Gladis 24 tahu harus menerima kenyataan bahwa masa depannya berada di tangan kedua orang tuanya. Ia dijodohkan dengan anak rekan bisnis papanya untuk memperkuat perusahaan orang tuanya di kancah Internasional.
Gadis yang mempunyai kekasih bernama Fadli seorang dokter kandungan harus rela putus karena kedua orang tua Gladis tidak pernah merestui hubungan keduanya.
David calon suami Gladis adalah seorang pengusaha muda yang terkesan dingin, ketus, pemarah, tempramen. Akankah pernikahan mereka berlansung bahagia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senja Di Pulau PARI
15 menit berlalu tapi Juna belum juga keluar membuat David amat khawatir, tidak lama seorang suster pun keluar dari kamar inap Gladis dan menghampirinya.
"Maaf pa anda di tunggu bu Gladis," kata suster itu memberi tahu.
Rasanya ada perasaan menggelitik ketika suster itu memanggil dirinya dengan sebutan bapak, David sudah sering di panggil dengan sebutan itu tapi kali ini di situasi yang berbeda. Rasanya ia amat aneh jika sudah nikah nanti akan di panggil sebutan bapak dari suaminya Gladis.
"Hay!" sapa David ketika menghampiri Gladis.
Ia melihat Gladis sudah sadar dan di sampingnya berdiri Juna sahabatnya.
"Bagaimana keadaanmu," tanya David khawatir menatap Gladis.
"Aku baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatir," ucap Gladis lembut.
"Saran gw lo bawa dia liburan, untuk pikiran dan hatinya tenang dulu," Juna memberi saran.
Akhirnya David dan Gladis pun mengikuti saran Juna untuk pergi beberapa hari ke sebuah Pulau.
"Aku sudah belikan semua keperluanmu untuk di sana, jadi kamu tidak perlu pulang terlebih dahulu," ucap David ketika mereka bersiap-siap pulang dari Rumah sakit.
"Kamu sudah minta Izin kepada mama dan papaku," tanya Gladis.
"Sudah beres ko kamu tidak perlu khawatir."
Setengah jam perjalanan mereka menuju dermaga pantai, Gladis amat aneh mau kemana David membawanya.
"Kita mau kemana!" tanya Gladis heran menatap David.
"Sebuah pulau," jawabnya singkat.
"Pulau!"
"Semua sudah aku urus Dis, kamu tidak usah khawatir," ucap David dan Gladis hanya tersenyum.
Gladis baru menyadari sisi lain dari David ternyata ia begitu lembut dan baik hati.
"Kita mau ke pulau apa," tanya Gladis penasaran
"Pulau Pari."
PULAU PARI
"Silahkan Tuan...nona kalau butuh sesuatu jangan segan-segan untuk memanggil," kata seorang penjaga bunga low itu.
"Terima kasih pa," ucap David
Lelaki separuh baya itu pun pergi meninggalkan David dan Gladis. Mereka menempati sebuah bunga law yang mempunyai 4 kamar.
"Punya siapa ini!" tanya Gladis sambil matanya menyisir setiap sudut ruangan itu.
"Ari," jawab David singkat Gladis langsung menatap David seolah ia ingin tau siapa itu Ari.
"Ari temanku selain Juna," lanjut David.
"Kamu pilih saja kamar yang kamu suka, ada 4 kamar ko di sini," tambah David lagi dan Gladis lagi-lagi hanya tersenyum dan mengangguk.
Lalu Gladis memilih kamar dekat dengan taman, di sebelah kamar utama yang di tempati oleh David.
Gladis melamun matanya tertuju keluar jendela kamar pikirannya melayang entah kemana, dan lagi-lagi Fadli yang hadir di pikirannya, kemana pun ia pergi hanya David yang ada di pikirannya.
Maaf kan aku Di....seandainya aku punya pilihan lagi pasti aku akan memilihmu, aku kangen kamu...
Mungkin memang benar kata Juna saat ini yang paling terpenting untuk Gladis adalah menenangkan diri dari masalah ini semua. Apalagi saat ini ada David di sisinya yang bisa menjadi sandaran hatinya saat ini.
Gladis pun mengambil ponsel miliknya dan memakai kan handset kedua telinga ya lalu menyetel musik play list dengan asal.
Di mana kamu di mana
Di sini bukan
Kemana kamu kemana
Ke sini bukan
Katanya pergi sebentar teryata lama
Tau kah aku sendiri menunggu kamu
Jangan pergi-pergi lagi
Aku tak mau sendiri
Temani aku tuk sebentar saja
Agar aku tak kesepian.
Alunan lagu itu berbunyi air mata Gladis pun tumpah ia tak sadar bahwa sedari tadi David memperhatikan diri nya dari luar mengintip nya dari balik pintu.
Sebesar itu kah kamu mencintainya! Hingga membuatmu seperti ini ,beruntung sekali dia
Tiba-tiba hati David pun merasa sakit jika melihat Gladis terluka entah mengapa menjadi seperti ini.
Aku yang akan menjagamu Gladis, aku yang akan meringankan beban mu, aku yang akan selalu ada untukmu mulai saat ini bukan Fadli
RUMAH SAKIT
Fadli tengah termenung di ruangan kerjanya, seakan ia tidak percaya apa yang terjadi rasanya semua seperti mimpi. Hatinya hancur, harapannya musnah, mimpinya tidak akan menjadi kenyataan. Lalu ia pun mengambil ponsel miliknya ia berharap jika ada pesan masuk dari Gladis dengan membawa berita baik bahwa mereka kembali bersama-sama lagi.
"Di!" panggil seseorang dari luar pintu.
Fadli pun menoleh ternyata Ando sahabatnya yang telah berdiri di balik pintu
"Ada apa?" tanya Fadli dari dalam.
"Ada operasi mendadak lo bisa tidak? Pasiennya dokter Yerry," kata Ando memberitahu.
"Lah dokter Yerry kemana!" Mimik wajah Fadli begitu heran menatap Ando.
"Cuti mau nikah dia, lo bisa kan? Soalnya tidak ada lagi yang praktek," kata Ando berharap.
"Ya udah gw mau."
"Tapi lo baik-baik saja kan!" Ando balik tanya memastikan kondisi Fadli.
"Maksud lo!" Fadli tidak mengerti.
"Ya lo lagi broken heart, lo baik-baik saja kan jika operasi orang?" jelas Ando.
"Kuya lo...gw baik-baik saja ko, lo tenang saja," kata Fadli meyakinkan Ando.
Fadli harus bisa profesional walaupun hatinya sedang terluka tapi ia harus tau akan tanggung jawabnya.
SORE HARI(PULAU PARI)
David dan Gladis memutuskan untuk berjalan-jalan di pinggir pantai untuk sekedar menghilangkan penat dan menghirup udara segar.
"Kamu baik-baik saja?" tanya David memulai pembicaraan saat mereka berjalan bersisian di pinggir pantai.
"Baik Vid, terimakasih," kata Gladis singkat.
"Kamu sayang banget sama Fadli, sejak kapan?" David memulai pembicaraan.
"Sejak SMA."
"Wow.....First Love ya!" tebak David sambil menatap Gladis.
"Bukan sih, dia kakak kelas aku. Kita pacaran hanya 1 tahun terus terpisah lalu bertemu lagi pas reuni akbar."
"CLBK ceritanya!" tebak David sambil mereka terus berjalan bersisian.
David pun berhenti dan duduk di pinggir pantai, Gladis pun ikut duduk di samping David sambil menatap ke lautan lepas.
"Kamu bagaimana Vid? Kamu belum cerita sama aku."
"Soal apa," kata David tidak tau.
"Masalah pribadimu."
"Mulai kepo ya sama kehidupan pribadi aku," kata David menggoda sambil tersenyum kecil.
Baru kali ini Gladis melihat David tersenyum.
"Bukan kah sebentar lagi kita mau menikah, jadi apa salahnya aku tau tentang kehidupan pribadi kamu," kata Gladis mencari alasan.
David tersenyum ringan mendengar pertanyaan Gladis.
"Ko ketawa! Ada yang salah ya," kata Gladis heran.
"Tidak ada ko Dis, tidak ada yang salah. Jadi kamu mau tau tentang ceritaku?" tanya David dan Gladis pun mengangguk.
"Kamu simak baik-baik aku tidak mau mengulang untuk yang ke dua kalinya," kata David sambil menatap Gladis.
Gladis mulai mendengarkan dengan seksama cerita David, ia tidak mau ketinggalan apa yang David ucapkan.
Dulu aku mempunyai seorang kekasih dia seorang model, hubungan kami memang tidak selalu mulus *apalagi mama dan papa tidak setuju. Karena kehidupan malam dia yang bebas dan glamor, satu hari aku hendak melamarnya tetapi mama sama papa tidak menye**tujuinya. Dan kami bertengkar di dalam mobil sampai akhirnya lepas kontrol hingga mobil yang kami tumpangi kecelakaan, dan dia meninggal ketika perjalanan ke rumah sakit, dari situ aku belum pernah bisa membuka hati untuk orang lain*.
Gladis terdiam mendengar cerita David kisah percintaannya sama dengan dirinya, mereka tidak bisa memilih untuk bahagia.
"Aku sepertimu Gladis tidak mempunyai kesempatan untuk memilih, dan tidak mempunyai harapan untuk bisa memiliki orang yang aku sayang," kata terakhir David sambil menatap Gladis.
kemudian, berarti dia tdk menerima kalau bayi nya terlahir cacat.
🙏🙏 kalau sy slh paham