Berawal dari ketidaksengajaan darahnya mengenai gagang pintu berukir naga di tumpukan rongsokan, Raka Mahesa mendadak memiliki akses gerbang penembus dua dunia. Berbekal barang murah modern yang menjadi pusaka di dunia kuno dan herbal purba yang bernilai miliaran di Jakarta, pemulung melarat ini mulai membangun kerajaan bisnisnya untuk merajai kedua dunia tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Ia harus membuat seluruh penduduk desa ini menjadi pelayan setia Karta dengan cara ancaman dan hadiah.
"Dengar baik-baik kalian semua manusia fana!" teriak Raka menggelegar ke seluruh penjuru alun-alun.
Semua warga desa termasuk Boris langsung menundukkan kepala mereka semakin dalam tidak berani menatap Raka.
"Mulai hari ini, Karta adalah utusan suciku di bumi dan wilayah desa ini berada di bawah perlindunganku!"
"Siapapun yang berani menyentuh sehelai rambut Karta atau putrinya, aku akan menurunkan badai api dari langit untuk meratakan tempat ini!"
"Kami mengerti Dewa Agung! Kami bersumpah akan melindungi Karta dengan nyawa kami!" sahut seluruh warga desa serentak dengan suara bergetar.
Raka tersenyum tipis dalam hati melihat betapa mudahnya mengendalikan massa yang tertinggal peradaban ini.
Ia berjalan menuju karung goni besar yang tergeletak di dekat kaki Kepala Desa Boris.
Raka membuka ikatan karungnya dan memeriksa isinya yang ternyata penuh sesak dengan ginseng liar.
Aroma tanah vulkanik tua dan bentuk akar yang menyerupai manusia keriput membuat Raka nyaris bersorak kegirangan.
"Kualitasnya benar-benar gila, seratus batang ini ukurannya lebih besar dari yang pertama kali gue jual," batin Raka menelan ludah.
Raka mengikat kembali karung itu lalu memanggil sistem penyimpanannya.
"Simpan karung ini ke dalam sistem."
Wush.
Karung goni besar berisi seratus ginseng pusaka itu lenyap seketika dari pandangan semua orang.
Penduduk desa kembali menahan napas kagum melihat sihir ruang yang ditunjukkan Raka secara langsung.
[Barang berhasil dimasukkan. Kapasitas Terisi: 0.8 Meter Kubik]
"Kerja bagus Karta, kau benar-benar menepati janjimu mengumpulkan semua barang ini tepat waktu," puji Raka menatap Karta yang dipapah oleh Lin.
"Itu sudah menjadi kewajiban hamba, Tuan Dewa," jawab Karta meski suaranya sangat lirih.
Raka mengingat janjinya untuk memberikan garam penyedap pada Karta sebagai bayaran.
Ia merogoh kembali sistemnya dan mengeluarkan sepuluh bungkus micin plastik bergambar sendok.
Wush.
Sepuluh bungkusan plastik merah itu jatuh ke tanah tepat di depan wajah Kepala Desa Boris yang masih berlutut.
"Aku bukanlah dewa pelit yang hanya bisa menghukum umatnya tanpa memberi hadiah."
Raka menunjuk bungkusan micin tersebut dengan dagunya.
"Itu adalah Kristal Gurih dari alam langit. Kalau kalian mencampurkan sejumput bubuk itu ke dalam sup air mendidih, rasanya akan selezat daging panggang perjamuan raja."
Boris mengangkat wajahnya dengan mata berbinar lebar melihat bungkusan mengkilap yang terlihat sangat mewah itu.
"Tuan Dewa memberikan pusaka makanan ini untuk kami para penduduk desa rendahan?" tanya Boris tidak percaya.
"Ambil itu dan bagikan sedikit-sedikit pada seluruh warga desamu malam ini sebagai perayaan keselamatan desa."
Boris dan seluruh warga langsung bersujud berkali-kali mencium debu sambil meneriakkan puji-pujian panjang umur untuk Raka.
Mereka sangat gembira karena ancaman hukuman mati tadi berubah menjadi hadiah pusaka dari dewa.
Raka berjongkok di dekat Karta dan menepuk bahu pria tua itu dengan lembut.
"Karta, mulai besok kau tidak perlu mencari ginseng lagi ke dalam hutan sendirian."
Raka menatap Kepala Desa Boris yang sedang memeluk bungkusan micin itu dengan rakus.
"Kau suruh kepala desa bodoh itu untuk mengerahkan seluruh warganya mencari ginseng untukmu."
"Katakan pada mereka kalau ginseng itu untuk persembahanku, dan aku akan memberikan lebih banyak kristal rasa sebagai imbalannya."
Mata Karta terbelalak sadar akan rencana besar yang sedang disusun oleh dewa muda di depannya ini.
Dengan dukungan ketakutan dari warga desa dan iming-iming bumbu dapur enak, Karta akan menjadi penguasa absolut di desa tersebut.
"Hamba mengerti Tuan Dewa, hamba akan mengatur seluruh warga desa untuk bekerja mengumpulkan ginseng untuk Anda," janji Karta tegas.
"Bagus. Bawa ayahmu pulang ke gubuk kalian Lin, dia butuh banyak istirahat dan air bersih," perintah Raka pada gadis di sebelahnya.
"Baik Tuan Dewa Raka, hamba tidak akan melupakan jasa Anda seumur hidup hamba," isak Lin tersenyum tulus.
Raka berdiri dan merapikan pakaiannya lalu mengambil empat buah pisau lipat yang masih menancap di tanah.
Satu pisau lipat sisanya ia biarkan tertancap di tengah alun-alun tersebut.
"Biarkan pisau suci itu tertancap di sana sebagai pengingat bahwa mata dan telingaku selalu mengawasi desa ini."
Tidak ada satupun warga desa yang berani protes, mereka bahkan berencana membuat pagar pelindung di sekitar pisau tersebut.
Raka berbalik memunggungi alun-alun lalu melangkah pelan menuju pinggiran desa.
Setelah sampai di balik pepohonan hutan yang sepi, ia mengeluarkan gagang pintu naganya.
"Buka gerbang dunia."
Sring.
Celah cahaya vertikal terbuka membelah pepohonan dan Raka melangkah masuk kembali ke dalam gudang modernnya di Jakarta.
Wush.
Raka mendarat di lantai beton gudangnya dan celah cahaya itu tertutup rapat di belakangnya.
Ia menghela nafas sangat panjang membuang semua ketegangan dari drama sok berkuasa yang baru saja ia perankan.
"Hah, capek juga akting jadi dewa marah-marah begitu."
Raka merebahkan tubuhnya di atas lantai beton gudang sambil menatap atap seng yang tinggi.
Tapi senyum lebar perlahan mengembang di bibirnya hingga memperlihatkan giginya.
"Tapi seratus batang ginseng berkualitas super ini akhirnya ada di tangan gue!"
Raka tertawa keras menggema di dalam gudang kosong tersebut.
Besok pagi ia akan menemui Sasa di kantor Grup Farmasi Bintang dan melihat wajah syok wanita arogan itu.
Ia tidak sabar untuk menagih janji pembayaran yang mungkin jumlahnya akan memecahkan rekor transaksi seumur hidupnya.
"Gue harus mulai nyari cara aman buat nyimpen uang triliunan, rekening bank biasa bisa-bisa diblokir pusat kalau tiba-tiba terima uang sebanyak itu," pikir Raka mulai merencanakan langkah selanjutnya.
Ia bangkit berdiri lalu berjalan keluar dari gudang rahasianya menuju jalan raya untuk mencari taksi kembali ke apartemen.
Malam ini ia akan tidur nyenyak memeluk mimpi indahnya sebagai calon triliuner termuda di ibu kota.