Aura Clarissa adalah seorang penulis yang hidup dalam ketenangan. Namun, tanpa sadar dia juga menyukai kemewahan dan dunia malam yang gelap. Bahkan lebih parahnya menjadi wanita simpanan Daffa Gorge yang sudah beristri.
Konflik makin memanas ketika Darrel Gorge, adik kandung Daffa, hadir menuntut pertanggungjawaban atas malam yang tak pernah Aura ingat.
Di tengah intrik perselingkuhan, ancaman sang istri sah, dan daya tarik Darrel yang kian sulit ditolak, sanggupkah Aura bertahan saat kebenaran tentang dirinya membakar seluruh kehidupannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Dibalik Bayang-Bayang Darrel
Clara menyapu lelehan air mata di pipinya secara kasar. Bibirnya menyunggingkan senyum miring—senyum dingin yang menjadi perisai utamanya. Ia menggeser ponsel milik pria informan itu, menepis rasa lemas yang sempat melumpuhkan persendiannya. Rasa takut kehilangan Darrel tidak ia biarkan menjadi kelemahan, melainkan diubahnya menjadi bahan bakar amarah yang membakar dada.
Usai menyelesaikan kesepakatan singkat untuk menjatuhkan Sofie, Clara melangkah keluar dari area VIP kelab malam.
Beberapa puluh menit kemudian, Clara sudah berada di dalam apartemennya. Sesak di dadanya kian merayap, menghimpit pernapasan. Jemari Clara bergetar meraih botol obat resep dari Dokter El. Ia mengeluarkan beberapa tablet, siap memasukannya ke dalam mulut untuk meredakan gejolak di kepalanya.
Namun, tangannya terhenti tepat di depan bibir.
Clara menatap butiran obat itu lekat-lekat. Ia tahu betul, jika ia menelan obat ini, kesadarannya akan ditekan. Aura yang lugu, penakut, dan lemah akan kembali mengambil alih. Dan di tengah situasi genting seperti ini, jiwa Aura yang rapuh hanya akan menjadi mangsa empuk bagi Sofie dan keluarga Gorge.
"Tidak... saat ini mereka butuh berhadapan denganku," gumam Clara dingin. Ia mengembalikan tablet-tablet itu ke dalam botolnya dan membuangnya kasar ke atas nakas.
Bzzzt... Bzzzt...
Ponsel di atas nakas bergetar nyaring. Nama Daffa tertera di layar. Clara mengangkatnya tanpa bersuara. Suara Daffa di seberang sana terdengar berat dan serak, memintanya untuk bertemu malam ini di sebuah kelab remang-remang di pinggir kota.
Tanpa buang waktu, Clara langsung meluncur membelah keheningan malam.
Suara dentuman musik di kelab pinggir kota itu terdengar remang dan samar. Di sudut sofa area yang temaram, Daffa duduk sendirian dengan beberapa botol minuman beralkohol tinggi yang sudah kosong. Wajah pria itu sembap, matanya memerah. Antara rasa frustrasi akan kondisi Darrel dan tekanan Kakek Robert, mental Daffa runtuh.
Clara mendudukkan dirinya santai di hadapan Daffa. Tanpa menarik perhatian, jemari Clara dengan sigap menekan tombol record pada aplikasi perekam suara di ponselnya, lalu meletakkannya tertelungkup di atas meja.
Daffa menatap Clara dengan pandangan kabur, lalu terkekeh lirih seraya terisak. Pria itu mulai meracau, menceritakan betapa kritisnya kondisi Darrel seusai kecelakaan hebat itu.
"Jauhi Darrel, Clara..." ratap Daffa dengan suara serak khas orang mabuk berat. "Biarkan dia menikah dengan Lyora... Lyora itu berlian! Cuma Lyora yang bisa memajukan nama besar Gorge di mata Kakek... bukan wanita tanpa asal-usul seperti kamu!"
Clara hanya mengulas senyum miring yang sangat tipis. Ia membiarkan Daffa terus menumpahkan celotehannya, memancing pria itu untuk masuk lebih dalam ke jurang kesadarannya sendiri.
Dan momen gong itu pun tiba.
Daffa memajukan tubuhnya, menatap Clara dengan sorot mata penuh keputusasaan. "Tapi kamu harus tahu, Clara... aku tidak pernah mencintai Sofie. Aku cuma mencintai kamu... Sofie itu wanita cacat! Dia sudah menggugurkan kandungannya dan lebih parahnya melakukan operasi pengangkatan rahim sebelum menikah denganku! Tidak ada yang tahu rahasia busuk itu... Kakek pun tidak tahu!"
Seketika manik mata Clara berkilat tajam. Sebuah kartu truf—senjata nuklir yang sangat mematikan—baru saja jatuh tepat ke dalam genggamannya. Sofie, wanita yang selalu membanggakan harga dirinya dan menginjak-injak Aura sebagai wanita tak bernilai, ternyata menyimpan rahasia kelam yang sanggup menghancurkan posisinya di keluarga Gorge dalam sekejap.
Beberapa saat kemudian, Clara melangkah keluar dari kelab pinggir kota yang dingin itu, meninggalkan Daffa yang tak sadarkan diri. Angin malam menusuk hingga ke tulang, namun rasa gatal dan pening di dadanya makin menjadi-jadi. Di dalam kepalanya, nama Darrel bergaung tanpa henti, memanggil-manggil kesadarannya.
Ia memegangi dadanya sejenak, menghela napas panjang sebelum akhirnya masuk ke dalam taksi yang sudah menunggu di pinggir jalan.
Tujuannya hanya satu: Rumah Sakit Swasta Medika.
Beberapa saat kemudian, pintu lift lantai VVIP terbuka pelan. Clara melangkah tanpa suara, bersembunyi rapi di balik pilar tembok yang temaram.
Di depan ruang operasi, tampak Sofie dan Lyora sedang duduk berdua dengan raut wajah cemas. Keberadaan dua wanita itu dijaga oleh beberapa pengawal dari kejauhan.
Klek.
Pintu ruang operasi akhirnya terdorong terbuka. Seorang dokter bedah keluar mengusap pelipisnya. Clara menajamkan pendengarannya dari balik pilar.
"Operasi berjalan lancar. Masa kritisnya sudah lewat dan Tuan Darrel diperkirakan akan sadarkan diri tidak lama lagi," ujar dokter tersebut kepada Sofie dan Lyora.
Mendengar kalimat itu, detik itu juga, rasa sesak yang menghimpit dada Clara seolah terangkat menguap ke udara. Hatinya mendadak lega luar biasa. Senyum tipis yang tulus—yang jarang sekali terukir di wajah sosok Clara—perlahan muncul di bibirnya.
Darrel selamat. Dan kini, Clara sudah mengantongi keberanian serta senjata paling mematikan untuk meratakan semua orang yang mencoba menghancurkan mereka.