Selama lima tahun, Nadira Suryani rela membiayai keluarga mertuanya. Namun, kesabarannya habis setelah mengetahui putrinya, Naya, selalu diperlakukan berbeda dari cucu laki-laki mereka. Bahkan, ibu mertuanya diam-diam mengambil jatah biaya sekolah Naya untuk diberikan kepada cucunya.
Ditambah suaminya yang selalu lebih mementingkan keluarganya sendiri, Nadira akhirnya memutuskan untuk bercerai. Kali ini, ia tidak akan membiarkan keluarga mertuanya terus memanfaatkannya dan akan membuat mereka merasakan akibat dari semua perbuatan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Bersalah
Imah langsung berdiri dari sofa yang didudukinya. Wajah perempuan paruh baya itu memerah karena amarah, sementara kedua tangannya berkacak pinggang. Ia sama sekali tidak menyangka Arhan, anak yang selama ini selalu berusaha menuruti keinginannya, kini berani membantahnya dengan begitu terang-terangan.
Bagi Imah, perkataan Arhan bukan sekadar bentuk ketidaksetujuan, melainkan sebuah penghinaan terhadap dirinya sebagai seorang ibu. Ia merasa kedudukannya di rumah itu mulai terancam sejak Arhan menikahi Nadira. Perempuan yang seharusnya menjadi menantunya itu dianggap telah mengubah anak laki-lakinya menjadi sosok yang tidak lagi bisa dikendalikan.
"Ya, kamu seharusnya diam dan mendengarkan perkataan ibu!" seru Imah. "Ibu ini orang tua kamu! Ibu yang sudah melahirkan dan membesarkan kamu! Kalau bukan karena ibu, memangnya kamu bisa menjadi seperti sekarang ini?"
Arhan memejamkan mata sejenak. Ia sudah menduga ibunya akan kembali membawa-bawa pengorbanannya selama membesarkan dirinya. Seolah-olah semua hal yang pernah dilakukan Imah kepadanya merupakan utang yang harus ia bayar seumur hidup, bahkan jika itu berarti mengorbankan kebahagiaan anaknya sendiri.
"Arhan nggak pernah melupakan semua yang sudah Ibu lakukan untuk Arhan," jawabnya, berusaha menjaga suaranya agar tidak kembali meninggi. "Arhan tahu Ibu sudah membesarkan Arhan. Arhan juga tahu Arhan punya kewajiban untuk menghormati Ibu. Tapi, apa menghormati orang tua berarti Arhan harus selalu membenarkan semua perbuatan Ibu, sekalipun Ibu menyakiti anak Arhan sendiri?"
"Siapa yang menyakiti Naya?" Imah langsung menyela. "Ibu cuma mengambil uang!
Memangnya ibu memukul anak itu sampai terluka? Memangnya ibu melakukan sesuatu yang begitu parah sampai kamu harus berteriak-teriak seperti ini?"
Arhan menatap ibunya dengan tatapan tidak percaya. Ia sungguh tidak habis pikir bagaimana Imah bisa menganggap perbuatannya sebagai sesuatu yang sepele. Uang yang diambil perempuan itu bukan sekadar lembaran kertas yang bisa diganti kapan saja.
Uang tersebut merupakan hasil kerja kerasnya selama berbulan-bulan, yang sengaja ia sisihkan untuk memastikan Naya bisa melanjutkan sekolah tanpa kekurangan apa pun.
Lebih dari itu, tindakan Imah telah memperlihatkan dengan jelas bagaimana perempuan tersebut memandang cucunya sendiri. Bagi Imah, Naya seolah-olah tidak memiliki hak yang sama dengan Arkan hanya karena ia dilahirkan sebagai seorang perempuan.
"Bu, masalahnya bukan cuma uang!" tegas Arhan. "Masalahnya, Ibu selalu menganggap Naya nggak sepenting Arkan. Kalau Arkan meminta sesuatu, Ibu akan berusaha memberikannya. Tapi, kalau Naya membutuhkan sesuatu, Ibu justru menganggapnya sebagai pemborosan!"
"Karena Arkan itu anak laki-laki!"
"Lalu kenapa kalau Arkan anak laki-laki?" Arhan membalas dengan cepat. "Apa dia lebih berharga daripada Naya? Apa karena dia laki-laki, dia boleh mengambil sesuatu yang menjadi hak kakak sepupunya sendiri?"
Imah membuka mulutnya, tetapi tidak langsung menemukan jawaban yang sesuai dengan keinginannya. Bukan karena ia mulai menyadari kesalahannya, melainkan karena ia merasa Arhan sengaja memojokkannya dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak ingin ia jawab.
Sejak dahulu, Imah memang memiliki keyakinan bahwa anak laki-laki lebih berharga daripada anak perempuan. Menurutnya, anak laki-laki akan meneruskan nama keluarga, menjaga kehormatan keluarga, dan menjadi kebanggaan orang tua. Sementara itu, anak perempuan pada akhirnya akan menikah, mengikuti suaminya, lalu meninggalkan rumah untuk membangun keluarga sendiri.
Karena keyakinan itulah, ia selalu menganggap Arkan sebagai cucu yang lebih istimewa.
Ia tidak pernah benar-benar peduli bahwa Naya juga memiliki perasaan. Ia juga tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan anak kecil itu setiap kali mendengar neneknya membandingkan dirinya dengan Arkan. Yang Imah pikirkan hanyalah keinginannya sendiri.
"Ibu nggak perlu menjawab." Arhan kembali bersuara ketika melihat ibunya terdiam. "Arhan sudah tahu jawabannya. Menurut Ibu, Naya memang nggak sepenting Arkan. Karena itu, Ibu merasa nggak masalah mengambil uang sekolahnya demi memenuhi keinginan Arkan."
"Jangan memutarbalikkan perkataan ibu!" Imah menunjuk wajah anaknya. "Ibu tidak pernah bilang kalau Naya tidak berharga! Kamu saja yang terlalu berlebihan! Dari tadi kamu terus membela anak perempuan itu seolah-olah dia adalah anak yang berguna."
Arhan akhirnya mulai menyadari bahwa ibunya benar benar bersikap seperti itu. Seolah ia benar benar bersalah atas putrinya dan istrinya, karena kebodohannya ia harus bercerai dengan istri dan menjauh dari anaknya.
" Jadi, ibu nggak pernah menganggap Arhan anak ibu kan? Ibu lebih pentingin Jordi dan Arkan dibanding aku dan Naya, tapi ibu tahu ga semua kebutuhan rumah ini ditanggung diriku dan Nadira!" tegasnya.
Imah tanpa pikir panjang segera menampar pipi Arhan dengan kasar." Dasar anak Kurang ajar! Berani sekali kau berbicara seperti itu dengan ibumu! Kamu sebagai anak itu sewajarnya harus memberi uang!"
Suara tamparan itu terdengar begitu keras hingga membuat suasana ruang tengah mendadak hening. Kepala Arhan sedikit terlempar ke samping akibat tamparan yang diberikan ibunya. Ia terdiam beberapa saat, merasakan panas menjalar di pipi kirinya.
Namun, bukan rasa sakit itu yang membuatnya terpaku. Melainkan kenyataan bahwa perempuan yang baru saja menamparnya adalah ibu kandungnya sendiri. Arhan perlahan menoleh kembali. Ia menatap Imah dengan sorot mata yang sulit diartikan, sementara rahangnya mengeras menahan emosi yang semakin sulit dikendalikan.
Selama ini, ia selalu berusaha menghormati ibunya. Bahkan ketika Imah berkali-kali menyakiti hati Nadira, ia masih mencoba mencari alasan untuk memaklumi sikap perempuan tersebut. Ia berpikir bahwa bagaimanapun juga, Imah adalah orang yang telah melahirkannya dan membesarkannya hingga menjadi seperti sekarang.
Akan tetapi, apakah semua itu berarti Imah berhak memperlakukannya sesuka hati Apakah karena dirinya seorang anak, ia harus terus menerima segala perlakuan ibunya tanpa boleh membela diri? Arhan mengusap pipinya perlahan, kemudian mengembuskan napas panjang.
"Jadi, sekarang Ibu menampar Arhan karena Arhan mengatakan yang sebenarnya?" tanyanya dengan suara rendah.
Imah mendengus. Alih-alih merasa bersalah, perempuan itu justru menatap anaknya dengan penuh kemarahan.
"Memangnya kamu pikir kamu siapa sampai berani membentak ibu seperti tadi? Kamu itu anak! Sudah seharusnya kamu mendengarkan perkataan orang tua, bukannya malah mengatur ibu!"
Arhan tertawa kecil. Ia menggelengkan kepala, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Arhan mengatur Ibu?" ulangnya. "Sejak kapan Arhan mengatur kehidupan Ibu? Selama ini Arhan cuma meminta Ibu supaya tidak mengambil uang yang sudah Arhan siapkan untuk kebutuhan Naya. Apa itu salah, Bu?"
"Kalau kamu memang anak yang baik, kamu tidak akan menghitung-hitung uang yang kamu berikan kepada keluarga sendiri!"
"Arhan tidak pernah menghitung uang yang Arhan berikan kepada Ibu!"
"Kalau begitu, kenapa kamu terus mempermasalahkan uang yang ibu ambil?"
"Karena uang itu bukan uang untuk Ibu!" balas Arhan tegas. "Itu uang sekolah Naya! Uang yang Arhan kumpulkan dari hasil kerja Arhan sendiri! Apa salahnya kalau Arhan ingin memastikan anak Arhan mendapatkan pendidikan yang layak?"
Imah kembali membuka mulut, tetapi Arhan tidak memberinya kesempatan untuk menyela.
"Selama ini, apa pernah Arhan membiarkan Ibu kesulitan? Waktu Ibu membutuhkan uang untuk memperbaiki rumah, siapa yang membantu? Waktu Ibu membutuhkan biaya untuk keperluan sehari-hari, siapa yang mengirimkan uang? Bahkan ketika Jordi membutuhkan bantuan, Arhan juga tidak pernah keberatan membantu selama Arhan mampu!"
aku udh mmpir....slm knal....
dr awl udh d bkin emosi....ko ada y wnita s'ga waras itu,yg lbh syng cucu laki2 drpdd ccu prmpuan.....mna hsil nyolong pula....kl aku jd nadira,dr lma udh usir mreka biar jd gmbel.....😡😡😡