Aelsana Jamira, mahasiswi cerdas yang baru lulus kuliah, menerima pekerjaan di Hanggara Group tanpa menyadari bahwa atasannya, Raksa Hanggara, adalah ayah dari Langit, anak yang selama ini ia rawat sebagai pengasuh sekaligus guru lesnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puja Mardika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1
Hari ini adalah hari terakhir ujian akhir semester di President University.
Gedung-gedung kelas dipenuhi mahasiswa tingkat akhir yang masih belajar sampai detik terakhir.
Ada yang berjalan sambil menghafal, ada yang komat-kamit di bangku koridor, dan ada pula yang menempelkan botol minum dingin ke pelipis.
Musim kemarau sedang berada di puncaknya. Matahari memang belum tinggi, tetapi udara sudah terasa gerah dan lembap.
Hampir semua orang di dalam kelas mengipasi wajah dengan buku catatan.
Hanya satu orang yang tampak tidak terburu-buru.
Aelsana Jamira, dengan rambut hitam panjang yang terurai rapi, duduk menopang dagu sambil menatap ke luar jendela.
Wajahnya sama sekali tidak setegang orang yang sebentar lagi menghadapi ujian. Pikirannya jelas sedang berada di tempat lain.
"Sana, kamu santai banget. Katanya belum belajar sama sekali? Dosen yang ini kejam, lho. Awas, kamu bisa kena remedial wajib dan harus nambah satu semester lagi."
Cantika menyenggol lengannya.
Wajahnya terlihat cemas, seperti seseorang yang sudah kapok berurusan dengan remedial.
Di kampus itu, lulus ujian saja belum cukup.
Lima mahasiswa dengan nilai terendah di setiap kelas tetap wajib mengikuti remedial, dan Cantika hampir selalu berada di antara lima nama tersebut.
"Nggak apa-apa. Eh, sebenarnya ujian hari ini materinya apa saja? Ada bocoran?"
Sana mengibaskan rambutnya dan bertanya sambil tersenyum.
"Hah? Kamu belum tahu materinya? Ujian hari ini Pengantar Hubungan Internasional. Isinya teori arus utama serta analisis faktor internal dan eksternal dalam kebijakan luar negeri. Kamu bahkan belum buka catatan?"
Mata Cantika langsung melebar.
Dia tahu Sana memang spontan, tetapi tidak menyangka gadis itu bisa setenang ini menjelang ujian.
"Oh, itu? Gampang."
Sana langsung menjelaskan asal-usul teori realisme, bagaimana teori tersebut berkembang dari masa ke masa, serta kedudukan dan penerapannya dalam kajian hubungan internasional.
Semuanya dijelaskan dengan lancar, seolah-olah dia sedang membaca langsung dari buku.
"Oh, gitu. Harusnya dari dulu aku minta kamu ngajarin aku. Jadi tiap libur semester aku nggak perlu ikut remedial."
Cantika mengangguk-angguk sambil mencatat cepat.
"Contohnya begini. Dua negara meneken perjanjian dagang. Itu fakta. Tapi kenapa mereka meneken perjanjian itu, siapa yang paling diuntungkan, dan apa motif sebenarnya, itu soal tafsir. Kaum realis akan bilang itu cara negara menambah kekuatan. Kaum liberal akan bilang itu bentuk kerja sama yang saling menguntungkan. Dari dalam negeri ada tekanan dari pengusaha dan parlemen. Dari luar ada tekanan dari negara lain. Jadi kita harus pisahkan dulu mana fakta dan mana tafsir."
"Segampang itu kalau kamu yang jelasin."
Sana tersenyum lebar.
Melihat wajah Cantika yang tiba-tiba tampak paham, seperti baru saja menemukan penyelamat di tengah kebingungannya, Sana merasa geli.
"Itu karena otakmu sebenarnya cukup pintar untuk menganggapnya gampang. Kalau aku yang kayak gini, kalau nggak nanya kamu, ya nggak bakal ngerti."
Cantika mengatakannya dengan tulus.
Setelah empat tahun sekelas, dia yakin Sana memang hebat dalam banyak hal, mulai dari pelajaran sampai pergaulan.
Sana juga mengikuti program akselerasi.
Walaupun berada dalam satu angkatan, usianya jauh lebih muda daripada Cantika. Usianya baru menginjak delapan belas tahun pada awal tahun ini.
"Jangan lebay, Kika. Aku nggak sepintar itu."
Kalau dipanggil lengkap, "Cantika Rizkia" terdengar seperti nama salon langganan ibu-ibu. Karena itu, Sana lebih suka memanggilnya Kika.
Sana sendiri tidak merasa dirinya pintar.
Dia hanya merasa belajar memang mudah baginya.
"Jangan merendah! Eh, tadi kamu lagi mikirin apa sampai bengong begitu?"
Cantika kembali mengarahkan percakapan kepada Sana.
"Mikirin kerja setelah lulus. Kayaknya aku nggak lanjut S2. Tapi kalau cari kerja, anak jurusan kita bisa kerja jadi apa, ya?"
Sana memiringkan kepala.
Dia benar-benar gelisah memikirkan hal itu.
"Ya ampun, kamu serius nanya? Nilai bahasa Inggrismu nyaris sempurna, dan kamu juga ambil double degree Bisnis Internasional dengan nilai bagus. Dengan kemampuan seperti itu, kamu mau kerja di mana pun juga bisa."
Cantika benar-benar tidak habis pikir.
Menurutnya, justru dialah yang pantas merasa cemas soal masa depan setelah lulus.
"Beneran? Kalau gitu, kalau ada perusahaan yang ngundang aku wawancara, aku bakal diterima, dong."