NovelToon NovelToon
CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nacha Adhi

Sejak usia sembilan tahun, Naura harus menelan pahitnya hidup. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia diasuh Paman Surya dan Bibi Rina yang tidak mampu namun terobsesi pada kemewahan. Naura sering disiksa dan dimanfaatkan, dipaksa bekerja keras demi menghidupi dirinya sendiri dan membiayai sekolah. Meski demikian, ia tumbuh menjadi gadis yang kuat, jujur, dan cerdas hingga berhasil lulus kuliah.

Bekerja di sebuah perusahaan swasta pun tidak membuat hidupnya lebih mudah. Atasan iri memfitnahnya, sementara paman dan bibinya terus memeras gaji dengan ancaman. Saat dipecat secara tidak adil dan berjalan dalam kesedihan, ia hampir tertabrak mobil mewah milik Aldo Pratama—CEO muda yang dingin, berwibawa, dan disegani banyak orang. Pertemuan tak terduga itu mengubah segalanya.

bagaimana kisah menarik selanjutnya... ???? lanjut bacanya sampai akhir yaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Warisan Sejarah yang Tersembunyi

Berita penemuan itu pertama kali disampaikan oleh sekelompok siswa yang sedang melakukan kegiatan pengamatan alam di kawasan hutan lindung milik Yayasan Harapan dan Alam. Saat mereka berjalan menyusuri jalur setapak yang jarang dilalui, mata mereka tertuju pada tumpukan batu yang tersusun rapi dan tertutup lumut tebal, berbeda dari susunan bebatuan alami di sekitarnya. Setelah melaporkannya kepada pengelola yayasan, tim peneliti arkeologi segera dikerahkan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Beberapa minggu kemudian, hasil pengumuman resmi pun disampaikan: yang ditemukan adalah sisa-sisa bangunan tempat pemujaan dan pemukiman kuno yang diperkirakan berusia lebih dari seribu tahun. Di lokasi itu juga ditemukan pecahan tembikar, perhiasan logam, serta prasasti yang tertulis dalam aksara kuno. Penemuan ini langsung menjadi sorotan luas, bukan hanya di kalangan peneliti, tapi juga menarik perhatian pemerintah, lembaga budaya, dan bahkan pengusaha pariwisata dari berbagai daerah.

Arka segera berangkat ke lokasi bersama Aldo dan Naura untuk melihat langsung kondisi tempat tersebut. Begitu tiba, mereka disambut oleh kepala tim peneliti yang menjelaskan secara rinci apa yang telah ditemukan sejauh ini.

"Ini adalah penemuan yang sangat berharga dan langka," jelas peneliti itu dengan nada antusias. "Situs ini dapat memberikan wawasan baru tentang peradaban yang pernah hidup di daerah ini, cara mereka berinteraksi dengan alam, serta sistem kepercayaan dan kehidupan sosialnya. Jika dikelola dengan baik, tempat ini bisa menjadi pusat pembelajaran budaya sekaligus tujuan wisata yang mendatangkan manfaat ekonomi bagi warga sekitar."

Mendengar penjelasan itu, Arka, Aldo, dan Naura saling berpandangan. Mereka menyadari bahwa penemuan ini membawa peluang besar, namun sekaligus tanggung jawab yang tidak kalah berat. Situs ini bukan hanya milik yayasan atau keluarga mereka, melainkan milik seluruh bangsa dan warisan yang harus dijaga agar tetap utuh untuk generasi mendatang.

Namun, tidak lama setelah berita itu menyebar, berbagai tawaran dan usulan mulai berdatangan. Beberapa pengusaha pariwisata datang dengan rencana yang terlihat sangat menarik: membangun jalan raya lebar, hotel mewah, pusat perbelanjaan, dan fasilitas rekreasi lengkap di sekitar lokasi. Mereka menjanjikan investasi miliaran rupiah, peningkatan pendapatan daerah secara drastis, dan ribuan lapangan pekerjaan baru.

"Kalian tidak perlu mengeluarkan biaya sepeser pun," ujar salah satu pemimpin kelompok pengusaha itu dengan nada meyakinkan. "Kami yang akan mengurus semuanya. Dalam waktu tiga tahun saja, tempat ini akan berubah menjadi objek wisata terkenal yang dikunjungi ribuan orang setiap harinya. Manfaatnya akan terasa bagi semua pihak."

Di sisi lain, ada juga usulan dari kalangan pelestari budaya dan lingkungan yang lebih ketat: menutup akses sepenuhnya bagi pengunjung umum, hanya mengizinkan peneliti dan ilmuwan untuk masuk, dan tidak mengizinkan pembangunan apa pun di radius beberapa kilometer dari lokasi. Tujuannya jelas agar tidak ada kerusakan sedikit pun, namun dampaknya adalah masyarakat sekitar tidak akan mendapatkan manfaat ekonomi apa pun dari keberadaan situs tersebut.

Arka dan timnya kembali dihadapkan pada tantangan untuk menemukan jalan tengah yang tepat—seperti yang telah sering mereka lakukan dalam berbagai masalah sebelumnya. Mereka mengadakan serangkaian pertemuan terbuka, mengundang semua pihak yang berkepentingan: peneliti, pejabat daerah, pengusaha, warga sekitar, dan organisasi lingkungan. Setiap pendapat didengar dengan sabar, setiap kekhawatiran dicatat dan dipertimbangkan secara mendalam.

"Apa gunanya warisan sejarah ini jika kita melestarikannya dengan cara yang membuatnya tertutup dan tidak dikenal siapa pun?" tanya Arka dalam salah satu pertemuan itu. "Sebaliknya, apa artinya manfaat ekonomi jika kita harus menghancurkan keaslian situs itu sendiri demi membangun fasilitas yang berlebihan? Kita harus bisa melestarikan nilai sejarahnya sekaligus membagikan manfaatnya kepada masyarakat."

Setelah melakukan pengkajian mendalam selama berbulan-bulan, akhirnya disusunlah rencana pengelolaan yang disepakati bersama. Rencananya tidak semewah yang diusulkan pengusaha, namun juga tidak seketat yang diminta sebagian kalangan pelestari.

Pembangunan jalan akses hanya dibuat selebar cukup untuk kendaraan kecil dan diarahkan agar tidak melintasi kawasan inti situs. Semua bangunan pendukung seperti tempat parkir, ruang informasi, dan tempat istirahat dibangun di jarak yang cukup jauh, menggunakan bahan dan desain yang selaras dengan lingkungan sekitar sehingga tidak merusak pemandangan alami. Jumlah pengunjung yang diperbolehkan masuk setiap harinya dibatasi agar tidak menimbulkan keramaian berlebih dan risiko kerusakan. Panduan perjalanan juga disiapkan untuk mengedukasi pengunjung tentang aturan menjaga kebersihan dan ketertiban.

Seluruh pendapatan yang diperoleh dari tiket masuk dan jasa pelayanan tidak diambil keuntungan pribadi, melainkan digunakan sepenuhnya untuk pemeliharaan situs, penelitian lanjutan, serta pembangunan fasilitas umum dan peningkatan kesejahteraan warga desa di sekitarnya. Warga setempat juga diberikan prioritas untuk bekerja sebagai pemandu wisata, penjaga keamanan, dan penyedia kebutuhan bagi pengunjung setelah mengikuti pelatihan khusus yang diselenggarakan secara gratis.

"Kami ingin agar warga di sini merasa memiliki tempat ini, bukan hanya menjadi penonton atau pekerja saja," jelas Naura saat menjelaskan rencana itu. "Jika mereka merasa memiliki, maka merekalah yang paling bersemangat untuk menjaganya dengan sepenuh hati."

Namun, proses pelaksanaannya tidak berjalan tanpa hambatan. Sebagian pengusaha yang awalnya berharap mendapatkan keuntungan besar merasa kecewa dan mencoba memengaruhi pihak berwenang agar rencana mereka yang lebih besar disetujui. Mereka berargumen bahwa rencana Arka terlalu lambat, terlalu mahal, dan tidak akan memberikan hasil yang maksimal bagi perekonomian daerah. Bahkan, ada yang menyebarkan isu bahwa Grup Pratama ingin memonopoli pengelolaan dan menyembunyikan potensi besar tempat itu demi kepentingan sendiri.

Arka tetap tenang menghadapi berbagai tuduhan itu. Ia memastikan setiap langkah yang diambil dilakukan secara terbuka, sesuai peraturan yang berlaku, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik. Ia juga mengundang tim pengawas independen untuk mengawasi seluruh proses pembangunan dan pengelolaan agar tidak ada penyimpangan apa pun.

Saat pembangunan dimulai, banyak pihak yang mengamati dengan rasa ragu. Namun, seiring berjalannya waktu, hasilnya mulai terlihat. Tidak ada pohon besar yang ditebang, tidak ada gundukan tanah yang merusak kontur asli, dan setiap bangunan baru terlihat menyatu dengan keindahan alam sekitarnya. Situs sejarah tetap terjaga dengan baik, namun mulai terbuka untuk dikunjungi dan dipelajari oleh siapa saja dengan cara yang bertanggung jawab.

Dalam waktu dua tahun, kawasan itu resmi dibuka untuk umum. Pengunjung yang datang tidak hanya dari daerah sekitar, tapi juga dari berbagai kota bahkan negara lain. Mereka datang bukan hanya untuk melihat pemandangan, tapi juga untuk mempelajari sejarah dan cara hidup masa lampau yang selaras dengan alam. Pendapatan yang terkumpul ternyata cukup besar meski jumlah pengunjung dibatasi, dan seluruhnya disalurkan sesuai rencana yang telah ditetapkan.

Warga desa di sekitarnya merasakan perubahan nyata. Pendapatan mereka meningkat, jalan desa diperbaiki, sekolah dan puskesmas mendapatkan bantuan fasilitas, namun kehidupan mereka tetap berjalan dengan tenang tanpa keributan dan kerusakan lingkungan. Mereka yang awalnya juga sempat ragu, kini menjadi pendukung paling setia atas cara pengelolaan yang dipilih.

Suatu hari, saat Arka, Aldo, dan Naura berjalan mengelilingi kawasan itu, mereka melihat sekelompok anak sekolah sedang mendengarkan penjelasan pemandu dengan antusias. Di kejauhan, tampak pengunjung berjalan dengan tertib dan menjaga kebersihan tempat. Angin sepoi-sepoi berhembus membawa kesejukan, seolah alam dan sejarah itu sendiri merasa tenang karena dijaga dengan cara yang tepat.

"Ini benar-benar menjadi bukti bahwa kita bisa memiliki semuanya," ujar Aldo dengan nada bangga. "Melestarikan sejarah, menjaga alam, dan memajukan kehidupan masyarakat—semuanya bisa berjalan berdampingan jika kita melakukannya dengan niat yang benar dan cara yang bijaksana."

Naura mengangguk sambil tersenyum. "Kita tidak hanya meninggalkan warisan berupa harta atau bangunan, tapi juga cara pandang bahwa kemajuan tidak harus mengorbankan apa yang berharga. Semoga cara ini terus menjadi teladan bagi banyak orang ke depannya."

Namun, di tengah keberhasilan dan kedamaian yang tercipta, sebuah kabar datang dari luar negeri yang kembali menguji kesiapan Arka. Sebuah organisasi internasional mengundang Grup Pratama untuk bergabung dalam proyek besar lingkup dunia yang bertujuan mengatasi perubahan iklim dan menjaga keanekaragaman hayati. Kesempatan ini membuka pintu untuk berkontribusi pada skala yang jauh lebih luas, namun juga membawa tantangan yang lebih kompleks dan membutuhkan komitmen yang sangat besar.

1
elfanaya 💞
kamu udh dpt gaji mending keluar dari rumah yg berasa seperti neraka itu
Kim Borahae
seru😍. semangat terus ya 💪

Btw, saya pun baru mula menulis novel kalau ada masa boleh tinggalkan komen. Tinggal tekan profile saja, terima kasih /Joyful/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!