NovelToon NovelToon
Game Pernikahan Mafia

Game Pernikahan Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Tamat
Popularitas:376.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Marina Monalisa

Aku tidak menyangka jika pernikahanku ternyata membuatku harus memilih antara tetap hidup dengan seorang pembunuh Ayahku atau aku harus membalaskan dendam atas kepergian Ayahku.

Sebuah cerita perjuangan hidup seorang wanita yang besar dengan bertahan hidup di jalanan karena sejak usia sepuluh tahun kedua orangtuanya harus meninggal dengan keadaan tenggelam di laut bersama mobil yang mereka kendarai. Beruntung saat itu ia tidak ikut dengan kedua orangtuanya untuk makan malam dengan kliennya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 29. Kerinduan Gara Bayi

Hari yang sudah semakin gelap membuat Nyonya Harina semakin khawatir di rumah memikirkan keadaan suaminya yang sampai saat ini belum ada kabar dari Gara.

"Apa sebaiknya aku menghubungi Gara saja?" tanya Nyonya Harina dalam hati.

Cukup lama ia menatap ponsel di dalam genggamannya sampai akhirnya Nyonya Harina memutuskan untuk menghubungi putranya. Tangan Nyonya Harina mencari kontak Gara kemudian ia menekan tombol panggil dan menempelkan benda tipis itu pada telinganya.

Tak lama suara sambungan telfon pun tersambung. "Halo, Bu." Suara Gara terdengar dari seberang telfon dengan suara khasnya.

"Gara, bagaimana dengan Ayahmu? apa masih juga belum ada kabar?" tanya Nyonya Harina dengan wajah cemasnya.

"Belum, Bu. Nanti Gara akan segera menghubungi kalau Ayah sudah sadar." tutur Gara.

Nyonya Harina yang kepikiran dengan keadaan Kharisa merasa berat hati untuk mengatakannya. Gara tampak sama sekali tidak ingin membahas hal itu saat ini.

"Yasudah, Ibu matikan dulu panggilan ini. Kau sebaiknya makan bersama Randa." pintah Nyonya Harina.

"Iya, Bu." jawab Gara kemudian mengakhiri panggilan itu dan kembali menyandarkan kepalanya pada tembok dinding ruang tunggu itu.

"Randa, sekarang sebaiknya kau cari Kharisa dan awasi dia beri dua pengawal yang memantau kegiatannya dari jauh." pintah Gara.

"Baik, Tuan." tutur Randa segera beranjak pergi meninggalkan Gara seorang diri.

Sampai akhirnya Dokter yang sudah mengijinkan Gara untuk menjaga Tuan Tedy di ruang rawat kini menghampirinya.

"Keluarga pasien," sapa Dokter yang baru keluar dari ruang rawat setelah memindahkan Tuan Tedy.

"Saya, Dok." ucap Gara dengan antusiasnya.

"Anda sudah bisa menjaganya di dalam, Tuan." tutur Dokter itu.

"Bagaimana keadaan Ayah saya, Dok? apa masih belum sadarkan diri juga?" tanya Gara.

"Iya, Tuan. Sampai saat ini pasien masih sangat lemah, semoga ia bisa cepat sadarkan diri lagi." terang Dokter.

"Baik, Dok. Terimakasih." ucap Gara.

Dokter pun membalas Gara dengan sopan kemudian ia beranjak pergi meninggalkan Gara seorang diri di ruangan itu.

Gara terlihat mendekati Tuan Tedy yang masih baring dengan wajah pucatnya, ia menatap nanar wajah pria tua itu yang sudah semakin jelas kerutan di wajahnya.

"Ayah, bangunlah. Maafkan Gara sampai saat ini belum bisa menjadi anak yang seperti Ayah inginkan." ucapnya lirih.

Gara sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi saat ini, sampai kapan pun ia tidak akan bisa lepas dari genggaman Mr. Dave. Namun untuk memberi tahu hal itu pada Tuan Tedy, Gara sama sekali tidak memiliki keberanian. Ia sangat takut jika hal itu akan membuat Tuan Tedy kembali sakit bahkan bisa sampai akan pergi untuk selama-lamanya.

"Ayah." ucap Gara yang begitu terkejut ketika ia merasakan gerakan tangan Tuan Tedy di dalam genggamannya saat ini.

Pria tua itu masih terlihat menutup kedua matanya, hanya jari jemarinya saja yang bergerak perlahan. "Ayah tenanglah," tutur Gara.

"Kha-ri-sa." Suara Tuan Tedy terdengar begitu menyedihkan sama sekali tidak ada terlihat tenaga ketika ingin menyebut nama seseorang.

"Begitu baiknya kau sampai keadaan Ayah seperti ini saja namamu masih terlintas di pikirannya. Sungguh aku benar-benar anak yang tidak berguna sama sekali untuk orangtua ku." gumam Gara.

Beberapa kali Tuan Tedy masih terus memanggil nama Kharisa hingga ia akhirnya kembali terlelap dalam tidurnya begitu pun juga dengan Gara. Ia sudah tertidur dalam genggamannya pada tangan Tuan Tedy.

Keadaannya yang masih belum begitu kuat tidak lagi ia hiraukan, hanya kekhawatiran saja yang saat ini Gara rasakan. Sungguh kehadiran Kharisa benar-benar mengobrak abrik perasaan Gara.

Malam itu Tuan Tedy merasakan ketenangan saat Gara menggenggam tangannya dan tertidur di samping tubuhnya dengan posisi duduk di kusi sementara kepalanya ia letakann di dekat tangan Tuan Tedy. Tubuh Gara yang masih terbilang lemas membuatnya tidak sadar jika saat ini hari sudah pagi.

 

Cepatnya perputaran waktu membuat ia tidak sadarkan diri jika telah melewatkan jam yang terus berjalan.

"Semoga Gara masih menunggu Ayahnya." tutur Nyonya Harina dengan penuh semangatnya ia masuk ke rumah sakit setelah supir mengantarkannya.

Nyonya Harina yang menampakkan kedua matanya yang membengkak menandakan jika semalaman ia sangat kurang tidur terlebih lagi ia terus menerus meneteskan air matanya.

Kini langkah wanita itu menuju ke ruang di mana suaminya di rawat saat ini, seperti yang Gara beritahukan padanya semalam melalui pesang singkat. Akhirnya setelah langkah yang tidak begitu jauh, Nyonya Harina tiba di sebuah ruangan yang masih tertutup pintunya.

Pelan ia membuka pintu ruangan itu, matanya terkejut saat melihat Tuan Tedy yang dengan cepatnya meletakkan jari telunjuknya tepat di kedua bibirnya yang sudah tidak di lindungi alat bantu pernafasan lagi.

"Ayah kenapa?" tanya Nyonya Harina berbisik sembari memperhatikan keadaan putra mereka yang masih terlelap begitu tenangnya.

Tuan Tedy masih terdiam dan matanya beberapa kali mengedip pada Nyonya Harina seolah memerintah untuk tidak bersuara. Nyonya Harina pun mengerti, ia mengangguk lalu ikut duduk di sofa yang terletak di sudut ruangan itu.

Kedua orang tua Gara begitu senangnya melihat Gara yang tidur layaknya bayi mereka yang masih bisa mereka kuasai tanpa ada campur tangan orang luar. Tuan Tedy sangat sangat merindukan moment di mana ia dan Nyonya Harina selalu menatap wajah tampan putranya itu tiap kali tidur.

 

 

"Gara, Ayah sangat menyayangimu. Andai kau tahu itu semua yang Ayah lakukan demi kebaikanmu. Meski Ayah sadari saat ini Ayah sangat salah besar karena telah memaksa kau menikah dengan Kharisa. Dia anak yang baik, Ayah yakin dengan itu tanpa Ayah sadari jika ia ternyata memiliki kelainan. Maafkan Ayah, Gara." tutur Tuan Tedy yang tanpa sadar sudah meneteskan air matanya sembari menatap dalam wajah putranya yang masih terpejam.

"Ya Tuhan kasihan sekali suamiku, pasti dia sangat merasa bersalah pada Gara karena Kharisa sampai membuatnya menangis seperti itu. Tapi mengapa rasanya aku sangat tidak percaya dengan isi surat itu?" gumam Nyonya Harina penuh dengan keraguannya.

Cukup lama keduanya saling memandang wajah tenang Gara, sampai akhirnya suara dering ponsel milik Gara terdengar jelas hingga membangunkan pria tampan itu.

Dengan cepatnya Tuan Tedy mengusap kasar kedua matanya yang banjir dengan air matanya, "Ibu." tutur Gara terkejut saat melihat kehadiran Nyonya Harina di ruangan itu.

"Ayah." ucap Gara yang kembali terkejut melihat Tuan Tedy sudah sadarkan diri.

Belum sempat ketiganya saling berbicara kini Gara segera meraih ponselnya di dalam saku celananya. Mata tajamnya menatap layar yang berkedip menampilkan nama Randa.

"Halo." Suara Khas Gara terdengar begitu berat karena nyawanya belum sepenuhnya terkumpul.

"Tuan, saat ini saya sudah menemukan keberadaan mereka."

 

Gara yang sadar akan keberadaan Tuan Tedy dan Nyonya Harina segera beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari ruangan itu.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Gara cemas.

"Semua baik-baik saja, Tuan. Bahkan pagi ini saya sedang mendapatkan lapran jika Nyonya Kharisa sedang pergi untuk mencari pekerjaan." terang Randa.

"Astaga Kharisa, keadaanmu masih dalam berduka kau sudah harus mencari pekerjaan lagi. Sayang dalam hal seperti itu Gara tidak bisa membantu istrinya.

"Awasi terus dia dan jangan sampai terjadi apa-apa dengannya."

"Baik, Tuan." jawab Khard kemudian Gara segera mengakhiri panggilan itu.

1
nobita
ooh begono ceritanya
Muhammad Ibrahim
Luar biasa
Rini Shop
bagus
ImNick
ahhhh BAGUS ANETTTTTT, thankyou thor..
Lova Yoongi
bener kata orang istri org tu lebih menggoda .....
khard pgen sutik mati ..
Lova Yoongi
itu cara allah buat gara biar tergantung sama istri, biar tau kharisa itu tanggu gar...m
Lova Yoongi
gara tar nyesel lho, byk lho yg naksir istrimu.... kyk gk ada org lain lgi, brg bekas madi di jumput lgi gk sdr dgn kata" sampah
🐬
bgus
Rahmi Ami
thor teganya dirimu....
kalo bisa di ubah aja alurnya...
😁😁😁😁
pas detik2 kard mau menodai kharisa bara datang dan belum sempat melakukan tindakannya....

kasian kharisa, 🥺
Eva Susanti
mantap👍👍👍👍👍👍👍❤❤❤❤❤❤❤❤
Elizabeth
👍👍
mamah destya
tsrima kasih thour ku tunggu cerita yg lain ny
ig: monalisa_n28: Terimakaish juga kak 🥰🥰
total 1 replies
Ikhe Parlina
temksh thor. ..
sy suka bngat ceritanya..😍😍
adakah season ke2 nye😊
ig: monalisa_n28: Maafyah kak 🙏🙏🙏🙏
total 3 replies
Rahmi Miraie
thank thor utk cerita yg sgt mnghibur ini,aku tunggu karya lainnya
ga nyangka uda end
Rahmi Miraie: iya sama sama
total 2 replies
Tuti Ranu
alhamdulilah mksih Thor ditunggu cerita yg baru..👍👍
ig: monalisa_n28: Terimakasih kak🙏🙏🙏
total 1 replies
Asna Deli
terima kasih author cerita mu keren..ada kah seanson ke2nya??
ig: monalisa_n28: Hehe Terimakasih kembali kak asna sudah setia sampai di sini🙏 tidak ada season dua yah kak🤗🤗
total 1 replies
verawati.com
lanjut thor
Asna Deli
lanjut thor..
Rahmi Miraie
permisi tuan gara...iklan lewat
hhhe
tn tedy tepat waktu bgt sii dtg nya
Elizabeth
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!