NovelToon NovelToon
Komplotan di Malam Basah

Komplotan di Malam Basah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang
Popularitas:905
Nilai: 5
Nama Author: Arka R.

Larasati dikenal seantero kalangan sosialita sebagai **cewek matre kelas kakap**. Demi bisa naik kelas dan menikahi anak konglomerat, ia rela jadi **simpanan** Galih Prasetyo, taipan muda yang cukup ternama.

Malam itu, di apartemen SCBD yang gelap gulita, Laras menyelinap masuk dan langsung memeluk mesra pria yang ia kira kekasihnya—

*"Sayang… kucing liarmu pulang, nih~"*

Tapi begitu lampu menyala, Galih justru berdiri kaku di ambang pintu. Dan pria yang barusan ia peluk erat-erat, yang lehernya baru saja ia cium… adalah **Narendra Hardjanto**—**saudara angkat Galih sejak kecil**, konglomerat berdarah dingin yang paling muak pada perempuan matre.

Laras baru saja meraba-raba **kakak angkat kekasihnya sendiri.**

Ia pikir insiden memalukan itu akan berlalu begitu saja. Nyatanya, keesokan harinya Naren menyudutkannya:

*"Rayuanmu semalam murahan sekali. Berani-beraninya nempel ke saudaraku. Gimana kalau… kulatih biar becus?"*

Ia menolak. Tapi Naren sudah menggenggam rahasia yang bisa menghancurkan seluruh hidupnya. Dan syaratnya paling keji: **di depan umum, Laras tetap jadi perempuan Galih. Diam-diam, ia milik Naren.**

Sekali, dua kali, tak terhitung lagi—di malam-malam basah yang penuh dosa, mereka berdua jadi **komplotan**: sepasang pengkhianat yang menikung saudara sendiri, dan sama-sama membencinya diri sendiri.

Yang tak Naren tahu: di balik topeng "perempuan matre" itu, **setiap rupiah yang Laras kumpulkan mengalir ke sebuah rumah singgah untuk anak-anak perempuan yang dibuang keluarganya.**

Dan yang tak Laras tahu: pria dingin yang menyanderanya ini ternyata **menyimpan rahasia yang sama persis dengannya.**

Sampai rahasia mereka pecah, persaudaraan hancur, dan seluruh Jakarta menudingnya sebagai **perebut, bekas simpanan sahabat**—di hari Laras akhirnya memutuskan pergi, Naren mencengkeram bahunya, untuk pertama kalinya kehilangan seluruh kendali:

*"Kuberikan seluruh hartaku padamu. Jangan pergi—bisa, nggak?"*

Ternyata, sang penguasa tertinggi… rela menunduk, rela mengkhianati saudaranya sendiri, demi satu perempuan.

——
*Dongeng penyelamatan ala Cinderella dewasa. Yang paling dingin, ternyata yang paling nekat mencintai.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 30

Bayangan di Balik Rangga

“Hubungan dengan keluarga Galih sedang renggang, ya?”

Pertanyaan itu dilontarkan sambil menuang teh, seolah hanya basa-basi. Namun semua orang di ruang pertemuan Grup Wibisana berhenti menggerakkan sendok.

Naren menerima cangkir dari pemegang saham senior. “Urusan pribadi tidak memengaruhi operasional grup.”

“Tentu. Kami cuma khawatir kerja sama lama ikut terganggu.”

“Kontrak tidak punya perasaan.”

Beberapa orang tertawa kaku. Di ujung meja, Rangga tersenyum paling tenang.

“Naren benar,” katanya. “Kita datang untuk bicara bisnis. Masalah keluarga sebaiknya tidak dibawa ke sini.”

Pembelaan yang terlalu cepat membuat Naren menoleh.

Rangga adalah sepupunya yang paling pandai terdengar masuk akal. Ia tidak pernah merebut kursi terang-terangan. Ia hanya muncul ketika kursi itu goyah, menawarkan tangan, lalu memastikan semua orang lupa siapa yang mendorongnya.

Rapat berlanjut membahas laporan logistik. Pada halaman sebelas, Naren menemukan tiga nama baru di bagian pengadaan anak perusahaan.

“Siapa yang menyetujui mutasi ini?”

Direktur anak perusahaan membuka map. “Rekomendasi Mas Rangga. Katanya untuk membantu beban tim pusat.”

Rangga meletakkan cangkir. “Mereka berpengalaman. Saya pikir Naren sedang punya banyak urusan, jadi saya bantu.”

“Kamu pikir atau kamu sudah memutuskan?”

“Komite tetap yang memutuskan.”

“Dengan memo rekomendasimu.”

Rangga tersenyum. “Kalau ada yang tidak sesuai, evaluasi saja. Tidak perlu sensitif.”

Kata sensitif sengaja dipilih. Semua orang di meja tahu beberapa minggu terakhir Naren memukul meja rapat, membatalkan dua makan malam, dan memutus hubungan dengan Galih. Mereka menunggu ia meledak agar Rangga bisa tampak sebagai pilihan yang lebih stabil.

Naren menutup laporan. “Fahmi, catat nama dan rantai persetujuannya. Audit pengadaan tiga bulan ke belakang.”

“Baik, Pak.”

Rangga bersandar. “Audit rutin?”

“Kalau kamu yakin mereka bersih, tidak perlu khawatir.”

Teh di ruangan itu mendadak terasa seperti arena.

Direktur keuangan mencoba mengembalikan pembicaraan ke proyeksi kuartal. Namun Rangga kembali menawarkan diri memimpin komite efisiensi sementara.

“Hanya sampai kondisi Naren lebih tenang,” katanya.

“Kondisi saya tidak masuk agenda,” jawab Naren.

“Pasar membaca reputasi pimpinan. Kita tidak bisa pura-pura skandal tidak punya biaya.”

“Kalau begitu hitung biayanya, jangan menjual ketakutan.”

Naren meminta layar menampilkan arus kas aktual. Ia menunjukkan bahwa keterlambatan dua pembayaran justru berasal dari vendor yang direkomendasikan Rangga, bukan dari kontrak keluarga Galih. Beberapa pemegang saham mulai membalik halaman. Senyum Rangga tetap ada, tetapi jarinya berhenti mengetuk cangkir.

“Saya tidak menolak bantuan,” kata Naren. “Saya menolak bantuan yang diam-diam mengambil akses.”

Kalimat itu ia tujukan kepada Rangga, tetapi terdengar juga seperti dakwaan terhadap dirinya sendiri. Ia teringat buku harian Laras di brankas dan audio yang belum dihapus dari ponsel. Batas yang ia tuntut dari keluarga adalah batas yang terus dilanggarnya dalam kehidupan perempuan itu.

“Audit selesai dalam tujuh hari,” putusnya. “Sampai saat itu, otorisasi pengadaan kembali ke dua tanda tangan.”

Tak ada yang membantah karena mekanisme tersebut tercantum dalam aturan internal. Rangga tidak diberi kesempatan menjadi korban pribadi. Ia hanya dipaksa mengikuti prosedur.

Setelah pembahasan selesai, seorang paman jauh menahan Naren di dekat pintu.

“Eyang Soemarno dengar soal Galih,” katanya pelan. “Keluarga tidak suka nama Hardjanto dibicarakan karena perempuan.”

“Kalau begitu suruh keluarga berhenti membicarakannya.”

“Kamu sudah besar. Harus tahu mana hubungan yang pantas dipertahankan.”

Naren memandangnya tanpa senyum. “Saya tahu.”

Ia tidak menjelaskan hubungan mana yang dimaksud.

Di luar ruang rapat, Fahmi menyerahkan tablet berisi susunan pegawai.

“Tiga orang itu pernah bekerja di perusahaan vendor milik teman Rangga.”

“Akses mereka?”

“Satu ke daftar harga, satu ke data vendor, satu ke persetujuan pembayaran tahap awal.”

“Tiga titik arus kas.”

“Ya.”

“Jangan pecat dulu. Batasi otorisasi dan lihat siapa yang mereka hubungi.”

Fahmi mencatat. “Mas Galih membatalkan dua kontrak sosial dengan grup. Dampaknya kecil, tapi kabarnya ia bicara dengan beberapa pemegang saham.”

“Biarkan.”

“Tentang Mbak Laras?”

Naren berhenti berjalan. “Pastikan namanya tidak muncul di laporan perusahaan.”

“Baik.”

“Dan jangan ikuti dia lagi.”

Fahmi menatap atasannya.

“Tidak ada rekaman, tidak ada laporan lokasi,” lanjut Naren. “Kalau ada ancaman nyata, beri tahu. Selain itu berhenti.”

“Saya mengerti.”

Perintah tersebut datang setelah Laras menyuruhnya keluar. Terlambat, tetapi setidaknya jelas.

Naren membuka ponsel. Ruang percakapan dengan Laras tidak berubah sejak malam pertengkaran. Ia mengetik permintaan maaf, menghapusnya, lalu memasukkan ponsel ke saku.

“Pak,” panggil Fahmi. “Teh sore masih ada di paviliun luar. Beberapa pemegang saham belum pulang.”

“Kamu duluan.”

Naren berjalan melewati lorong panjang. Dari balik tanaman tinggi di paviliun, terdengar suara Rangga.

“Saya tidak minta kamu melupakan pengkhianatan itu.”

Suara lain menjawab, “Saya juga tidak datang untuk nasihat.”

Galih.

Naren berhenti di balik bayangan pilar.

Rangga dan Galih berdiri berdampingan. Cangkir teh Rangga diberikan kepada Galih, lalu keduanya menyentuhkan tepian cangkir seperti orang membuat kesepakatan tanpa dokumen.

“Naren selalu merasa semua orang akan memaafkan karena dia punya kuasa,” kata Galih.

“Kuasa cuma bertahan selama orang percaya dia pantas memegangnya,” jawab Rangga.

“Apa yang kamu butuhkan dari saya?”

“Belum sekarang. Saya cuma ingin kita tidak saling menutup pintu.”

Galih menatap teh di tangannya. “Saya tahu banyak tentang dia.”

“Saya yakin.”

Rangga merendahkan suara. “Saya tidak peduli siapa perempuan itu. Yang saya pedulikan adalah Naren mulai mengambil keputusan dengan emosi.”

“Laras bukan sekadar emosi baginya.”

“Lebih bagus. Berarti tekanannya lebih efektif.”

Galih menoleh tajam. “Jangan sentuh dia.”

“Kamu masih melindunginya?”

“Saya bilang saya tahu banyak tentang Naren. Jangan ubah pembicaraan.”

Naren menangkap keraguan itu. Galih membencinya, tetapi kemarahan kepada Laras belum sepenuhnya menghapus sisa kepedulian. Rangga akan mencoba memanfaatkan keduanya. Celah tersebut berbahaya, namun juga dapat menjadi titik pecah persekutuan mereka nanti.

“Ada rapat keluarga bulan depan,” kata Rangga. “Saya cuma butuh beberapa pertanyaan yang membuat para tetua ragu. Tidak perlu bukti besar.”

“Dan setelah itu?”

“Setelah itu kita lihat siapa yang masih berdiri di sampingnya.”

Naren bisa keluar dan memaksa mereka mengaku. Ia memilih diam. Rangga baru menanam orang di arus kas. Galih baru menawarkan pengetahuan pribadi. Mereka belum melakukan pelanggaran yang dapat dibuktikan.

Ia memotret bayangan keduanya melalui pantulan jendela, lalu mengirimkannya kepada Fahmi dengan satu pesan: simpan, jangan bertindak.

Di paviliun, Rangga dan Galih berjalan menuju pintu samping tanpa menyadari keberadaannya.

Naren berdiri di koridor yang gelap, menggenggam cangkir teh sampai buku-buku jarinya memutih, dan membiarkan dua orang itu pergi sambil membawa awal sebuah persekutuan yang suatu hari akan menagih harga.

Harganya mungkin adalah Laras sendiri.

1
𝐀⃝🥀Weny
niat hati ingin bermesraan sama pacar.. eee.. ternyata salah orang, gara² lampu gak di nyalain/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!