NovelToon NovelToon
Si Detektif Gila

Si Detektif Gila

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Sistem
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: zhar

Dulu, dia adalah preman yang hidup dari kekerasan dan ditakuti banyak orang. Namanya dikenal di jalanan, tangannya penuh darah, dan masa depannya seolah tidak akan pernah berubah.
Sampai sebuah kejadian memberinya kesempatan kedua.
Terbangun dengan kehidupan baru, dia justru memilih jalan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya menjadi seorang polisi.
Namun, kebiasaan lamanya belum hilang. Cara berpikirnya terlalu liar, instingnya terlalu tajam, dan metode penyelidikannya sering kali membuat rekan-rekannya geleng-geleng kepala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

“Jangan bercanda deh!” Setelah sempat tertegun kaget, Revan kembali tenang dan menatap Hana. “Kamu nggak bisa sembarangan bohong ke polisi! Kompetisi piano terbesar untuk siswa SMA di Kota Jakarta, edisi kesepuluh? Kamu serius atau lagi bercanda sih?”

“Kenapa emangnya?” Hana tampak bingung. “Itu satu-satunya hal yang paling aku banggakan seumur hidupku. Mana mungkin aku salah? Itu beneran tahun kesepuluh!”

“Boleh aku tanya dulu, tempatnya di mana?” Revan sama sekali belum percaya.

“Hmmm…” Hana berpikir sebentar lalu langsung menjawab yakin, “SMA Negeri 2! Iya! Di SMA Negeri 2!”

“Oalah…” Revan terkejut tapi tetap tidak percaya. Lalu ia berkata, “Kompetisi Piano Grand kesepuluh itu terjadi delapan belas tahun yang lalu. Pesertanya semua siswa kelas dua belas, umurnya sekitar delapan belas sampai sembilan belas tahun. Sekarang kamu umur berapa? Tiga puluh enam? Tiga puluh tujuh?”

“Yah...” Hana mengerutkan kening. “Aku jadi bingung nih, kamu lagi memuji aku atau malah ngejek ya?” Hana mendorong pelan bahu Revan lalu merogoh dompet dan mengeluarkan KTP-nya.

Revan melihatnya dan terbelalak. Wanita di depannya ini...ternyata sepuluh tahun lebih tua dari dirinya. Umurnya sudah tiga puluh tujuh!

“Wah…” Revan nggak percaya. “Kamu,” ia menatap Hana takjub, “benar-benar pandai merawat diri ya! Aku pikir kamu masih muda banget!”

“Hehehe...” Hana tentu saja senang mendengar pujian itu, tapi lalu ia menyindir, “Kalau kamu suka yang muda-muda, aku bisa kenalin nih. Teman sekamarku, Naya, baru umur dua puluh tahun. Kamu tertarik?”

“Enggak, enggak, bukan itu maksudku!” Saat itu Revan sama sekali nggak bermaksud bercanda. Pikirannya langsung kembali ke Kasus Tangan yang Hilang. Sekali lagi, ia merasa semua ini bukan kebetulan! Wanita yang pernah ikut Kompetisi Piano Grand kesepuluh ini pasti punya informasi berharga!

“Hei! Selain memuji aku, nggak ada yang mau kamu tanyain lain?” Hana mengulurkan tangannya yang jenius dan menggoda Revan lagi, “Kamu nggak mau nyobain aku dulu, Pak Polisi ganteng?”

Biasanya Revan pasti sudah...tapi sekarang pikirannya penuh hal lain. Ia mengambil ponsel Hana dan bertanya dengan serius, “Coba jawab cepat, kamu kenal Gita, Larasati, sama Meylina/Lia?”

Hana bingung mendengar nama-nama itu dan menggeleng.

“Mereka bertiga juga ikut kompetisi yang sama kayak kamu. Peringkat mereka lumayan atas, urutan keempat, kelima, sama keenam. Itu nggak ada yang terlintas di pikiranmu?” tanya Revan berharap.

“Jadi mereka finalis ya!” seru Hana. “Berarti jelas aku nggak kenal dong! Aku nggak seberuntung itu, bahkan nggak masuk dua puluh besar! Aku cuma ingat pemenangnya itu cowok ganteng. Katanya dia diterima di sekolah musik di Jakarta Pusat!”

“Ooh...” Revan terdiam. Setelah berpikir sejenak, ia bertanya lagi, “Terus kamu ingat orang lain nggak? Peserta lain, atau juri, atau guru pendamping?”

“Heh?” Hana mulai nggak sabar. Wajahnya berubah tegas. “Pak Polisi Revan, sebenernya ke sini mau menyelidiki apa sih? Kenapa tanya hal-hal yang nggak nyambung ini? Kamu main piano juga? Jangan-jangan aku harus bayar kamu tiga juta rupiah ya?”

“Hmmm…” Revan berpikir dalam hati: Kalau mau dia mau jujur, aku harus main peran nih. Lalu ia menatap Hana dengan serius, “Heh!” lalu memberi isyarat diam-diam, seolah ada rahasia besar. “Ingat ya, jangan pernah cerita ke siapa pun soal yang aku tanyain tadi. Paham? Nanti kamu bisa dipanggil ke pengadilan lho!”

Hana jadi bingung dan sedikit takut. “Kenapa sih? Aku nggak kenal orang-orang yang kamu sebutin. Itu termasuk kejahatan ya?”

“Hah!” Revan mengembalikan ponsel iPhone 15s milik Hana. “Kamu denger soal Kasus Tangan yang Hilang nggak?”

“Ah?” Hana kaget lalu mengangguk cepat. Kasus itu memang sempat heboh setahun lalu, dan sekarang muncul lagi, bikin media ramai membahasnya. Tapi polisi menyembunyikan nama asli korban, jadi Hana nggak tahu siapa saja mereka. “Maksudmu...kasus itu ada hubungannya sama piano? Ya ampun..” Hana mulai tertarik sekaligus takut.

Melihat itu berhasil, Revan menambah keyakinannya. “Kamu harus hati-hati. Dari data yang ada, semua korban yang tangannya dipotong itu dulunya peserta Kompetisi Piano Grand kesepuluh. Mereka semua berhenti main piano, dan semuanya perempuan!”

“Ah?” Hana ketakutan dan langsung memegang lengan Revan erat-erat. “Kenapa aku sial banget ya? Tadi ada yang nyetrum aku, sekarang pelaku pemotong tangan juga bisa-bisa mengincar aku. Apa aku terlalu mempesona ya?”

Revan mau tertawa tapi ditahannya. “Tapi sejauh ini korbannya para finalis. Jadi kemungkinan besar belum giliran kamu dulu kok!”

“Syukurlah kalau begitu!” Hana bernapas lega meski masih cemas. “Pak Revan, tolong cepat tangkap pelakunya ya! Memotong tangan orang tanpa alasan itu lebih buruk dari...” Hana berhenti, rasanya kata-katanya terlalu berat untuk diucapkan.

“Aku sedang menyelidikinya sekarang! Kalau kamu ingat apa saja soal kompetisi itu, cerita semuanya ke aku, secepatnya!” kata Revan. “Itu satu-satunya cara buat menyelesaikan kasus ini!”

Setelah ditakuti begitu, Hana nggak berani main-main lagi. “Pak Revan! Soal nama-nama itu aku beneran nggak ingat sama sekali! Kompetisinya itu tegang banget, dan aku masih remaja waktu itu. Mana bisa aku ingat semuanya?” Hana menepuk pelan keningnya, berusaha keras mengingat. “Berkas kompetisinya juga sudah lama hilang. Aku udah lebih dari sepuluh tahun nggak sentuh piano! Aku...”

Melihat wajah Hana yang tampak lelah berpikir, Revan merasa kecewa. Tapi wajar saja, itu sudah lama sekali, banyak hal yang pasti sudah hilang dan terlupakan.

“Nggak apa-apa, tenang aja,” hiburnya. “Kalau nanti tiba-tiba ingat sesuatu, kabari aku ya!” Melihat wajah Hana yang cantik, Revan sempat tergoda untuk menggoda lagi, tapi...

Hana sama sekali nggak merespons. Ia sedang berusaha sekuat tenaga mengingat kembali kejadian dulu. Saat Revan hendak beranjak, Hana tiba-tiba mengerutkan kening dan bertanya, “Pak Revan, semua hal yang berhubungan sama kompetisi itu penting ya?”

“Tentu saja! Kunci untuk memecahkan kasus biasanya ada di detail yang sepele!” kata Revan dengan percaya diri. “Kenapa, kamu tiba-tiba sakit perut pas hari-H?”

“Bukan begitu...” Hana tidak tertawa. Ia terlihat serius, berpikir dalam-dalam. Setelah beberapa saat, ia berkata ragu-ragu, “Pak Revan...sepertinya aku ingat sedikit...waktu itu di kompetisi, ada sesuatu yang aneh...”

1
This Is Me
Ambisi menghancurkan masa depan orang lain 😤😤
This Is Me
Ini apa maksudnya?🤔
This Is Me
Wow!! Ada yang tiba² tajir nih
Hartono
Alurnya konyol tapi menghibur kayak baca cerita buatan anak ad 🤭
gendhis jawi
jgn2 pelaku potong tangan si jeni
This Is Me
Ihhhh....kenapa berhenti disiniii??
This Is Me
Makin menegangkan
MW
ini mau sampai kapan dah muter muter mulu
This Is Me
Kayanya Revan dalam bahaya deh😱😱
This Is Me
Wah...ada apalagi nih?😱
This Is Me
Jangan²....😱😱😱
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!