Ia dijodohkan dengan anak orang kaya di kampungnya. Pria lumpuh dengan latar belakang yang tak enak di dengar. Anak tunggal dari orang terkaya di kampung itu. Cap play boy yang suka mempermainkan wanita melekat sangat kuat di nama si cowok.
Namun, Aulia tetap menerima pernikahan itu karena hutang ayahnya yang besar. Iya. Singkatnya, pernikahan itu karena hutang keluarga yang besar, yang tidak bisa ayahnya kembalikan.
Namun, siapa sangka kalau hidup akan berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Green_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode *32
"Kak Zery dan Kak Zaki sangat bahagia ya, Tan. Padahal, mereka menikah karena dijodohkan. Tapi, kebahagiaan begitu berpihak pada mereka karena Kak Zaki yang sangat mencintai Kak Zery dengan sepenuh hati."
"Iya, Li. Tante juga gak nyangka kalo pernikahan kakakmu itu sangat bahagia seperti sekarang. Ketika menikahkan mereka, Tante hanya bisa berdoa dengan penuh harap, kalau pernikahan keduanya diberi kebahagiaan. Dan, alhamdulillah. Mereka benar-benar bahagia."
Ucapan itu membuat air mata Aulia langsung jatuh. Kebahagiaan si Tante membuat ia tidak kuat menahan rasa sedih. Karena itu, air matanya jatuh begitu saja meskipun sudah dia tahan dengan sekuat tenaga.
"Aulia kenapa nangis, Nak? Apa yang membuat kamu merasa sedih barusan? Apa ada yang salah dengan kata-kata Tante," ucap si Tante dengan nada panik sambil berusaha menghapus air mata Aulia.
Sadar akan apa yang sedang terjadi dengan dirinya, Aulia pun langsung menghapus air mata. Tak lupa, ia juga berusaha keras untuk mengukir senyum agar si Tante tidak begitu cemas padanya.
"He ... Aulia gak papa kok, Tante. Hanya terlalu bahagia mendengar kebahagiaan Kak Zery aja. Karena itu, air mata ini jatuh begitu saja."
Ucapan itu membuat si Tante langsung memberikan tatapan lekat ke arah Aulia. Dia tahu, ada hal yang tidak beres dengan keponakannya saat ini. Jiwa keibuannya bisa merasakan hal tersebut dengan jelas.
"Jangan bohong, Nak. Tante kenal kamu sejak kamu masih kecil lagi. Ditambah, kamu sudah hidup bersama dengan Tante sejak beberapa tahun yang lalu. Karena itu, Tante bisa merasakan ada yang buruk yang telah kamu alami."
"Katakan pada Tante! Apa yang telah terjadi? Apa suamimu telah membuat kamu kecewa, Aulia?"
"Tunggu! Jangan bilang kalau kamu sudah diusir oleh suamimu dari rumahnya. Kalau benar begitu, siap-siap saja besok. Tante akan datang untuk menemui dia. Tante akan berikan dia pelajaran karena telah berani menyia-nyiakan keponakan cantik Tante ini."
Semangat yang membara itu membuat Aulia merasa kuat untuk menghadapi kenyataan dan bertarung di dalamnya. Karena itu, dia merasa sedikit tentram saat ini. Tepatnya, ketika berada di dekat Tante yang begitu peduli akan kehidupannya.
"Nggak kok, Tante. Aku gak diusir dari rumah suamiku. Tapi, aku sendiri yang pergi dari sana. Karena aku sudah merasa gak nyaman untuk bertahan. Karena itu, aku memilih untuk pergi untuk sementara waktu."
"Sementara waktu? Jadi, sepertinya kamu berniat untuk kembali nanti. Iya, begitu?"
"Mm ... entahlah, Tan. Kembali itu masih dalam pertimbangan yang panjang."
"Aulia, bukan Tante ingin ikut campur dalam urusan rumah tanggamu, Nak. Tapi, dia itu suamimu. Memang salah jika kamu pergi karena istri tidak boleh pergi meninggalkan suami tanpa izin dari suami itu sendiri. Tapi, Tante akan mendukung setiap keputusan yang kamu buat. Jika sudah merasa tidak nyaman, kenapa harus bertahan. Namun, usahakan bicara baik-baik nantinya ya, Nak. Pikirkan yang harus kamu lakukan selanjutnya. Mau dibawa ke mana hubungan rumah tangga itu. Tetap berjalan, atau berhenti di tengah jalan."
Aulia terdiam. Ucapan si Tante berusaha ia cerna dengan baik. Tapi rasa sakit yang ada dalam hatinya masih sangat kuat. Tidak bisa menemukan cara yang baik untuk menyelesaikan masalah yang sedang ia alami selain pergi dari sisi suaminya.
Sementara itu, di sisi lain, Zihan sedang berdiam diri di taman bunga yang selalu Aulia rawat dengan baik. Hatinya sangat sedih, karena itu dia ada di taman ini. Meskipun sebenarnya, dia tidak diperbolehkan keluar malam karena kondisi kesehatannya yang tidak baik-baik saja.
"Ya Tuhan, Den Zihan. Ayo masuk, Den! Jangan terus berdiam diri di sini. Udara malam semakin dingin. Kesehatan Den Zihan tidak baik. Karena itu, ayo masuk sekarang! Jangan menyiksa diri seperti ini." Mang Mamat berusaha membujuk Zihan.
"Biarkan saja aku sakit, Mang. Karena seperti yang telah aku katakan sebelumnya, sakit di tubuhku tidak akan terasa sedikitpun. Karena sakit hatiku, sangat luar biasa rasanya."
"Den, jangan menyiksa diri sendiri. Jika Den Zihan sakit, bagaimana bisa Den Zihan mencari Non Aulia? Den Zihan harus tetap sembuh agar bisa membujuk Non Aulia untuk kembali ke sisi Den Zihan."
"Tidak. Aulia gak akan kembali meskipun aku membujuk ia dengan cara apapun. Aku yakin itu, Mang. Karena Aulia sudah sangat sakit hati padaku. Karena itu, biarkan aku sakit. Dengan begitu, aku harap Aulia akan tergerak untuk kembali padaku."
"Pikiran gila apa ini, Den? Jangan menyiksa diri sendiri hanya untuk diberi belas kasihan. Sebaliknya, berusahalah yang keras untuk membuat Non Aulia percaya pada Den Zihan. Dengan begitu, Mbok yakin kalau Den Zihan pasti bisa mengembalikan Non Aulia ke sisi Den Zihan." Mbok Yah berucap dengan nada agak tinggi.
Dia sungguh sangat sedih saat melihat Zihan yang sekarang. Ini jauh lebih buruk dari Zihan pasca kecelakaan beberapa tahun yang lalu. Karena Zihan yang ini, jauh lebih menderita ketimbang Zihan yang tahu bahwa dia tidak lagi bisa berjalan dengan kakinya.
....
Hari-hari berlalu dengan lambat dan berat bagi Zihan. Semangat untuk hidup telah musnah. Yang ia lakukan hanya mengurung diri di dalam kamar bersama foto Aulia. Disuruh makan dia sangat sulit. Apalagi diberi obat, dia sama sekali tidak ingin meminumnya.
Zihan yang hidup karena bantuan obat pun langsung terlihat memperihatinkan meskipun baru beberapa hari berlalu. Hal itu membuat Mbok Yah dan Mang Mamat cemas bukan kepalang.
Ditambah kena angin malam yang sudah sering Zihan nikmati beberapa malam terakhir. Kondisi kesehatan Zihan sudah mulai terlihat cukup buruk. Bahkan, sakit pada kaki dan tulang belakangnya pun sudah mulai terasa.
"Bagaimana ini, Buk? Si Den Zihan tidak mau minum obat sedikitpun. Dia tidak ingin mendengarkan apa yang kita katakan satu kali pun, Buk. Bapak sangat cemas sekarang." Mang Mamat bicara dengan nada sedih sambil melihat Zihan dari celah kecil pintu kamar yang sedikit terbuka.
"Ibuk juga sangat khawatir, Pak. Kita tidak bisa tinggal diam begitu saja. Kita harus berusaha keras untuk membuat Den Zihan punya semangat untuk hidup lagi."
"Caranya gimana, Buk? Tidak ada cara lain selain memanggil Non Aulia untuk datang ke sini lagi. Tapi, cara itu tidak mungkin kita tempuh. Karena Non Aulia juga tidak akan mendengarkan apa yang kita katakan. Mereka berdua sama, Buk. Sama-sama keras kepala. Bagaimana cara kita menolong Den Zihan kalau begini, ha?"
"Iya, Ibuk tahu. Ini tidak mudah untuk kita lakukan. Tapi, tidak ada yang tidak mungkin, bukan? Hati Non Aulia mungkin bisa luluh jika dia tahu Den Zihan sudah tidak baik-baik saja. Karena cinta pasti akan membawa Non Aulia kembali."
"Caranya gimana, Buk? Non Aulia tidak bisa kita hubungi. Bagaimana dia bisa tahu kalau Den Zihan sedang tidak baik-baik saja?"