NovelToon NovelToon
Di Ujung Rasa Sesal

Di Ujung Rasa Sesal

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Hamil di luar nikah / Romansa / Konflik etika / Tamat
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Tiga tahun Nadira mencintai Raka, setia menunggu pernikahan meski selalu ditolak dengan alasan "belum siap" bahkan saat ia hamil delapan bulan.

Hingga Nadira mendengar pengakuan Raka: hubungan mereka hanya permainan. Ia tak pernah serius, hanya menginginkan tubuhnya.

Saat Raka mengejar untuk menjelaskan, kecelakaan menghantam. Nadira koma, bayi mereka tak sempat lahir.

Di hadapan tubuh Nadira yang tak berdaya, Raka akhirnya mengerti... ia benar-benar mencintainya.

Tapi penyesalan selalu datang terlambat. Cinta yang disia-siakan mungkin tak akan terbangun lagi, meski orang yang dicintai masih bernapas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyesalan yang Tak Berujung

Jam di dinding kantor menunjukkan pukul lima sore. Waktunya pulang. Raka langsung mematikan komputernya, memasukkan beberapa dokumen penting ke dalam tas, dan bersiap untuk pergi. Ia tidak sabar ingin kembali ke rumah sakit. Kembali ke Nadira.

Sepanjang hari ia bekerja dengan pikiran yang terus melayang. Setiap menit terasa seperti jam. Setiap jam terasa seperti hari. Ia ingin cepat-cepat kembali ke sana... ke samping Nadira, meski wanita itu tidak bisa melihatnya, tidak bisa mendengarnya.

Tapi setidaknya Raka ada di sana.

"Raka, tunggu!"

Suara Sinta memanggilnya dari belakang. Raka berhenti di depan pintu, lalu menoleh. Sinta berlari kecil mendekat dengan wajah yang ceria, terlalu ceria untuk hari yang terasa begitu berat bagi Raka.

"Ada apa, Sin?" tanya Raka dengan nada datar.

Sinta tersenyum manis. "Akhir pekan ini temanku nikah. Aku butuh pasangan buat ke sana. Kamu mau nggak temani aku?"

Raka terdiam. Dulu, sebelum semua ini terjadi... ia pasti akan langsung setuju. Ia akan tersenyum dan bilang "oke, kapan?" tanpa pikir panjang.

Tapi sekarang, kata-kata itu terasa seperti pukulan.

"Maaf, Sin. Aku tidak bisa," jawab Raka singkat.

Sinta mengerutkan dahi. "Kenapa? Kamu ada acara?"

"Ya. Ada hal penting."

"Lebih penting dari temanmu ini?" Sinta sedikit merajuk, nada bicaranya manja. "Ayolah, Rak. Aku malu kalau datang sendirian. Semua teman-temanku pasti bawa pasangan. Aku nggak mau jadi satu-satunya yang sendirian."

Raka menggeleng. "Maaf, Sin. Tapi aku benar-benar tidak bisa. Ada hal yang jauh lebih penting dari apapun."

Sinta menatap Raka dengan tatapan bingung. "Hal apa? Kamu aneh banget akhir-akhir ini, Rak. Kamu kenapa sih sebenarnya?"

Raka tidak menjawab. Ia hanya menatap Sinta sebentar, lalu tersenyum tipis... senyuman yang lelah dan penuh beban.

"Maaf ya, Sin. Lain kali," ucapnya pelan, lalu berbalik dan berjalan keluar dari kantor.

Sinta berdiri di sana, menatap punggung Raka yang menjauh dengan tatapan bingung dan sedikit kecewa.

---

Raka mengendarai mobilnya dengan cepat, tapi tetap hati-hati. Ia tidak ingin kecelakaan lagi. Tidak ingin ada yang terluka lagi.

Di perjalanan, matanya menangkap sesuatu yang familiar... sebuah toko bunga di pinggir jalan. Toko yang pernah ia lewati berkali-kali, tapi tidak pernah ia singgahi.

Tiba-tiba kenangan menyeruak.

Nadira pernah merengek minta dibelikan bunga tulip. Berkali-kali ia minta... dimulai dari satu ikat, lalu turun menjadi setengah ikat, hingga akhirnya hanya minta satu tangkai saja.

Tapi Raka tidak pernah membelikannya.

"Bunga tulip mahal, Dira. Buat apa beli bunga? Toh nanti juga layu," ucapnya dulu dengan nada acuh.

Dan Nadira hanya tersenyum, senyuman yang Raka tahu menyimpan kekecewaan di baliknya.

"Iya, kamu benar. Nggak apa-apa," jawab Nadira waktu itu, lalu tidak pernah minta lagi.

Raka merasakan dadanya diremas kuat. Kenangan itu menyakitkan. Sangat menyakitkan.

Ia menepi, memarkir mobilnya di depan toko bunga, lalu turun dengan langkah cepat.

Pemilik toko, seorang ibu paruh baya menyambutnya dengan ramah. "Selamat sore, Mas. Mau cari bunga apa?"

"Tulip," jawab Raka cepat. "Yang terbaik. Dua ikat."

Ibu itu tersenyum. "Wah, buat pacar ya, Mas? Romantis sekali."

Raka tidak menjawab. Ia hanya diam, menunggu bunga itu dibungkus.

Beberapa menit kemudian, ia keluar dari toko dengan dua ikat bunga tulip besar di tangan... satu berwarna pink lembut, satu lagi putih bersih.

Raka menatap bunga-bunga itu dengan tatapan sedih. "Seharusnya aku membelikanmu ini dulu, Dira. Seharusnya..."

Raka tidak langsung ke rumah sakit. Ia mengendarai mobilnya ke arah pinggiran kota, ke pemakaman umum tempat anaknya dimakamkan.

Langit sudah mulai senja. Cahaya oranye matahari sore menyinari deretan makam yang sunyi. Angin bertiup pelan, membawa aroma tanah basah dan rerumputan.

Raka berjalan perlahan menuju gundukan tanah kecil di sudut pemakaman... makam anaknya. Makam yang belum punya nisan, hanya ditandai dengan papan kayu sederhana bertuliskan nama yang tidak sempat diberikan secara resmi: Anak Raka & Nadira.

Raka berlutut di depan makam itu. Ia meletakkan satu ikat bunga tulip pink di atas gundukan tanah yang masih segar.

Tangannya gemetar saat menyentuh tanah basah itu.

"Hai, nak," bisiknya dengan suara serak. "Papa datang lagi."

Tidak ada jawaban. Hanya suara angin dan burung-burung yang terbang di kejauhan.

"Papa... Papa sangat merindukanmu," lanjut Raka, suaranya mulai bergetar. "Papa menyesal... sangat menyesal tidak pernah menginginkanmu. Tidak pernah mendengar detak jantungmu. Tidak pernah melihat hasil USG-mu. Papa bodoh, nak. Papa sangat bodoh."

Air matanya mulai jatuh lagi, jatuh di tanah yang menutupi jasad anaknya.

"Papa harap... Papa harap kamu bahagia di sana. Papa harap kamu tidak marah pada Papa." Raka mengusap air matanya dengan punggung tangan. "Dan... Papa mau tanya sesuatu."

Ia menarik napas dalam.

"Kapan Mama kamu akan sadar, nak?" tanyanya dengan suara yang nyaris berbisik. "Papa kangen sama Mama. Papa pengen dia bangun. Papa pengen minta maaf langsung ke dia. Papa pengen menikahi dia. Papa pengen jadi yang terbaik buat dia."

Raka menutup matanya, membiarkan air mata terus mengalir.

"Tolong ya, nak," bisiknya lagi. "Tolong ajak Mama untuk kembali. Bilang ke Mama kalau Papa menunggu. Bilang kalau Papa mencintai dia. Bilang kalau Papa menyesal. Kumohon..."

Angin bertiup lebih kencang, membawa kelopak bunga tulip yang jatuh dari ikatannya, melayang di udara.

Raka membuka matanya, menatap makam anaknya dengan tatapan penuh kerinduan dan penyesalan.

"Papa pergi dulu ya, nak. Papa mau ke rumah sakit. Mau ketemu Mama." Ia bangkit perlahan, tangannya masih menyentuh tanah makam sebentar. "Papa janji akan datang lagi. Papa janji."

Lalu ia berbalik dan berjalan meninggalkan pemakaman dengan satu ikat bunga tulip putih di tangan... untuk Nadira.

Raka sampai di rumah sakit saat langit sudah gelap. Ia berlari kecil melewati lorong... berharap, selalu berharap, mungkin hari ini ada kabar baik. Mungkin dokter akan bilang Nadira sudah menunjukkan tanda-tanda kesadaran. Mungkin...

Tapi saat ia sampai di depan ruang ICU dan bertanya pada perawat jaga, jawabannya sama seperti hari-hari sebelumnya.

"Tidak ada perubahan, Pak. Pasien masih dalam kondisi koma."

Kata-kata itu jatuh seperti palu... lagi dan lagi.

Raka mengangguk lemah. "Terima kasih."

Ia berjalan menuju kaca ICU, menatap Nadira yang masih terbaring di sana dengan selang oksigen, monitor jantung, infus, dan semua alat medis yang membuatnya terlihat begitu rapuh.

Raka mengetuk kaca pelan. "Nadira... aku kembali."

Tidak ada respons.

Perawat membukakan pintu untuk Raka, waktu jenguk singkat diizinkan. Raka masuk dengan langkah pelan, membawa bunga tulip putih di tangannya.

Ia berdiri di samping ranjang Nadira, menatap wajah pucat wanita itu dengan tatapan yang penuh kerinduan dan penyesalan.

"Hai, Dira," bisiknya pelan. "Aku bawa sesuatu untukmu."

Ia mengangkat bunga tulip putih itu, memperlihatkannya pada Nadira meski ia tahu wanita itu tidak bisa melihat.

"Ini bunga tulip. Yang kamu minta dulu. Yang aku nggak pernah belikan." Suara Raka bergetar. "Maaf ya... maaf aku baru belikan sekarang. Maaf aku terlambat."

Ia meletakkan bunga itu di meja samping ranjang, lalu duduk di kursi kecil di samping Nadira.

Tangannya meraih tangan Nadira yang dingin, menggenggamnya erat.

"Aku tahu ini bodoh," lanjut Raka dengan suara pelan. "Aku tahu kamu nggak bisa dengar aku. Tapi... aku tetap mau bicara sama kamu."

Ia menatap wajah Nadira, wajah yang dulu selalu tersenyum untuknya.

"Hari ini aku ke kantor. Kerjaan numpuk. Tapi aku nggak bisa fokus. Yang aku pikirin cuma kamu. Terus aku ke makam... ke makam anak kita." Suara Raka mulai pecah. "Dia tanya kapan kamu bakal bangun. Aku juga nggak tahu jawabannya, Dira. Aku nggak tahu."

Air matanya jatuh lagi.

"Kumohon bangunlah," bisiknya putus asa. "Kumohon jangan tinggalkan aku. Aku janji... aku janji akan menebus semuanya. Aku akan menikahimu. Aku akan mencintaimu dengan cara yang benar. Aku akan mendengarkan ocehanmu. Aku akan membelikanmu apapun yang kamu mau. Aku akan jadi yang terbaik untukmu. Kumohon... kumohon kembalilah..."

Tapi Nadira tetap diam.

Dan Raka tetap menangis sendirian di samping wanita yang ia cintai, wanita yang mungkin tidak akan pernah kembali.

1
Nurhartiningsih
kaya Nadira mau saja.
Nurhartiningsih
jangan bodoh Nadira....jangan mau balikan sama cowok durjana
Nurhartiningsih
menyesal makan tuh penyesalan
Nurhartiningsih
bodoh
Elin
jujur menurutku cerita ini cerita yg paling sedih dari awal sampe akhir sampe aku ikut nangis saking menghayati ceritanya,dari segi cerita bagus tapi endingnya aku gak puas...di awal cerita aku kasian sama Dira karna cintanya sendirian,hargadirinya di injak2,di anggap LC gratisan,semua pengorbanannya sia2....,tp tapi di akhir cerita aku juga kasian sama Raka karna dia tau salah dan mau berubah,dia berjuang buat dapatin maaf dari dira,dia dah kerja keras buat dapat uang lebih selama Dira di rawat sampe dia sendiri gak lupa sama kesehatannya sendiri,dia bertahan di samping Dira meski dia diperlakukan orang asing,dia berusaha jalin komunikasi meski pada akhirnya didiamkan,dan menurutku 3thn cukup buat Raka di beri kesempatan kedua...tapi terserah Thor ajalah.
JiDHan Bolu Bakar
gitu doang...pasti ada lanjutannya, beberapa tahun kemudian....😄
Dew666
❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹
mbuh
biarkan Raka menangis darah dlu. itu tak sbrpa skitnya KRNA pengkhianatan dan khlngan anak
Dew666
🪸🪸🪸🪸🪸
mbuh
la njuttttt
kalea rizuky
ujungnya balikan halah
Anonymous
Raka goblok
Denni Siahaan
bangun Nadira kasih kesempatan
Dew666
💥💥💥💥💥
Denni Siahaan
gak guna penyesalan mu Raka
Denni Siahaan
dasar Raka egois mau enaknya aja
Denni Siahaan
tingal kan Nadira jangan tolol
Soraya
yang nabrak Nadira kok gak ada kabarin
Soraya
mampir thor
Bunda SB: terima kasih kakak 🫰
total 1 replies
Dew666
🍎🍎🍎🍎🍎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!