Alesha Az-Zahra jatuh cinta pada pandangan pertama dengan guru SMA nya yang tampan, setahun memendam perasaan suka pada guru itu akan kah Alesha memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaannya?
"Hm," jawaban pak Rezel yang singkat padat dan tidak jelas itu membuat Alesha ingin menembaknya dengan serius, menembak dengan pistol, senapan atau sniper kalau perlu.
Mencintai pak Rezel itu melatih kesehatan mental Alesha, selain sikap nya yang galak dan menyebalkan dia juga kalau bicara sangat tidak jelas. Bicara pendek menyebalkan, bicara panjang malah lebih menyebalkan!
Di mata seorang Alfarezel Savian, Alesha adalah seorang gadis yang terlihat sangat mirip dengan seseorang di masalalu nya. Hal itu membuat nya cukup tertarik pada gadis itu, sampai suatu hari gadis itu datang dan menyatakan perasaan pada nya.
Siap mengikuti cerita mereka? Jangan lupa klik favorit terlebih dahulu agar mendapat notifikasi saat update :)
follow akun ig @_lisaautmptri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lisaautmptri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sambutan
Suasana terasa sepi setelah pak Rezel pergi, Alesha masih tenggelam dalam pikiran nya mengingat apa yang baru saja terjadi, gadis itu berguling tidak jelas di atas ranjang.
Melupakan rasa sakit nya karena terlalu senang, Alesha berguling kesana-kemari
sambil memukuli bantal kecil dalam dekapan nya.
Aaaaaa
aku di cium pak Rezel! Oh jadi gini rasa nya ciuman,aku sampai gak bisa
bernafas, tapi kenapa lihat adegan drama mereka ciuman tahan sampai beberapa
menit ya, aaa aku di cium! Wangi banget
pak Rezel, aku bisa gila kalau gini!
Bergulingan lagi sampai terjerembah ke lantai, Alesha meringis sakit saat lutut nya terbentur. Ah sial sekali! Gara-gara memikirkan ciuman tadi Alesha sampai hilang akal sehat nya.
Sekarang lebih baik kembali ke lapangan untuk menonton pertandingan, Alesha
tidak mau ada di UKS lebih lama. Bisa benar-benar gila nanti karena tidak habis
memikirkan perkara ciuman, lagipula luka nya tidak terlalu parah sampai harus
beristirahat segala.
Sorak-sorai penonton semakin terdengar saat team putra sedang bertanding dalam babak final, murid-murid yang tadi menonton lomba lain sekarang sudah berkumpul disini untuk memberikan dukungan penuh pada
teman-teman mereka.
Alesha melihat Tina, Ayu dan Ani yang berdiri di antara murid lain di pinggir lapangan, gadis itu menghampiri teman nya sambil berjalan tertatih. Ayu yang menoleh berlarian kecil
menghampiri Alesha.
“ Kamu kenapa Ale?” tanya Ayu membantu Alesha berjalan melewati kerumunan orang.
“ Tadi jatuh waktu main, skor nya berapa?” tanya Alesha penasaran.
“ Beda tipis, tim putra sama putri masuk final semua, tapi kamu gak bisa main lagi dong kalau luka
begini?” tanya Ayu melirik lutut dan sikut Alesha yang di balut perban kecil.
Tina dan Ani ikut menghampiri dan menanyakan keadaan gadis itu, “ Cuma tergores dikit, jangan lebay deh. Aku gak bisa main lagi, paling diganti sama pemain cadangan.”
Sekarang empat gadis itu ikut berdiri di antara penonton yang lain. Suara teriakan dan peluit wasit bersahutan semakin meramaikan suasana.
“ Sakit gak Ale?” tanya Tina sengaja menyenggol sikut Alesha, gadis itu meringis sambil menatap tajam
Tina di samping nya.
“ Manis banget, aku jadi pengen lagi.” Alesha memukuli bahu Ani dengan kedua tangan nya, gadis itu jadi merinding takut melihat kelakuan Alesha, dugaan nya seperti nya Alesha
sedang kumat gila nya.
Ani berpindah ke samping Ayu, tidak mau mengambil resiko dekat-dekat Alesha.
“ Dih, di tanya apa di jawab nya apa!” Tina mendengus lagi dan memilih menyoraki Dio dan teman-teman nya saja.
“ Dio semangat, yuhuuu Dio!” Alesha berteriak sekuat tenaga lagi untuk menyemangati sahabat nya itu, lalu melompat-lompat tidak jelas saat Dio berhasil memasukkan bola ke dalam ring.
“ Ale!” Tina menyenggol bahu Alesha lagi.
“ Apasih?” Alesha tak menghiraukan nya, gadis itu masih berteriak heboh.
“ Ale, itu lihat!” Tina menyenggol bahu Alesha lebih keras membuat gadis itu sedikit terhunyung.
“ Apa sih Tina?” menoleh dengan kesal akhir nya.
Tina menunjuk seseorang di depan sana dengan dagu nya, Alesha mengikuti arah nya lalu melihat pak Rezel yang berdiri di sisi lapangan yang berseberangan dengan mereka, pemuda itu sedang melirik tajam pada mereka, lebih tepat nya pada Alesha.
“ Eh calon suami ku,” Alesha bergumam senang, namun setelah nya membuang muka malu, lintasan kejadian tadi kembali teringat.
Pertandingan final berakhir dengan sekolah mereka keluar sebagai juara pertama, namun sayang nya tim putri harus rela berada di posisi kedua, formasi yang berubah karena Alesha keluar dari permainan membuat celah yang mudah bagi lawan untuk mengecoh dan mencuri poin.
Namun tetap saja mereka sudah berjuang dengan keras dan berhasil duduk di
posisi juara dua.
Setelah berpamitan dengan ketiga teman nya, Alesha kembali bergabung dengan tim yang sedang beristirahat di pinggir lapangan. Mereka terlihat meneguk minuman dengan rakus untuk menghilangkah dahaga. Alesha ikut duduk dengan meluruskan kaki nya.
“ Ale kenapa disini? Istirahat aja di UKS,” Dio ikut duduk di samping gadis itu, membuka botol minum lalu memberikan pada Alesha.
Yang lain ikut mengiyakan, karena melihat luka goresan di lutut Alesha cukup lebar. Kalau
tidak di tangani dengan baik tadi mungkin sudah ada ruam kebiruan di kulit nya.
“ Udah baikan kok, cuma sisa perih nya aja.”
Obrolan santai mereka terputus saat kehadiran pak Rezel dan pak Hasan guru sekaligus pelatih mereka saat ini. Mereka berdua ikut duduk dan bergabung dengan obrolan yang lain.
“ Selamat atas kemenangan kalian ya, kalian sudah bekerja keras dengan baik,” Pak Hasan
menepuk pundak Galih yang duduk di sebelah nya.
“ Dan untuk tim putri, jangan berbesar hati. Masih ada tahun depan untuk merebut juara pertama,”
“ Siap pak!” teriak mereka semangat.
“ Alesha bagaimana luka mu? Apa tidak perlu di periksakan?” gadis itu jadi tersenyum kikuk saat semua orang menatap nya, pun pak Rezel juga menatap dengan tampang galak nya itu.
Hahh membuat jantung alay nya Alesha berdegum kencang, gadis itu jadi teringat
lagi kejadian di UKS tadi, tapi kenapa tampang nya pak Rezel itu seperti tidak
habis melakukan apa-apa sih, berlagak tidak mengenal seperti biasanya.
Dan juga kenapa Alesha baru menyadari kalau
hari ini pak Rezel terlihat sangat tampan ya dengan seragam olahraga nya itu,
kaus berlengan pendek yang memperlihatkan otot di bahu nya yang menonjol itu,
kenapa Alesha baru menyadari nya?! Padahal dia sudah melihat dari dekat tadi,
tuhkan! Lihat, cewek-cewek sudah berbisik mengagumi nya begitu!
“ Tidak perlu pak, hanya goresan kecil nanti di rumah saya obati lagi,”
“ Baiklah, sekarang kalian istirahat dulu nanti berkumpul di lapangan untuk pengumuman juara nya ya.” Pak Rezel dan pak Hasan pergi setelah berpamitan dan memberikan semangat.
Alesha menatap tajam punggung pacar nya itu, bisa-bisa nya dia pergi tanpa mengucapkan apapun, jangankan
menyapa dilirik pun tidak! Alesha ingin sekali melempar kepala pak Rezel dengan batu yang ada di dekat kaki nya.
“ Ale ayo ke kantin,” Dio berdiri lalu mengulurkan tangan nya membanti Alesha bangun, gadis itu menyambut uluran tangan nya dengan semangat.
Alesha melahap makanan nya dengan semangat, gadis itu sudah lapar sejak tadi, begitu juga dengan Dio yang sama semangat nya. Mereka makan dengan khusyuk tanpa bicara apapun, tidak seperti biasa nya Alesha akan mengoceh dengan mulut penuh.
“ Habis pengumuman nanti aku masih ada kegiatan di OSIS, kamu gak papa pulang sendiri nanti?” tanya Dio setelah menelan suapan terakhir, pemuda itu bersendawa sambil memegangi perut nya yang kekenyangan.
“ Iya, paling nanti naik taksi. Susah juga kalau naik motor, luka nya perih.” Alesha menjauhkan piring nya yang juga sudah tandas.
Setelah membayar pesanan, mereka kembali ke lapangan untuk mengikuti acara penutupan dan juga pengumuman juara. Seluruh murid dari SMA lain juga sudah berbaris rapi siap mendengarkan sambutan.
Pak Rezel selaku ketua panitia berdiri di samping kepala sekolah yang sedang memberikan sambutan nya,
Alesha sengaja memilih tempat di depan agar bisa melihat pacar nya yang tampan
berwibawa itu dengan jelas.
“ Sambutan kedua saya persilakan pada pak Rezel selaku ketua panitia dan saya berterimakasih sudah bekerja keras mensukseskan acara tahunan kita ini,” kepala sekolah memberikan mic nya pada pak Rezel. Pemuda itu menerima nya dengan senyuman lalu maju beberapa langkah ke depan untuk memberikan sambutan.
“ Ekhem! Selamat sore semua,” sapa pak Rezel basa-basi, namun di jawab dengan begitu semangat oleh murid-murid terutama para gadis.
“ Maaf saya sedikit gugup, haha” pak Rezel terlihat bergurau untuk mencairkan suasana, namun seperti nya tidak ada yang menangkap gurauan yang dia sampaikan dengan wajah
galak itu.
“ Terimakasih untuk semua yang sudah berpartisipasi dalam acara ini, terimakasih untuk kepala sekolah, dewan guru dan teman-teman OSIS yang sudah bekerja keras mensukseskan acara ini dan terimakasih juga kepada para atlet yang sudah berjuang dengan semangat.
Saya selaku ketua panitia mengucapkan selamat atas kemenangan kalian dan juga
mohon maaf apabila masih banyak kekurangan dari persiapan kami, sampai jumpa di tahun depan. Terimakasih,” pak Rezel sedikit membungkuk hormat lalu kembali ke
belakang di iringi tepuk tangan yang bergemuruh.
Alesha tersenyum bangga, ah pacar nya itu memang idaman sekali. Semua orang tahu betapa bekerja keras nya pak Rezel dua minggu ke belakang ini, datang paling awal dan pulang paling akhir hampir setiap hari guru itu lakukan karena sibuk dengan segala persiapan. Namun tak ada sedikitpun dia membahas tentang perjuangan nya, justru ia mengucapkan terimakasih pada pihak lain yang sudah dengan tulus membantu nya. Ah pak Rezel mempesona!
semangat thor 😊
enak kan zel pak rezel 🤣🤣🤣🤣🤣