menikahi musuh? itu biasa.
menikahi sahabat masa kecil karena takut sial? itu baru bencana.
Baffin yang dingin dan serba rapi sangat membenci segala bentuk kekacauan. Sialnya, hidupnya selalu diacak-acak oleh Silva, sahabat masa kecilnya yang super ceroboh dan pembawa bencana.
Tepat di hari ulang tahun mereka yang ke-17, keduanya mendapat kejutan tak terduga: mereka dipaksa bertunangan karena sebuah mitos kuno. Konon, karena lahir di hari dan jam yang sama, menolak perjodohan ini akan mendatangkan kutukan kesialan seumur hidup.
Baffin tentu saja menolak mentah-mentah takhayul itu. Namun, Silva yang ketakutan setengah mati justru bertekad melakukan segala cara agar cincin pertunangan itu terpasang di jari Baffin—meski ia harus memecahkan lebih banyak piring dan terjungkir dari kursi demi mengejarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon whimsy quinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gak Usah Tanya kenapa
Melihat Silva yang langsung sibuk memuaskan perutnya, Baffin mengulurkan tangan, mengambil ponsel baru gadis itu dari atas meja.
Mereka berdua mendadak sibuk dengan urusan masing-masing. Silva fokus mengunyah burgernya dengan khidmat, sementara Baffin sibuk mengotak-atik ponsel baru Silva.
"Oh, iya."
Suara berat Baffin memecah keheningan di antara mereka.
Silva mengangkat pandangannya dari burger. "Kenapa?" tanya gadis itu dengan mulut yang masih sedikit penuh.
Baffin tidak membalas. Jemarinya bergerak lincah di atas layar, mengetikkan sebelas digit nomor ponsel miliknya ke daftar kontak Silva.
Tanpa drama dan tanpa nama panggilan aneh-aneh, ia mengetik nama kontak itu dengan singkat, padat, dan jelas: Baffin.
Karena tidak mendapat jawaban, Silva memilih mengabaikan cowok itu dan kembali menggigit burgernya. Baffin menekan tombol panggil ke nomornya sendiri untuk menyimpan nomor Silva, lalu menaruh kembali ponsel mulus itu ke atas meja.
Baffin bersandar pada sandaran kursi, menatap lekat-lekat wajah Silva yang tampak sangat menikmati makanannya. Sadar sedang diperhatikan, Silva mendongak.
Ia menatap Baffin bergantian dengan burger di tangannya."Kamu mau?" tanya Silva polos sambil menyodorkan burgernya ke depan wajah Baffin.
Baffin menatap burger itu datar, lalu beralih ke mata Silva. "Kamu suka banget sama burger, ya?"
Silva mengangguk cepat dengan mata berbinar.
Tercatat. Satu poin tentang Silva masuk ke dalam memori kepala Baffin.
Iseng, Silva menolehkan kepalanya untuk melihat situasi sekitar mall. Namun, sedetik kemudian, sepasang matanya membelalak panik. Wajahnya memucat.
Tanpa aba-aba, Silva langsung merosot dari kursi dan menyembunyikan tubuhnya di bawah meja kayu gerai makanan cepat saji itu.
Baffin mengernyitkan dahi heran. Ia memutar tubuhnya, mencari tahu apa yang sebenarnya membuat gadis ceroboh itu ketakutan setengah mati.
Di kejauhan, tampak dua wanita paruh baya berpenampilan modis sedang berjalan beriringan sambil meninjau deretan toko.
Itu Gilda—bundanya sendiri—dan Airin, bunda Silva.
Baffin kembali memutar tubuhnya menghadap meja setelah kedua ibu-ibu itu berbelok ke arah area pakaian.
"Sudah pergi," ucap Baffin tenang.
Mendengar itu, kepala Silva muncul perlahan dari balik taplak meja. Ia celingukan memastikan keadaan benar-benar aman. sebelum akhirnya kembali duduk di kursinya dengan napas lega yang berembus panjang.
"Takut?" tanya Baffin, menaikkan sebelah alisnya.
Bukannya menjawab, Silva malah melempar pertanyaan balik. "Kamu kalau ketahuan bolos sama Tante Gilda, bakal dimarahin gak?"
Baffin menggelengkan kepala singkat tapi tetap terbaca.
Silva langsung cemberut iri. "Enak banget... Kalau Bundaku mah marah-marah terus. Kupingku sampai mau copot rasanya," curhat Silva berapi-api.
"Denger kok," sahut Baffin pendek.
Silva mengerjap. "Kamu sering denger Bundaku marah-marah?"
Baffin mengangguk santai.
"Nyebelin, kan?" pancing Silva, mencari sekutu untuk menyalahkan ibunya.
Namun, Baffin kembali menggelengkan kepala. "Itu normal."
Silva mendengus sebal karena tidak dibela. Namun, sedetik kemudian matanya kembali membola besar. Otaknya mendadak memutar memori pertemuannya dengan seseorang di tukang bubur ayam tadi pagi.
"Eh, kamu kenal Rey, ya? Dia kenal kamu loh," ujar Silva antusias.
Baffin terdiam sebentar. Kernyitan tipis muncul di dahinya. "Rey siapa?"
"Reykjavik."
Gerakan tangan Baffin yang hendak mengambil minuman terhenti. Ia tampak berpikir sejenak. "Kapten tim bola anak Peseta?"
Silva mengedikkan bahunya acuh tak acuh. "Mungkin. Pokoknya katanya dia main bola kayak kamu."
Oh, batin Baffin. Berarti memang Reykjavik yang itu.
"Kamu kenal dia dari mana?" tanya Baffin. Tatapannya mendadak menajam, menginterogasi.
"Dia temen SMP aku dulu. Sama Gavi juga," jawab Silva tanpa beban.
Oh lagi. Baffin baru tahu kalau Silva kenal Gavi karena mereka satu sekolah waktu SMP. Cowok itu memperbaiki posisi duduknya, lalu menatap Silva dengan tatapan mengintimidasi yang mutlak. "Lain kali, gak usah deket-deket sama cowok lain."
Saat Silva baru saja membuka mulut, hendak melayangkan protes, Baffin langsung memotong dengan cepat bak seorang cenayang. "Gak usah tanya kenapa."
Silva langsung bungkam dengan bibir mengerucut kesal. Ia menatap Baffin dengan mata menyipit, lalu mengangkat jari telunjuknya, menunjuk wajah cowok itu penuh tuduhan. "Kamu cemburu, ya?"
Baffin menggelengkan kepalanya dengan raut wajah sekeras batu. Tentu saja tidak. Mana mungkin seorang Baffin akan mengaku kalau dirinya cemburu? Gengsinya terlalu tinggi untuk hal itu.
"Kamu... pengen batalin tunangan kita gak?" tanya Silva tiba-tiba. Topik pembicaraan berbelok arah dengan ekstrem.
Baffin mengernyit. "Kok tiba-tiba bahas tunangan?"
"Tanya aja. Kamu kan tunangannya terpaksa gara-gara orang tua kita," gumam Silva pelan.
"Terus?"
"Kalau kamu mau batalin... aku setuju-setuju aja kok," lanjut Silva santai.
Mata tajam Baffin sempat membola selama satu detik. Benar-benar hanya satu detik, sebelum ia kembali menguasai diri dan mendatarkan ekspresi wajahnya seperti semula.
Namun, sebelum Baffin sempat mengeluarkan kata-kata untuk membalas, Silva sudah lebih dulu memotong kalimat cowok itu dengan senyum mengejek yang penuh kemenangan.
"Gak usah tanya kenapa!" potong Silva ceria.
Gadis itu terkekeh geli. Ia merasa sangat puas karena berhasil mengembalikan kalimat telak yang diucapkan Baffin kepadanya beberapa menit yang lalu.
Baffin bungkam seketika. Skakmat. Di dalam hatinya, Baffin agak tidak percaya. Ternyata, Silva yang selama ini kelihatan polos, penakut, dan lugu, bisa se-menyebalkan dan se-iseng ini jika sudah berada di atas angin.
"Bukannya kamu percaya banget sama mitos sial itu?" ujar Baffin mengingatkan.
Ia sengaja mengungkit kembali bagaimana kepolosan dan ketakutan Silva saat pertama kali bunda mereka menjodohkan mereka.
Saat, Silva ketakutan setengah mati karena mitos lahir di hari dan jam yang sama adalah tanda jodoh, dan jika mereka menolak disatukan, mereka bisa tertimpa kesialan seumur hidup.
"Awalnya iya," terang Silva tanpa dosa, sambil mengayun-ayunkan kakinya di bawah meja. "Tapi lama-lama, setelah aku pikir-pikir lagi, omongan kamu waktu itu ada benernya. Yang lahir barengan sama kita di dunia ini kan pasti banyak banget, gak cuma kita berdua. Lagian..." Silva menggantung kalimatnya, menatap serius ke wajah Baffin.
"...aku ngerasa setelah tunangan sama kamu, hidupku malah makin sial."
Baffin hampir saja tersedak udaranya sendiri. Gadis di depannya ini mengatakannya dengan wajah super polos tanpa beban, padahal ia baru saja dibelikan ponsel seharga jutaan rupiah oleh cowok yang disebutnya membawa sial itu.
"Aku juga sempat searching-searching di internet kemarin, tapi gak ada satu pun artikel yang bilang kalau mitos itu akurat," lanjut Silva santai, lalu menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap Baffin lekat-lekat. "Jadi... gimana kalau kita jadi temen aja?"
•••
"Makasih. Anggap aja lo gak lihat apa-apa," pamit Kenya singkat sebelum menutup pintu mobil yang dikendarai Archard.
Gadis itu langsung melangkah masuk ke dalam rumah mewahnya yang tampak sepi. Setelah memastikan Kenya aman di dalam, barulah Archard memutar setir, membawa mobil itu kembali menuju sekolah.
Tadi, setelah dari kuburan, Kenya mendadak menolak kembali ke sekolah dan memilih pulang, sementara Archard diminta mengembalikan mobil ini sendirian.
Tapi Archard menawarkan untuk mengantar Kenya.
Begitu tiba di sekolah, waktu ternyata sudah menunjukkan jam pulang. Archard sempat menghampiri ruang guru untuk memberikan alasan palsu—sesuatu yang sebenarnya sangat jarang dilakukan oleh seorang Archard yang kaku dan dingin.
Ia berbohong dengan mengatakan bahwa Kenya tiba-tiba tidak enak badan, itulah mengapa mereka lama di luar dan Kenya tidak bisa kembali ke kelas.
Saat melangkah di koridor, Kaisan langsung menghadangnya. "Mana?" tanya cowok itu sambil menyodorkan telapak tangannya ke depan Archard.
Archard merogoh saku seragamnya, lalu mengeluarkan kunci mobil Kaisan yang tadi ia pinjam. Namun, sebelum Kaisan berbalik pergi, Archard menahan lengan cowok itu. "Tunggu gue."
Kaisan menaikkan sebelah alisnya. "Lo mau numpang?"
"Enggak. Tunggu aja bentar," jawab Archard datar.
Kaisan tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya mengangguk sekilas dan berjalan lebih dulu menuju parkiran.
Sementara itu, Cyriel dan Novel langsung menghampiri meja sang Ketua Kelas. "Lama amat lo, Ar? Lo gak nyasar ke catatan sipil, kan?" cerocos Novel dengan cengiran tanpa dosa, yang tentu saja langsung diabaikan oleh Archard.
"Tapi serius, Ar. Lo lama banget. Terus, lo sempat lihat Baffin sama Silva gak? Mereka bener-benar bolos seharian ini," lanjut Cyriel heboh.
"Gak tahu."
Mendapat balasan dua kata yang teramat singkat itu, Cyriel hanya bisa menghela napas pasrah. Memang berbicara dengan Archard itu tingkat kesulitannya setara dengan mengobrol bersama Baffin. Sama-sama bikin darah tinggi.
"Ya udah lah, yuk pulang. Gue mau bantu nyokap di rumah," ujar Cyriel mengajak Novel keluar dari kelas yang mulai sepi.
Archard kembali fokus membereskan barang-barangnya ke dalam tas. Saat tatapannya tidak sengaja melirik ke meja sebelah—meja milik Kenya—ia terdiam sejenak.
Tanpa pikir panjang, tangan Archard bergerak merapikan buku-buku Kenya yang tertinggal, memasukkannya ke dalam tas ransel gadis itu.
Archard keluar kelas dengan menggendong tasnya sendiri di punggung dan menenteng tas milik Kenya.
Langkah lebarnya membawa Archard menuju mobil Kaisan yang sudah menunggu di area parkir. Tanpa izin, ia langsung membuka pintu penumpang depan dan duduk di sana dengan santai.
Kaisan yang sedang memanaskan mesin langsung melirik ke bangku sebelah dengan mata membelalak. "Tas siapa itu?"
"Kenya. Lo mau nganterin ke rumahnya, kan?" sahut Archard enteng.
"Lah, anaknya kemana?"
Archard tidak langsung menjawab. Ia menatap Kaisan lekat-lekat. "Lo kenal keluarganya, gak?" tanya Archard, mengingat bagaimana temannya yang satu ini langsung mengenali latar belakang Kenya sejak hari pertama mereka masuk sekolah.
Kaisan mendengus. "Kenal. Tapi gue gak mau ya kalau disuruh nganterin tasnya."
"Orang tua kandungnya masih ada?" tanya Archard, mengabaikan penolakan Kaisan.
Pertanyaan itu sukses membuat Kaisan terkejut. Sedetik kemudian, seulas senyum tengil terukir di wajah cowok itu. "Lo mau nikahin dia, tapi takut gak ada walinya, ya?" tuduhnya berapi-api.
Archard tidak membalas. Ia hanya melemparkan tatapan tajam dan dingin, membuat senyum tengil Kaisan perlahan surut. "Ya... terus kenapa tiba-tiba lo nanyain keluarganya? Lo gak beneran jatuh cinta sama macan betina itu, kan?" tanya Kaisan lagi, penasaran.
Archard terdiam sebentar. Macan betina?
Ingatannya mendadak berputar pada kejadian beberapa jam lalu di pemakaman. Sisi rapuh dan kesedihan yang Kenya tunjukkan di sana entah kenapa membuat Archard merasa bahwa gadis itu bukan lagi cewek galak seperti yang dipikirkan orang-orang.
"Gak usah ngada-ada," tegur Archard dingin. "Kalau lo tahu, kasih tahu gue. Kalau enggak, bilang enggak."
Kaisan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, tampak bimbang. "Gimana, ya, Ar... ini kan urusan keluarga orang. Kalau gue sebarin, bisa kena amuk masa gue."
"Menurut lo, kalau cerita ke gue bakal kesebar?" tembak Archard telat.
Kaisan terkekeh kecil. "Lo pengen banget tahu, ya?"
"Gak usah banyak bacot. Lo tahu apa enggak?"
Melihat Archard yang tampaknya sudah kehabisan kesabaran, Kaisan akhirnya menyerah. "Tapi lo janji, ya, jangan sampai Kenya tahu kalau gue yang kasih tahu lo."
Setelah mendapat anggukan malas dari Archard, Kaisan mulai memperbaiki posisi duduknya.