Bagi Kirana, Kenan Alister adalah definisi iblis berkulit manusia. Sebagai Ketua OSIS SMA Garuda yang dingin, disiplin, dan tak berhati, Kenan selalu punya seribu cara untuk menghukum Kirana, bahkan hanya gara-gara masalah sepele seperti tali tas yang terseret di luar gerbang. Kirana bersumpah membenci cowok es itu seumur hidupnya.
Namun, dunia Kirana mendadak runtuh saat sebuah jamuan makan malam keluarga membongkar rahasia besar, rencana perjodohan dari amanah almarhum kakek mereka. Dalam hitungan hari, status Kirana berubah dari murid biasa menjadi istri siri rahasia dari Ketua OSIS paling ditakuti di sekolahnya.
Kini, kehidupan baru mereka dimulai di bawah satu atap dengan empat aturan ketat.
Akankah pernikahan rahasia ini bertahan di tengah intrik sekolah, tatapan curiga para sahabat, dan benih-benih perasaan yang pelan-pelan mulai tumbuh di balik benteng gengsi masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DM🌚, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 16
Pagi harinya, suasana di SMA Garuda diselimuti oleh kabut tipis dan udara dingin sisa hujan semalam. Di koridor gedung utama, para murid kelas XII berkerumun di depan papan pengumuman. “Program Mentoring & Orientasi Perguruan Tinggi Luar Negeri” telah tertempel rapi, menandai dimulainya kegiatan akademis di semester baru ini.
Di dalam ruang rapat OSIS yang hening, suasana justru terasa sangat kaku. Pak Suryo berdiri di depan papan tulis bersama seorang pemuda berjas kasual yang amat dikenal oleh Kenan.
"Anak-anak pengurus OSIS," kata Pak Suryo menginstruksikan dengan suara seraknya yang khas. "Memasuki semester baru dan persiapan pembekalan studi lanjut, sekolah kita resmi bekerja sama dengan alumni serta mitra yayasan luar negeri. Ini Nak Gabriel Wijaya. Beliau adalah alumni sekolah internasional di Jerman yang saat ini sedang menempuh pendidikan tinggi secara remote sekaligus ditunjuk oleh yayasan sebagai mentor koordinator program Education Exchange di SMA Garuda selama tiga bulan ke depan."
Seluruh anggota OSIS bertepuk tangan memberikan sambutan hangat, kecuali Kenan yang duduk di kursi utama ujung meja. Jarinya mencengkeram pena berbalut logam hitam dengan erat. Matanya menatap Gabriel dengan ketenangan yang sangat dingin dan tak tersentuh.
Gabriel tersenyum ramah pada jajaran pengurus OSIS, lalu membungkukkan badannya sedikit. "Selamat pagi semuanya. Saya berharap bisa membantu kalian, khususnya kelas XII, untuk persiapan masuk kampus impian dan program beasiswa luar negeri. Mohon kerjasamanya."
"Baik, untuk teknisnya nanti bisa langsung dikoordinasikan dengan Ketua OSIS kita, Kenan Alister," tambah Pak Suryo seraya menepuk bahu Kenan pelan. "Bapak serahkan ke kalian berdua. Bapak ada rapat dinas di luar."
Begitu Pak Suryo melangkah keluar dan sesi pengenalan selesai, para anggota OSIS membubarkan diri satu per satu untuk kembali ke kelas masing-masing. Ruangan yang luas itu perlahan sepi, hingga hanya menyisakan Kenan dan Gabriel di dalamnya.
Gabriel tidak langsung pergi. Langkah kakinya bergerak mendekati meja utama Ketua OSIS. Dengan gerakan tenang namun tegas, Gabriel merogoh saku jas kasualnya, memotong jarak di antara mereka, lalu meletakkan sebuah benda kecil tepat di atas lembaran berkas rapat Kenan.
Brak.
Suara tumpukan kertas pelan itu bergema di dalam ruangan yang sunyi. Kenan menunduk melihat benda tersebut sebuah jam tangan wanita berdesain cincin rahasia yang terbuka, menampilkan foto kecil pernikahan rahasianya bersama Kirana. Foto di mana Kenan dan Kirana saling merangkul mesra dalam balutan pakaian pengantin sederhana.
Kenan tidak menunjukkan reaksi panik sedikit pun. Manik matanya yang hitam legam perlahan bergerak naik, menatap Gabriel yang kini berdiri tepat di depan mejanya.
"Gue udah tahu semuanya, Kenan," ujar Gabriel, suaranya rendah dan dipenuhi kekecewaan yang mendalam.
"Kirana baru 17 tahun, dia masih SMA, dan lo berdua udah menikah. Kenapa lo harus mengikat Kirana secepat ini?"
Kenan mendongak penuh. Ia meraih jam tangan cincin milik istrinya itu, menutup katupnya perlahan, lalu menyimpannya dengan rapi di dalam saku almamater OSIS yang membalut tubuhnya.
"Pernikahan ini adalah amanah dua keluarga besar yang sah secara hukum dan agama," jawab Kenan tegas, suaranya tenang tanpa keraguan sedikitpun. "Dan sebagai mentor pembimbing sekolah yang baru ditunjuk, posisi lo di sini adalah profesional untuk urusan pendidikan murid, bukan untuk mencampuri urusan rumah tangga orang lain."
Gabriel menghembuskan napas berat, menyandarkan kedua tangannya di tepi meja kerja Kenan, mencondongkan tubuhnya ke depan. "Gue gak akan ngebocorin ini ke publik atau sekolah, Kenan. Gue sayang sama Kirana, dan gue gak mau masa depan atau karier sekolah dia hancur gara-gara skandal. Tapi ingat... gue ada di sini buat memastikan Kirana bahagia. Kalau suatu saat pernikahan ini cuma bikin dia tertekan dan tersiksa, gue yang bakal bawa dia keluar dari kehidupan lo."
Kenan berdiri dari kursinya, menegakkan tubuhnya hingga tingginya menyamai Gabriel. Dua cowok berpostur tegap itu saling bertatapan dari jarak sangat dekat."Lo gak perlu cemas," balas Kenan dengan ketenangan yang mematikan. "Kirana bahagia sama gue, dan gue gak akan pernah melepaskan istri gue untuk siapapun. Termasuk lo."
Gabriel menatap Kenan lurus-lurus selama beberapa detik, lalu mengulas senyum tipis yang penuh arti. "Kita lihat saja nanti."
Gabriel membalikkan badan dan melangkah keluar dari ruang OSIS, meninggalkan Kenan yang berdiri mematung di dekat mejanya. Kenan meremas jam tangan cincin di sakunya, memejamkan mata sejenak untuk menguasai emosi cemburu yang membakar dadanya.
Saat jam istirahat pertama berbunyi, Kirana berjalan menyusuri lorong kelas XII IPA 2 bersama Maya. Suasana koridor ramai oleh obrolan mengenai sosok mentor baru yang berparas tampan dan berpendidikan luar negeri.
"Gila ya, Kir! Gue gak nyangka Kak Gabriel yang tampan itu ternyata mentor program pertukaran pelajar kita!" cerocos Maya heboh sambil memeluk buku catatan Kimia-nya. "Lo hoki banget sih pernah jadi teman masa kecilnya! Bisa minta privilege bimbingan beasiswa tuh!"
Kirana hanya mengulas senyum canggung. "Biasa aja kali, May. Lagian Kak Gabriel di sini kan profesional buat semua murid kelas XII."
"Tapi tetap aja beda, Kir! Tadi pas gue lewat depan lobi, dia malah nyapa lo duluan loh!" goda Maya menyenggol siku Kirana.
Saat mereka berbelok di persimpangan lorong dekat kantin, langkah Kirana terhenti. Gabriel sedang berdiri di sana bersama beberapa guru pembina, memegang papan jalan berisikan jadwal bimbingan. Begitu melihat Kirana, Gabriel langsung menyunggingkan senyum hangatnya dan melambaikan tangan.
"Kirana, nanti sore ada waktu? Ada materi pembekalan awal buat kelas IPA yang mau di arsip," panggil Gabriel ramah.
Sebelum Kirana sempat menjawab, sebuah langkah kaki yang mantap terdengar dari arah belakang. Kenan muncul dengan jas OSIS-nya, berjalan berdampingan dengan Pak Bambang.
"Maaf," sela Kenan dengan nada formal di depan guru-guru lain. "Untuk arsip pembekalan IPA sore ini sudah ditangani oleh pengurus OSIS divisi kurikulum. Kirana sudah ada jadwal piket perpustakaan dan bimbingan evaluasi dengan saya."
Gabriel menoleh ke arah Kenan, alisnya terangkat tipis. "Oh begitu. Tapi bukannya jadwal bimbingan evaluasi OSIS baru dimulai minggu depan, Kenan?"
"Penyesuaian jadwal terbaru," jawab Kenan datar tanpa kedipan. "Sebagai Ketua OSIS, saya yang memegang kendali atas alokasi waktu murid yang bertugas."
Pak Bambang yang berada di antara mereka mengangguk setuju. "Benar kata Kenan. Lagian Kirana kan harus merapikan buku materi ujian dulu di perpustakaan. Biar urusan arsip diurus anak OSIS yang lain saja."
Gabriel tersenyum tipis pada Pak Bambang, lalu menatap Kirana.
"Oke kalau gitu. Nanti kita ngobrol lagi ya, Ran."
Kirana mengangguk pelan, menyenggol lengan Maya agar cepat berlalu dari aura canggung antara Kenan dan Gabriel. Saat berjalan melewati Kenan, mata Kirana sempat melirik suaminya itu. Kenan memberikan tatapan tajam dan dingin sinyal peringatan agar Kirana tidak macam-macam di sekolah.
Sore harinya, perpustakaan SMA Garuda tampak sepi dan tenang. Sinar matahari senja menerobos masuk lewat celah jendela kaca besar, menyoroti deretan rak buku kayu yang tinggi.
Kirana sedang berdiri di tangga kayu kecil, menata tumpukan buku modul Kimia di rak bagian atas. Udara di dalam perpustakaan terasa hangat dan hening, hanya diwarnai suara gesekan kertas dan detik jarum jam dinding.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar mendekati rak tempat Kirana berdiri. Kirana mengira itu adalah petugas perpustakaan.
"Pak, ini modul bab lima udah saya rapi—"
Kalimat Kirana terhenti saat ia menoleh ke bawah. Bukan petugas perpustakaan yang berdiri di sana, melainkan Kenan. Cowok itu telah melepas jas OSIS-nya, hanya mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung rapi hingga siku dan dasi yang sedikit dilonggarkan.
"Kenan?" bisik Kirana kaget, melirik ke arah pintu depan perpustakaan. "Lo ngapain ke sini? Nanti kalau ada yang lihat gimana?"
Kenan tidak menjawab. Ia melangkah mendekati tangga kayu tempat Kirana berdiri, memegang dua sisi pegangan tangga tersebut hingga membatasi ruang gerak Kirana. Kenan mendongak, menatap istrinya dengan raut wajah yang tampak lelah namun sangat serius.
"Jam tangan cincin lo ketinggalan di tas oleh-oleh kemarin," kata Kenan pelan, merogoh sakunya dan menyodorkan benda tersebut ke tangan Kirana.
Kirana membelalakkan mata kaget, menyambar jam tangan itu dengan cepat. "Astaga! Jadi jam ini ada di lo?! Pantesan tadi pagi gue cari-cari di meja rias gak ada!"
"Bukan di gue," potong Kenan, suaranya bernada rendah dan dingin. "Gabriel yang nemuin di dalam tas oleh-oleh itu, dan dia ngasih jam itu ke gue tadi pagi di ruang OSIS."
DEG!
Jantung Kirana terasa berhenti berdetak seketika. Seluruh darah di wajahnya terasa menyusut.
"K-Kak Gabriel... udah lihat foto di dalamnya?" tanya Kirana terbata-bata dengan nafas tercekat.
Kenan mengangguk pelan. "Dia udah lihat foto pernikahan kita. Dia tahu status kita berdua sekarang."
Kirana menyandarkan punggungnya ke rak buku dengan lemas, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Ya Tuhan... Kenan, maafin gue... gue gak sengaja drop jam itu pas ngerapihin oleh-oleh dari Ibu kemarin..."
Melihat Kirana yang tampak begitu cemas dan panik, pertahanan ketus Kenan seketika runtuh. Rasa kesal yang ditahannya sejak pagi berganti menjadi rasa iba.
Kenan menaiki satu anak tangga kayu, membuat posisinya kini sejajar dengan Kirana. Tanpa ragu, Kenan melepaskan tangan Kirana dari wajahnya, lalu membawa cewek itu ke dalam pelukannya yang hangat di balik deretan rak buku yang sepi.
Kenan menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Kirana, menghirup aroma wangi shampo stroberi yang selalu membuatnya tenang.
"Kenan..." bisik Kirana kaget dengan tindakan mendadak suaminya di dalam perpustakaan sekolah. "Nanti ada orang..."
"Gak ada orang. Pintu depan udah gue kunci dari dalam," gumam Kenan pelan, tangannya melingkar protektif di pinggang Kirana.
Kirana merenungi kata-kata Kenan, merasakan detak jantung cowok itu yang berdegup kencang di dadanya. Kirana perlahan membalas pelukan Kenan, melingkarkan tangannya di bahu tegap sang Ketua OSIS.
"Dia ngancam lo ya?" tanya Kirana lirih di samping telinga Kenan.
"Dia gak ngancam bakal ngebocorin ke sekolah," balas Kenan, suaranya teredam di kain seragam Kirana. "Tapi dia bilang... kalau gue gak bisa bikin lo bahagia, dia bakal merebut lo dari gue."
Kirana tertegun mendengar ucapan jujur Kenan. Ia bisa merasakan betapa berisiko nya posisi Kenan sebagai Ketua OSIS sekaligus suami rahasia yang harus menanggung beban menjaga kerahasiaan mereka sendirian dari ancaman pihak luar.
Kirana melepaskan pelukannya sedikit, menangkup kedua pipi Kenan dengan tangan kecilnya, memaksa cowok berwajah dingin itu menatap matanya lurus-lurus.
"Dengerin gue, Kenan Alister," tegas Kirana dengan suara penuh keyakinan. "Gue gak peduli mau Kak Gabriel tahu, mau seluruh dunia tahu... gue bahagia sama lo. Mau lo galak di sekolah, mau lo suka ngasih hukuman sepele, lo tetap suami yang paling jagain gue. Jangan pernah merasa lo gak cukup buat gue."
Kenan menatap manik mata Kirana yang bening dan jujur. Rasa cemas dan cemburu yang menggerogoti pikirannya seharian ini perlahan mereda.
Dengan sangat lembut, Kenan mendaratkan kecupan hangat di dahi Kirana, berpindah ke celah pipinya, lalu menatap bibir cewek itu dari jarak yang sangat dekat.
"Janji sama gue," bisik Kenan mesra, suara baritonnya bergetar pelan. "Jangan pernah jalan atau bimbingan berdua aja sama Gabriel tanpa sepengetahuan gue."
Kirana tersenyum tipis, merona merah di bawah tatapan intens Kenan. "Iya, Pak Ketos. Janji."
....
Malam harinya di rumah minimalis dua lantai mereka, suasana berlangsung jauh lebih santai.
Hujan gerimis kembali menetes di luar rumah. Kirana duduk di atas sofa ruang tengah dengan memakai celana piyama longgar dan kaos kebesaran milik Kenan. Di depannya, Kenan yang mengenakan celana kain dan kaos santai hitam sedang duduk di lantai beralaskan karpet, mengeringkan rambut Kirana yang setengah basah menggunakan hairdryer.
Suara deru halus hairdryer memenuhi ruangan yang hangat itu. Jemari Kenan yang panjang dan luwes menyisip lembut di antara helai-helai rambut Kirana, memastikan setiap bagian kering dengan sempurna.
"Pelan-pelan, Kenan, agak panas tuh di sebelah kanan," tegur Kirana sambil mengusap telinganya.
Kenan langsung mengarahkan angin hairdryer ke posisi lain dan menurunkan tingkat suhunya. "Sakit gak?"
"Gak, udah pas," jawab Kirana tersenyum.
Momen sederhana ini selalu menjadi favorit Kirana. Di luar sekolah, Kenan yang kaku dan penuh dengan aturan formal mendadak berubah menjadi sosok suami yang sangat perhatian, telaten, dan memanjakannya dengan cara-cara kecil yang tak terduga.
Setelah selesai mengeringkan rambut Kirana, Kenan mematikan alat tersebut dan meletakkannya di atas meja. Ia berdiri lalu duduk di sebelah Kirana di atas sofa, menyandarkan punggungnya yang lelah.
Kirana menggeser duduknya, lalu dengan alami menyandarkan kepalanya di bahu kanan Kenan. Kenan mengalungkan tangan kirinya mengelilingi bahu Kirana, menarik tubuh cewek itu semakin dekat dalam dekapannya.
"Mulai besok jadwal bimbingan Education Exchange mulai jalan," ujar Kenan memecah keheningan rumah. "Gabriel bakal sering ada di ruang guru dan laboratorium komputer."
"Iya, gue tahu," sahut Kirana sambil memain-mainkan jari jemari Kenan yang ada di bahunya. "Tapi lo tenang aja, Maya pasti nemenin gue terus kok. Lagian gue emang gak berniat mengambil program beasiswa ke luar negeri.
Kenan menoleh sedikit, menatap samping wajah Kirana. "Kenapa? Bukannya waktu lo pernah bilang mau coba beasiswa ke Australia?"
Kirana mendongak, menatap Kenan dengan cengiran polosnya. "Kan suami gue mau kuliah di ITB. Ngapain gue jauh-jauh ke Australia? Mending gue kuliah di Bandung aja biar bisa terus ngerecokin lo di rumah."
Kenan terkekeh pelan, sebuah tawa renyah yang amat langka yang selalu mampu membuat jantung Kirana meletup-letup senang. Kenan mengacak gemas rambut Kirana yang baru dikeringkan nya.
"Dasar pemalas," ejek Kenan lembut. "Tapi awas aja kalau nilai ujian masuk universitas lo jelek. Gue yang bakal jadi tutor pribadi lo tiap malam sampai lulus."
"Aduh! Jangan galak-galak lagi napa, Pak Ketos!" keluh Kirana tertawa sambil mencubit pelan pinggang Kenan.
Namun di tengah kehangatan rumah tangga rahasia mereka malam itu, di sebuah apartemen mewah tak jauh dari pusat kota, Gabriel duduk di depan laptopnya yang menyala.
Di layar monitornya, terbuka berkas digital mengenai skema pertukaran pelajar dan jadwal kegiatan luar sekolah SMA Garuda untuk bulan depan. Jarinya mengetuk-ngetuk meja kayu dengan teratur.
Gabriel memandangi foto kecil Kirana dan Kenan di samping laptopnya, lalu menyunggingkan senyum misterius.
"Pernikahan di usia SMA..." gumam Gabriel pelan pada dirinya sendiri. "Kalian bisa bersembunyi di dalam rumah, tapi diluar sana, ujian yang sesungguhnya baru saja dimulai."
Apakah Gabriel benar-benar akan menerima status pernikahan ini begitu saja, ataukah ia sedang menyiapkan rencana lain di balik jabatannya sebagai mentor sekolah. Entahlah tidak ada yang tau apa yang sebenarnya yang sedang dipikirkan nya.
Bersambung…