NovelToon NovelToon
Jadi Ibu Tiri Itu Gak Mudah

Jadi Ibu Tiri Itu Gak Mudah

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Duda / Mengubah Takdir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Menikahi seorang duda beranak tiga dipikirnya akan membawa kebahagiaan baru, namun kenyataan menjadi ibu tiri ternyata jauh lebih rumit dari yang dibayangkan. Di balik pintu rumah yang tampak sempurna, ia harus berhadapan dengan penolakan halus, bahkan kasar, serta dinamika tiga anak dengan karakter yang bertolak belakang.
Mampukah Ayu meluluhkan hati anak-anak tirinya dan mempertahankan rumah tangganya, atau justru menyadari bahwa ketulusan saja tidak pernah cukup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26: Naluri Moana

Suasana di dalam ruang tamu megah itu mendadak berubah bagaikan pengadilan keluarga yang dingin. Kakek Subroto dan Nenek Farida duduk di sofa utama, sementara Sintia duduk di samping Lea dan Kenzo yang merapat manja pada keluarga ibunya.

Ayu sibuk di dapur menyiapkan nampan berisi cangkir-cangkir teh herbal hangat dan beberapa piring kue tradisional buatan tangannya sendiri.

Tangannya gemetar halus saat menyusun cangkir porselen tersebut. Bibi Minah di sampingnya pun menatap Ayu dengan raut penuh rasa iba.

"Bu Ayu... yang sabar ya, Bu. Keluarga almarhumah Bu Ratna memang sangat keras kalau soal anak-anak," bisik Bibi Minah prihatin.

Ayu mengulas senyum tipis yang amat rapuh. "Tidak apa-apa, Bi. Ini hal yang wajar. Mereka sangat menyayangi almarhumah dan anak-anak."

Ayu membawa nampan kayu itu menuju ruang tamu. Dengan langkah anggun dan perlahan, Ayu membungkukkan badannya, meletakkan cangkir-cangkir teh dan piring kue di atas meja pualam di tengah ruangan.

"Silakan diminum teh hangatnya, Bapak, Ibu, Mbak Sintia..." tutur Ayu sangat sopan.

Nenek Farida melirik cangkir teh di atas meja dengan tatapan enggan, dan sama sekali tidak menyentuhnya. Sementara Sintia dengan sengaja membuang muka ke arah lain saat Ayu menyajikan cangkir di depannya.

"Mami... Papi... Sintia..." buka Yoga seraya duduk di samping Ayu di sofa seberang. "Terima kasih sudah jauh-jauh datang dari Bandung untuk melihat Moana. Saat ini Moana sedang tidur di kamar atas, tadi sudah minum obat."

Nenek Farida tidak merespons ucapan Yoga. Matanya justru tertuju pada Kenzo dan Lea yang duduk di sampingnya. Dengan penuh kehangatan yang amat kontras, Nenek Farida mengusap kepala Lea dan meremas jemari Kenzo.

"Kasihan sekali cucu-cucu Nenek..." ujar Nenek Farida dengan suara yang sengaja dikeras dan kencangkan. "Wajah kalian kelihatan pucat dan kurus. Kelihatan sekali tidak ada yang mengurus dengan benar di rumah ini."

"Iya, Nek..." timpal Lea dengan nada memelas yang dimainkan sempurna. "Sejak ada Tante Ayu, rumah ini udah gak pernah hangat lagi. Nasi uduk sama masakan rumah juga beda rasanya sama buatan Mama dulu. Lea sama Bang Kenzo sering makan di luar karena gak betah."

Sintia mendengus keras, lalu menatap Ayu dengan pandangan menusuk. "Dengar itu, Mas! Anak-anakmu sendiri yang bicara! Kamu ini buta atau gimana sih?! Wanita ini cuma memanfaatkan kamu dan fasilitas di rumah ini, tapi anak-anak Mbak Ratna ditelantarkan!"

"Sintia! Jaga bicaramu!" tentang Yoga, mukanya merah padam oleh amarah yang membumbung. "Ayu setiap hari bangun Subuh, memasak, menyiapkan baju anak-anak, merawat rumah! Kalau Kenzo dan Lea tidak mau makan, itu karena mereka yang terus-menerus menolak dan menutup diri!"

"Yoga!" Kakek Subroto akhirnya membuka suara, sembari menghentak tongkat kayunya pelan ke lantai. Suaranya terdengar berat dan mengintimidasi. "Kamu tidak usah membentak adik iparmu! Mami dan Papi datang ke sini bukan untuk mendengarkan pembelaanmu terhadap istri barumu ini!"

Kakek Subroto kemudian membetulkan letak kacamatanya, dan menatap Ayu dengan pandangan dingin yang penuh wibawa senioritas.

"Nona Ayu," panggil Kakek Subroto dengan sebutan yang sengaja menegaskan jarak. "Kamu harus tahu diri. Rumah ini berdiri atas keringat Yoga dan mendiang putri kami, Ratna. Anak-anak di rumah ini adalah cucu-cucu dari keluarga kami yang terhormat. Jika kamu tidak sanggup menjadi ibu yang baik, tidak sanggup menjaga keselamatan Moana, dan hanya membuat suasana rumah ini menjadi neraka bagi Kenzo dan Lea... lebih baik kamu berpikir ulang tentang posisi kamu di rumah ini."

Kalimat yang dilontarkan Kakek Subroto begitu berbobot, dingin, dan telanjang sampai menyudutkan Ayu hingga titik terendah.

Ayu merasa tenggorokannya seperti tersumbat batu besar. Airmata pun merebak di pelupuk matanya, namun ia berusaha sekuat tenaga menahannya agar tidak menetes di depan orang-orang yang menghinanya ini.

Ayu menundukkan kepalanya dalam-dalam, jemarinya meremas kain gamisnya hingga kusut.

Di sampingnya, Kenzo dan Lea menatap Ayu dengan binar kepuasan yang luar biasa. Inilah momen yang paling mereka tunggu-tunggu, melihat Ayu tersudut tanpa daya, dan menyadari secara brutal bahwa di dalam pusaran keluarga besar ini, Ayu bukanlah siapa-siapa dan tidak akan pernah dianggap sebagai bagian dari mereka.

Adapun Sintia, ia makin melunjak dengan berdiri dari duduknya seraya menunjuk Ayu. "Iya! Harusnya tahu diri! Cuma bekas guru privat yang kebetulan dapet nasib untung dinikahi orang kaya, langsung sok mau menguasai rumah ini dan ngeracunin pikiran Moana!"

"SINTIA! CUKUP!"

Yoga berdiri secara mendadak dari sofanya, hingga membuat meja pualam di depan mereka bergetar pelan. Wajah Yoga tampak begitu murka, napasnya memburu keras.

"Papi, Mami, Sintia! Saya sangat menghormati kalian sebagai orang tua dari almarhumah Ratna!" tegas Yoga dengan suara membahana yang memenuhi ruang tamu. "Tapi saya tidak akan membiarkan kalian menghina dan merendahkan Ayu di dalam rumah saya sendiri! Ayu adalah istri sah saya! Dia di sini atas izin Allah dan atas persetujuan saya! Jika kalian datang ke sini hanya untuk menghujat dan menghancurkan ketenangan rumah tangga saya, saya minta maaf... kalian tidak menghormati saya sebagai kepala keluarga di rumah ini!"

Suasana ruang tamu seketika membeku. Nenek Farida menatap Yoga dengan mata membelalak tak percaya, dan terkejut oleh ketegasan menantunya yang berani memotong kekuasaannya.

"Yoga... kamu berani mengusir kami?!" bisik Nenek Farida dengan suara gemetar oleh rasa terkejut dan marah.

"Saya tidak mengusir, Mami," balas Yoga dengan nada suara yang terkontrol namun sangat dingin. "Saya hanya minta kalian menjaga sikap dan batas hormat pada istri saya. Jika ingin menjenguk Moana, silakan naik ke atas dengan sopan. Tapi stop menghina Ayu!"

Lea yang melihat situasi tidak berjalan sesuai rencana mulai berencana lagi dengan membuat tangisnya kembali pecah. "Papa! Kenapa Papa malah ngusir Nenek dan Tante Sintia?! Mereka kan keluarga kita! Wanita ini yang orang asing, Pa!"

Tiba-tiba, dari arah lorong tangga lantai dua, terdengar suara langkah kaki kecil yang lemah dan rintihan suara anak kecil yang parau.

"I-Ibuuu... Papa..."

Semua orang di ruang tamu seketika menoleh ke arah tangga.

Moana berdiri di undakan tangga bawah. Piyama merah mudanya agak kusut, perban putih masih melingkar kencang di keningnya. Gadis kecil itu berjalan gontai dengan mata sipitnya yang baru bangun tidur, sambil mengusap matanya yang basah oleh air mata.

"Moana!" seru Nenek Farida dan Sintia bersamaan, hendak berdiri dan berlari menghampiri cucu tercinta mereka.

Namun, Moana sama sekali tidak melihat ke arah Nenek Farida, Kakek Subroto, atau Tante Sintia. Gadis kecil itu mengabaikan keberadaan keluarga besar ibu kandungnya.

Dengan langkah kaki yang goyah, Moana melintasi ruang tamu, melewati Lea dan Kenzo, lalu berlari kecil dan langsung menghambur menyusupkan tubuh mungilnya ke dalam pelukan Ayu.

"Ibuuu... Moana takut... Kepalanya pusing..." tangis Moana pecah, sambil memeluk tubuh Ayu erat-erat dan menyembunyikan wajahnya di perut Ayu.

Ayu seketika berlutut di lantai, merangkul tubuh Moana dengan amat hangat dan posesif, kemudian mengusap punggung anak kecil itu seraya membisikkan kata-kata penenang.

"Sssshhh... Anak pinter Ibu... Ibu di sini, Sayang. Gak apa-apa, ada Ibu..." bisik Ayu dengan air mata yang akhirnya luruh membahasi pipinya, bukan karena dihina oleh keluarga besar Ratna, melainkan karena keharuan yang teramat dalam atas kepolosan cinta Moana.

Pemandangan itu bagaikan tamparan keras yang membungkam seisi ruangan.

Nenek Farida, Kakek Subroto, dan Sintia terpaku membeku di tempat duduk mereka. Rencana mereka untuk menyudutkan Ayu sebagai ibu tiri yang jahat dan dibenci seketika runtuh dan terlihat begitu konyol di hadapan kenyataan polos bahwa Moana, cucu tercinta mereka justru berlari dan mencari perlindungan di dalam pelukan Ayu.

Kenzo mengepalkan tangannya rapat-rapat di sisi tubuhnya, sementara Lea menggigit bibir bawahnya rapat-rapat oleh rasa kekalahan yang membakar ulu hati.

Di tengah pertunjukan kebencian dan prasangka yang disiapkan oleh kedua anak remajanya serta keluarga besar masa lalunya, Ayu berdiri tegap merangkul Moana dalam dekapannya.

Ini membuktikan secara nyata bahwa ikatan ketulusan yang ia tanam tak akan pernah mampu diruntuhkan oleh gelombang kebencian sekeras apa pun.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!