Kisah cinta antara Dafa Artanegara dan Risma Anggraini, mereka di pertemukan dalam sebuah kecelakaan, karena rasa bersalah, Dafa menikahi Risma yang hanya seorang yang biasa saja.
Dari pernikahan yang di dasari rasa bersalah itulah,Dafa akhirnya benar-benar jatuh cinta dengan sosok Risma yang sederhana dan baik hati, tapi bagaimana jika Risma tahu siapa Dafa yang sesungguhnya, Apa lagi Dafa yang mempunyai sisi gelap dan tidak di ketahui oleh Risma.
Yuk mari silahkan di baca jika ingin tahu kisah cinta mereka yang penuh dengan emosi dan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahayu Avilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menginap di rumah mertua
Dafa dan Risma pergi ke sebuah Apartemen mewah di kawasan Jakarta. Tangan Dafa terus menggenggam erat tangan Risma. Sebenarnya Risma sangat penasaran apartemen siapa yang akan mereka datangi tersebut. Tapi Risma memilih diam dan mengikuti langkah kaki Dafa.
Setelah sampai di lantai delapan belas, Dafa membuka pintu apartemen tersebut. Dan wow, apartemen mewah yang super duper bagus, dengan perabotan yang masih tertutup kain putih pertanda apartemen itu masih baru.
"Wow, bagus sekali," ucap Risma kagum melihat apartemen tersebut.
"Kamu suka, Sweety?" tanya Dafa kepada Risma.
"Tentu saja suka. Tetapi pasti mahal, uangku tidak cukup untuk beli apartemen di sini," sahut Risma sambil berjalan melihat-lihat seisi apartemen tersebut.
Mendengar jawaban Risma yang sepolos itu, membuat Dafa tersenyum dan mengikuti langkah Risma.
Risma memasuki sebuah kamar utama yang tampak bagus dan luas, dengan jendela kaca yang begitu lebar dan memudahkan melihat pemandangan langsung ke arah pantai.
"Suka kamarnya?" tanya Dafa kembali.
Dengan cepat Risma mengangguk di sertai senyuman. "Ini akan jadi kamar kita, Sayang," kata Dafa yang tiba-tiba memeluk Risma dari belakang dan dagunya di letakkan di pundak Risma. Serangan Dafa yang selalu tiba-tiba tersebut, berhasil membuat degup jantung Risma semakin kencang serta membuat pipi Risma merah merona.
"Maksud Mas?" tanya Risma tidak memahami kata-kata Dafa.
"Ini apartemen kita. Hadiah untuk pernikahan kita dari Mommy dan Papi. Karena waktu kita menikah, kata Mommy dan Papi, belum memberikan apa-apa. Besok kita akan pindah ke sini," kata Dafa yang masih berada di posisinya.
"Hah?!" Risma terkejut mendengarnya. Dafa pun membalikkan tubuh Risma sehingga mereka saling berhadapan. Dengan tangan Dafa masih melingkar di pinggang Risma.
"Kita akan tinggal di sini, Sayang. Menghabiskan waktu bersama kita di sini merawat anak-anak kita, sampai kita menua nanti," kata Dafa lagi sembari mengecup kening Risma.
Mendengar kata-kata Dafa itu, Risma menjadi terharu dan tiba-tiba dengan spontan Risma memeluk Dafa dengan kepala di sandarkan di dada bidang milik Dafa.
"Ternyata orangtua Mas begitu baik. Aku jadi teringat ayah dan ibuku," gumam Risma pelan, air matanyapun meluruh di pipi halusnya.
"Hei, hei, mengapa kamu menangis, Sweety?" tanya Dafa ketika mendengar isak tangis Risma. Ketika Dafa ingin melihat wajah Risma, Risma malah memeluk Dafa semakin erat.
"Makasih Mas," kata Risma dengan perlahan, yang tentu saja masih bisa di dengar oleh Dafa. Dafa pun tersenyum dan Dafa semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku sayang kamu, Sweety. Sekarang, nanti hingga selamanya," kata Dafa.
Walaupun Risma masih belum sepenuhnya mempercayai Dafa, tetapi cintanya kepada sang suami yang begitu dalam membuat Risma menghianati hatinya sendiri. Dimana hatinya masih memiliki keraguan kepada Dafa.
"Yuk kita melihat-lihat ke ruangan lainnya," ajak Dafa kepada Risma.
"Hmmm," Risma mengangguk menyetujui ajakan Dafa.
Tangan Dafa menggandeng Risma, menyusuri setiap sudut di apartemen tersebut. Setelah lelah, mereka duduk di sebuah kursi, Dafa tampak sibuk menelepon seseorang mungkin urusan kantornya.
"Yo, ada perubahan jadwal. Kamu besok datang ke Jakarta. Masalah di Jerman, Papi yang akan turun menanganinya," kata Dafa yang ternyata menghubungi Ryo.
"Ck, mengapa mendadak begini sih?" sungut Ryo mendengar perintah sang bos.
"Sekali lagi kamu protes, aku kirim kamu ke Afrika nanti," kata Dafa mengandung candaan dan sedikit ancaman.
"Woy, sejak kapan kamu bisa mengancam aku, Daf?" tanya Ryo dengan geram.
"Pokoknya cepat datang saja. Bodoh," balas Dafa menanggapi perkataan Ryo barusan.
"Iya, iya. Besok pagi kamu sudah bisa melihat aku sampai di Jakarta," jawab Ryo tidak mau berdebat.
Dafa menutup teleponnya dan berjalan ke arah Risma. Dia menggenggam jemari Risma dan menatap Risma dengan lembut.
"Aku bahagia bisa menikahi wanita sepertimu, Sweety," kata Dafa.
"Aku rasa malah jadi musibah buat aku, karena menikahi lelaki seperti Mas," sahut Risma. Mendengar hal itu Dafa mengerutkan dahinya. Seakan menyakan 'kenapa bisa begitu'. Tapi melihat ekspresi Dafa, membuat Risma mengalihkan pandangannya.
"Ya karena Mas terus memperlakukan aku seperti berlian yang harganya milyaran saja, takut hilang sampai-sampai dimana-mana ada bodyguard Mas, ga ada kebebasan buatku sama sekali," gerutu Risma tanpa melihat ke arah Dafa.
"Hahaha, makanya jangan berpikir bisa kabur dari sisiku, Sweety," kata Dafa dengan tawa renyahnya dan memegang dagu Risma supaya bisa melihat wajah istrinya tersebut.
"Ck, boro-boro kabur, baru memikirkannya saja sudah di kawal terus. Bagaimana bisa kabur beneran?" gumam Risma.
"Kamu itu lebih berharga dari apapun di dunia ini, Sweety. Jadi harus di jaga ekstra ketat," kata Dafa sambil tersenyum penuh kemenangan.
Mendengar itu Risma makin cemberut hingga tampak lucu menurut Dafa. Hari semakin gelap karena memang saat sudah malam. Mereka memutuskan untuk pulang, tetapi sebelum sampai rumah mereka memutuskan untuk makan malam
"Sweety," panggil Dafa kepada Risma.
"Hmmmm," jawab Risma sambil menikmati makan malamnya.
"Bagaimana kalau kita sekalian mampir ke tempat Mommy?" ajak Dafa. Mendengar itu Risma menghentikan makannya dan melihat ke arah Dafa, setelah sejenak berpikir Rusma pun mengangguk menyetujui ajakan dari Dafa, suaminya itu.
Dafa tersenyum senang, dilanjutkan makan dan sesekali melirik ke arah Risma yang duduk di depan nya, sedang menikmati makan malamnya dengan sangat lahap.
Mobil Dafa melaju dengan kecepatan sedang menuju ke rumah orang tuanya. Setelah memarkirkan mobilnya di halaman rumah orang tuanya, Dafa dan Risma masuk ke dalam.
"Boy, kenapa datang tidak memberi kabar dulu?" kata Ratih ketika melihat Dafa dan Risma datang. Ratih memeluk Dafa lalu memberikan kecupan pada anak kesayangannya itu dan melakukan hal yang sama kepada Risma.
"Kejutan Mom, eh Papi mana Mom?" tanya Dafa yang tidak melihat keberadaan Papinya.
"Masih mandi. Papimu baru pulang juga soalnya," jawab Ratih.
Kemudian mereka bertiga duduk di sofa ruang tamu. Bercengkrama di sana sambil menunggu Papi Dafa muncul.
"Kalian sudah makan?" tanya Ratih kepada anak dan menantunya itu.
"Sudah, Mom," jawab Risma.
"Son," panggil Abimanyu, Papinya Dafa.
"Hai, Pi," Sapa Dafa.
Setelah menyalami Papinya, Dafa dan Risma duduk kembali di sofa, mereka pun asyik berbicara banyaj hal. Mulai dari masa kecil Dafa sampe kelakuan-kelakuan nakal Dafa. Tawa riang menemani obrolan mereka.
"Nanti kalian menginap di sinikan?" tanya Papinya Dafa.
"Harus dong, Pi. Masa sudah sampai sini tidak menginap," kata Ratih menimpali pertanyaan suaminya itu
"Iya Mi, iya. Malam ini kami akan menginap," jawab Dafa. Risma hanya tersenyum mendengar jawaban Dafa.
"Oh ya, Mommy, Papi, terima kasih banyak atas hadiahnya buat kami. Risma tidak tahu harus bagaimana membalas kebaikan Papi dan Mommy," kata Risma dengan tulus. Abimanyu dan Ratih tersenyum bahagia.
"Hahaha, cukup dengan kalian memberikan banyak cucu buat kami. Kalau kalian tulus untuk berterima kasih sama Papi dan Mommy," kata Abimanyu menggoda mereka berdua.
Dafa dan Risma saling pandang, terkejut mendengar ucapan papinya yang tiba-tiba itu. Jangankan memikirkan untuk buat cucu bagi Papi dan Mommy, malam pertama aja belum, begitulah yag ada di pikiran Dafa. Risma tampak tersipu malu mendengar kata-kata Abimanyu tersebut.
"Tenang aja, Pi. Semua butuh proses," jawab Dafa singkat.
Karena malam sudah makin larut, akhirnya mereka semua memutuskan beistirahat ke kamar masing-masing.
Bersambung..
kebetulan baru baca di hari senin, langsung kasih vote 👍🏻🤭