Kirana adalah lambang keindahan alami desa yang polos. Namun, dunianya runtuh seketika saat sang bapak berpulang. Sebagai anak sulung, beban berat kini berpindah ke pundaknya. Demi menyambung hidup adik-adiknya dan membiayai pengobatan ibunya yang sakit-sakitan, Kirana memantapkan hati untuk mengadu nasib ke kota besar.
Namun, kota besar tidak seramah impiannya. Terjebak dalam kepolosan dan keputusasaan, Kirana dikhianati oleh makelar tak berhati dan menjadi korban perdagangan manusia. Ia dijual ke sebuah tempat prostitusi kelas atas di Valerion—sebuah kota metropolitan yang megah di luar, namun busuk dan kejam di dalamnya.
Di balik jeruji emas tempat bordil tersebut, Kirana dipaksa menanggalkan keluguannya dan berubah menjadi wanita malam. Di sinilah kisah perjuangan Kirana dimulai: sanggupkah ia menjaga secercah cahaya di hatinya yang mulai menggelap, atau ia akan selamanya terperangkap dalam sangkar derita tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SENJA YANG KEHILANGAN CAHAYA
Gerimis tipis sore itu membawa aroma tanah basah yang pekat, bersatu dengan wangi kembang kamboja yang luruh di atas gundukan tanah yang masih merah. Di bawah langit desa yang meremang, Kirana bersimpuh hingga lututnya mati rasa. Pakaian hitamnya yang sudah pudar warnanya tampak lembap oleh tempias hujan. Jemarinya yang halus, yang biasanya terampil memetik pucuk teh di perkebunan, kini gemetar saat mengusap papan nisan kayu yang masih basah. Di sana terukir nama lelaki yang paling dihormatinya di dunia ini: Suryo bin Wiryo.
Bapak sudah pergi. Pilar kokoh yang selama ini melindungi gubuk bambu mereka telah runtuh, meninggalkan kekosongan yang teramat sunyi. Tidak ada lagi suara batuk berat yang khas di duga subuh, tidak ada lagi senyum lelah namun menenangkan saat lelaki tua itu pulang dari sawah orang dengan membawa sebungkus kerupuk untuk adik-adiknya.
"Kirana... ayo pulang, Nduk. Sudah mau magrib. Ndak baik anak perawan berlama-lama di makam waktu asar habis," bisik sebuah suara parau dari belakang.
Kirana menoleh perlahan. Ibunya, Yu Sumi, berdiri dengan tubuh yang kian menyusut. Wanita paruh baya itu bertopang berat pada pundak anak lak-lakinya, Danu, yang baru berusia sepuluh tahun. Batuk kering yang belakangan sering mengeluarkan darah kembali menyiksa dada Yu Sumi, membuat tubuhnya yang kurus bergetar hebat. Di samping mereka, si bungsu Lestari yang baru berumur enam tahun, menangis tanpa suara sambil mencengkeram erat kain jarik ibunya. Bocah kecil itu tidak sepenuhnya paham apa arti kematian, dia hanya tahu perutnya lapar dan suasana rumah mereka mendadak menjadi sangat menakutkan sejak kemarin.
Melihat pemandangan itu, ada sesuatu yang patah sekaligus mengeras di dalam dada Kirana. Air matanya seketika mengering, digantikan oleh rasa sesak yang membakar tenggorokan. Dia adalah anak sulung. Di desanya, kecantikan Kirana sering menjadi buah bibir. Kulitnya bersih titisan sang ibu yang berdarah priayi runtuh, matanya jernih memancarkan kepolosan, dan rambut hitamnya panjang berkilau meski hanya dirawat dengan air bilasan santan. Namun, di hadapan kemiskinan yang mencekik dan perut-perut lapar adik-adiknya, kecantikan tidak bisa diubah menjadi sepiring nasi.
"Iya, Bu. Ayo kita pulang," jawab Kirana pelan, suaranya serak. Ia berdiri, mengibas tanah yang menempel di roknya, lalu menggandeng jemari mungil Lestari yang terasa dingin.
Perjalanan pulang ke rumah dilewati dengan keheningan yang mencekam. Jalanan setapak desa yang berlumpur membuat langkah mereka lambat. Sesekali tetangga yang berpapasan hanya melempar pandangan iba, beberapa berbisik kasihan, namun tidak ada yang bisa berbuat lebih. Di desa terpencil ini, hampir semua orang hidup di garis kemiskinan yang sama.
Sesampainya di rumah, suasana justru terasa lebih menyesakkan. Gubuk berdinding anyaman bambu itu terasa begitu luas tanpa kehadiran Bapak. Kirana langsung menuju ke dapur yang masih beralaskan tanah. Ia menyalakan tungku kayu dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya. Di dalam ceting bambu, nasi hanya tersisa dua kepal, sementara lauknya hanya ada sejumput garam dan sisa sambal korek kemarin pagi.
"Mbak Rana... Tari lapar," cicit Lestari, duduk di atas amben bambu sambil memeluk lututnya.
Kirana tersenyum getir. Ia membagi dua kepal nasi itu menjadi dua piring kecil, mencampurnya dengan sedikit minyak jelantah dan garam agar ada rasanya. "Ini, makan sama Mas Danu, ya? Habis ini langsung tidur, besok Mas Danu harus sekolah."
"Mbak ndak makan? Ibu ndak makan?" tanya Danu, menatap piringnya dengan ragu meski air liurnya sudah mau menetes.
"Mbak sudah kenyang tadi di tempat melayat, Danu. Ibu nanti Mbak buatkan bubur hangat saja. Habiskan, ya," dusta Kirana, mengusap kepala adiknya dengan sayang.
Setelah memastikan kedua adiknya makan dan masuk ke dalam kamar yang hanya disekat kain jarik lusuh, Kirana melangkah ke bale bale utama di ruang tengah. Di sana, Ibunya terbaring lemah. Wajahnya pucat pasi di bawah temaram lampu teplok yang bergoyang ditiup angin malam yang menyelusup dari celah dinding bambu.
Kirana duduk di lantai, memijat kaki ibunya yang terasa dingin. "Bu... obat Ibu sudah habis dari dua hari lalu, kan?"
Yu Sumi menghela napas panjang, matanya menatap langit-langit atap rumbia yang mulai bocor. "Ndak usah dipikirkan, Nduk. Ibu sudah tua. Yang penting adik-adikmu bisa makan dan Danu ndak putus sekolah. Biaya tebus obat di puskesmas kecamatan itu mahal, uang dari mana?"
Kirana terdiam. Kepalanya berputar cepat. Utang peninggalan pengobatan Bapak sebelum meninggal sudah menumpuk di warung Bu Joko. Sawah garapan pun sudah diambil alih pemiliknya karena Bapak sudah tiada. Jika ia tetap bertahan di desa dan hanya mengandalkan upah buruh petik teh yang hanya cukup untuk membeli sekilo beras per tiga hari, keluarganya akan perlahan-lahan mati kelaparan.
Malam itu, setelah Ibunya tertidur karena kelelahan bernapas, tekad Kirana bulat. Dia harus pergi. Ke sebuah tempat yang jauh, ke sebuah kota besar yang kerap didengarnya dari obrolan para pemuda di pasar desa: Kota Valerion. Sebuah kota metropolitan yang katanya menjanjikan kilau uang bagi siapa saja yang berani memeras keringat.
Keesokan paginya, matahari belum lagi sepenuhnya terbit ketika Kirana sudah berjalan menuju pasar daerah yang terletak di perbatasan desa. Ia membawa sebuah bakul berisi beberapa ikat sayur pakis hasil buruannya di pinggir hutan tadi subuh, berharap bisa menukarnya dengan beberapa keping uang untuk membeli beras dan beberapa butir telur.
Pasar pagi itu riuh oleh suara tawar-menawar dan kepulan asap dari penjual serabi. Kirana menggelar tikar kecilnya di sudut paling pojok, tempat yang tersisa untuk pedagang kecil sepertinya. Namun, hingga matahari meninggi, sayur pakisnya baru laku dua ikat. Uang yang didapat bahkan tidak cukup untuk membeli setengah liter beras berkualitas paling buruk.
Saat Kirana sedang melamun menatap ramainya pasar dengan mata berkaca-kaca, sebuah bayangan tinggi menghalangi cahaya matahari di depannya. Seorang pria paruh baya dengan pakaian rapi—kemeja berkerah yang tampak mahal untuk ukuran orang desa dan jam tangan keemasan yang berkilau—berdiri di depan dagangannya.
"Permisi, Nduk. Ini sayur pakisnya masih segar semua?" tanya pria itu dengan suara yang sengaja dibuat selembut dan seramah mungkin.
Kirana mendongak, sedikit terkejut. "Eh... iya, Pak. Baru saya petik subuh tadi di dekat sungai. Satunya seribu rupiah saja."
Pria itu tidak langsung menjawab. Matanya justru meneliti wajah Kirana dengan cermat, mulai dari matanya yang bulat besar, hidungnya yang bangir, hingga bibirnya yang merah alami tanpa polesan gincu. Ada binar kepuasan yang kilat melintas di mata pria itu, sebuah binar kelaparan seorang predator yang melihat mangsa sempurna.
"Cantik sekali kamu, Nduk. Namamu siapa?" tanya pria itu lagi, kini sambil berjongkok agar sejajar dengan Kirana.
"Kirana, Pak," jawabnya lugu, agak risi namun tetap sopan karena mengira pria ini adalah pembeli kaya dari kota.
"Ah, Kirana. Nama yang indah, seindah wajahmu," ujar pria itu sembari mengeluarkan dompet kulit tebalnya. Ia mengambil selembar uang seratus ribu rupiah dan meletakkannya di atas bakul Kirana. "Ambil ini. Saya beli semua sayurmu, kembaliannya ambil saja."
Kirana terbelalak. "Tapi, Pak... ini terlalu banyak. Dagangan saya ndak sampai sepuluh ribu nilainya."
"Ndak apa-apa, anggap saja ini rezeki anak saleh. Kebetulan saya suka melihat anak muda yang mau bekerja keras untuk keluarganya," kata pria itu sembari tersenyum ramah. "Kenalkan, nama saya Pak Broto. Saya ini agen penyalur tenaga kerja resmi dari Kota Valerion."
Mendengar kata 'Valerion', jantung Kirana berdesir. Sesuatu di dalam dirinya mendadak bangkit—harapan.
"Valerion? Bapak sering ke sana?" tanya Kirana, suaranya kini terdengar sedikit bersemangat, melupakan rasa curiganya.
"Tentu saja. Kantor saya di sana. Saya sering ke desa-desa begini untuk mencari gadis-gadis baik yang jujur dan rajin untuk bekerja di sana. Di kota, lowongan kerja sangat banyak, Kirana. Menjadi pelayan di restoran mewah, pengasuh anak keluarga kaya, atau staf administrasi. Gajinya sebulan bisa jutaan rupiah. Bisa buat bangun rumah di desa ini dalam waktu setahun," tutur Pak Broto, merangkai kata-kata manis bagai madu yang langsung meresap ke dalam benak Kirana yang sedang putus asa.
Kirana menelan ludah. Angka 'jutaan rupiah' terdengar seperti dongeng dari negeri dongeng di telinganya. Jika ia punya uang sebanyak itu, ibunya bisa berobat ke rumah sakit besar di kota, Danu bisa kuliah, dan Lestari tidak perlu kelaparan lagi.
"Apakah... apakah lowongannya masih ada, Pak? Saya... saya sangat butuh pekerjaan," tanya Kirana dengan mata berbinar penuh harap, menyerahkan dirinya sendiri ke dalam perangkap tanpa sadar.
Pak Broto tersenyum dalam hati, kemenangan mutlak sudah di tangannya. "Untuk gadis secantik dan sekeren kamu? Tentu saja selalu ada, Kirana. Kebetulan, besok malam saya akan membawa rombongan dari desa sebelah ke Valerion naik bus carteran. Kalau kamu mau, kamu bisa ikut. Semua biaya perjalanan, makan, dan mess tempat tinggal, saya yang tanggung dulu. Nanti bisa dipotong gaji kalau kamu sudah kerja. Bagaimana?"
Kirana tidak berpikir panjang lagi. Ini adalah jawaban dari doa-doanya di atas makam Bapak kemarin. "Saya mau, Pak. Saya pasti ikut!"
"Bagus. Besok jam tujuh malam, tunggu saya di pertigaan stasiun lama desa, ya. Jangan terlambat, dan jangan bawa barang terlalu banyak. Di kota nanti semua baju baru akan disediakan," bisik Pak Broto, menepuk pundak Kirana dengan kehangatan palsu sebelum akhirnya melangkah pergi dengan senyum licik yang tersembunyi.
Malam harinya, perdebatan hebat terjadi di gubuk kayu itu. Yu Sumi menangis terisak, memeluk erat tubuh anak gadisnya yang keras kepala.
"Ndak usah pergi ke kota, Rana! Ibu ndak setuju! Kota itu kejam, Nduk. Banyak orang jahat. Biar kita makan garam setiap hari, asal kamu tetap di sini, di dekat Ibu!" ratap Yu Sumi di sela batuknya yang kian parah.
Kirana memeluk ibunya dengan erat, air matanya menetes di pundak wanita tua itu, namun keputusannya sudah tidak bisa diganggu gugat. "Bu... kalau Rana tetap di sini, kita semua akan kelaparan. Obat Ibu bagaimana? Sekolah Danu bagaimana? Pak Broto itu orang baik, Bu. Dia sudah bantu belikan semua sayur Rana tadi siang. Dia janji Rana akan ditempatkan di restoran besar yang aman."
"Tapi hati Ibu ndak tenang, Nduk... rasanya sesak sekali," bisik Yu Sumi, memegangi dadanya yang bergemuruh.
Kirana melepaskan pelukannya, menatap mata ibunya dengan keyakinan yang dipaksakan. "Rana janji, Bu. Begitu dapat gaji pertama bulan depan, Rana akan langsung kirim uang lewat pos untuk obat Ibu. Rana akan jaga diri baik-baik. Ibu percaya sama Rana, kan?"
Danu yang mengintip dari balik tirai kain hanya bisa menggigit bibirnya, menahan tangis agar tidak meledak. Dia tahu, kakak perempuannya melakukan ini semua demi dirinya dan masa depan mereka.
Keesokan malamnya, kegelapan telah sepenuhnya menyelimuti desa ketika Kirana berdiri di pertigaan jalan dekat stasiun lama yang sudah terbengkalai. Udara malam terasa sangat menusuk tulang. Ia hanya mengenakan jaket rajut usang berwarna pudar dan membawa satu tas jinjing berisi beberapa helai pakaian terbaiknya yang sudah mulai kekuningan.
Tepat jam tujuh malam, sebuah bus mikro dengan kaca yang gelap pekat berhenti di depannya dengan suara rem yang mencicit. Pintu bus terbuka, dan wajah ramah Pak Broto muncul dari dalam.
"Ayo masuk, Kirana. Semua sudah menunggu," panggil Pak Broto.
Kirana menatap ke dalam bus yang remang-remang. Di dalam sana, sudah ada sekitar lima gadis muda seusianya yang duduk dengan wajah tegang dan lelah, berselimut ketakutan yang sama namun didorong oleh keputusasaan yang serupa. Kirana menarik napas dalam-dalam, menggenggam erat tali tasnya, lalu melangkah naik ke dalam bus.
Saat pintu bus tertutup dengan dentuman keras, Kirana menoleh ke belakang melalui kaca yang buram. Di kejauhan, lampu-lampu teplok desanya perlahan mengecil dan menghilang ditelan kegelapan malam. Ia tidak pernah tahu, bahwa keputusannya malam itu telah menutup pintu kehidupannya yang normal untuk selamanya.
Bus itu terus melaju membelah malam, membawa Kirana menjemput takdir kelam yang menantinya di gemerlapnya sangkar derita Kota Valerion.