Dien Moretz adalah sarjana pengangguran yang selalu gagal dalam wawancara kerja, karena memiliki kekurangan bibir sumbing yang menyebabkan komunikasinya tidak lancar dan dianggap sebuah beban. Suatu hari saat sedang mencari pekerjaan, tiba-tiba ada monster yang muncul dan memangsa orang-orang. Dien yang selamat akhirnya menyadari bahwa ada dunia lain, dunia yang berbeda dari yang dia jalankan selama ini. Dien yang tertarik dan tidak mendapatkan pekerjaan akhirnya memilih menjadi bagian dari dunia tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YT FiksiChannel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Altar ritual
“Belok kiri.”
“Belok kiri.”
“Lurus.”
“Belok kiri.”
“Belok kanan.”
“Lurus.”
“Belok kanan dan masuk rumah ketiga di barisan kiri.” Pak tua membimbing Aamon memburu roh jahat yang mengganggu warga desa Sukahati.
Aamon segera berbelok ke kiri sesuai instruksi pak tua. Aamon melihat 7 deretan rumah di sisi kanannya dan 9 deretan rumah di sisi yang berhadapan. Aamon masuk ke dalam rumah ketiga di sisi kirinya, sebuah rumah yang dimaksud pak tua.
Aamon melihat timbangan besi (untuk ikan) perlahan-lahan menghilang seperti ditelan oleh kehampaan.
“Disana!!!” Aamon melepaskan tebasan energi pembunuh yang beraura kegelapan dengan menggunakan pedangnya.
Tebasan energi pembunuh langsung memotong timbangan dan membelah dinding rumah kayu. Aamon melirik ke samping dan menangkap sesosok bayangan yang kabur menjauh darinya.
“Kau tidak bisa kabur!” Pekik Aamon menggunakan tangan energi, mencengkram tubuh bayangan hitam pekat tersebut.
Aamon berhasil menangkap bayangan yang seukuran telapak tangan tersebut.
“Siapa kau!” Pekik seorang ibu-ibu keluar dari kamar dengan rambut acak-acakan, tampak baru bangun tidur.
Aamon kaget bukan main dan membuatnya lengah, tangan energinya secara otomatis melemah dan membuat roh jahat yang melahap benda itu berhasil melepaskan diri.
“Maling! Tolong ada maling! Tolong!!! Ada maling! Tolong!!!” Pekik wanita paruh baya ketakutan dan melempar Aamon dengan berbagai alat masak.
Aamon tidak peduli dan mengejar roh jahat hitam pekat tersebut.
Roh jahat memuntahkan sebuah batu besar yang melebihi rumah kayu. Batu itu langsung menghantam Aamon, membuatnya mau tidak mau harus menyelamatkan diri dan ibu-ibu pemilik rumah kayu.
Aamon berhasil menahan batu besar tersebut agar tidak menghantam dan menghancurkan rumah, sementara roh jahat licik itu sudah kabur sejauh mungkin.
“Sialan! Dia kabur!” Kesal Aamon sembari menahan batu besar dan menyingkirkannya ke samping kanan.
Terlihat ibu pemilik rumah jatuh pingsan karena kaget melihat batu besar yang tiba-tiba muncul dari kehampaan.
“Kau sih! Bodoh sekali dan mudah terkejut!” Pak tua mendengus kesal.
Aamon meletakkan ibu pemilik rumah yang pingsan dengan lembut, lalu segera mengejar roh jahat yang kabur.
Rumah kayu, pinggiran pesisir pantai.
Dien menyusun 20 lilin hingga membentuk pola pentagram dan duduk di tengah-tengahnya dengan lilin yang menyala terang. Dien bersiap melakukan ritual kontrak roh, sebuah ritual yang membuatnya dapat melakukan kontrak sementara dengan roh tertentu untuk mendapatkan sebuah informasi.
“Baiklah. Ayo kita mulai!” Gumam Dien memejamkan mata dan rohnya segera masuk ke alam bawah sadar.
Dien membuka mata dan melihat kamarnya sendiri yang merupakan manifestasi alam bawah sadarnya. Dien segera melihat sebuah layar yang menampilkan 20 lilin membentuk pola pentagram menyala di sebuah tempat aneh yang diselimuti kegelapan dan dikelilingi pepohonan hutan.
“Sekarang aku hanya perlu menunggu roh tertentu tertarik dengan lilin pentagram.” Dien duduk di kursi belajarnya sembari melihat layar 4 inci yang menampilkan 20 lilin yang terbakar api di alam roh.
Setelah dua jam menunggu Dien akhirnya melihat sesosok roh berwujud tengkorak manusia datang dan berdiri di depan 20 lilin yang membentuk pola pentagram. Roh tengkorak itu menatap lilin pentagram dengan mata hitam tanpa dasarnya. Tatapan sang roh tengkorak tertuju kepada Dien, membuat Dien sedikit bergidik ngeri.
“Apa yang kamu inginkan manusia?” Tanya roh tengkorak dengan suara serak yang mengintimidasi.
“Aku ingin tahu penyebab keanehan di desa ini.” Dien menekan ketakutan dan mengutarakan niatnya.
“Baiklah!” Balas roh tengkorak setuju.
Energi spiritual Dien langsung dihisap dan dimakan roh tengkorak hingga tingkat tertentu. Dien tidak panik ataupun cemas karena itu memang bayaran yang harus diberikan kepada roh tengkorak. Dimana untuk mendapatkan informasi melalui roh tertentu Dien harus merelakan energi spiritualnya dihisap hingga batas tertentu.
“Penyebab keanehan desa Sukahati!” Gumam roh tengkorak dengan mata hitam pekatnya dan nada suara patah-patah.
“Penyebab keanehan desa Sukahati!!” Suara roh tengkorak meninggi dan energi kegelapan di tubuhnya semakin jelas.
“Penyebab keanehan desa Sukahati!!!” Suara roh tengkorak semakin meninggi.
Dien yang menyimak dari alam bawah sadarnya tiba-tiba merasa seperti ditarik ke suatu tempat tanpa disadari. Dien tertegun ketika menyadari sesuatu terjadi padanya saat mendengar roh tengkorak meneriakkan “ Penyebab keanehan desa Sukahati!”
Dien melihat sekelilingnya yang tampak aneh dan tidak familiar.
“Ini ruang tamu?” Batin Dien menyadari dimana dia berada.
Dien melihat sekeliling dan menemukan sebuah TV, remote TV, ponsel, pakaian yang berserakan, telepon rumah, kipas angin, sofa, alat setrika, gunting, hingga karpet berbulu halus di ruang tamu tersebut.
“Ternyata benar! Tempat ini adalah ruang tamu sebuah rumah.” Batin Dien yakin dengan tebakannya.
“Tapi, kenapa aku ada disini?” Dien bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, lalu melihat segala arah mencari jawabannya.
Tiba-tiba sebuah suara menelan yang kasar terdengar di arah TV.
Dien segera menoleh melihat TV yang perlahan-lahan menghilang. Dien melihat ke segala penjuru dan menemukan seekor ikan buntal yang diselimuti aura kegelapan yang berada di pojok kiri TV mencoba menelan TV besar tersebut.
Ikan itu menelan TV tanpa memperdulikan keberadaan Dien.
“Roh ikan?” Dien bingung melihat roh tersebut.
Dien melepaskan tebasan energi mencoba menghentikan ikan buntal, namun tebasan energi Dien hanya melewati roh ikan buntal tanpa memberikan kerusakan apapun. Dien menatap tajam dan mencoba beberapa kali, namun tetap saja tebasan energinya tidak memberikan kerusakan apapun kepada roh ikan buntal tersebut.
Ikan buntal tampak terus menelan hingga pada akhirnya ikan itu berhasil menelan TV, lalu pergi ke arah barat dan kembali ke lautan.
Dien hanya bisa bengong melihat keanehan tersebut, hingga rohnya dipaksa kembali ke tubuh fisik melewati alam bawah sadarnya. Dien terbatuk-batuk dan muntah darah. Dien terkena serangan balik energi spiritual yang habis, mendekati nol.
“Apa itu? Apakah roh itu yang menjadi penyebab keanehan desa ini?” Gumam Dien menyadari bahwa dia menjelajahi ingatan masa lalu.
“Selain itu, aku tidak pernah mengira roh tengkorak itu begitu rakus. Sialan!” Umpat Dien merasakan energi spiritualnya hampir mendekati nol akibat dihisap roh tengkorak.
Dien berusaha tenang, lalu kembali memasuki alam bawah sadar dan melakukan semedi roh menyerap energi alam untuk memulihkan diri dan roh spiritualnya. Tanpa sadar rohnya tiba-tiba ditarik ke alam roh dan berada di sebuah tempat yang sangat identik dengan desa Sukahati, namun tempat itu terlihat kuno dan hanya hutan rimba (tanpa rumah). Tempat yang sama dimana lilin pentagram berada dan roh tengkorak muncul.
Tiba-tiba puluhan lilin hidup satu-persatu hingga membentuk pola pentagram, sangat identik dengan altar yang dia buat di dunia nyata.
“Kenapa aku bisa berada di alam roh?” Batin Dien menyadari bahwa dia berada di alam roh tanpa keinginannya sendiri.
“Menurut buku pemberian guru, altar pentagram yang tersusun dari 20 lilin menjadi penghubung alam bawah sadar pengguna dan alam roh. Altar itu membuat roh tertentu dapat menyerap energi spiritual pengguna dengan bayaran sebuah informasi yang diinginkan pengguna, semakin tinggi informasinya maka semakin banyak energi spiritual yang bisa diserap. Tapi kenapa tiba-tiba rohku tertarik ke alam roh tanpa disadari? Apakah aku melakukan sebuah kesalahan?” Batin Dien menganalisa situasinya.
“Mungkinkah rohku tertarik, karena energi spiritualku tidak cukup memenuhi pertukaran informasi tersebut?” Batin Dien menebak masalahnya.
“Tolong! Anak muda tolong aku!”
Dien yang berpikir keras dan menganalisis situasinya tiba-tiba mendengar suara minta tolong. Dien menoleh ke arah timur dan memfokuskan pendengarannya, namun yang dia dengar hanya angin laut dan deburan ombak yang menghantam karang.
“Anak muda, aku disini! Tolong aku!”
Suara serak minta tolong kembali terdengar dan lebih jelas dari sebelumnya, tampaknya arah suara itu dari tenggara.
Dien segera memfokuskan pendengarannya ke arah tenggara.
“Anak muda, aku terjebak di bawah Batu karang! Kemarilah dan tolong orang tua ini. Tolong aku!” Suara itu sangat memohon bantuan Dien.
Dien melangkahkan kaki menuju batu karang yang berada beberapa meter darinya. Dien menembus belukar dan pohon kecil yang menghalangi langkahnya, lalu menuju pinggir batu karang dan melihat ke bawah batu karang tersebut.
Dien tiba-tiba diserang dua sosok roh tanpa kepala menggunakan sebilah pedang. Dien menghindar ke samping, lalu melompat mundur melepaskan pukulan energi. Mendapatkan serangan dari roh penghuni alam roh adalah hal yang wajar, karena Dien keluar dari area altar ritual.
“Berikan tubuhmu, manusia!!!” Pekik roh berwarna hitam dengan melengking, membuat Dien menutup telinganya.
Bersambung.