Tantya Ambardhita hanya lulusan SMA. Bagi keluarga suaminya, itu cukup menjadi alasan untuk merendahkannya.
Mereka menganggap Tantya tak punya apa-apa. Namun anehnya, setiap kebutuhan mertua dan tiga iparnya selalu dibebankan kepada perempuan itu. Tantya diperlakukan seperti ATM berjalan—diminta memberi, tetapi tak pernah dihargai.
Sampai suatu hari, Rendra, suaminya, membawa mantan kekasihnya pulang kampung. Bukan hanya mengajak perempuan itu masuk ke mobil, Rendra bahkan menyuruh Tantya duduk di kursi belakang.
Ironisnya, mobil yang mereka banggakan itu adalah milik Tantya.
Di sebuah rest area, Tantya akhirnya meninggalkan mereka. Dan sejak hari itu, Tantya bukan lagi istri yang selalu mengalah.
Keluarga Rendra mengira mereka sedang kehilangan seorang istri yang hanya lulusan SMA.
Mereka belum tahu…
perempuan yang selama ini mereka remehkan menyimpan identitas dan kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Rencana Mengembangkan Usaha
Seusai sarapan, keluarga Rendra mulai membubarkan diri dari ruang makan. Satu per satu mereka berdiri, meninggalkan piring dan gelas yang sudah kosong, lalu kembali melakukan kesibukan masing-masing. Rumah yang sejak pagi dipenuhi aroma masakan itu perlahan kembali ramai oleh aktivitas penghuninya.
Sebagian langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Ada yang kembali ke kamar untuk merapikan pakaian dan mempersiapkan segala keperluan untuk acara besok. Sementara yang lain memilih berkumpul di ruang keluarga, duduk santai sambil mengobrol tentang persiapan acara lamaran yang tinggal menghitung waktu.
Tak ada yang merasa ada sesuatu yang berbeda pagi itu. Tak ada pula yang menyadari bahwa salah satu penghuni rumah tersebut sudah tidak berada di tempatnya.
Tantya telah pergi sejak pagi, ketika semua orang masih sibuk dengan urusan masing-masing. Ia meninggalkan rumah tanpa berpamitan kepada siapa pun. Bahkan, sampai hari menjelang siang, kepergiannya sama sekali belum disadari oleh keluarga Rendra.
Bagi mereka, Tantya mungkin sedang berada di kamar atau melakukan sesuatu di bagian rumah yang lain. Tidak ada yang merasa perlu mencari tahu keberadaannya. Apalagi setelah selama ini Tantya lebih sering menyingkir ketika merasa tidak nyaman dengan perlakuan keluarga suaminya.
Sampai akhirnya, Bu Martha teringat sesuatu yang harus segera diurus. Perempuan itu keluar dari ruang keluarga, menghampiri Rendra yang sedang duduk bersama anggota keluarga lainnya.
"Ren, nanti temani Ibu, ya. Kita harus mengambil snack kering di katering langganan. Jangan sampai telat diambilnya, biar bisa langsung ditata." ujar Bu Martha.
Rendra mengangguk sambil bangkit dari duduknya.
"Iya, Bu. Sekarang?"
"Iya. Sekalian saja, biar nanti Ibu bisa mengecek semuanya lagi."
Rendra berjalan menuju tempat parkir untuk mengambil mobil. Namun, baru saja sampai di sana, langkahnya mendadak terhenti. Matanya menyapu area parkir yang biasanya ditempati mobil yang sering digunakan Tantya.
Kosong.
Rendra mengernyit. Ia sempat menoleh ke sisi lain, memastikan bahwa dirinya tidak salah melihat. Namun, setelah diperiksa sekali lagi, mobil itu memang tidak ada di tempatnya.
Ia kembali menghampiri ibunya dengan wajah kebingungan. "Bu, mobilnya nggak ada."
Bu Martha yang sedang membenahi tasnya langsung menoleh. "Maksudnya nggak ada?"
"Iya, mobilnya nggak ada di parkiran."
"Lho, memang ke mana?" Bu Martha mengerutkan kening. "Kamu tadi pakai?"
Rendra menggeleng. "Nggak, Bu. Saya juga baru mau mengambil mobil."
"Terus, siapa yang bawa?"
"Nggak tahu."
Bu Martha terdiam sesaat, berusaha mengingat siapa saja yang sejak pagi keluar rumah. Namun, sebelum ia sempat memikirkan lebih jauh, Farah yang baru saja bergabung dengan mereka di ruang keluarga ikut menimpali.
"Paling dipakai Tya."
Mendengar nama Tantya disebut, Bu Martha langsung mengalihkan pandangannya kepada Farah.
"Kamu tahu dari mana?"
Farah mengangkat bahu dengan santai. "Ya, siapa lagi? Mobil itu kan biasa dipakai dia juga. Mungkin dia keluar sebentar."
"Oh, iya, pasti dipakai dia!" seru Bu Martha, seolah baru menemukan jawaban yang dicarinya.
Namun, alih-alih merasa lega, wajah perempuan itu justru semakin kesal.
"Kurang ajar banget si Tya! Pakai mobil orang seenaknya sendiri, bahkan nggak izin dulu. Memangnya dia pikir ini mobilnya sendiri?"
Suara Bu Martha terdengar cukup keras hingga beberapa anggota keluarga yang sedang duduk di ruang keluarga menoleh ke arah mereka. Dia lupa, kalau mobil itu memang mobil milik Tantya.
Rendra hanya diam. Ia sendiri tidak tahu apakah benar Tantya yang membawa mobil itu. Sejak pagi, ia memang belum melihat istrinya, tetapi ia juga tidak terlalu memikirkannya. Ia mengira Tantya masih berada di kamar atau sedang sibuk dengan urusannya sendiri.
Sekarang, setelah mengetahui mobil itu tidak ada, barulah ia menyadari bahwa istrinya memang belum terlihat sama sekali.
"Telepon dia, Ren!" perintah Bu Martha dengan nada tegas. "Suruh segera pulang! Ibu mau mengambil pesanan katering, malah mobilnya dibawa pergi tanpa bilang-bilang."
"Iya, Bu."
Rendra berbalik dan berjalan menuju kamarnya untuk mengambil ponsel. Sesampainya di kamar, ia meraih benda itu dari atas nakas, lalu mencari nama Tantya di daftar kontak.
Tanpa berpikir panjang, ia langsung menekan tombol panggilan. Nada sambung terdengar beberapa kali. Rendra menunggu sambil sesekali melirik layar ponselnya. Ia berharap Tantya segera mengangkat telepon itu agar dirinya bisa mengetahui keberadaan sang istri sekaligus meminta agar mobil tersebut segera dibawa pulang.
Namun, sampai panggilan berakhir, tak ada jawaban. Rendra mengernyit, lalu mencoba menelepon sekali lagi. Kali ini pun hasilnya sama. Panggilannya kembali berakhir tanpa diangkat oleh Tantya.
Wajah Rendra mulai menunjukkan ketidaksabaran. Ia menatap layar ponselnya beberapa saat, seolah berharap istrinya tiba-tiba menelepon balik.
Sayangnya, tidak ada panggilan masuk.
Di luar kamar, Bu Martha masih menunggu dengan perasaan kesal. Ia sama sekali tidak menyangka urusan mengambil snack kering untuk acara besok justru terhambat hanya karena mobil yang biasa digunakan Tantya tidak berada di tempatnya.
Sementara itu, Rendra masih berdiri di dalam kamar dengan ponsel di tangan. Ia belum tahu bahwa Tantya bukan sekadar pergi keluar untuk urusan sebentar. Perempuan itu memang sengaja meninggalkan rumah tersebut, membawa mobilnya sendiri, dan memilih menjauh dari suasana yang selama ini membuatnya merasa tidak dihargai.
Kini, ketidakhadiran Tantya mulai menimbulkan masalah bagi keluarga Rendra.
***
Sementara itu, di rumah ibunya, Tantya sedang membantu Tara mengemas aneka camilan khas Jawa Barat untuk memenuhi pesanan pelanggan. Di ruang tengah, beberapa kardus terbuka berisi keripik singkong, keripik pisang, keripik kaca, basreng, dan berbagai makanan ringan lainnya.
Tara sibuk memilah pesanan, mencocokkan jumlah barang dengan catatan yang ada di ponselnya, lalu memasukkan satu per satu kemasan camilan ke dalam kardus. Meski usahanya belum besar, pemuda itu cukup telaten menjalankannya. Ia berjualan secara online dengan menjadi reseller. Jadi, ia tidak perlu mengeluarkan modal untuk menyetok barang. Setiap kali ada pesanan masuk, barulah ia mengambil camilan dari tetangganya.
Tantya memperhatikan kesibukan adiknya dengan senyum tipis. Ia bangga melihat Tara berusaha mencari penghasilan sendiri meskipun masih memiliki banyak keterbatasan.
"Tar," panggil Tantya.
Tara menoleh. "Iya, Mbak?"
"Kalau kamu mau serius jualan online, Mbak modalin, deh. Mbak kasih modal buat belanja dagangannya. Jadi, kamu bisa punya stok sendiri dan nggak perlu menunggu ada pesanan dulu baru mengambil barang ke tetangga."
Tara menghentikan pekerjaannya. Ia menatap Tantya dengan mata berbinar, seolah ingin memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
"Serius, Mbak?"
"Serius, lah. Memangnya Mbak suka bercanda soal beginian?"
Tara tersenyum lebar. "Asyiiikkk! Makasih, Mbak Tya!"
"Sama-sama." Tantya terkekeh melihat kegembiraan adiknya. "Tapi bukan cuma modal dagangan. Mbak juga mau beliin kamu laptop, biar gampang memeriksa pesanan, mengatur stok barang, dan mencatat penjualan. Jadi, kalau usahamu semakin besar, kamu sudah punya sistem yang lebih rapi."
Tara terdiam. Senyumnya perlahan berubah menjadi ekspresi haru. Ia tidak pernah menyangka Tantya akan memberikan bantuan sebesar itu.
"Ya Allah, Mbak. Beneran ini?"
"Iya, beneran. Asalkan kamu serius menjalankannya. Jangan sampai nanti sudah punya modal dan laptop, malah nggak dimanfaatkan dengan baik."
"Nggak, Mbak! Aku bakal serius. Selama ini aku memang pengin punya stok sendiri, tapi modalnya belum cukup. Kalau ada pesanan banyak, aku kadang harus bolak-balik mengambil barang. Belum lagi kalau barang yang dicari pelanggan ternyata sedang habis."
"Nah, makanya. Nanti kita hitung dulu produk mana yang paling laris. Kamu nggak perlu langsung membeli semuanya dalam jumlah banyak. Kita mulai dari barang yang paling sering dipesan, lalu keuntungan yang didapat bisa diputar lagi untuk menambah stok."
Tara mengangguk antusias. Ia mulai membayangkan bagaimana usahanya akan berkembang jika memiliki persediaan barang sendiri dan bisa melayani pesanan dengan lebih cepat.
Namun, Tantya rupanya masih menyimpan satu rencana lagi.
"Oh, iya. Kita renovasi juga rumah ini."
Tara langsung menoleh cepat. "Renovasi rumah, Mbak?"
"Iya. Mbak ingin rumah ini lebih nyaman. Nanti kita atur supaya ada tempat khusus buat menyimpan stok daganganmu. Jadi, barang-barang jualanmu nggak bercampur dengan barang rumah tangga. Kamu juga bisa bekerja lebih leluasa."
Tara memandang sekeliling rumah sederhana yang selama ini ditempatinya. Ada beberapa bagian yang memang membutuhkan perbaikan. Ruang penyimpanan pun masih terbatas, sehingga ia harus mengatur barang dagangan dengan hati-hati agar tidak mengganggu aktivitas keluarga.
"Beneran, Mbak?" Suara Tara mulai bergetar. "Ya Allah, Mbak Tya..."
"Iya, Tar. Memangnya kenapa?"
Tara menunduk sejenak, berusaha menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca. "Aku cuma nggak menyangka, Mbak. Selama ini aku jualan sebisanya aja. Pengin punya stok sendiri, pengin usahanya lebih besar, tapi ya begitu... modalnya belum cukup. Sekarang Mbak malah mau bantu sampai beliin laptop dan renovasi rumah."
Tantya tersenyum, lalu menepuk pelan bahu adiknya. "Kamu itu adik Mbak. Kalau Mbak punya rezeki lebih dan bisa membantu kamu mengembangkan usaha, kenapa nggak? Mbak senang kalau kamu bisa maju."
Tara mengusap sudut matanya, lalu menatap Tantya dengan wajah penuh rasa syukur. "Makasih banyak, Mbak. Aku nggak tahu harus membalas kebaikan Mbak bagaimana."
"Nggak perlu membalas apa-apa. Kamu cukup serius menjalankan usahamu. Kelola uangnya baik-baik, catat pemasukan dan pengeluaran, jangan campur uang dagangan dengan uang pribadi. Kalau nanti sudah berkembang, baru kita pikirkan langkah berikutnya."
"Iya, Mbak. Aku janji bakal berusaha sebaik mungkin."
"Bagus. Mbak ingin kamu punya penghasilan yang stabil, punya usaha sendiri, dan bisa mandiri. Siapa tahu suatu hari nanti kamu malah punya karyawan sendiri."
Tara tertawa kecil, meskipun wajahnya masih menyisakan haru. "Aamiin. Doain, ya, Mbak."
"Pasti."
"Mbak juga bisa sampai punya usaha sendiri dan berkembang ka karena Mbak suka gambar dan jahit. Awalnya ya gitu jadi reseller orang, pelan-pelan, akhirnya sekarang sudah punya brand sendiri dan dua ruko."
"Iya Mbak, Tara juga pengen seperti Mbak, sudah sukses di usia muda." Tara kembali memeluk Tantya dengan penuh rasa terima kasih. Tantya membalas pelukan adiknya sambil tersenyum.
Setelah itu, keduanya kembali menghadap tumpukan kardus yang belum selesai dikemas.
"Sudah, sekarang kita selesaikan dulu pesanan ini. Nanti kita hitung berapa modal yang kamu butuhkan," kata Tantya.
"Siap, Bos!" jawab Tara bersemangat.
Tantya tertawa. "Lho, sekarang Mbak sudah dipanggil Bos?"
"Iya, dong! Mbak kan investorku sekarang."
Keduanya tertawa bersama. Di rumah sederhana itu, suasana terasa hangat. Bagi Tantya, membantu Tara bukan sekadar memberikan uang, laptop, atau memperbaiki rumah. Ia ingin adiknya memiliki kesempatan untuk mengembangkan usaha dan membangun masa depannya sendiri.