Bercerita tentang mahasiswa IT yang membuat AI secara mandiri di dalam sebuah Android kentangnya, dan merubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Jejak-Jejak Komponen Rahasia
Mobil sedan hitam milik Dimas berhenti perlahan di tepi jalan dekat sebuah depo logistik independen di kawasan industri barat kota. Udara siang terasa cukup menyengat, namun di dalam kabin mobil yang berpendingin, suasana terasa fokus. Bayu menduduki kursi penumpang depan sambil memeriksa daftar inventaris di layar ponsel Android murahnya.
"Ini lokasi pengambilan paket yang kedelapan kan, Bay?" tanya Dimas seraya mematikan mesin mobil dan menoleh ke arah Bayu.
Bayu mengangguk, membetulkan letak kacamata tebalnya. "Iya, Dim. Di depo ini kita mengambil lembaran serat karbon nanotube yang disamarkan sebagai filter cairan laboratorium."
"Konfirmasi alamat valid, Bayu," suara Jarvis terdengar jernih melalui earphone di telinga kiri Bayu dan pengeras suara internal mobil. "Penyedia jasa logistik ini tidak menyimpan catatan riwayat transaksi lebih dari dua puluh empat jam. Risiko pelacakan berada pada tingkat nol koma nol dua persen."
Dimas tertawa pelan sambil menggelengkan kepala. "Cara lu sama Jarvis memecah pesanan ini bener-bener gila, Bay. Bayangin, sebelas komponen dibeli dari sebelas toko beda, pakai delapan nama penerima rekaan, dan diambil di depo logistik yang tersebar di seluruh sudut kota."
"Harus ekstra berhati-hati, Dim," sahut Bayu tenang seraya membuka pintu mobil. "Jika ada satu pihak penyedia yang menyadari bahwa seseorang sedang mengumpulkan paduan titanium kelas penerbangan, serat karbon nanotube, dan kristal pemroses frekuensi mikro secara bersamaan, mereka bisa melaporkannya ke otoritas keamanan."
"Gue ikut masuk ke dalam, Bay. Lu butuh tangan ekstra buat bawa kotak-kotaknya," ajak Dimas seraya keluar dari mobil.
Keduanya melangkah masuk ke dalam kantor depo logistik yang beraroma kardus baru dan mesin cetak. Setelah Bayu menunjukkan kode resi pengambilan anonim yang telah disiapkan Jarvis, petugas depo menyerahkan sebuah kotak kayu berukuran sedang yang tersegel rapat.
Kembali ke dalam mobil, Dimas meletakkan kotak tersebut di kursi belakang bersama tujuh kotak lainnya yang sudah mereka kumpulkan sejak pagi.
"Coba periksa isinya pakai sensor kamera HP lu, Bay," desak Dimas antusias.
Bayu mengarahkan kamera ponselnya ke celah segel kotak kayu tersebut. Pendar cahaya biru tipis dari layar ponsel berkedip dua kali.
"Pemindaian struktur materi selesai," Jarvis menyampaikan laporan analisis secara cepat. "Serat karbon nanotube tingkat kemurnian sembilan puluh sembilan koma delapan persen terverifikasi. Tidak ada cacat mikro pada kerapatan molekulnya."
"Sempurna," bisik Bayu lega.
Dimas menyandarkan badannya ke kemudi, menatap Bayu penuh rasa penasaran. "Bay, jujur ya, berapa total uang yang udah kita keluarkan dari kemarin buat delapan paket ini?"
"Sekitar sebelas juta dua ratus ribu rupiah, Dim," jawab Bayu mendetail. "Semuanya ditutup dari keuntungan otomatis perdagangan saham skala mikro yang dijalankan Jarvis dua hari terakhir."
"Izin memberikan pembaruan saldo," sela Jarvis tiba-tiba. "Selama tiga jam Anda bergerak mengumpulkan paket pagi ini, algoritma perdagangan frekuensi tinggi saya telah mengeksekusi sembilan transaksi saham kecil. Keuntungan bersih tambahan yang masuk ke rekening utama Anda adalah sebesar empat juta seratus ribu rupiah."
Dimas melotot, menepuk kemudi mobilnya gemas. "Lu denger itu, Bay?! Kita lagi jalan-jalan ngambil paket saja, Jarvis masih sempat-sempatnya mencetak uang empat juta rupiah! Gue bener-bener berasa jalan sama bank berjalan."
Bayu tersenyum tipis. "Keuangan kita harus tetap stabil, Dim. Kita masih butuh dana cadangan untuk menyewa lab sepupumu dan membeli bahan bakar instrumen pencetak tiga dimensi."
"Soal bengkel lab sepupu gue, semuanya sudah beres, Bay," ujar Dimas seraya menyalakan kembali mesin mobilnya. "Gue udah pegang kunci aksesnya. Sepupu gue lagi ada proyek di luar kota sampai minggu depan, jadi kita punya akses seratus persen tanpa ada gangguan siapa pun."
"Bagus sekali. Sekarang kita tinggal ambil tiga paket terakhir," kata Bayu. "Jarvis, di mana lokasi depo berikutnya?"
"Depo kesembilan berada di kawasan pergudangan pelabuhan, dua kilometer dari posisi kita saat ini," instruksi Jarvis presisi. "Paket tersebut berisi kasing paduan titanium khusus dan modul mikrosirkuit emas."
"Ayo luncur ke sana!" seru Dimas antusias seraya menginjak pedal gas.
Satu jam kemudian, matahari mulai bergerak ke barat saat mobil Dimas memasuki area kompleks bengkel riset kecil di kawasan pinggiran kota. Bengkel itu tampak tenang, dikelilingi pagar besi tinggi dengan suasana lingkungan yang sepi dari lalu lalang warga.
Dimas membuka selot pagar dan memasukkan mobilnya ke dalam garasi bengkel yang luas. Di dalam ruangan bernuansa industrial tersebut, terdapat sebuah meja kerja berbahan baja tahan karat yang lebar serta mesin pencetak 3D presisi tinggi tingkat industri yang berdiri megah di sudut ruangan.
Dengan cekatan, Bayu dan Dimas memindahkan seluruh sebelas kotak komponen dari dalam mobil dan menatanya dengan rapi di atas meja kerja baja.
"Akhirnya... lengkap juga sebelas komponen langkanya," puji Dimas seraya mengusap peluh di dahinya.
Bayu membuka satu per satu segel kotak tersebut dengan pisau pemotong. Di atas meja, kini terhampar berbagai komponen berteknologi tinggi: batangan paduan titanium berkilau, botol-botol berisi cairan sel nano-cell terkompresi, lempengan kristal silikon pemroses frekuensi mikro, hingga pelat sirkuit emas berukuran mikron.
Dimas membungkuk, meneliti salah satu lempengan kristal kecil dengan mata terpaku. "Kecil-kecil begini harganya mahal banget ya, Bay. Tapi kalau dilihat-lihat... gimana caranya semua benda ini bisa menyatu jadi sebuah jam tangan yang canggih?"
Bayu menghubungkan ponsel Android-nya ke modul kontrol mesin pencetak 3D menggunakan kabel data berkecepatan tinggi.
"Jarvis yang akan mengendalikan seluruh kalkulasi peleburan dan pencetakannya, Dim," terang Bayu seraya menatap layar ponselnya. "Mesin pencetak tiga dimensi ini akan menyusun ulang struktur molekul bahan mentah ini berdasarkan perintah mikron dari Jarvis."
Layar ponsel Bayu memancarkan grafik hijau yang terhubung langsung dengan panel digital mesin pencetak 3D di meja.
"Seluruh, sebelas komponen material telah teridentifikasi dan terverifikasi seratus persen lengkap," Jarvis mengonfirmasi status seluruh bahan di meja. "Sistem siap untuk memasuki fase ekstraksi dan pencetakan tingkat mikron."
Dimas menepuk bahu Bayu dengan raut wajah bangga yang luar biasa. "Bay... kita beneran berhasil mengumpulkan semua komponen langka ini tanpa ada satu orang pun yang tahu atau curiga. Langkah pertama lu buat bikin zirah nano-cell ini bener-bener sempurna."
Bayu menatap deretan komponen berharga di atas meja kerja yang dingin itu. Rasa lelah akibat mengelilingi kota seharian menguap seketika, berganti dengan kepuasan dan rasa percaya diri yang membuncah di dalam dadanya.
"Terima kasih banyak atas bantuanmu seharian ini, Dim," ucap Bayu tulus, membetulkan letak kacamata tebalnya. "Tanpa kamu, aku tidak akan bisa membawa semua komponen ini ke sini dengan aman."
"Sama-sama, Bay. Kita ini tim," balas Dimas mantap sambil menyilangkan tangan di dada.
Bayu mengalihkan pandangannya ke layar ponsel. "Jarvis, kunci ruang kerja dan mulai siapkan kalibrasi awal mesin pencetak."
"Kalibrasi sistem pencetak tiga dimensi dimulai," jawab Jarvis dengan nada mantap. "Semua persiapan komponen telah selesai."
Di dalam bengkel riset yang sunyi dan tertutup rapat itu, seluruh komponen langka yang terkumpul rapi siap untuk dilebur dan dirakit, menandai keberhasilan penuh dari tahap pengumpulan rahasia yang telah direncanakan dengan sangat matang.