mana tau itu telpon penting.” Ujar bu Minah.
“Iya, lagian kamu kenapa jarang sekali membawa serta ponselmu,” ujar Saodah.
“Hehe, Elis jarang ditelpon orang. Buat apa repot repot bawa ponsel ke dapur. Ya sudah Elis pamit duluan deh. Mari permisi ibu ibu. Assalamualaikum,” ujar Elis kemudian pergi dari situ.
“Waalaikumsalam.”
“Sayang. Masih muda, jika nggak didesak terus buat punya anak mungkin mereka akan lalai.” Ucap bi sum yang masih menatap punggung Elis menjauh dari pintu keluar.
“Neng Elis teh orangnya rajin, supel dan ramah gitu. Jangan sampai ditinggal ama jang Khafi karena nggak bisa memiliki keturunan.” ucap seorang ibu lainnya.
Saodah menggelengkan kepalanya sambil berdecak. “Ckck, setiap perjalanan hidup manusia sudah diatur oleh Allah, termasuk rumah tangganya. Tidak semua orang sama, Khafi itu nggak mungkin menyakiti Elis. Mereka masih dalam proses membangun rumah tangga mereka sendiri. Kita doakan saja semoga keduanya segera diberikan keturunan,” ucap Saodah panjang lebar.
“Ayo ayo, lanjut lagi kerjaannya. Jangan ber ghibah. Allah nggak suka mendengar kita bergunjing dibelakang orang lain,” lanjut Saodah
Mendengar ucapan Saodah, mereka segera bubar dan melanjutkan lagi pekerjaan mereka.
...
Elis melangkah cepat kembali ke rumah. Dalam benaknya telpon itu pasti dari Darian. Ia nggak ingin Darian membuat mood suaminya menjadi buruk. Kalau bisa ia akan berbicara langsung dengan Darian. Ia akan meminta Darian untuk tidak mengganggunya lagi.
“Neng, neng Elis. Tadi dicari sama non Ariqah. Apa sudah bertemu? Mungkin sekarang dia didapur mencari non,” teriak mang Urip dari balik rimbunnya tanaman. Ia sedang memangkas ranting pohon yang telah menjuntai ke tanah.
“Iya mang, makasih infonya,” teriak Elis. “Elis dari dapur tapi nggak ada Ariqah. Apa Elis langsung ke mess samperin Ariqah ya?” gumamnya pelan.
Ke Ariqah dulu. Mungkin dia perlu sesuatu.
Elis berbelok arah menuju asrama putri.
“Assalamualaikum. Ariqah, ini Elis.” panggil Elis dari depan pintu kamar Ariqah.
“Ariqah.”
“Kak Elis. Kak Ariqah kan ke dapur mencari kak Elis. Sudah sejak sejam yang lalu, mungkin dia sudah didapur,” ucap seoarang santri wanita yang sedang menyapu lantai tak jauh dari situ.
“Gitu ya?” Apa aku kedapur lagi?” gumam Elis.
“Apa mungkin dia mencariku dirumah?” tanya Elis namun terdengar hingga ke telinga santri wanita itu.
“Nggak mungkin, kak Ariqah pasti di dapur. Kata bi Saodah kakak lagi masak didapur, makanya dia buru buru ke sana.” ucap santri wanita itu.
“Ya udah. Nanti kalau kamu ketemu kak Ariqah bilang kak Elis kesini ya,” pesan Elis.
“Baik kak.” Sahut santri itu.
“Kakak permisi. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam kak,” santri itu tersenyum dengan ramah ke arah Elis.
Aku langsung ke rumah deh. Bisa jadi Ariqah mencariku ke rumah.
Elis berjalan pulang, jika ia belum bertemu Ariqah dirumah maka ia berniat kembali ke mess menemui Ariqah. Sangat jarang wanita itu mencarinya, mungkin dia sedang butuh sesuatu.
Sesampai diteras rumah ada sendal Ariqah dan suaranya.
“Uhhh, sakit aa perih,” suara Ariqah seperti sedang merintih kesakitan. “Pelan pelan dong aa,” ucapnya lembut dengan nada memelas.
Elis bergegas masuk kedalam ruangan itu. Ariqah tengah memegang pundak Khafi sedangkan Khafi sedang berjongkok sambil memegang pergelangan kaki Ariqah.
“Apa yang terjadi? Ariqah kenapa?” tanya Elis panik.
“Ini Nur, Ariqah terjatuh. Jadi aku menggotongnya ke sini.”
“Apa kamu baik saja?” tanya Elis.
“Ariqah karena sudah ada istriku, biar dia saja yang memeriksa lukamu,” ujar Khafi kemudian berdiri dari posisi jongkoknya.
“Sini biar Elis liat. Elis buka dulu kaos kaki Ariqah ya.” Elis mengambil alih posisi Khafi dan hendak membuka kaos kaki Ariqah.
“Nggak usah, Ariqah baik aja kok. Bentar lagi pasti sudah mendingan.” Ariqah menarik kakinya dari genggaman Elis.
“Kamu yakin tidak apa apa?” tanya Elis.
“Iya, tadi hanya terkilir. Ariqah nggak ingin ngerepotin Elis,” ujarnya.
“Kamu kan pernah menolong suamiku saat kakinya terluka, jadi sudah sewajarnya jika sekarang aku membantu kamu. Kamu yakin sudah baikan?” tanya Elis dipertegas.
Ariqah mengangguk.
“Tadi Elis dari kamar Ariqah, katanya Ariqah mencari Elis?” tanya Elis masih berdiri disamping suaminya.
“Iya, tadi Ariqah mau bawa ini buat Elis.” Ariqah mengambil bungkusan yang terbungkus rapih disampingnya. “Itu cemilan kacang khas Ternate. Ibu yang buat, Ariqah hahya ingin berbagi dengan Elis.”
“Benarkah?” Elis menarik bungkusan dari tangan Ariqah. “Terimakasih, Ariqah benar benar luar biasa, ia bahkan tau makanan kesuakaanku,” ucap Elis gembira sambil memeluk kemasan cantik dan rapih itu.
“Biasa aja, iya udah Ariqah mau pamit dulu, sebentar lagi ashar. Mari permisi Assalamualikum,” ucap Ariqah sambil berdiri dari duduknya.
“Waalaikumsalam.”
“Apa kamu sudah bisa jalan?” tanya Khafi prihatin.
“Bisa aa, Ariqah bisa jalan pelan pelan,” Ariqah tersenyum semanis mungkin menatap Khafi. Ia berjalan sedikit pincang akibat tidak menginjakkan kakinya sepenuhnya ke tanah.
Elis kemudian berbalik badan menatap wajah suaminya.
“Kenapa masih diliatin?” tanya Elis.
“Hah?” Khafi bingung dengan pertanyaan Elis.
“Aku tau dia berbohong. Dia tidak ingin aku membuka kaos kakinya karena jika dibuka maka akan ketahuan kalau dia jatuh boongan,” gerutu Elis pelan.
“Kamu ngomong apa, jangan su’udzon gitu dong,” tegur Khafi.
“Jika dia terjatuh maka kue ini pasti isinya akan berantakan. Kamu lihat, bahkan bentuk kacangnya masih tertata dengan sangat rapih,” ucap Elis sambil berjalan masuk. Ia meletakkan kemasan itu di atas meja. “Ia pasti sengaja ke sini ingin menemuimu.”
Khafi tersenyum menatap wajah Elis. Elis terlihat sangat menggemaskan dengan wajah manyun dan omelan omelan kecilnya.
“Kamu pasti sedang cemburu?” Khafi menarik Elis kedalam pelukannya. Elis masih memasang wajah cemberutnya namun tetap membuat hati Khafi senang.
“Cemburu?” tanya Elis sambil mengelak dari dekapan pria itu.
“Ya kamu persis seperti orang yang sedang cemburu. Aku suka kamu yang seperti ini.”
*Next **🔜*
g ky khafi...
bkn nya g boleh y mengucapkan salam kpd non muslim 🙏
klo hanya dr pakaian kan,blm bs mnntukan seseorang itu muslim atau tidak🙏
pi bngung cz da yg menyangkut agama, dri awal dgreja trus da rang azan n dia nyebut allah, agama si cewek sbnernya apa?
saran j.. jka begronny brat y brat n pergaulan bbasny j jngn bwa2 agama🙏🙏🙏
saya baca sambil belajar logat batak lho kak😁😁