Setelah ayahnya meninggal, Azalea hidup bagai pembantu di rumahnya sendiri di bawah kekejaman ibu dan kakak tirinya. Hingga suatu hari, Rosalinda menjual Azalea seharga miliaran rupiah kepada Daxon Ravenzo, penguasa mafia kejam.
Azalea diserahkan ke pria iblis itu bukan untuk menjadi istri, tapi hanya sebagai kandang pewaris. Daxon menginginkan tubuhnya hanya untuk melahirkan anak, tanpa cinta, tanpa belas kasihan.
"Kau kubeli untuk jadi BENIH keturunanku. Jangan bermimpi aku akan menyayangimu, karena bagiku... kau hanya alat."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ᴀᴜᴛʜᴏʀ_ʀᴀʙʙɪᴛ¹⁸, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Azalea membalikkan badan sambil menahan isak tangisnya, tangannya gemetar saat membuka kancing baju yang ia kenakan. Perlahan ia menggantinya dengan baju tipis pemberian Daxon itu. Benar saja, kainnya begitu transparan sehingga lekuk tubuhnya terlihat samar-samar meski dalam cahaya redup kamar. Ia segera memeluk dirinya sendiri, merasa sangat terhina dan tidak berdaya.
"S-sudah..." ucapnya lirih, suaranya nyaris tak terdengar.
Daxon tidak membuang waktu lagi. Begitu mendengar jawaban Azalea, ia melangkah cepat mendekat, lalu mengangkat tubuh gadis itu dan membawanya ke atas tempat tidur dengan kasar namun tetap terkontrol.
Tanpa banyak bicara lagi, ia segera menindih tubuh Azalea, menahan kedua pergelangan tangannya di atas kepala agar gadis itu tidak bisa bergerak. Tatapannya tetap dingin dan tanpa perasaan — baginya ini hanya urusan menyelesaikan tugas, bukan soal keintiman atau perasaan.
"Jangan melawan. Akan lebih menyakitkan jika kau berontak," ucapnya singkat.
Azalea memejamkan matanya rapat-rapat, air matanya kembali mengalir deras membasahi bantal. Ia menggigit bibirnya sekuat tenaga untuk menahan tangis dan rasa hina yang meluap di dadanya. Ia hanya bisa pasrah, teringat akan keselamatan Bi Inah yang menjadi satu-satunya alasan ia bertahan.
Daxon tidak memberi waktu lagi. Malam itu, ia melakukan apa yang menjadi tujuannya semata — menggunakan Azalea sebagai wadah untuk mendapatkan pewaris yang ia butuhkan, tanpa memedulikan perasaan atau harga diri gadis itu sedikit pun.
Begitu Daxon mulai menekan masuk, rasa sakit yang tajam dan menyengat langsung menjalar ke seluruh tubuh Azalea. Ia membuka matanya lebar-lebar, menggigit bibirnya sekuat tenaga hingga terasa perih, tapi rasa sakit itu jauh lebih hebat.
"AAAAHHH... SAKITTT!" teriaknya tertahan, suaranya pecah bercampur isak tangis. Tubuhnya menegang kaku, kakinya mencoba menekuk dan tangannya berusaha mendorong dada Daxon, tapi tenaganya terlalu lemah dibandingkan kekuatan pria itu.
Rasa perih dan nyeri itu terasa seperti ada yang merobek bagian dalam dirinya, membuat keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya yang masih terbalut baju tipis itu. Air matanya mengalir deras tanpa henti, membasahi bantal di bawah kepalanya.
"Sakit... tolong... hentikan..." rintihnya lirih, suaranya terputus-putus menahan rasa sakit yang luar biasa itu.
Namun Daxon tidak berhenti. Ia hanya menatapnya dengan tatapan datar, tanpa rasa iba sedikit pun. Baginya, ini memang proses yang harus dilalui, dan rintihan Azalea hanyalah hal yang wajar dalam hal ini. Ia terus bergerak perlahan namun pasti, membuat Azalea terus merasakan rasa perih yang menusuk hingga akhirnya tubuhnya terasa lemas dan hanya bisa terbaring pasrah menahan sisa rasa sakit itu.
Saat semuanya berakhir, rasa nyeri itu masih terasa tertinggal, membuat Azalea hanya bisa terbaring lemah sambil memeluk dirinya sendiri, tubuhnya gemetar hebat menahan tangis dan sisa rasa sakit yang terasa di seluruh raganya.
Daxon keluar menuju balkon kamar Azalea dengan hanya melilitkan selembar handuk di pinggangnya. Di dalam kamar, Azalea sudah terlelap tidur — kelelahan menangis dan menahan rasa sakit membuatnya akhirnya terlelap tanpa sadar.
Dert! Dert! Dert!
Tiba-tiba ponsel di tangannya berdering keras. Daxon melirik layar dan mendapati nama ibunya tertera di ponselnya.
"Pasti dia menelpon hanya untuk membicarakan perjodohan lagi. Wanita yang dia pilih itu bermuka dua, hobinya berganti-ganti pria seolah sedang mencoba pakaian," batinnya dengan rasa tidak suka.
Daxon mengangkat telepon itu, dan suara Luciana terdengar lembut dari seberang sana.
"Syukurlah kamu baru mau mengangkat telepon Ibu. Ibu hanya ingin memberitahu, Valeria akan segera kembali ke Indonesia. Bisa kamu jemput dia besok?" tanya Luciana.
"Maaf, Bu, aku sudah..."
Daxon berhenti sejenak, matanya melirik ke dalam kamar melihat Azalea yang tertidur pulas. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring. Untuk menghindari perjodohan yang tidak diinginkan itu, ia memutuskan untuk berbohong pada ibunya.
"Aku sudah mempunyai istri, Bu," jawab Daxon tegas.
"APA?!"
Suara Luciana melengking kaget. Ia benar-benar tidak menyangka putra satu-satunya itu diam-diam sudah menikah tanpa memberi kabar sedikit pun.
"Daxon! Ibu sudah berulang kali bilang, jangan menikahi wanita lain selain Valeria! Valeria itu gadis yang pintar dan berasal dari keluarga baik-baik!" protes Luciana yang sama sekali tidak bisa menerima kenyataan itu.
"Bu, aku bukan anak kecil lagi yang harus diatur seenaknya. Aku punya hak untuk menentukan pilihan dan menentukan siapa yang akan ada di sisiku!" bentak Daxon dengan nada tinggi.
Tanpa menunggu jawaban ibunya, Daxon langsung memutus sambungan telepon dengan perasaan yang masih memanas. Ia segera berjalan keluar dari kamar Azalea, mencoba menenangkan diri agar amarahnya tidak meledak di tempat yang salah.
Ia berjalan menuju ruangan penyimpanan minuman beralkohol, dan tepat di pintu masuknya ia berpapasan dengan Aldric.
"Pasti ibumu menekanmu lagi untuk menikahi Valeria, bukan?" tanya Aldric dengan nada mengerti.
"Hem... Aku butuh tempat untuk menenangkan diri," jawab Daxon singkat, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan.
Daxon mengambil sebotol wiski dan menuangkannya ke dalam gelas kristal, lalu meneguknya sekaligus. Rasa panas yang menjalar di tenggorokan sedikit meredakan gejolak emosinya. Ia bersandar di dinding, matanya menerawang memikirkan langkah yang harus diambil.
"Valeria akan sampai di Jakarta besok, dan begitu dia tiba, Ibu pasti akan segera menjemputnya. Maka malamnya, aku dan Azalea akan berangkat ke mansion Ibu untuk bertemu mereka, dan Azalea harus berpura-pura menjadi istri sahku agar rencana perjodohan itu gagal total. " batin Daxon.
Aldric masuk dan berdiri di hadapannya, segera menangkap keseriusan di wajah tuannya.
"Valeria tiba di Jakarta besok. Begitu dia sampai, Ibuku pasti langsung menjemputnya. Maka malam nanti, aku dan Azalea akan berangkat ke mansion ibuku untuk bertemu mereka." ucap Daxon.
Aldric mengernyitkan dahi, mengerti arah rencana itu. "Jadi Azalea yang akan berperan sebagai istri sah di depan ibumu dan Valeria? Apakah dia mau melakukannya?" tanya Aldric.
"Dia tidak punya pilihan," jawab Daxon dengan nada dingin dan pasti.
"Ingat, keselamatan Bi Inah tetap menjadi jaminannya. Kalau dia mau memerankan peran itu dengan baik malam nanti, aku akan memastikan Bi Inah hidup aman dan layak selama-lamanya. Kalau menolak... dia sudah tahu apa yang akan terjadi." ucap Daxon.
Ia memutar gelas di tangannya, lalu melanjutkan dengan nada meremehkan "Lagipula, ini lebih baik daripada harus terikat dengan Valeria. Wanita itu bermuka dua, hobinya berganti-ganti pria hanya untuk kesenangan nya. Dia hanya akan membawa aib jika masuk ke dalam keluarga Ravenzo." ucap Daxon.
"Baiklah, apa yang harus saya persiapkan mulai sekarang?" tanya Aldric siap melaksanakan perintah.
"Segera siapkan pakaian dan perlengkapan yang pantas untuk Azalea. Jangan yang terlalu mencolok, tapi terlihat sopan dan berwibawa. Nanti pagi, aku akan bicara langsung padanya untuk menjelaskan semua aturan dan apa yang harus dia lakukan malam nanti," perintah Daxon tegas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
tega banget si valeria mpe celakai azalea😔😔😔
aldric paling penakut iiih🤣
rasaiin kau daxon beli sate ayam sana🥰😂
lanjut thor😄