NovelToon NovelToon
Sistem Dewi Rubah

Sistem Dewi Rubah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Epik Petualangan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

⚠️⚠️TIDAK ADA UNSUR LGBT, NAMANYA JUGA DEWI RUBAH, YANG PALING DISUKAI ADALAH JIWA DAN TUBUH MEREKA⚠️⚠️

Bagaimana kalau seorang Dewi rubah yang dihukum malah melarikan diri? kucingnya yang selama ini seperti kucing biasa ternyata kucing dunia. bersenang-senang? tentu saja hal itu yang paling disukai nona rubah kita ini. bagaimana kesenangan nona rubah di dunia manusia dan pelarian nya? di setiap cerita akan beda judul utama karena dia tidak hanya melarikan diri, tetapi juga menjadi sistem kesenangan diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"Cinta untuk Nona Muda" 15

Tangga darurat di bagian belakang sekolah adalah sebuah tempat yang sangat jarang dilalui oleh orang-orang. Suasananya gelap, lembap, dengan bau cat tua serta debu tebal yang tampak mengendap di setiap sudutnya. Biasanya Lucy sengaja datang ke tempat ini untuk mencari ketenangan, atau setidaknya berpura-pura mencari ketenangan. Namun hari ini, ketenangan sama sekali tidak ada di sana.

Saat langkah kakinya baru saja menginjak anak tangga terakhir menuju ke lantai atap, sebuah suara yang ketus mendadak menghentikan pergerakannya.

"Hei."

Lucy perlahan mengangkat kepalanya keatas.

Hana Himura sudah berdiri tegak di bawahnya, tepat di pertengahan anak tangga. Wajah gadis itu kini tidak lagi memasang senyuman manis khas protagonis wanita yang polos dan sempurna. Kali ini topeng kedoknya telah terlepas sepenuhnya. Sepasang matanya menyipit tajam, dan bibirnya melengkung membentuk sebuah seringai yang terasa sangat dingin.

"Kamu Lucy, kan?" Suara Hana terdengar ringan, namun ada racun yang terselip di setiap untaian katanya.

Lucy memiringkan kepalanya sedikit, dengan cepat memasang kembali ekspresi wajahnya yang polos tanpa dosa. "Iya, benar. Ada apa ya?"

"Kita berdua perlu bicara." Hana melangkah naik beberapa belas anak tangga, menghampiri posisi Lucy yang berada di tempat yang lebih tinggi. "Ini soal Ren. Dan juga soal Kaito."

"Oh ya?" Sepasang mata Lucy sengaja dibuat berbinar seolah-olah dia sama sekali tidak mengerti arah pembicaraan ini. "Memangnya ada apa dengan mereka berdua?"

"Jangan pernah berlagak bodoh di depanku." Suara Hana seketika kehilangan seluruh kehangatannya. "Menjauhlah dari mereka berdua sekarang juga."

Lucy sempat terdiam sejenak mendengar gertakan itu. Sesaat kemudian, dia justru menyunggingkan sebuah senyuman, namun itu bukan senyuman polos yang biasa dia tunjukkan di depan orang-orang. Kali ini senyumannya mengandung sesuatu yang terasa jauh lebih gelap, lebih licik, dan mencerminkan aura agung seorang Dewi.

"Atau kalau tidak, apa yang akan kamu lakukan?"

Hana sempat terkejut bukan main melihat perubahan ekspresi wajah Lucy yang mendadak drastis. "Apa kamu bilang?"

"Aku tanya, atau kalau tidak apa?" ulang Lucy sambil melangkah maju satu demi satu anak tangga, memperkecil jarak di antara mereka. "Kamu berniat untuk mengancamku? Atau kamu berniat untuk menghancurkanku? Silakan saja kalau kamu mampu." Lucy menyeringai tipis. "Kamu boleh saja merasa menjadi tokoh protagonis wanita di dalam cerita ini, Hana. Tapi coba kamu lihat baik-baik ke sekelilingmu sekarang. Siapa sebenarnya yang sedang menjadi pusat perhatian utama di sekolah ini?"

Wajah Hana seketika berubah menjadi pucat pasi. "Kamu... dasar perempuan...!"

"Perempuan apa? Gadis sialan yang sudah merebut semua hal dari tanganmu?" Lucy terkekeh geli melihat kepanikan saingannya. "Ucapanmu itu memang ada benarnya. Tapi kamu tahu tidak apa alasan di balik semua ini? Itu karena kamu terlalu bodoh dengan mengandalkan statusmu sebagai seorang protagonis. Kamu berpikir kalau seluruh dunia ini akan selalu berputar sesuai dengan keinginanmu hanya karena kamu memiliki sebuah sistem dan garis takdir yang tertulis di atas kertas. Sayangnya..." Lucy menatap lurus ke dalam manik mata Hana dengan pandangan yang mengintimidasi. "...garis takdir itu selalu bisa diubah oleh tangan yang tepat."

Hana mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kuat hingga gemetar. "Aku tidak akan pernah membiarkanmu melakukan hal itu! Akulah tokoh protagonis yang sebenarnya di dunia ini! Bukan kamu! Kamu itu hanyalah seonggok karakter figuran tidak penting, karakter yang seharusnya sudah MATI!"

"Aku juga tahu soal fakta itu." Lucy tersenyum sangat manis. "Namun buktinya sekarang aku tidak mati. Dan hal itu pasti membuat hatimu merasa sangat kesal, kan?"

"Aku bisa saja menghancurkan hidupmu sekarang juga!" Hana melangkah maju dengan emosi yang meluap-luap, namun tepat pada saat itu, suara peringatan dari Lili mendadak bergema dengan nyaring di dalam kepala Lucy.

"Lucy! Ren dan Kaito saat ini sedang berjalan cepat menuju ke arah tempat ini! Mereka berdua sepertinya sedang mencarimu!"

Lucy sekuat tenaga menahan diri agar tidak menyunggingkan senyuman kemenangannya. "Kenapa mereka bisa menuju ke sini?"

"Sepertinya ada salah seorang murid yang memberi tahu mereka kalau kamu sedang pergi ke arah tangga darurat."

"Siapa orangnya?"

"Aku tidak tahu pasti. Tapi yang jelas, mereka berdua akan tiba di lokasi ini dalam waktu kurang dari dua menit."

Sebuah rencana busuk yang sangat brilian langsung terbentuk secara otomatis di dalam kepala cerdas Lucy. "Lili, matikan sistem milik Hana sekarang juga. Aku tidak mau dia mendapatkan peringatan apa pun dari sistemnya mengenai kedatangan mereka."

"Dimengerti. Proses pemutusan koneksi sistem ke pengguna sedang berjalan... selesai."

Tepat di hadapan Lucy, Hana tampak mengernyitkan keningnya dengan ekspresi bingung. "Sistem? Sistem! Kenapa kamu tiba-tiba diam saja?!"

Namun sistem di dalam kepalanya sama sekali tidak memberikan jawaban apa pun. Lili telah berhasil memblokir seluruh jalur komunikasi antara Hana dan sistemnya untuk sementara waktu.

"Kenapa kamu malah diam saja sekarang?" tanya Hana meremehkan. "Apa kamu sudah mulai merasa takut?"

Tepat pada detik itulah, Lucy langsung mengubah total penampilannya.

Postur tubuhnya yang tadinya tegak lurus dan penuh dengan rasa percaya diri mendadak menciut begitu saja. Sepasang matanya yang semula memancarkan binar kemenangan kini berubah menjadi berkaca-kaca menahan tangis. Kedua pipinya memerah sempurna, bukan karena menahan amarah, melainkan karena ekspresi kesedihan yang mendalam. Dalam sekejap mata, sosok Dewi Rubah yang licik dan berbahaya itu lenyap tanpa bekas, menyisakan sosok Lucy si gadis polos yang pemalu dan tidak tahu apa-apa.

"K-Kamu..." suara Lucy terdengar sangat bergetar menahan tangis. "Kenapa kamu bisa sangat membenciku? Aku... aku merasa tidak pernah melakukan kesalahan apa pun kepadamu..."

Hana mengernyitkan keningnya, benar-benar merasa bingung dengan perubahan sikap Lucy yang terjadi dalam hitungan detik. "Apa-apaan kamu ini?! Jangan pernah mencoba berpura-pura di depanku! Tadi kamu..."

"Aku hanya... aku hanya ingin berteman baik denganmu..." Air mata yang deras mulai mengalir membasahi pipi mulus Lucy. "Tapi kamu... kamu malah membentakku dan menghinaku..."

"AKU BAHKAN SAMA SEKALI BELUM MENGHINAMU!"

"Kamu tadi bilang kalau aku hanyalah karakter figuran! Kamu juga bilang kalau aku seharusnya sudah mati!" Lucy mulai terisak pelan dengan bahu yang berguncang. "Ucapanmu itu... itu terasa sangat jahat sekali..."

Hana menggeram frustrasi melihat tingkat kepura-puraan di depannya. "Dengar baik-baik ya, dasar gadis miskin! Kamu itu sama sekali tidak pantas untuk bersanding dengan Ren ataupun Kaito! Coba lihat baik-baik kondisi dirimu sendiri! Kamu itu miskin dan tidak punya apa-apa! Bahkan latar belakang keluargamu saja..."

Hana mendadak menghentikan kalimatnya. Namun untaian kata-kata kasar itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Lucy, atau lebih tepatnya karakter polos yang sedang dimainkannya, tersentak kaget.

"Ke... keluargaku?" bisik Lucy dengan suara lirih.

"Kamu itu tidak punya keluarga sama sekali, kan?! Aku sudah mengetahui semua informasinya! Kamu hanyalah seorang gadis malang yang hidup sebatang kara di dalam sebuah apartemen kumuh!" Hana menyeringai puas, berpikir kalau dia sudah berhasil memenangkan perdebatan ini. "Jadi jangan pernah berani bermimpi untuk bisa berada di posisi yang setara denganku!"

Tindakan itu adalah sebuah kesalahan terbesar yang pernah dilakukan oleh Hana.

Hal itu terjadi bukan karena Lucy merasa tersinggung dengan ucapan kasarnya, karena jujur saja sang Dewi sama sekali tidak memedulikan latar belakang manusianya. Namun kesalahan itu fatal karena suara derap langkah kaki terdengar semakin mendekat ke arah mereka. Ren dan Kaito sudah berada di bagian bawah tangga darurat, dan mereka berdua dipastikan telah mendengar seluruh kalimat hinaan tersebut.

Waktunya telah tiba untuk menampilkan puncak dari pertunjukan dramatis ini.

"Kenapa... kenapa kamu bisa bersikap sekejam ini..." Lucy menangis sejadi-jadinya dengan suara yang sengaja dibuat pecah. "Padahal aku hanya... aku hanya ingin..."

Pandangan mata Hana mendadak tertuju pada sebuah benda yang tersemat di rambut Lucy. Benda itu adalah sebuah jepitan rambut berbentuk ekor rubah yang terbuat dari logam perak murni dengan hiasan batu safir biru di bagian tengahnya. Benda itu tampak berkilau indah di tengah ruangan yang minim cahaya, terlihat sangat mahal dan berkelas, terlalu mewah untuk ukuran gadis miskin sekelas Lucy.

"Itu... jepitan rambutmu. Dari mana kamu bisa mendapatkan barang semahal itu?" Hana melangkah maju memperkecil jarak, dengan tangan yang terulur hendak merebutnya.

"Ja-jangan diambil! Itu adalah hadiah berharga dari..."

"Hadiah dari siapa?!"

"Dari Ren..."

Sepasang mata Hana seketika membelalak sempurna sebelum akhirnya berubah menjadi pancaran aura kebencian murni. "HADIAH DARI REN?! DIA MEMBERIKAN HADIAH SEMEWAH INI KEPADAMU?! SEHARUSNYA AKULAH YANG MENDAPATKAN HADIAH ITU DARINYA, BUKAN PEREMPUAN SEPERTI KAMU!"

Hana dengan kasar langsung merenggut jepitan tersebut dari sela-sela rambut Lucy.

"Kembalikan jepitantku!" Lucy mencoba bergerak maju untuk meraihnya kembali, namun Hana sudah terlebih dahulu mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke udara.

"Dasar gadis tidak tahu diri!" Hana dengan sekuat tenaga langsung membanting jepitan rambut itu ke atas lantai tangga yang keras. Logam perak itu seketika pecah berantakan, dan hiasan batu safir birunya terlepas lalu berguling-guling menuruni anak tangga sebelum akhirnya jatuh ke dalam celah sempit dan menghilang dari pandangan.

Lucy menatap nanar ke arah jepitan rambutnya yang kini sudah hancur berkeping-keping. Air matanya mengalir jauh lebih deras dari sebelumnya, dan kali ini ada sebersit rasa ketulusan yang terselip di dalamnya. Hal itu terjadi bukan karena jepitan itu memiliki nilai historis yang tinggi bagi manusianya, melainkan karena benda tersebut adalah salah satu jepitan rambut favoritnya yang sengaja dibawa langsung dari istana lamanya.

"Jepitan rambutku..."

"Rasakan itu! Itu adalah balasan yang sangat pantas karena kamu sudah berani merebut apa yang seharusnya menjadi milikku!" Hana menyeringai dengan penuh perasaan puas.

Lucy melangkah mendekatinya dengan tangan yang terulur, berakting seolah ingin memungut sisa-sisa pecahan jepitan rambutnya. "Kenapa kamu... kenapa kamu tega berbuat sejahat ini..."

"Minggir dari hadapanku!" Hana mendorong tubuh Lucy dengan kasar karena merasa risih dengan keberadaan gadis itu di dekatnya. Dorongan itu sebenarnya tidak terlalu kuat, hanya sebuah dorongan biasa.

Namun Lucy, dengan perhitungan waktu yang sangat sempurna serta gerakan tubuh yang sudah dikalkulasikan dengan matang, sengaja membiarkan tubuhnya terdorong ke arah belakang. Kedua kakinya sengaja dibuat kehilangan pijakan pada anak tangga, dan sedetik kemudian tubuhnya langsung terjatuh dengan dramatis.

Lucy berguling menuruni belasan anak tangga darurat yang keras.

Tubuhnya membentur sudut anak tangga yang tajam berkali-kali sebelum akhirnya gerakan itu berhenti tepat di dasar lantai tangga. Bagian sisi kepalanya sempat terbentur dengan keras pada sudut besi pegangan tangga, membuat cairan darah segar perlahan mulai merembes keluar membasahi area pelipisnya.

"Ah... sakit sekali..." bisiknya dengan suara lirih. Namun rasa sakit itu sebenarnya sama sekali tidak dirasakan oleh kesadarannya, karena tubuh manusia ini sudah dimodifikasi sedemikian rupa agar menjadi sangat kuat. Rasa sakit itu murni merupakan bagian dari totalitas aktingnya.

Tepat pada detik yang sangat krusial itu, pintu akses menuju ke tangga darurat mendadak terbuka dengan keras.

Ren dan Kaito muncul secara bersamaan di ambang pintu. Mereka berdua seketika terpaku di tempatnya begitu melihat sebuah pemandangan mengerikan yang tersaji di depan mata kepalanya sendiri. Lucy tampak terbaring lemah di atas lantai dasar tangga dengan darah yang mengalir di kepalanya, sementara di bagian atas tangga, Hana Himura masih berdiri membeku dengan posisi kedua tangan yang masih terulur ke depan.

"LUCY!" Kedua cowok itu berteriak histeris secara bersamaan.

Mereka langsung berlari kencang menuruni tangga. Kaito menjadi orang pertama yang berhasil mencapai posisi tubuh Lucy, lalu segera berlutut di sampingnya. Kedua tangannya tampak bergetar hebat saat mencoba untuk mengangkat dan menyangga bagian kepala Lucy dengan sangat hati-hati.

"Lucy! Lucy, tolong buka matamu! Kamu bisa mendengarkan suaraku, kan?!"

Sementara itu, Ren hanya bisa berdiri mematung di tempatnya selama beberapa saat. Pandangan matanya bergerak perlahan dari arah tubuh lemah Lucy menuju ke arah bagian atas anak tangga, tempat di mana Hana sedang berdiri ketakutan. Di dekat posisi kaki Hana, Ren menangkap keberadaan sisa-sisa pecahan jepitan rambut berbentuk ekor rubah yang sangat dia kenali, jepitan yang selalu digunakan oleh Lucy setiap hari ke sekolah.

Wajah Ren seketika berubah menjadi sangat dingin. Itu bukan jenis ekspresi dingin yang biasa dia tunjukkan sehari-hari, melainkan sebuah tatapan dingin yang memancarkan aura membunuh yang sangat berbahaya. "Apa yang sudah kamu lakukan kepadanya?"

"A-Aku... dia... dia terjatuh sendiri dari atas tangga!" Hana menjawab dengan suara yang tergagap karena panik. "Aku sama sekali tidak mendorong tubuhnya! Dia... dia hanya terpeleset saat melangkah!"

"KAMU BOHONG!" Suara bentakan Ren menggema dengan sangat keras memenuhi seluruh ruangan tangga darurat yang sepi. "Kami berdua sudah mendengar seluruh isi percakapan kalian dari bawah! Kami mendengar dengan jelas bagaimana kamu menghina latar belakang keluarganya! Dan kami juga mendengar saat kamu menghancurkan jepitan rambut miliknya!"

"Aku... aku tidak bermaksud untuk..."

Namun Lucy, yang saat ini masih mempertahankan akting setengah sadarnya, perlahan mengangkat sebelah tangannya yang tampak bergetar. Jari-jarinya yang sedikit terkena noda darah bergerak menyentuh permukaan kulit pipi Kaito. "Kaito..."

"Iya, aku di sini bersamamu. Aku ada di sini, Lucy." Suara Kaito terdengar sangat bergetar menahan gejolak emosi. Segala bentuk emosi yang selama ini tidak pernah dia tunjukkan di depan orang lain, mulai dari rasa ketakutan yang teramat sangat, kemarahan yang meluap, hingga kepanikan yang luar biasa, kini bercampur aduk menjadi satu di dalam sepasang matanya.

"Jepitan rambutku... jepitan pemberian dari Ren..." Bulir air mata mengalir membasahi pipinya yang pucat. "Dia sudah menghancurkannya menjadi kepingan... aku... aku hanya berniat untuk memungut sisanya... namun dia justru mendorong tubuhku..."

Setelah menyelesaikan kalimat dramatis itu, tubuh Lucy mendadak berubah menjadi sangat lemas. Sepasang matanya terpejam sempurna, dan kepalanya terkulai lemah ke arah samping.

"LUCY!"

"LUCY! TOLONG BANGUN!"

Namun Lucy sama sekali tidak memberikan pergerakan apa pun. Sementara di dalam dimensi kesadarannya, dia justru sedang asyik duduk santai di atas sebuah kursi malas sambil menyuap beberapa butir buah anggur segar ke dalam mulutnya.

"Akting yang benar-benar luar biasa dan patut diacungi jempol," komentar Lili dengan nada suara yang sangat datar sambil meringkuk santai di atas pangkuannya. "Namun ada satu hal penting yang harus segera aku beri tahukan kepadamu. Tingkat kejahatan di dalam diri Kaito mendadak melonjak drastis."

"Berapa angka persentasenya sekarang?"

"Menyentuh angka sembilan puluh persen."

Lucy hampir saja tersedak buah anggur yang sedang dikunyahnya. "Sembilan puluh persen?! Bagaimana mungkin dari yang tadinya hanya berada di angka tiga puluh persen bisa langsung melesat sejauh itu?!"

"Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri saat tubuhmu terjatuh dan berlumuran darah. Dia juga mendengarkan setiap untaian kata-kata yang kamu ucapkan tadi. Dan sekarang, dia sedang menatap ke arah Hana dengan sebuah tatapan mata yang jujur saja terlihat sangat mengerikan."

"Waduh, gawat kalau begitu." Lucy menghela napas panjang. "Aku tidak mungkin bisa mendadak terbangun sekarang lalu berkata kalau ini semua hanyalah sebuah lelucon belaka. Aku terpaksa harus tetap melanjutkan sandiwara pingsan ini sampai akhir."

"Setidaknya buatlah kondisi fisik tubuh manusiamu benar-benar menyerupai orang yang sedang pingsan total. Aku yang akan mengatur agar benang kesadaranmu tetap berada di dalam dimensi ini."

"Baiklah kalau begitu, segera lakukan tugasmu."

Di dalam dunia nyata, Kaito tampak mengangkat tubuh Lucy dengan gerakan yang sangat lembut dan penuh kehati-hatian. Sebelah tangannya diposisikan di bawah lekukan lutut Lucy, sementara tangan yang satunya lagi menyangga bagian punggung gadis itu. Dia menggendong tubuh Lucy seolah-olah sedang membawa sebuah barang pecah belah yang sangat berharga di dalam hidupnya, sesuatu yang sangat dia takuti akan hancur dan menghilang dari genggamannya.

"Kaito... sebaiknya kita segera membawanya ke rumah sakit..." Ren melangkah maju berniat untuk membantu.

"JANGAN PERNAH BERANI MENGIKUTI LANGKAHKU."

Suara Kaito terdengar sangat dingin layaknya gumpalan es yang membeku. Itu adalah nada suara paling dingin yang pernah didengar oleh Ren sepanjang hidupnya. Kaito menatap tajam ke arah Ren sebelum akhirnya melemparkan pandangan membunuh ke arah Hana yang masih berdiri ketakutan di atas tangga.

"Aku tidak peduli dengan apa pun yang sebenarnya terjadi di antara kalian berdua di tempat ini," ujar Kaito dengan nada suara yang rendah namun penuh ancaman. "Tapi jika sampai terjadi sesuatu hal yang buruk pada kondisi Lucy..." Kaito sengaja tidak menyelesaikan ancamannya karena kalimat itu sudah tidak perlu lagi diucapkan.

Dia segera berbalik dan melangkah lebar meninggalkan area tangga darurat sambil mendekap erat tubuh Lucy di dalam gendongannya. Tetesan darah dari kepala Lucy tampak mengalir mengenai permukaan kulit lengan Kaito dan mulai menodai seragam sekolah yang dikenakannya, namun cowok itu sama sekali tidak memedulikannya.

Ren masih berdiri terpaku di tempatnya dengan kedua tangan yang mengepal kuat hingga gemetar. Dia sekali lagi membalikkan badannya untuk menatap tajam ke arah Hana. "Kamu..." Suaranya terdengar bergetar hebat menahan amarah yang sedari tadi ditahannya. "Jika sampai terjadi sesuatu hal yang membahayakan nyawanya, aku bersumpah tidak akan pernah memaafkan semua perbuatanmu. Tidak akan pernah."

Setelah mengucapkan kalimat ancaman itu, Ren langsung berlari cepat menyusul langkah Kaito.

Hana kini hanya bisa berdiri sendirian di tengah keheningan tangga darurat dengan kedua kaki yang bergetar hebat karena ketakutan. Jemari tangannya mencengkeram kuat ujung rok seragamnya sendiri demi menyalurkan rasa frustrasi yang mendalam.

"Sistem... Sistem! KENAPA KAMU SAMA SEKALI TIDAK MEMBERIKAN PERINGATAN KEPADAKU?!" Hana menjerit histeris di dalam hatinya, namun tetap tidak ada jawaban yang terdengar. "SISTEM! CEPAT JAWAB AKU!"

"Ko... koneksi jaringan... sempat terputus..." Suara dari sistem di dalam kepalanya akhirnya terdengar kembali, meskipun dengan nada yang terputus-putus. "Telah terjadi... sebuah interferensi besar... dari entitas... yang tidak dikenal..."

"ENTITAS MACAM APA?! SIAPA ORANGNYA?! APA GADIS SIALAN ITU?!"

"Saya... tidak memiliki kemampuan... untuk menganalisis datanya..."

​"DIAM KAMU! KAMU MEMANG BENAR-BENAR SISTEM YANG TIDAK BERGUNA! SAMA SEKALI TIDAK BISA DIANDALKAN!" Hana membanting tas sekolah mewahnya ke atas lantai dengan sangat keras. Bulir air mata amarah mulai mengalir membasahi kedua belah pipinya. "Gadis itu... dia yang sudah merencanakan semua skenario ini dari awal. Dia yang mengatur jalannya alur cerita ini. Aku tidak tahu bagaimana cara dia melakukannya, tapi dia... DIA ADALAH PEREMPUAN YANG SANGAT LICIK!"

​Namun sayangnya, sama sekali tidak ada satu orang pun yang mendengarkan jeritan frustrasinya selain gema suaranya sendiri yang memantul di dalam ruangan tangga darurat yang sepi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!