Shasha hanyalah gadis desa biasa yang sedang berjuang menyelesaikan kuliahnya lewat beasiswa. Namun, hidupnya hancur dalam semalam ketika ia diculik oleh Jake Giordino, seorang pemimpin organisasi hitam yang paling ditakuti.
Shasha tidak melakukan kesalahan apa pun. Dosanya hanyalah satu, yaitu karena ia dicintai oleh pria yang diinginkan Lana, adik perempuan Jake.
Demi memuaskan obsesi sang adik, Jake mengurung Shasha di sebuah mansion tersembunyi. Shasha dipaksa menghilang dari dunia agar pria yang mencintainya bisa berpaling pada adik sang mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal dari Petaka
Di perpustakaan yang modern dengan dinding kaca raksasa yang memperlihatkan pemandangan kampus, Shasha tengah fokus mencatat penjelasan penting dari buku ke catatannya. Lembar demi lembar ia resapi sebagai media penghibur saat jam istirahat. Hingga ia menoleh saat langkah kaki penuh kepercayaan diri mendekat, memecah kesunyian di antara jajaran rak buku yang berdiri rapi.
“Lana?” Shasha mendongak, menatap Lana yang berdiri dengan tatapan angkuh.
Lana menggeser salah satu kursi agar bisa duduk berhadapan dengan Shasha. Kakinya ia silangkan, menatap balik Shasha seolah sedang melihat sesuatu yang kotor dan perlu dibersihkan.
“Jauhi Bima.”
Shasha mengerutkan dahinya, merasa terganggu di tengah suasana belajar yang nyaman, “Bima?”
“Kubilang jauhi Bima.”
Shasha meletakkan bolpoinnya di atas buku, berusaha tetap tenang meski hatinya mulai bergejolak, “Maaf, Lana. Kurasa ada kesalahpahaman di sini.”
“Kesalahpahaman?” Lana menyeringai sinis sembari melipat tangan di depan dada, “Jangan berpura-pura polos di depanku. Wanita miskin sepertimu pasti menganggap pria seperti Bima sebagai umpan untuk mendapatkan kekayaan.”
“Aku bukan orang seperti itu,” sanggah Shasha tegas.
“Sudahlah. Berterus terang saja, kau ingin berapa untuk menjauhi Bima? Sebutkan nominalnya, aku akan memberimu semuanya.”
Shasha menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, ia hanya bisa menggeleng tidak percaya. Pemikiran Lana benar-benar dangkal dan tidak masuk akal baginya.
“Sekarang aku tahu kenapa Bima selalu menolakmu,” ucap Shasha tenang namun tajam, “Karena kau sangat angkuh dan menganggap semua hal di dunia ini harus berpusat padamu.”
BRAK!
Lana menggebrak meja putih itu dengan keras, hingga beberapa pengunjung perpustakaan yang duduk di kejauhan ikut menoleh kaget ke arah mereka.
“Apa maksudmu?!” geram Lana dengan wajah memerah menahan amukan.
“Jika kau memiliki urusan dengan Bima, maka cari saja dia. Jangan melibatkanku pada hubungan rumit kalian,” ucap Shasha. Dan dengan gerakan cepat, ia membereskan buku-bukunya, menyampirkan tas di bahu, lalu segera melangkah pergi meninggalkan Lana sendirian di tengah barisan meja perpustakaan.
“Wanita sialan! Awas saja kau!”
Lana menatap kepergian Shasha dengan tatapan tajam yang menyimpan dendam. Ia tidak akan membiarkan Shasha lolos begitu saja setelah mempermalukannya.
Di pintu keluar perpustakaan, Shasha melangkah lebar, berusaha mengusir rasa tidak nyaman yang menyelimuti hatinya. Udara sore di area luar gedung terasa sejuk, namun tidak cukup untuk mendinginkan kepalanya yang panas akibat tuduhan Lana yang tidak-tidak. Ia tahu tuduhan itu sama sekali tidak benar, tapi tetap saja perkataan tajam Lana telah menyakiti hatinya. Ia bersungguh-sungguh menimba ilmu demi masa depan yang lebih baik, bukan untuk mencari mangsa pria kaya demi harta.
Dan dari kejauhan, Bima muncul. Pria itu tengah mendekap beberapa buku referensi, niatnya ingin menyusul Shasha. Namun, langkahnya melambat saat melihat Shasha keluar dari gedung perpustakaan dengan wajah yang memerah karena kesal.
Bima pun mempercepat langkahnya hingga akhirnya berhadapan langsung dengan Shasha, “Shasha, kenapa kau keluar? Bukannya kita akan belajar bersama untuk ujian besok?” tanya Bima dengan dahi berkerut bingung.
Shasha otomatis menghentikan langkahnya. Ia menatap Bima, namun sorot matanya tidak selembut biasanya.
Bima pun bisa merasakan perbedaan itu, ada kilat kekecewaan dan keresahan yang membuatnya merasa asing.
“Sebaiknya kita menjaga jarak terlebih dahulu,” putus Shasha dengan suara bergetar namun tegas. Tanpa menunggu jawaban, ia kembali melangkah pergi melewati Bima.
“Shasha! Tunggu! Kau kenapa?!” panggil Bima dengan nada panik, namun Shasha sama sekali tidak menggubrisnya. Punggung gadis itu menjauh dengan cepat, hilang di balik tikungan jalan setapak kampus.
“Apa yang sebenarnya terjadi padanya?” lirih Bima. Ia mendongak, menatap bangunan perpustakaan yang megah itu dengan penuh tanda tanya, merasa ada sesuatu yang terlewatkan olehnya.
Di sisi lain, Shasha semakin melangkah lebar di bawah bayang-bayang pohon besar. Sesampainya di taman kampus yang mulai sepi, ia menjatuhkan dirinya di atas bangku kayu. Ia memejamkan mata, membiarkan angin sore menyentuh wajahnya. Inilah keputusan yang paling masuk akal baginya saat ini. Ia harus fokus menimba ilmu dan menyelesaikan kuliahnya. Ia tidak boleh membiarkan dirinya terjerumus ke dalam drama atau hal-hal yang hanya akan menyulitkan hidupnya yang sudah berat.
Bima adalah pria yang sangat baik, dan Shasha yakin sahabatnya itu akan mengerti posisinya.
“Maafkan aku, Bima,” bisiknya pelan pada keheningan taman.
......................
Di sebuah gudang tersembunyi yang terletak di sudut kota yang paling kumuh, atmosfer terasa begitu mencekam. Pencahayaan di dalam ruangan itu sangat minim, hanya menyisakan bayang-bayang panjang di dinding yang lembap. Aroma tajam asap rokok memenuhi udara, bercampur dengan bau anyir darah yang terus mengalir dan membasahi lantai beton yang kusam.
Di tengah kegelapan itu, seorang pria berdiri dengan angkuh. Ia terus menyesap rokoknya dalam-dalam, sama sekali tidak peduli dengan telapak tangannya yang telah berlumur darah segar milik orang yang kini tergantung lemah dengan rantai besi di hadapannya.
Asap putih keluar perlahan dari hidung dan mulutnya, membingkai wajahnya yang rupawan namun menyimpan kedinginan yang mematikan. Tatapannya setajam belati, terkunci pada musuh yang sudah tidak berdaya di depannya.
“Kau tahu apa yang paling kubenci di dunia ini?” tanyanya dengan suara rendah yang menggetarkan nyali.
Ia melangkah mendekat, memangkas jarak hingga tawanannya bisa mencium aroma tembakau dan kematian dari tubuh pria itu. Dengan kasar, ia mencengkeram rahang tawanannya dan membuka paksa mulutnya.
“Kebohongan,” desisnya dingin.
Tanpa keraguan sedikit pun, ia menekan ujung rokok yang masih menyala ke dalam mulut tawanannya. Jeritan tertahan dan rontaan kesakitan yang memilukan seketika memenuhi ruangan sunyi itu. Bukannya merasa iba atau bersalah, pria itu justru tertawa puas, sebuah tawa yang terdengar sangat mengerikan.
Ia menghempaskan wajah tawanannya dengan kasar hingga kepala orang itu terkulai lemas. Ia kemudian memberikan kode melalui lirikan mata kepada anak buahnya yang berdiri tegak di belakangnya. Seorang anak buah dengan sigap mendekat dan menyerahkan sebuah pistol hitam yang mengilat.
Ia pun menerima senjata itu, memainkannya di jemarinya seolah benda pencabut nyawa itu hanyalah sebuah mainan ringan, “Aku akan berbaik hati padamu. Memberikan kematian tanpa siksaan yang berlebihan, pasti akan membuatmu merasa tenang di neraka.”
DOR!
Satu tembakan tepat sasaran menembus kepala sang tawanan. Seketika itu juga, rontaan itu berhenti selamanya. Wajah pria itu berubah sangat serius, sorot matanya yang setajam pisau menyapu mayat di depannya sebelum ia menurunkan kembali pistolnya.
“Pengkhianat tetaplah pengkhianat,” ucapnya tajam tanpa emosi.
Ia melempar pistol itu kembali ke arah anak buahnya. Dan tanpa berkata apa-apa lagi, ia segera melangkah keluar dari gudang berdarah itu, sambil mengusap jas mahalnya yang sedikit kotor terkena percikan darah tawanannya tadi, seolah-olah itu hanyalah noda debu biasa yang mengganggu penampilannya.
Di luar gudang, sebuah sedan hitam mewah sudah menunggunya. Kevin, tangan kanan pria itu tengah berdiri tegap di depan pintu mobil. Ia segera merogoh saku jasnya, mengeluarkan sehelai sapu tangan bersih, lalu memberikannya kepada tuannya dengan hormat.
Pria itu menerimanya tanpa suara, lalu dengan teliti membersihkan noda darah yang masih menempel di jemarinya.
“Selidiki lagi masalah ini. Aku tidak ingin mata-mata muncul kembali di antara anak buah kita,” ucap pria itu dingin sembari menyerahkan kembali sapu tangan yang kini telah bernoda itu kepada Kevin.
“Baik, Tuan,” jawab Kevin tegas. Ia kemudian membukakan pintu bagian belakang untuk tuannya.
Begitu pria itu masuk dan duduk di kursi penumpang yang nyaman, Kevin segera menempati kursi kemudi. Perlahan, mobil mewah itu meninggalkan area gudang yang kelam tersebut.
Drrt... drrt...
Ponsel di saku jas pria itu bergetar. Ia segera merogohnya, dan seketika itu juga wajah tegang yang penuh aura membunuh tadi langsung melembut saat membaca nama kontak yang tertera di layar.
“Halo, princess.”
Kevin melirik sang tuan melalui kaca spion. Ia sudah tidak asing lagi dengan perubahan sikap pria itu jika sudah berhadapan dengan wanita yang dipanggilnya dengan sebutan romantis itu.
“KAK JAKE!!!”
Pria yang dipanggil Jake itu, sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya, meringis kecil mendengar teriakan melengking sang adik dari seberang telepon.
“Hei, hei, tenangkan dirimu. Katakan dengan jelas masalah apa lagi yang membuatmu terdengar begitu marah,” ucap Jake dengan nada suara yang sangat sabar.
“Huft, memang hanya Kakak yang mengerti isi hatiku! Bahkan Nenek pun malah membela orang lain, padahal aku cucunya sendiri!” adu Lana dengan suara manja yang meledak-ledak.
Jake tersenyum tipis. Ia teringat bagaimana hubungan adik dan neneknya yang selalu seperti kucing dan tikus, namun sebenarnya saling menyayangi dengan cara mereka sendiri.
“Baiklah, sekarang masalah apa lagi yang sampai membuatmu menghubungiku?”
“Bantu aku, Kak.”
Jake menaikkan sebelah alisnya, “Katakan.”
Ia pun menyimak dengan saksama setiap detail cerita dan kemarahan yang meluap dari mulut adiknya. Ia mencermati setiap kata tentang Bima dan gadis yang dianggap Lana sebagai penghalang.
“Jika itu memang keinginanmu, baiklah, akan kukabulkan,” ucap Jake setelah memahami inti permasalahan Lana.
“Kakak memang yang terbaik! Kutunggu kabar baik darimu secepatnya.”
“Tentu.”
Panggilan itu pun terputus. Senyum yang sempat terbit di wajah Jake menghilang seketika, digantikan oleh ekspresi serius dan sorot mata yang kembali mematikan. Aura predatornya kembali bangkit. Ia melirik Kevin melalui kaca spion.
“Selidiki seseorang untukku.”
Kevin menanggapi dengan sigap tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan, “Siapa yang Tuan maksud?”
Jake menyandarkan punggungnya, menatap lurus ke depan dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Shasha Oberon.”