NovelToon NovelToon
Rencana Bunuh Diri Sang Antagonis

Rencana Bunuh Diri Sang Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Hidup Kayna memang sudah hancur, ayahnya sangat membencinya karna sudah membuat ibunya meninggal saat melahirkannya.

Oleh sebab itu, di usianya yang genap 20 tahun.. ia memutuskan mengakhiri hidupnya agar bisa merasakan reinkarnasi ke keluarga yang ia harapkan akan mencintainya, namun..

"Astaga.. kenapa aku harus menjadi tokoh antagonis yang akan mati di tangan tunanganku sendiri?"

Kayna yang kesal karna terlempar ke novel memutuskan untuk bunuh diri sebelum tunangannya yang membunuhnya.

Lalu, apakah rencananya akan berjalan mulus?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Biara St. Agnes terletak di lereng bukit yang sunyi, dikelilingi oleh hutan pinus yang lebat. Bangunannya terbuat dari batu abu-abu tua yang tampak suram di bawah langit mendung pagi itu. Tidak ada kemewahan istana di sini; hanya keheningan, doa, dan bau dupa yang menyengat.

Kayna dan Adrian berdiri di depan gerbang besi yang berkarat, keduanya mengenakan jubah traveler sederhana berwarna cokelat tanah. Rambut Adrian disembunyikan di balik tudung, menutupi warna peraknya yang terlalu mencolok. Kayna tidak memakai riasan apa pun, wajahnya sengaja dibuat terlihat pucat dan lelah.

"Ingat," bisik Adrian saat mereka menunggu Ibu Superior Martha. "Kita adalah pasangan bangsawan rendah yang sedang mengalami krisis pernikahan. Jangan gunakan gelar. Dan jangan menatap mata siapa pun terlalu tajam. Kita harus terlihat rapuh."

"Aku ahli dalam terlihat rapuh, Adrian," balas Kayna pelan. "Itu adalah satu-satunya peran yang pernah kupahami dengan sempurna."

Adrian menggenggam tangannya sekilas, sebuah isyarat diam-diam untuk saling menguatkan, sebelum pintu kayu berat itu terbuka.

Ibu Superior Martha adalah wanita tua dengan wajah keriput namun bermata tajam. Ia menatap mereka berdua dengan penilaian yang tenang, lalu mengangguk. "Masuklah, anak-anakku. Tuhan selalu punya waktu bagi jiwa-jiwa yang tersesat."

Mereka dibawa ke sebuah ruang konseling kecil yang hanya berisi dua kursi kayu keras dan sebuah meja salib. Jendelanya tinggi dan sempit, hanya membiarkan sedikit cahaya masuk. Udara di dalamnya dingin dan lembap.

"Ibu," ucap Adrian, suaranya diturunkan menjadi nada seorang suami yang putus asa. "Kami... kami datang karena kami takut kehilangan satu sama lain. Tekanan dari keluarga dan politik membuat rumah tangga kami retak. Istri saya merasa tidak dicintai, dan saya merasa gagal melindunginya."

Ibu Superior menatap Kayna dengan tatapan penuh kasih sayang ibu. "Dan bagaimana perasaanmu, Nak?"

Kayna menarik napas. Ini adalah momen di mana ia harus menggunakan semua pengalaman hidupnya sebagai 'korban' untuk meyakinkan wanita ini. Ia membiarkan bahunya merosot, matanya berkaca-kaca dengan air mata yang nyata, bukan air mata manipulasi, melainkan air mata dari memori dua puluh tahun yang menyakitkan.

"Saya merasa... kosong, Ibu," bisik Kayna, suaranya bergetar alami. "Saya merasa seperti beban. Suami saya berusaha menyelamatkan saya, tapi saya terus-menerus merusak segalanya. Saya takut suatu hari dia akan menyadari bahwa saya tidak layak diselamatkan."

Air mata itu mengalir. Bukan akting. Itu adalah kebenaran dari jiwa Kayna yang lama, yang kini digunakan sebagai kunci untuk membuka pintu rahasia.

Ibu Superior terdiam, matanya melembut. Ia menepuk tangan Kayna dengan lembut. "Cinta sejati tidak mengukur kelayakan, Nak. Tapi aku mengerti kenapa kalian butuh bimbingan. Ada seorang suster muda di sini yang memiliki karunia khusus untuk mendengarkan tanpa menghakimi. Dia juga pernah mengalami kehancuran sebelum menemukan kedamaian di sini. Mungkin bicaranya bisa membantu kalian melihat jalan keluar."

Jantung Kayna berdegup kencang. *Suster muda. Kehancuran.*

"Bolehkah kami bertemu dengannya, Ibu?" tanya Adrian, suaranya tetap terjaga dalam karakter.

"Tentu. Tunggu di sini. Namanya Suster Maria."

Saat pintu tertutup kembali, Adrian dan Kayna saling pandang. Tidak perlu kata-kata. Mereka tahu siapa Suster Maria itu.

Lima menit kemudian, pintu terbuka. Seorang wanita dalam pakaian biarawati sederhana masuk, membawa nampan berisi teh herbal. Wajahnya tertutup sebagian oleh kerudung putih, posturnya membungkuk dalam kerendahan hati yang dipaksakan.

Tapi ketika ia meletakkan nampan di meja dan mengangkat wajahnya sedikit untuk menatap 'pasangan' di hadapannya, matanya bertemu dengan mata Kayna.

Waktu berhenti.

Di balik kerudung suci itu adalah wajah Freya. Tapi bukan Freya yang manis dan polos, maupun Freya yang dingin dan penuh kebencian. Wajah ini... hampa. Matanya yang dulu selalu berkilau dengan ambisi atau kepura-puraan kini terlihat seperti kaca yang retak. Bibirnya pucat, kulitnya kusam tanpa perawatan mahal.

Freya membeku. Tangannya yang memegang teko teh gemetar hebat hingga cairan panas tumpah ke nampan.

"K-Kalian..." bisiknya, suaranya serak dan pecah, jauh berbeda dari suara melodius yang biasa ia gunakan.

Adrian langsung berdiri, menghalangi pandangan dari jendela atau pintu, menciptakan privasi instan. Kayna tetap duduk, menatap Freya dengan tatapan yang tidak lagi penuh kebencian atau kemenangan, melainkan ketenangan yang absolut.

"Halo, Freya," ucap Kayna pelan. "Atau sebaiknya kupanggil Suster Maria?"

Freya mundur selangkah, napasnya memburu. Ia menatap Adrian, lalu Kayna, seolah mencari jebakan. "Kenapa kalian di sini? Untuk mengejekku? Untuk memastikan aku menderita?"

"Kami di sini karena butuh informasi," jawab Adrian dingin, tapi tidak kejam. "Dan karena kau adalah satu-satunya orang yang masih hidup yang tahu isi kepala Duke Valerius."

Nama itu membuat tubuh Freya tersentak seolah disetrum. Wajahnya berubah dari ketakutan menjadi sesuatu yang lebih gelap: trauma murni.

"Jangan sebut namanya," desis Freya, suaranya nyaris seperti jeritan tertahan. "Dia... dia mendengar segalanya. Bahkan di sini."

"Dia tidak ada di sini, Freya," ucap Kayna lembut. "Hanya ada kita. Dan Ibu Superior di luar yang berpikir kita sedang membahas masalah pernikahan."

Freya menatap Kayna. Untuk pertama kalinya, tidak ada topeng di antara mereka. Hanya dua wanita yang telah dihancurkan oleh sistem yang sama, berdiri di ruangan yang pengap.

1
Luna
😣😣ikut tegang 😮😮😱😱😱😱
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
Luna
nah gini kan enak sama sama kerja sama mau menghabisi pemberontak🤭
falea sezi
lanjut
falea sezi
🤣🤣 bahasa Jawa nya di bantu mamah alias di hancurin dalam. mulut trs di pindah🤣🤣🤣 muntah q
falea sezi
mending cari jalan buat kabur dr Duke. dripada mati bundir🤣
Wahyu Ningsih
mungkin dia terlalu lelah dgn dunia yg kejam
Wahyu Ningsih
sending banget ceweknya
Luna
coba kau cari kegiatan baru contoh belajar berperang berperang dan membasmi ayahmu sendiri,mungkin itu bisa membuat keputusasaan mu sedikit berkurang
Luna
kalo dibilang capek semua orang juga capek termasuk aku, apalagi capek hidup mau mati rasanya tapi ngebayangin dampaknya mikir dua kali gimana nasib orang yg kutinggalkan ,jika aku mati bunuh diri nambah dosa iya masuk surga juga enggak,yh dijalanin aja sih hidup sampai tuhan sendiri yg manggil aku.
Luna
diberi kesempatan hidup malah ingin mati terus 🤣🤣🤣🤣,
Luna
ngaku ajalah ,,,GK bakalan dieksekusi kok ,,,,mau bunuh diri tapi kalo dewa atau tuhan belum ngasih cap stempel lulus surga yg ada kau ditime travel ke dimensi 2 lain🤣🤣🤣, jangan ngeluh ah . coba kau pergi dari tempat itu berkeliling dunia dengan Rosa cari pengalaman hidup .
ita aja
shock pasti kayna..tdk sesuai ekspektasi
ita aja
cem mana kau kayna
..gagal terus🤣
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣🤣 balita katanya🤣🤣🤣🤣
Emalia
😄😄
Emalia
Lagi kk,up yang banyak 🤭🤭
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣mungkin karena berbeda jiwa,Duke Adrian mulai suka ,,,,,
ita aja
lagiii
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!