NovelToon NovelToon
PERLAWANAN ISTRI YANG DIDZALIMI KELUARGA SUAMI

PERLAWANAN ISTRI YANG DIDZALIMI KELUARGA SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Tantya Ambardhita hanya lulusan SMA. Bagi keluarga suaminya, itu cukup menjadi alasan untuk merendahkannya.

Mereka menganggap Tantya tak punya apa-apa. Namun anehnya, setiap kebutuhan mertua dan tiga iparnya selalu dibebankan kepada perempuan itu. Tantya diperlakukan seperti ATM berjalan—diminta memberi, tetapi tak pernah dihargai.

Sampai suatu hari, Rendra, suaminya, membawa mantan kekasihnya pulang kampung. Bukan hanya mengajak perempuan itu masuk ke mobil, Rendra bahkan menyuruh Tantya duduk di kursi belakang.

Ironisnya, mobil yang mereka banggakan itu adalah milik Tantya.

Di sebuah rest area, Tantya akhirnya meninggalkan mereka. Dan sejak hari itu, Tantya bukan lagi istri yang selalu mengalah.

Keluarga Rendra mengira mereka sedang kehilangan seorang istri yang hanya lulusan SMA.

Mereka belum tahu…

perempuan yang selama ini mereka remehkan menyimpan identitas dan kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. Tak Harus Bersama Mereka

Tantya akhirnya melangkah menuju loket pembelian tiket. Setelah memastikan kembali film pilihan Farah, dia membeli tujuh tiket sekaligus. Tujuh tiket itu diperuntukkan bagi Bu Martha, Farah dan suaminya, Niken dan suaminya, Rendra, serta Selina.

Tidak ada satu pun tiket untuk dirinya sendiri.

Bukan karena Tantya tidak ingin menonton film. Dia hanya sudah tahu bahwa keberadaannya di antara mereka bukan untuk menikmati hiburan bersama, melainkan untuk memastikan semua orang mendapatkan apa yang mereka inginkan. Terlebih, tiga balita yang ikut bersama mereka membutuhkan seseorang untuk menjaga. Dua anak Farah dan seorang anak Niken tentu tidak mungkin dibiarkan begitu saja ketika orang tua mereka asyik menonton film dewasa.

Setelah selesai membayar, Tantya kembali menghampiri keluarganya. Dia menyerahkan ketujuh tiket itu kepada Farah tanpa banyak bicara.

Farah menerima tiket-tiket tersebut, lalu langsung membagikannya kepada yang lain. Tidak ada ucapan terima kasih. Bahkan, sekadar senyuman penghargaan pun tidak. Seolah-olah membeli tiket untuk tujuh orang memang sudah menjadi kewajiban Tantya yang tidak perlu dipertanyakan lagi.

Tantya sendiri tidak berharap banyak. Dia hanya memasukkan kembali dompetnya ke dalam tas, kemudian meraih tumbler yang sejak tadi dibawanya.

Namun, rupanya ada hal lain yang menarik perhatian Niken.

Matanya tertuju pada tumbler di tangan Tantya. Perempuan itu memperhatikan benda tersebut dari atas hingga bawah, kemudian menyunggingkan senyum penuh rasa ingin tahu yang bercampur sindiran.

"Tya, gaya banget tumblermu. Dikasih siapa?" tanyanya.

Tantya melirik tumblernya sekilas sebelum menjawab pendek, "Beli, lah."

"Beli?" Niken mengulang dengan nada tidak percaya. "Gaya banget. Penjaga toko tumblernya harga jutaan. Aku aja yang gajinya dua digit, tumbler hanya yang ratusan ribu."

Tantya mengembuskan napas pelan. Dia sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan kakak iparnya itu. Benda yang bahkan tidak ada hubungannya dengan urusan mereka mendadak menjadi bahan untuk mengusik dirinya.

"Ya suka-suka, lah, Mbak," jawabnya santai.

Namun, sebelum Niken sempat membalas, Bu Martha langsung menyambar dengan suara nyaring. "Suka-suka, kalau uangnya bukan dari anak saya."

Tantya menoleh kepada mertuanya. Kali ini, senyum tipis yang sempat menghiasi wajahnya menghilang. "Gak ada, Bu. Gak pernah, lah, aku menggunakan uang untuk keperluanku dari Mas Rendra. Yang ada justru sebaliknya."

Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Tantya. Nadanya tidak tinggi, tetapi cukup tajam untuk membuat suasana di antara mereka berubah.

Rendra yang berdiri tak jauh darinya langsung memasang wajah tidak senang. "Tya, jaga ucapanmu!" tegurnya, merasa tersinggung oleh perkataan istrinya.

Tantya menoleh sekilas kepada suaminya. Ada begitu banyak hal yang ingin dia katakan, tetapi dia memilih menahannya. Percuma saja menjelaskan sesuatu kepada orang-orang yang sejak awal sudah memiliki penilaian sendiri tentang dirinya.

Niken yang tampaknya tidak ingin pembicaraan semakin panjang segera mengambil alih situasi.

"Sudah, ah, kita masuk studio aja. Dah dibuka tuh."

Tanpa menunggu tanggapan siapa pun, Niken langsung berjalan menuju Studio 3, diikuti anggota keluarga lainnya. Mereka tampak bersemangat untuk segera menikmati film yang sudah dipilih sejak tadi.

Namun, baru beberapa langkah berjalan, Niken mendadak menoleh kembali kepada Tantya.

"Tya, ajak anak-anak ke area permainan!" katanya enteng, seolah baru saja teringat sesuatu yang sangat sederhana.

Tantya mengernyit. "Ke area permainan?"

"Iya, memangnya kenapa?"

Tantya memandang tiga balita yang kini berada di dekatnya. Dua di antaranya adalah anak Farah, sementara satu lagi anak Niken. Ketiganya masih terlalu kecil untuk ditinggalkan tanpa pengawasan.

"Uangnya mana, Mbak? Ke area permainan itu harus top up kartu permainannya," tanya Tantya lugas.

Niken langsung memasang wajah kesal, seolah pertanyaan tersebut merupakan bentuk pembangkangan yang tidak seharusnya dilakukan Tantya.

"Ya dari kamu, lah. Kamu kan tantenya."

Tantya menatap Niken lekat-lekat. "Tapi Mbak kan ibunya."

"Ibu macam apa yang menyuruh orang lain menjaga anaknya?" batin Tantya. Namun, kalimat itu hanya berputar di kepalanya, belum sampai keluar dari bibirnya.

"Cukup, Tya! Gak usah banyak protes!" bentak Niken.

Tantya mengangkat alis. Bukannya mundur, kali ini dia justru menatap kakak iparnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.

"Mbak kan gajinya sudah dua digit. Masa masalah ginian harus seorang penjaga toko juga yang bayar?"

Wajah Niken seketika berubah merah. Dia jelas tidak menyangka Tantya akan membalas ucapannya dengan cara seperti itu. "Tantya!" serunya, nyaris kehilangan kesabaran.

Namun, Tantya tidak lagi terlihat gentar. Dia sudah cukup sering mendengar dirinya direndahkan hanya karena pekerjaannya sebagai penjaga toko. Anehnya, ketika mereka membutuhkan uang, justru dirinya yang selalu menjadi sasaran.

Niken mendengus kasar, lalu membuang muka.

"Terserah kamu, lah! Yang pasti kamu asuh tuh anak-anak dan ajak main. Uangnya? Ya dari kamu!"

Setelah mengatakan itu, Niken kembali melangkah menuju studio, menyusul anggota keluarga yang lain. Tidak ada sedikit pun rasa bersalah di wajahnya. Dia seolah yakin bahwa pada akhirnya Tantya akan tetap menuruti keinginannya.

Tantya berdiri mematung selama beberapa detik. Di hadapannya, tiga balita menatapnya dengan wajah polos, sama sekali tidak memahami keributan yang baru saja terjadi.

Dia menghela napas panjang.

Tujuh tiket sudah dibayarnya. Dia tidak mendapatkan satu pun untuk dirinya sendiri. Sekarang, dia juga harus mengasuh tiga anak dan mengeluarkan uang lagi untuk hiburan mereka.

Sementara itu, orang tua anak-anak tersebut tinggal duduk nyaman di dalam studio, menikmati film tanpa perlu memikirkan apa pun.

Tantya menunduk, menatap tumbler di tangannya, lalu tersenyum hambar.

Sungguh, keluarga yang luar biasa.

Mereka begitu mudah menyebutnya keluarga ketika membutuhkan uang dan tenaga. Namun, untuk sekadar menghargai dirinya, mengucapkan terima kasih, atau membiarkannya menikmati waktu bersama, mereka seolah tidak pernah merasa perlu melakukannya.

Tantya kemudian mengalihkan pandangan ke arah area permainan. Dia belum memutuskan apakah akan menuruti permintaan Niken begitu saja. Namun, satu hal mulai terasa semakin jelas di hatinya: menjadi bagian dari keluarga Rendra seolah berarti harus selalu siap berkorban, tanpa pernah diberi kesempatan untuk memikirkan dirinya sendiri. "Tante, ayo kita main di Timezone!" seru Rama, keponakan Tantya yang paling besar, sambil menarik-narik tangan tantenya. Matanya berbinar penuh antusias saat melihat area permainan yang dipenuhi lampu warna-warni dan suara riuh anak-anak yang sedang bermain.

Tantya tersenyum tipis. Dia melirik kedua keponakannya yang lain. Ketiganya tampak sama bersemangatnya. Tentu saja mereka ingin segera bermain, apalagi setelah melihat berbagai permainan menarik yang tersedia di hadapan mereka.

"Bentar, ya. Tante telepon dulu," jawab Tantya lembut.

Dia kemudian mengambil ponsel dari dalam tasnya, lalu mencari nama seseorang di daftar kontak. Tak lama kemudian, panggilan tersambung.

"Halo, Tara?"

"Iya, Mbak?"

"Tara, ajak Ibu ke mal sekarang juga. Kita senang-senang di sini. Nanti naik mobil online yang Mbak pesankan, ya!"

"Beneran, Mbak?" Terdengar suara Tara dari seberang sana, penuh keterkejutan sekaligus kegembiraan.

"Iya, beneran. Cepat dandan, Mbak pesankan mobilnya sekarang."

"Iya, Mbak."

Terdengar nada ceria dari suara adiknya. Tantya tersenyum kecil sebelum mengakhiri panggilan. Sudah lama rasanya dia tidak mengajak ibu dan adiknya menikmati waktu bersama di luar rumah. Selama ini, waktunya lebih banyak tersita untuk bekerja dan menghadapi berbagai urusan keluarga suaminya.

Kali ini, dia ingin melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri. Sesuatu yang sederhana, tetapi bisa membuat hatinya sedikit lebih bahagia.

Setelah menutup telepon, Tantya langsung membuka aplikasi transportasi daring dan memesan mobil untuk ibu serta adiknya. Dia memastikan alamat penjemputannya benar, kemudian mengirimkan informasi perjalanan kepada Tara.

Selesai dengan urusannya, Tantya kembali menghampiri ketiga keponakannya yang masih berdiri di dekatnya.

"Kalian tunggu bentar, ya. Tante tunggu yang lain dulu, biar nanti kalian ada yang jagain juga," katanya sambil mengusap kepala Rama.

Ketiga anak itu mengangguk, meskipun sesekali mata mereka masih melirik ke arah permainan yang tampak begitu menggoda.

Tantya kemudian mencari tempat duduk di dekat area permainan. Dia membiarkan ketiga keponakannya duduk di sampingnya sambil sesekali mengajak mereka mengobrol. Sesekali, dia juga memperhatikan suasana di sekitar, memastikan anak-anak itu tidak berlarian menjauh.

Waktu berjalan cukup cepat. Tidak sampai tiga puluh menit kemudian, dari kejauhan Tantya melihat sosok ibunya datang bersama Tara. Wajah adiknya tampak cerah, sementara ibunya tersenyum ketika menemukan Tantya yang sedang menunggu mereka.

"Mbak."

Tara langsung melambaikan tangan dan mempercepat langkahnya. Begitu mereka berdekatan, Tantya berdiri dan segera memeluk ibu serta adiknya bergantian.

Pelukan itu terasa hangat. Ada kerinduan yang selama ini tidak sempat mereka luapkan karena kesibukan masing-masing.

"Ibu sehat, kan?" tanya Tantya sambil menggenggam tangan ibunya.

"Alhamdulillah, sehat, Nak. Kamu sendiri bagaimana?"

"Sehat, Bu."

Tara memperhatikan kakaknya dengan senyum lebar. "Jadi, kita benar-benar mau main di sini, Mbak?"

Tantya terkekeh melihat antusiasme adiknya.

"Iya, dong. Kita senang-senang, Tar. Hari ini kita main sepuasnya."

"Wah, asyik!"

Tara berseru kegirangan. Bahkan ibunya ikut tersenyum melihat tingkah kedua anaknya. Sudah lama mereka tidak menghabiskan waktu bersama seperti ini, tanpa terburu-buru dan tanpa harus memikirkan urusan lain.

Tantya lalu mengajak ibu dan adiknya masuk ke area permainan. Sebelum mulai, dia membeli dan mengisi saldo kartu permainan yang diperlukan. Setelah itu, mereka mulai mencoba berbagai wahana yang tersedia.

Tara tampak paling bersemangat. Dia mencoba beberapa permainan, sesekali mengajak Tantya ikut serta. Ibu mereka pun tidak hanya duduk diam. Sesekali perempuan paruh baya itu ikut tertawa melihat tingkah kedua anaknya, bahkan tak jarang menggoda mereka ketika salah satu permainan tidak berjalan sesuai harapan.

Ketiga keponakan Tantya juga tampak menikmati waktu mereka. Rama sibuk mencoba permainan yang disukainya, sementara dua adiknya sesekali meminta bantuan Tantya untuk memilih permainan lain.

Untuk pertama kalinya hari itu, Tantya merasa bisa bernapas sedikit lebih lega.

Tidak ada yang menyuruhnya membelikan sesuatu dengan nada memerintah. Tidak ada yang mencibir pekerjaannya. Tidak ada pula yang membuatnya merasa bersalah hanya karena ingin menikmati uang hasil jerih payahnya sendiri.

Di tempat itu, dia bisa tertawa tanpa perlu berpura-pura.

Waktu berlalu begitu cepat hingga tanpa terasa satu setengah jam sudah mereka habiskan di area permainan.

Tantya akhirnya mengangkat kedua tangannya, lalu mengibaskan telapak tangannya di depan wajah.

"Aduh, Tante udah capek."

Tara langsung tertawa. "Katanya mau main sepuasnya, Mbak?"

"Ya, sepuasnya, bukan sampai tumbang." sahut Tantya, membuat ibunya ikut terkekeh.

"Ya udah, kalau begitu kita makan, yuk!" usul Tantya kemudian.

"Ayoooo!" seru Tara bersemangat.

Mereka pun meninggalkan area permainan dan berjalan menuju food court di lantai yang sama. Tantya mengajak ibu dan adiknya memilih makanan yang mereka sukai. Ketiga keponakannya ikut berjalan bersama mereka, sesekali menunjuk gerai makanan yang menarik perhatian.

Setelah mendapatkan tempat duduk, Tantya mempersilakan ibu dan adiknya memesan makanan terlebih dahulu. Dia sendiri memilih menu yang sudah lama ingin dimakannya.

Tak butuh waktu lama sampai meja mereka dipenuhi makanan dan minuman. Suasana makan sore itu terasa ramai oleh obrolan ringan dan tawa. Tara bercerita tentang kesehariannya, sementara ibu mereka sesekali menyela dengan pertanyaan atau komentar yang membuat mereka tertawa bersama.

Tantya menikmati makanannya dengan lahap. Sesekali dia menyuapi keponakannya yang masih kecil, lalu kembali melanjutkan makannya sendiri. Ibunya dan Tara pun tampak menikmati hidangan masing-masing.

Di tengah suasana hangat itu, ibunya tiba-tiba memperhatikan Tantya.

"Tya, memangnya kamu sendiri nggak nonton film sama keluarga Mas Rendra?"

Gerakan tangan Tantya yang sedang menyendok makanan sempat terhenti sesaat. Namun, dia segera kembali bersikap biasa.

"Nggak, Bu. Nggak suka filmnya," jawabnya ringan.

Sebuah kebohongan kecil terpaksa keluar dari bibirnya.

Bukan karena dia ingin menyembunyikan sesuatu dari ibunya. Tantya hanya tidak ingin merusak suasana bahagia yang baru saja tercipta. Dia tahu, jika menceritakan semuanya, ibunya pasti akan ikut sedih, bahkan mungkin marah karena mengetahui bagaimana keluarga Rendra memperlakukannya.

Padahal, hari ini dia ingin menikmati waktu bersama orang-orang yang menyayanginya tanpa syarat.

Ibunya mengangguk, tidak mencurigai apa pun.

"Oh, begitu. Ya sudah, yang penting kamu senang."

Tantya tersenyum. "Iya, Bu. Hari ini kita senang-senang aja."

Dia kembali menyantap makanannya, menyembunyikan segala kekecewaan di balik senyum yang tampak tulus.

Sesekali, Tantya memandang ibu dan adiknya yang sedang bercanda. Ada kehangatan yang perlahan memenuhi hatinya. Setidaknya, di tengah hari yang semula terasa begitu menyebalkan, dia masih memiliki tempat untuk pulang. Tempat di mana dirinya tidak harus selalu mengalah, tidak perlu membuktikan apa pun, dan tidak harus membayar mahal hanya untuk mendapatkan sedikit penghargaan.

Bersama mereka, Tantya cukup menjadi dirinya sendiri. Ko

1
Heny
What lagi asyik baca thor.. Lanjut
Heny
Jng mau di bujuk di rayu tya jng banyak mengalah
Heny
Gercap tya jng tunggu lama2 amankan aset ygkm punya
Heny
Sudah lah tya lbh baik pisah dr pada dimanfaatkan
Heny
Duh tantya besok2 klau diajak jng mau lbh baik jln sendiri
Ma Em
Keluarga Rendra rencananya mau permalukan Tantya eh ga taunya malah mereka yg malu sendiri karena baju yg dipakai Tantya lbh bagus dari mereka pakai , lbh baik Tantya cepat berpisah dgn Rendra .
Mundri Astuti
bis acara lamaran...hempasin laki" mokondo itu tantya
stela aza
kurang gercep terlalu mengalah trs ,,, di hina di injak injak harga dirinya diem Bae balas donk ,,,, g seru bgt
Mundri Astuti
hempasin aja laki modelan gini
Putri Wulandari
lanjut
stela aza
lemmot
mama
kelamaan,kurang sat set.. tinggal in aj suami macam kyk gitu..
Suhaida Tania
menantu kurang ajar, tidak ada sopan santun kepada ibu mertua
Ma Em
Tantya jgn mau bila diajak pulang sama Rendra biar saja Rendra pulang sendiri , Tantya jgn mau lagi disuruh suruh karena Tantya bkn pembantu apalagi Tantya selalu dihina dan diremehkan sama keluarganya Rendra biar mereka sadar tanpa bantuan dari Tantya Rendra dan keluarganya tdk punya apapa .
Ma Em
Tantya saja yg bodoh kenapa kamu mau saja bantu Rendra dan keluarganya meskipun selalu dihina dan direndahkan karena Tantya selalu diam tdk melawan makanya mereka berani menghina dan menginjak injak harga dirimu Tantya , lbh baik mulai sekarang tdk usah bantu lagi orang orang yg tdk tau diri tdk tau terima kasih biarkan mereka hdp nya susah tanpa bantuan Tantya , Rendra dan keluarganya pasti akan menderita
Ma Em
Tantya kamu jgn istri bodoh mau saja diperlakukan seperti pembantu dihina dan dikucilkan , bangkit Tantya kamu hrs berani melawan Rendra dan keluarganya dan kalau Rendra atau ibunya minta uang sama Tantya jgn kasih biar saja Rendra yg kasih uang untuk ibunya , Tantya jgn mau diremehkan lagi tinggalkan saja suami modelan si Rendra untuk apa dipertahan kan kalau tantya cuma jadi bahan ejekan dan hinaan .
ros
Tunggu byk episode Dan hampir end baru baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!