NovelToon NovelToon
Rumah Impian Yang Retak

Rumah Impian Yang Retak

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Eys Resa

Bagi semua orang, pernikahan Nadia dan Rian adalah gambaran kesempurnaan. Rian adalah arsitek sukses yang menopang kehidupan mereka, sementara Nadia adalah istri penurut yang melepaskan mimpi dan karirnya demi berbakti kepada suaminya. Namun di balik dinding rumah megah mereka, hubungan itu telah lama mati dingin sejak insiden keguguran dua tahun lalu.

Namun Rian yang selalu di kelilingi wanita cantik yang menggoda, membuat Nadia merasa terabaikan dengan sikap Rian yang dingin. Belum lagi menghadapi ibu mertuanya yang manipulatif, makin menyudutkan Nadia dalam fitnah dan tuduhan tak berdasar. Saat Rian lebih memilih meragukannya daripada pasang badan untuknya, Nadia akhirnya mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya, menyerah dan pergi membawa surat cerai.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Yuk bantu ramaikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Nadia menarik kembali ponselnya dari celah pintu, lalu mematikan fitur perekam suara. Ia mengunggah berkas rekaman audio itu ke folder penyimpanan digital rahasia yang terhubung langsung dengan Amira. Jemarinya bergerak begitu tenang di atas layar, menyimpan bukti pengkhianatan yang utuh dan tak terbantahkan.

​Di dalam kamar yang redup, Nadia berjalan mendekati meja rias. Ia menatap pantulan dirinya di cermin—tidak ada lagi raut wanita lemah yang pasrah pada keadaan. Yang ada hanyalah sosok seniman yang siap mengambil alih kembali kendali atas kehidupannya sendiri.

​Sekitar empat puluh lima menit kemudian, pintu kamar berderit terbuka. Rian masuk sambil mengeringkan tangannya dengan handuk kecil, raut wajahnya tampak santai setelah menghabiskan waktu makan malam bersama ibunya.

​"Belum tidur, Nad?" tanya Rian lembut, melangkah mendekati tempat tidur.

​Nadia membalikkan badan, meletakkan ponselnya di atas nakas. "Belum, Mas. Aku menunggumu masuk."

​Rian tersenyum hangat, duduk di tepi ranjang lalu mengusap puncak kepala Nadia seperti biasa. "Mas senang lihat kamu makin tenang belakangan ini. Maaf ya kalau Ibu sama Sarah kadang bikin kamu tidak nyaman di rumah."

​Nadia menatap mata Rian dalam-dalam, mencari celah keraguan di sana, namun topeng kebohongan suaminya benar-benar terpasang sempurna. Bagaimana bisa seseorang membelai istrinya dengan penuh kasih, sementara beberapa menit lalu ia baru saja membahas wanita lain bersama ibunya? batin Nadia pedih.

​"Nggak apa-apa, Mas," sahut Nadia dingin, menggeser posisinya sedikit agar terlepas dari sentuhan Rian. "Aku sudah tidak memikirkan ucapan Ibu atau Sarah lagi. Lagipula sekarang aku lebih fokus kerja di galeri, dengan begitu aku bisa melupakan apa yang mereka katakan padaku. Kalau aku berdiam diri di rumah mungkin aku akan stress menghadapi mereka berdua."

​Rian sempat mengernyit heran melihat penolakan halus istrinya, namun ia berusaha berpikiran positif. "Baguslah kalau begitu, kalau pekerjaan bisa membuatmu tenang, aku ikut senang. Bagaimana kalau besok aku antar kamu ke galeri?"

​"Nggak usah, Mas," pangkas Nadia cepat. "Kamu fokus saja sama pekerjaanmu dan proyek pentingmu itu. Biar aku pergi sendiri ke galeri."

Nadia memang sengaja tidak menunjukkan dimana dia bekerja, agar Adrian tidak tau kalau galeri itu adalah miliknya.

​"Ya sudah kalau itu mau kamu," ujar Rian seraya merebahkan tubuhnya di samping Nadia. "Selamat tidur, Sayang."

​Nadia tidak membalas. Ia memunggungi Rian, membiarkan kegelapan malam menelan seluruh kepahitan yang tersisa di dadanya.

​Satu minggu kemudian, matahari pagi menyinari jalanan yang teduh. Sebuah karangan bunga papan berukuran besar bertuliskan 'Selamat atas Pembukaan Nad's Art' kiriman dari Amira berdiri anggun di dekat pintu masuk utama.

​Di dalam studio berkonsep rumah dongeng modern itu, suasana begitu tenang dan artistik. Beberapa lukisan hasil karya Nadia yang dia kerjakan selama hampir satu bulan itu, kini terpajang rapi di dinding kaca, mendapat pencahayaan alami yang memukau.

​Amira melangkah masuk membawa dua cangkir kopi hangat, lalu menyerahkan satu cangkir kepada Nadia yang sedang sibuk mengatur letak lampu sorot.

"Selamat Ya, Nad. Akhirnya apa yang kamu cita-citakan bisa terwujud. "

"Terima Kasih, Amira. Mungkin setelah ini kita akan sibuk. "

​"Tentu saja. Gimana, Nad? Rekaman itu sudah aman kan?" tanya Amira setengah berbisik, memastikan tidak ada orang lain di sekitar mereka.

​Nadia menyesap kopinya perlahan, lalu mengangguk mantap. "Sudah. Semua percakapan Rian, Bu Ratna, dan Sarah terekam jelas. Soal Maya, soal rencana mereka, semuanya lengkap."

​Amira menepuk bahu sahabatnya dengan binar mata bangga. "Luar biasa. Sekarang bukti foto di mal, video mesra Rian dan Maya di toko tas, sampai rekaman suara sudah terkumpul. Terus, Kamu mau ajukan gugatan perceraian kapan, Nad?"

​Nadia menatap lukisan terbesarnya yang tergantung di tengah ruangan—sebuah lukisan pemandangan laut lepas yang melambangkan kebebasan.

​"Sebentar lagi, Ra," jawab Nadia lugas. "Aku mau menata pameran pertamaku minggu ini dulu."

​"Aku bangga banget sama kamu, Nad," puji Amira tulus, merangkul erat sahabatnya. "Kamu wanita kuat."

****

​Sementara itu, di sebuah restoran mewah tak jauh dari pusat kota, Rian sedang menikmati makan siang bersama Maya. Maya tampak anggun mengenakan gaun merah muda, menyuapkan hidangan pencuci mulut ke mulutnya sendiri dengan manja.

​"Mas, besok malam kan akhir pekan," ujar Maya seraya memegang jemari Rian di atas meja. "Kita jalan-jalan ke luar kota yuk? Kamu bilang mau luangkan waktu buat aku."

​Rian sempat ragu sejenak. "Tapi Maya, kalau akhir pekan begini aku biasanya di rumah. Nadia bisa curiga kalau aku pergi dua hari berturut-turut."

​Maya mendengus ketus, menarik tangannya kembali. "Selalu saja takut sama Nadia! Mas, kamu ingat kan janji kamu di mal kemarin? Kamu bilang fokus kamu cuma aku! Kenapa sekarang malah ragu-ragu?"

​"Bukan ragu, Maya..." bujuk Rian lembut, memegang kembali jemari wanita itu. "Aku cuma butuh waktu sampai proyek arsitektur kita ini selesai ditandatangani. Setelah itu, aku janji bakal selesaikan semuanya sama Nadia secara baik-baik."

​"Janji ya?" rengek Maya dengan senyum mengembang.

​"Iya, aku janji," balas Rian manis, tanpa menyadari bahwa setiap kebohongan dan janji palsunya sedang menghitung mundur kehancuran rumah tangganya sendiri.

​Sore harinya, Nadia kembali ke rumah lebih awal. Saat melangkah masuk ke ruang tamu, ia mendapati Bu Ratna dan Sarah sedang sibuk membolak-balik brosur majalah fashion di sofa.

​Bu Ratna mendongak, menatap menantunya dengan pandangan penuh ejekan seperti biasa. "Bagus ya, pulang sore terus sekarang. Katanya kerja di galeri, tapi kok tidak kelihatan sibuk-sibuk amat?"

​Sarah ikut terkekeh sinis. "Iya nih, Tante. Paling juga galerinya sepi, makanya pulang cepat."

​Nadia tidak marah. Ia justru meletakkan tas jinjingnya di meja, menatap ibu mertua dan sepupu suaminya itu dengan senyuman anggun yang sangat tenang—senyuman dari seseorang yang memegang kartu AS dalam permainan ini.

​"Mau sepi atau ramai, itu adalah pekerjaan ku sendiri, Bu," ujar Nadia dengan nada suara yang sangat teratur namun sarat akan penekanan. "Dan bukan urusan kalian untuk ikut campur, aku sibuk atau tidak. Daripada aku harus mendengar ocehan nggK berguna di rumah ini. "

​Bu Ratna tertegun, wajahnya memerah karena kata-kata menantunya yang menohok. "Kamu berani menyindir Ibu?!"

​"Saya tidak menyindir, Bu. Saya hanya menyampaikan fakta," sahut Nadia santai. Ia meraih kembali tasnya, lalu menatap Sarah dingin. "Dan buat kamu, Sarah... daripada sibuk mengurusi hidup orang lain dan merepoti suami orang, lebih baik kamu fokus cari pekerjaan daan cari tempat tinggal di luar, jangan numpang di rumah orang terus. ."

​Tanpa memberi kesempatan bagi mereka untuk membalas, Nadia membalikkan badan dan melangkah tenang masuk kedalam kamarnya. Di belakangnya, Bu Ratna dan Sarah ternganga menahan wajah yang sudah memerah, tak percaya kalau Nadia bisa seberani itu.

1
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart/
Heni Setiyaningsih
ditambah dong ka up nya
Ariany Sudjana
betul sekali, dasar pelacur murahan kamu Sarah, sudah pengangguran, eh pelacur murahan juga, sama seperti Maya
Ariany Sudjana
hahaha Rian Rian kamu bodoh, mau saja disetir sama Mak Lampir dan juga pelacur murahan kesayangan kamu itu 😂😂🤣🤣
Heni Setiyaningsih
ternyata suami dan mertua bersekongkol mengincar hartanya Nadia ciih menjijikan
Heni Setiyaningsih
gk sabar pengen lihat pembalasan Nadia
falea sezi
🤣🤣 trik laki. yg uda ketauan selingkuh ya begitu
Eys Resa: yah, begitulah🙈🌹
total 1 replies
Mefiani
datang lagi hama...hilang maya datanglah sarah...mungkinkah ini yg akan memicu perginya nadia??ditunggu..
Mefiani: siiip lah...👍
total 2 replies
Mefiani
mungkinkah perubahan itu bisa selamanya ato sesaat??ditunggu kelanjutane
Eys Resa: siap bos
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
kurang Thor besok update nya double ya 😄💪
Eys Resa: hehehe, kalo sempet ya kak. othor lagi ngerjain 4 novel soalnya😁🙈🌹
total 1 replies
Mefiani
pergi sono nadia dan kembalilah kekehidupanmu sebelum kamu menikah...raihlah kebebadanmu..💪
Eys Resa: hooh kk
total 3 replies
falea sezi
mertua kayak lampir lanjut thor laki bego gini di cerai aja🤣
Eys Resa: 🙈🙈🙈🤭🤭
total 1 replies
falea sezi
moga bagus ampe ending q kirim bunga dehh🤭
Eys Resa: makasih kak. semoga ya, lagi mikir alurnya kak, semoga nanti suka😁
total 1 replies
Mefiani
akhirnya buat cerita baru lagi kak resa sayank..q dah meluncur nich..😘💪
Eys Resa: makasih kak Mefi, yang pertama nih. bentar lagi juga ngisi di sebelah kak. 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!