NovelToon NovelToon
BERMAIN API DENGAN SUAMI IBU

BERMAIN API DENGAN SUAMI IBU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Clarissa kehilangan segalanya setelah bisnis ayahnya hancur dan sang ayah meninggal dalam kesengsaraan. Saat hidupnya kembali berubah karena pernikahan rahasia ibunya dengan seorang pengusaha kaya, Clarissa menemukan kenyataan yang jauh lebih pahit.

Pria itu ternyata menyimpan rahasia tentang kehancuran keluarganya.

Clarissa berniat mendekatinya demi membalas dendam. Namun, permainan yang awalnya hanya penuh kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.

Jika dendam membawanya ke dalam pelukan pria yang sama sekali tak boleh ia cintai… apakah Clarissa mampu berhenti sebelum semuanya terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai Baru dari Seberang Laut dan Takhta yang Bergoyang

Kemenangan mutlak di ruang rapat lantai 48 Perkasa Tower seharusnya menandai puncak dari segalanya. Selama dua minggu pertama sejak aku resmi menjabat sebagai Executive Chairperson, seluruh panggung bisnis ibu kota bergerak di bawah kendaliku. Nama Siska telah sepenuhnya lenyap dari surat kabar, tenggelam dalam kehampaan hidup barunya yang sunyi di Jakarta Selatan. Sementara itu, setiap keputusanku di meja direksi disambut anggukan patuh dari para komisaris yang tak berani menantang otoritas Raymond.

Namun, di dunia di mana kekuasaan dibangun dari puing-puing dendam, ketenangan hanyalah jeda sebelum badai yang lebih besar meletus.

Malam itu, jam dinding di penthouse menunjukkan pukul sebelas malam. Aku sedang berdiri di depan meja kaca ruang tengah, memeriksa draf akhir akuisisi tambang emas baru di Halmahera. Raymond baru saja selesai membalas beberapa email bisnis di laptopnya. Pria 35 tahun itu berjalan mendekatiku dari belakang, melepas kancing teratas kemeja putihnya dan melingkarkan lengan tegapnya di pinggangku, menyapukan bibirnya yang hangat di perpotongan leherku.

"Kamu masih bekerja, my queen?" bisik Raymond parau, aroma kayu cendana dan wiski tipis menguar hangat menenangkan syarafku.

Aku bersandar pada dada bidangnya, jemariku mengusap cincin berlian canary yellow di jari manisku. "Seseorang harus memastikan kekaisaran ini tetap kokoh, Raymond."

Raymond menyunggingkan senyuman tipis di leherku, hendak menarik tubuhku berbalik menghadapnya ketika suara dengung keras dari ponsel privat milik Raymond memecah keheningan ruangan.

Getaran itu berbeda. Ponsel yang berdering bukanlah ponsel dinas Perkasa Group, melainkan perangkat khusus berkode enkripsi tinggi yang sangat jarang berbunyi.

Raymond mematikan gerakannya. Pria itu melepaskan pelukannya perlahan, mengambil ponsel itu dari meja, dan menatap layarnya. Manik mata hazel-nya yang biasa tenang mendadak menyempit pekat. Rahang tegasnya mengeras seketika.

Ia menggeser layar dan menempelkannya di telinga tanpa mengeluarkannya suara sepatah kata pun.

"Bicara," perintah Raymond dingin.

Aku memperhatikan perubahan atmosfer di dalam ruangan yang mendadak membeku. Dari seberang telepon, suara seorang pria bersuara berat dengan aksen Inggris kental terdengar samar-samar namun penuh penekanan ancaman.

"Raymond. Lama tidak terdengar. Aku melihat berita bahwa kamu baru saja membagikan tahta Perkasa Group pada seorang gadis muda yang cantik..." suara di seberang sana terkekeh dingin. "Tapi kamu lupa satu hal... dokumen akuisisi 'Project Serpent' yang kamu gunakan lima tahun lalu tidak pernah sah tanpa tanda tangan dari pendiri asli konsorsium Singapura. Dan tebak siapa yang baru saja membeli saham pengendali konsorsium itu?"

Raymond tak menjawab, namun genggaman jemarinya pada ponsel itu begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Sampai jumpa di Jakarta besok sore, Raymond. Katakan pada gadis itu... maraknya dendam yang dia bawa belum ada apa-apanya dibanding badai yang akan kuruntuhkan pada kalian berdua."

Bip.

Panggilan terputus sepihak.

Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti penthouse. Aku melangkah mendekati Raymond, menatap lurus ke dalam iris matanya yang kini memancarkan pendar bahaya liar yang belum pernah kulihat sebelumnya bahkan saat pers menyerangnya minggu lalu.

"Siapa dia, Raymond?" tanyaku tegas namun halus, menempelkan telapak tanganku di dada bidangnya yang berdetak cepat. "Siapa orang yang ada di telepon itu?"

Raymond menurunkan ponselnya, menatapku dengan intensitas yang teramat pekat. Ia merengkuh bagian belakang leherku, menarikku mendekat hingga dahi kami saling bersentuhan.

"Julian Vance," jawab Raymond rendah, suaraku parau bergetar di udara malam. "Mantan mitra bisnis ayahmu di Singapura... dan pria yang selama ini mengincar seluruh aset Project Serpent."

Dahiku berkerut rapat. "Kenapa dia baru muncul sekarang?"

"Karena selama ini aku menyembunyikanmu di balik keberadaan ibumu," aku Raymond dingin, jemarinya mengusap pipiku dengan sentuhan posesif yang begitu tajam. "Julian tidak pernah tahu bahwa ayahmu meninggalkan dokumen kunci Project Serpent atas namamu. Begitu aku menyerahkan tahta dan kalung The Tear of Serpent padamu di depan media... dia tahu kamu adalah pemegang kunci sebenarnya."

Aku tersentak pelan. Jadi, takhta dan pendar kalung tiga puluh miliar yang kupakai di depan kamera malam itu tidak hanya menghancurkan Ibu, tetapi juga menyalakan sinyal marurat bagi musuh terbesar masa lalu Ayah.

Namun bukannya rasa takut yang merayap, sebuah senyuman dingin yang sarat menantang justru terukir di sudut bibirku. Aku meremas kerah kemeja hitam Raymond, menarik wajahnya lebih dekat ke wajahku.

"Kalau begitu, biarkan dia datang," bisikku berani, manik mataku memancarkan kilat kejayaan yang tak tergoyahkan. "Kita sudah menghancurkan Ibu dan menguasai Perkasa Group bersama. Pria Singapura itu hanya akan menjadi korban berikutnya di papan catur kita."

Raymond menatapku beberapa detik, lalu tawa rendah yang dingin dan sangat dominan meluncur dari tenggorokannya. Pria itu menundukkan kepalanya, mengunci bibirku dalam ciuman yang keras, pekat, dan sarat akan janji perlindungan mutlak.

Di luar dinding kaca penthouse, kilat petir menyambar di atas langit malam Jakarta. Badai baru telah resmi bertolak dari seberang laut, namun di dalam pelukan sang taipan, aku tahu bahwa kami tak akan pernah menyerahkan mahkota ini pada siapa pun.

1
Nda
ditunggu double upnya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!