Arsen coline harus menelan pil pahit dalam hidupnya, Marlen Lee istri yang baru saja ia nikahi harus ternodai karena ulah seseorang yang memperkosa istrinya dimalam pertama.
Cinta Arsen yang begitu besar pada Marlen Lee. Harus berkhir dengan kekecewaan.
"Jangan pernah kau sentuh diriku! bagi ku kau hanyalah kotoran debu yang berserakan, rasanya kau tak pantas untuk ku sentuh! Hardiik Arsen.
Seorang Jendral muda bernama Alan Smith, datang sebagai perisai dan pelindung bagi Marlen. Ia sanggup menghancurkan siapa saja yang menyakiti wanitanya.
Akan kah Arsen akan menerima kembali Marlena sebagai istrinya? atau sebuah perceraian yang terjadi?"
Mampu kah Alan mengembalikan kepercayaan Marlen padanya...?
@Ada unsur Dewasa 21 + tolong bijaklah dalam membaca.
Yuk ikuti terus kisahnya🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon enny76, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tindakan Alan Smith.
"Jangan pernah berani kau ingin melayangkan tanganmu. Aku sendiri yang akan mematahkan tangan mu!" sebuah tamparan atas ucapan Alan sebagai pembelaan untuk Marlen.
"Ayo, lebih baik kita pergi dari sini." Alan meraih tangan Marlen.
Sebelum pergi, Marlen menatap benci pada Arsen dan Sandra. ia mengangguk dan melangkah pergi bersama Alan.
Melihat Alan merangkul pundak Marlen dan membawanya pergi. Ada perasaan berkecamuk dalam dirinya. Ada perasaan tak rela melihat Marlen mendapatkan perlindungan dari Alan, yang sudah pasti ia tahu, Alan Smith seorang jendral muda di negaranya.
"Sandra kau tunggu aku sebentar. Aku akan buat perhitungan pada wanita murahan itu. Dan memberitahu Alan kalau wanita itu seorang penghianat, Lena sudah di nodai di malam pertama!"
"Baiklah, aku mendukungmu Arsen. Aku akan menunggu mu disini."
"Oke... aku pergi dulu." mencium kening Sandra dan berjalan cepat mengejar Alan dan Marlena.
Alan dan Marlen berjalan melewati koridor hotel. Dari kejauhan Arsen bersama dua orang bodyguard mengejar dan meneriaki Marlen.
"Marlenaaaa..... tunggu! Arsen berteriak lantang.
Marlen dan Alan berhenti dan memutar tubuhnya.
"Mau apalagi kau!" bentak Alan, dengan sorot mata tajam.
"Dengar Alan! kau seorang jendral, tak sepantasnya kau mendekati wanita yang sudah bersuami."
"Apa kau pantas disebut seorang suami? Hah! kau selalu menyakiti seorang wanita yang seharusnya mendapatkan perlindungan."
"Aku tidak perduli dengan rasa sakit Marlen, diapun sudah menyakiti ku dengan berkhianat! Memasukkan laki-laki kedalam kamar di mana itu malam pertama kami! kau lihat wajah wanita ini! menunjuk wajah Marlen yang berdiri di samping Alan dengan wajah pucat.
"Kau tau! wanita yang aku cintai dan aku sanggup menunggunya bertahun-tahun, tapi apa? Marlen sudah ternodai di malam pertama oleh pria lain!"
"DEG!
Jantung Alan berdebar cepat bagai orang sedang lari maraton. Mendengar penuturan Arsen membuatnya sakit. ia merasakan bagaimana hancurnya hati Marlen setelah di ternodai dirinya. Dialah pelaku si penoda malam pertama itu. Mereka berdua tidak pernah tahu kejadian yang sebenarnya. Tapi Alan tetap ingin bertanggung jawab dan melindungi Marlina dari orang-orang yang akan menyakitinya. Kedua tangan Alan mengepal, saat ia ingin berjalan mendekat dan menghajar mulut Arsen, Marlen berteriak.
"Cukup Arsen! kau tak pantas membuka Aib ku didepan tuan Alan! mengapa kau membuka urusan dapur rumah tangga kita!
"Rumah tangga kau bilang? Rumah yang akan aku bina, telah hancur dengan adanya orang ketiga! kau sendiri yang menghancurkan. Sebelum pondasi yang aku bangun kuat!
"kau selalu saja menyalahkan aku Arsen! Seakan akulah yang paling bersalah dalam hal ini! Tapi aku baru tahu sekarang, ternyata kau seorang penghianat! di belakangku, bahkan Kau bermain curang bersama Sandra sepupuku sendiri! wanita licik yang haus akan harta! Beruntung aku tau kebenarannya sekarang! Aku sendiri yang akan menggugat mu cerai! sebelum hidupku semakin hancur!!
Marlen menahan airmatanya agar tidak jatuh. Dia sudah bertekad untuk tidak menangisi Pria jahat yang sudah menghancurkan hidupnya. Setelah menatap tajam netra Arsen, ia melangkah pergi begitu saja.
"Aku peringatkan sekali lagi padamu, Arsen! bila kau masih menyakiti Marlen dan terus menghinanya. Aku sendiri yang akan menghadapi mu!' hardik Alan geram, ia membalikkan tubuhnya dan ingin menyusul Marlen.
"Apa kau tidak jijik dengan wanita murahan itu! Dia sudah kotor dan sudah tidak suci lagi!
Alan menghentikan langkahnya, kedua tangannya mengepal kuat, terlihat urat-uratnya yang menonjol. Ia membalikkan tubuhnya dan menatap netra Arsen bengis, Mata sang jendral terlihat tajam bagai mata elang yang siap mencabik-cabik lawannya.
"Lebih baik kita pergi dari sini! perintah Alan pada kedua bodyguard-nya.
Mereka bertiga mundur dan berbalik, lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu.
Alan sudah tertinggal jauh, ia berlari mengejar Marlen yang sudah berada di lobby hotel.
"Marlen, tunggu! meraih tangan Marlen. "Ayo ikut aku!"
"Kau pergi saja, biarkan aku sendiri! menepis tangan Alan.
Alan sudah menghubungi Jordan asistennya. Mobil sedan hitam berhenti tepat di depannya.
"Ayo masuk!
"Tidak mau! mencoba ingin melarikan diri, dengan cepat Alan menarik tangannya.
"Kalau kau tidak mau masuk, Aku akan mencium mu!
"Apa? kau sudah gila, di depan umum ingin berciuman."
"Kau tidak percaya? kau pikir aku berbohong! baiklah kalau itu mau mu! Alan mendekatkan wajahnya.
Mendapat ancaman seperti itu, Marlen ciut juga. Akhirnya ia mengalah dan masuk kedalam mobil Alan dengan ekspresi kesal.
Didalam mobil Marlen hanya diam seraya mengalihkan pandangannya keluar jendela, hatinya masih kacau dengan perilaku Arsen yang terus ingin menghancurkan hidupnya.
"Tuan kita akan kemana?
"Ketempat yang tadi aku bilang."
"Baik Tuan!
Setengah jam kemudian, mobil berhenti di sebuah restoran mewah, tempat orang-orang berkelas. untuk masuk kedalam restoran itu harus menggunakan kartu member.
Alan terus memaksa Marlen untuk turun.
"Alan, aku lelah, aku ingin pulang saja?!
Menarik rahang Marlen dan menatap matanya tajam. "Apa kau ingin pulang kerumah Arsen?! Pria yang sudah berkali-kali melukai hati mu!"
Marlen hanya terdiam seraya menatap bola mata biru Alan. "Kau masih tidak mau menjawab! baiklah berarti kau minta ini! Dengan cepat Arsen mencium bibir tipis Marlen yang terlihat menggairahkan, lipstik merah maroon itu membuatnya tak tahan untuk tidak menciumnya. Marlen terus mendorong tubuh kekar Alan, tapi tenaga Alan yang begitu besar membuat Marlen tak berkutik. L*m*tan itu semakin dalam, Alan terus menekan tubuh Marlen ke bawah. Terdengar irama nafas Alan yang tersengal, ia hampir tidak bisa mengendalikan emosinya, kejantanannya sudah mengeras. Alan menyingkap dress panjang Marlen yang berbelah, terlihat paha putih mulus tanpa noda. Saat tangannya sudah masuk kedalam, Marlen menjambak rambut Alan kuat.
Akhirnya ciuman itu terlepas. Marlen mendorong tubuh itu sekuat tenaga.
"Aku benci padamu Alan! kau sama jahatnya dengan Arsen! umpat Marlen, terdengar nafasnya yang kasar. Marlen terduduk tegak seraya membuang wajahnya kesamping, tak terasa cairan bening menetes begitu saja.
Alan tersadar, tak seharusnya ia melakukan perbuatan itu padanya. ia menarik nafasnya dalam untuk menetralisir nafsunya. Wajahnya yang memerah berubah tenang, ia terus mengontrol keadaan emosinya.
"Ayo kita Menikah!i
Perkataan itu meluncur bebas begitu saja dari bibir Alan Smith. Seumur hidupnya baru kali ini ia mengajak seorang wanita menikah. Dulu saat bersama kekasihnya Jennifer, Cinta pertamanya. Alan tidak berani mengajaknya menikah, karena masih menjalani pendidikan Akademik Militer. Hingga wanita itu meninggalkan dirinya tanpa alasan. Sejak saat itu Alan menutup diri dari setiap wanita yang menawarkan Cinta dan ingin jadi kekasihnya. Tapi saat bersama Marlen, ia berani mengungkapkan perasaannya. Apakah Alan mengajak Marlen menikah, untuk menghilangkan rasa bersalahnya? karena telah menghancurkan hidupnya? benarkah Alan mencintai Marlen tulus? atau sekedar rasa tanggung jawabnya saja?!
Alan masih terdiam, seraya menata nafasnya yang mulai teratur.
"Apa kau tidak dengar ucapan ku tadi! suara Alan mulai terdengar dingin dan tegas.
Marlen menoleh sekilas, matanya sudah sembab oleh airmata. "Aku masih istri orang! seharusnya kau paham itu!"
"Ceraikan Arsen dan menikah lah dengan ku!" pandangan beralih pada Marlen.
"Kau seorang jendral! tidak sepantasnya kau perlakukan aku seperti itu! ini sama saja pelecehan untuk ku! hiks...
"Kau dengar Alan! Aku tidak ingin menikah dengan mu, sekalipun aku sudah bercerai dengan Arsen! teriak Marlen seraya terisak.
"Ceklek!
Marlen membuka pintu mobil dan keluar dengan cepat.
Alan yang sempat termenung, terkejut Marlen keluar dari mobil.
"Marlen kau mau kemana?! teriak Arsen.
Saat ini Jordan sudah tidak ada di dalam mobil. ia sengaja menghindar Setelah mobil terparkir.
🌺
🌺
🌺
@BERSAMBUNG.......
@Aduh ma'af ya kalau masih ada kata yang vulgar, mengarah 18+ Karena cerita ini menceritakan di luar negeri bukan di Indonesia.
tapi mmg itu skenario nya Thor 🤭🤭