Revan (30), pimpinan tentara elit yang lima tahun tak pulang, mendapat misi mengintai kelompok pemberontak di hutan desa kelahirannya. Selama ini, Revan terlalu sibuk bertugas hingga tidak sempat memikirkan cinta, sang ibu khawatir dan ingin menjodohkan nya.
Di sisi lain, Nara ...bidan ASN cantik yang jago bela diri,pindah tugas ke desa tersebut. Karna menghindar dari beberapa laki laki yang selalu mendekatimya ,maraknya kasus KDRT dan perselingkuhan membuat ia trauma hingga tak percaya cinta dan enggan menikah.
Takdir mempertemukan mereka di gerbong kereta api. Demi menghindari desakan nikah ibunya via telepon, Revan nekat mengambil diam diam gambar dengan wanita di sampingnya yang sedang tertidur,agar sang ibu tenang, Ia tak menyadari bahwa wanita tersebut adalah Nara, bidan baru yang siap mengubah jalan hidup dan misinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 restu anak
"Nara, kemari dulu, Nak..." panggil Bu Sumi lembut, mengusap air mata halus di sudut matanya lalu menepuk-nepuk lantai di sisinya.
Nara bergeser mendekat, berlutut dengan takzim di hadapan wanita paruh baya itu.
Bu Sumi menggenggam kedua tangan Nara yang terasa halus, menatapnya dengan lekat dan penuh selidik. "Kamu sudah punya pacar, Nak?"
Nara menggeleng pelan.
"Punya suami?"
Nara kembali menggeleng, menyunggingkan senyum tipis yang santun. "Belum, Bu."
"Jadi benar-benar sendiri kan, Nak?"
"Iya, Bu... Nara masih single," jawab Nara jujur.
Bu Sumi menghela napas lega yang begitu panjang, seolah beban berat di dadanya luruh seketika. "Alhamdulillah... Aman kalau begitu. Ibu sempat takut Revan kena undang-undang karena bawa lari anak orang."
Mendengar celetukan ibunya, Ayah Revan yang duduk di samping Pak Kades hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
Wajah tegas veteran itu merona tipis, menahan malu yang membuncah akibat tingkah konyol putra cantiknya yang berstatus komandan tentara.
"Revan," tegur Ayah Revan dengan nada berat namun penuh wibawa. "Minta maaf kamu sama Bidan Nara... juga sama Pak Kades. Gara-gara kecerobohanmu, repot anak gadis orang dibuatnya."
"Tidak apa-apa, Pak... Pak Revan sudah minta maaf kok tadi," potong Nara cepat, mengulas senyum menenangkan agar suasana tak makin tegang.
Namun, di sudut ruangan, wajah Nisa berubah keruh. Matanya mulai berkaca-kaca menahan rasa kecewa yang mendalam.
"Apa...? Jadi... Kak Nara bukan calon Abang.bukan calon kakak iparnya Nisa...?" Suaranya bergetar, merajuk tak terima pada kenyataan yang baru saja merenggut mimpi indahnya.
Melihat Nisa yang hampir menumpahkan air mata, Nara bangkit dan melangkah mendekatinya. Ia berlutut di hadapan gadis remaja itu, lalu merengkuh pundaknya hangat.
"Nisa..." panggil Nara lembut, menatap manik mata Nisa yang basah. "Walau Kak Nara bukan kakak iparmu, Kak Nara tetaplah kakakmu. Kapan pun Nisa butuh teman cerita, Kak Nara ada di sini."
Nara memeluk Nisa erat, mengusap punggung gadis itu hingga isak pelannya mereda. Ia lalu berbalik menatap Bu Sumi, Ayah Revan, dan Pak Kades bergantian dengan tatapan yang begitu tulus.
"Ibu, Ayah, Nisa... izinkan Nara menganggap rumah ini sebagai rumah kedua Nara selama bertugas di desa ini."
Seketika, Bu Sumi merengkuh Nara ke dalam pelukan hangat seorang ibu. Kasih sayangnya tak berkurang sedikit pun, meski status Nara bukan lagi calon menantunya.
"Mulai sekarang, kamu anak Ibu ya, Nak..." bisik Bu Sumi penuh haru di telinga Nara. "Nanti kalau kamu nikah sama pria pilihanmu, Ibu dan Nisa yang paling depan ikut meramaikan!"
Nara tersenyum manis dalam pelukan itu, merasakan kehangatan keluarga yang begitu nyata. Sementara di seberang ruangan, Revan berdiri mematung. Matanya menatap Nara yang kini tertawa kecil di pelukan ibunya—ada rasa lega yang membuncah di dadanya, namun menyisakan sedikit desiran aneh yang mendadak terasa hampa.
------
"Bu Bidan, kita berangkat sekarang ke Polindes?" ajak Pak Kades seraya berdiri dari duduknya.
"Baik, Pak. Bentar, saya siap-siap dulu," sahut Nara ramah. Ia melangkah ke kamar untuk mengemas kembali tas dan perlengkapan medisnya.
Melihat Nara berkemas, Nisa mengekor masuk lalu memeluk pinggang Nara dari belakang dengan manja.
"Besok aja sih, Kak... Masih kangen," rengeknya dengan bibir mengerucut.
Nara tertawa kecil sambil merapikan barang-barang bawaannya ke dalam tas.
"Enggak bisa, Dek... Besok Kakak sudah harus mulai tugas dan bikin laporan ke dinas."
"Nisa bantu ya, Kak," tawar Nisa sigap, langsung mengaitkan resleting tas Nara dan membawakannya dengan penuh semangat.
Pak Kades melongok dari pintu depan, lalu melirik Revan yang masih berdiri canggung di sudut ruangan.
"Revan, bantu saya antar Bidan Nara ke Polindes ya," perintah Pak Kades tegas khas seorang pemimpin desa.
"Ibu, ayo ikut antar Kak Nara!" pinta Nisa penuh harap pada Bu Sumi yang baru keluar dari kamar.
"Iya, ayo. Bentar, Ibu siap-siap dulu," balas Bu Sumi hangat. Beliau lalu bergegas melangkah ke dapur, memindahkan gulai ikan patin dan penganan sore tadi ke dalam rantang susun untuk bekal Nara di Polindes.
Membawa tas besar milik Nara, Revan menghampiri Pak Kades dan barang-barang lainnya yang sudah terkumpul di teras.
"Bu Bidan sama Nak Revan, biar saya yang bawa barang bawaannya ," ujar Pak Kades .
"Baik, Pak.....," jawab Revan singkat, langsung sigap mengangkat koper dan dus peralatan medis milik Nara ke kereta Pak Kades dan Ujang yang sedari tadi tunggu diluar ,.
Jalanan tanah yang membelah perkampungan malam itu terasa begitu sunyi dan dingin. Sorot lampu dari sepeda motor Pak Kades dan Ujang di barisan paling depan membelah kegelapan malam, disusul oleh motor yang dikendarai Nisa membonceng Bu Sumi.
Sementara jauh di belakang, motor trail gagah milik Revan melaju pelan, menjaga jarak agar debu jalanan tak mengganggu rombongan di depan.
(adegan romantis)
Angin malam yang berembus kencang menembus pakaian tipis Nara. Rasa dingin merayap cepat, membuat tubuh sang bidan desa gemetar halus.
Ditambah lagi, jalanan perkampungan yang berlubang dan tak rata membuat motor Revan beberapa kali terguncang keras.
"Mbak Nara, pegangan saja tidak apa. Jalanannya makin jelek di depan," ujar Revan setengah berteriak menembus suara deru mesin motor.
Nara yang semula ragu dan hanya memegang ujung jaket Revan, mendadak tersentak saat ban belakang motor melompati lubang cukup dalam.
Brak!
Refleks akibat terkejut, Nara langsung memeluk pinggang tegap Revan dari belakang. Dadanya menempel rapat di punggung lebar sang komandan, sementara wajahnya terbenam halus di celah leher tegap pria itu.
Revan menahan napasnya seketika. Tubuhnya kaku dalam hitungan detik. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Nara yang menyengat serta embusan napas halus bidan desa itu menerpa lehernya, mengirimkan getaran hebat yang membakar dadanya di tengah dinginnya malam.
"Maaf, Pak Revan! Saya refleks..." bisik Nara panik, berusaha menarik kembali kedua tangannya dengan wajah yang seketika memerah panas.
Namun, sebelum Nara sempat melepas dekapannya, tangan kiri Revan yang bebas dari stang motor bergerak cepat ke belakang. Tangan kokoh dan berurat tegas itu meraih jemari Nara yang dingin, lalu menguncinya rapat di atas perutnya. Revan mengarahkan kedua tangan Nara agar melingkar makin erat di pinggangnya.
"Jangan dilepas," panggil Revan dengan suara berat dan serak yang beradu langsung dengan angin malam.
"jalanan licin dan berlubang ,Pegangan yang kuat kalau tidak mau jatuh."
Nara terpaku, napasnya tertahan di tenggorokan. Sentuhan jemari Revan yang hangat dan menggenggam erat tangannya membuat darahnya berdesir hebat.
Nara sedikit menjaga jarak,,agar dadanya tak beradu ...oleh punggung Revan.
Aroma maskulin dari Revan membuat ,Nara sedikit mendekat tampa ia sadari.
Revan seperti magnet yang membungkukan punggung nya , arona Wangi manis dan segar dari rambut Nara yang terurai tertiup angin malam menusuk tajam indra penciumannya, memabukkan sang perwira yang biasa berhati dingin.
" pak Revan......, kenapa belum menikah"
sesar Nara....
Revan hanya terdiam......
( kira kira alasan revan apa ya...,yang kita tau , tentara paling gampang dapat cewek kan)