Ada apa di kamar 11B? Sejak Adi menempatinya, hal-hal tak biasa sering ia alami. Mimpi buruk kadang mengganggu tidurnya, bahkan sesosok wanita sering menghantuinya? Apa karena harga kost tersebut murah? Sampai-sampai Adi tak berniat pindah dari sana.
Atau ada hal lain? Yang membuatnya harus tetap bertahan demi menguak misteri yang terjadi.
Belum lagi, puluhan ekor kucing kadang mengganggu Adi. Seolah selalu memperhatikan dan mengawasinya.
Rasa takut bercampur penasaran menggelayut di kepala Adi. Dapatkah Adi menemukan jawaban tentang sesuatu yang mengganggunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vikryviik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part. 30
Setelah shalat isya, aku buru-buru menarik selimut. Kata-kata ibu penjual nasi melihat kawanku Bagas masih terngiang-ngiang di kepalaku. Perasaanku campur aduk, antara takut dan penasaran. Tanda tanya besar menggandul di otakku. Apa benar si ibu penjual nasi melihat Bagas?
Tak berapa lama memikirkan hal yang tak ku tahu jawabannya, aku pun terlelap.
***
Eaaa eaaa eaaa..
Mataku terbuka, telingaku terganggu. Lagi, suara tangis bayi di tengah malam membangunkanku dari tidur. Astaga, gangguan apa lagi ini? Aku duduk di kasurku, suara tangisnya makin terdengar jelas dan nyaring.
Aku beranjak dari kasurku, dan menuju ke ruang depan. Ku buka pintu kamarku.
Wuusshh
Angin berhembus menerpa wajahku. Aku yang belum sepenuhnya sadar, kini segar terhempas angin malam.
Eaaa eaaa eaaa..
Suara tangis bayi makin nyaring terdengar. Mataku awas mencari sumber suara. Ku tengok kanan dan kiri. Sepi. Tak ada seorangpun, bahkan jangkrik tak menimbulkan suaranya.
Aku melangkah ke luar kamar. Tetap mencari sumber suara tangis. Nihil. Aku pun masuk kembali. Baru dua langkah menuju kamar, tiba-tiba..
"Adiiii.."
Ada yang memanggilku. Suaranya pelan. Halus. Lebih seperti berbisik. Langkahku terhenti. Aku berbalik.
Kaget bukan main rasanya. Aku melihat sosok Bagas berdiri di garasi mobil. Ia berdiri mematung, melihat ke arahku. Kulitnya putih pucat, matanya sayu, kantung matanya berwarna kehitaman. Bagas masih mengenakan kaus putih dan celana pendeknya. Wajahnya nampak kotor, banyak bercak hitam di pipi, dahi, dan dagunya. Raut wajahnya nampak sedih.
"Gas! Bagas!" teriakku memanggil Bagas. Aku mengucek mataku kuat.
Bagas masih berdiri di garasi mobil, tepat di belakang sedan tua yang terpajang.
"Adiiii.." ia memanggilku pelan.
"Bagas!" panggilku.
"Toloonngg.." Bagas berkata.
Setelah berkata tolong, mulut Bagas menganga lebar. Amat lebar. Hingga kulit di pipinya robek dan mengeluarkan darah. Makin lebar, kulitnya robek hingga ke telinga, matanya melotot terbelalak. Aku bergidik merinding melihat pemandangan tersebut.
Tangan Bagas terangkat, lehernya tiba-tiba miring dan krakk! terdengar suara seperti tulang patah. Belum selesai pemandangan mengerikan dari Bagas. Leher dan kepalanya menggelayut seolah tak ada tulang. Mulutnya masih menganga lebar. Darah terpercik dari luka robeknya.
Badanku menggigil melihat Bagas. Kaki tak bisa ku gerakkan, seolah terpaku di tanah. Jantungku kembali terpacu. Darahku mengalir deras. Bibirku gemetar. Aku ingin kabur, tapi kaki ini tak bisa melangkah.
"Tolong Diiiii.." Bagas kembali bersuara. Kini suaranya membesar, seperti monster di film fiksi.
Tak terasa, air mataku mengucur. Aku ketakutan setengah mati. Bajuku basah oleh keringat.
"Adiiii.. ekkk.. ekkk.." Bagas kembali memanggilku, di sertai suara seperti tercekik.
Ku baca doa dalam hati, ku baca ayat kursi. Mataku terpejam. Tak sanggup rasanya melihat pemandangan mengerikan ini. Ku coba langkahkan kakiku. Bisa. Bak Gundala Putra Petir, aku melesat masuk ke dalam kamar. Ku tutup pintu rapat. Tak sempat ku lirik garasi mobil tempat Bagas berdiri. Aku menangis sesenggukan, dan jatuh terduduk di dekat pintu. Badanku lemas tak bertenaga.
Bugg
Aku pingsan telengkup di lantai.
***
*Tok tok tok..
Tok tok tok*..
"Di. Adi."
Tok tok tok
"Adi. Buka pintu Di."
Aku terbangun dari tidurku. Lantai? Aku tidur di lantai. Aku duduk mengumpulkan nyawa. Suara ketukan pintu dan panggilan seseorang di depan kamar masih terdengar. Yuda rupanya.
Ah iya, semalam ku lihat pemandangan paling mengerikan seumur hidupku. Bagas meminta tolong. Ku ingat kembali apa yang ku lihat semalam. Mulutnya menganga lebar, matanya melotot, dan lehernya patah. Brrrr. Aku bergidik mengingatnya kembali.
"Diii. Adiiii." Yuda masih memanggilku di depan pintu.
"Iya iya." jawabku. Ku buka pintu kamar.
"Lama banget buka pintunya?" ucap Yuda sembari ngeloyor masuk ke dalam kamar.
"Jadi ke pemakaman Bagas?" tanya Yuda.
Aku diam, dan duduk bersandar pada dinding.
"Eh Di, muka lo kenapa pucet banget? Lo sakit ya?" tanya Yuda.
"Masa sih muka gue pucet?"
"Asli. Lo ngaca deh sana, lihat muka lo." suruh Yuda.
Kuacuhkan.
"Da." "Di"
Kami berbarengan memanggil satu sama lain.
"Gue duluan yang panggil lo." ucap Yuda.
Aku tak minat debat, badanku masih lemas.
"Iya, lo duluan aja ngomong!" suruhku.
"Di, semalam gue mimpiin Bagas." ucap Yuda.
"Mimpi Bagas? Gimana mimpinya?" tanyaku.
"Di mimpi itu gue jalan di jalan setapak, ada yang panggil-panggil gue. Pas gue nengok, nggak tahunya Bagas. Badannya kurus, pakaiannya compang camping mirip gembel. Dia jalan ngesot di tanah Di. Terus minta tolong ke gue."
Aku diam menyimak cerita dari mimpi Yuda.
"Terus?" tanyaku.
"Udah gitu aja. Serem nggak menurut lo Di?"
"Emm, nggak sih. Cuma pertanyaan gue, kenapa dia minta tolong Da?" sahutku.
Yuda diam, ia memandangi langit-langit kamar.
"Terus, tadi lo mau ngomong apa?" tanya Yuda.
"Apa ya?" aku pura-pura lupa. Enggan rasanya mulut ini bercerita tentang kejadian menyeramkan yang ku alami tadi malam.
"Yeee, apaan Di?" desak Yuda.
"Oh, gue baru inget. Habis dari pemakaman kita balik dulu, terus ke rumah Bagas lagi malam, sekalian ikut tahlilan. Gimana?"
"Oke. Boleh juga tuh!"
Aku pun bersiap untuk pergi ke pemakaman Bagas bersama Yuda.