Update santai sesuai mood Othor 😋
Di rumah dia hanyalah ibu rumah tangga biasa, wanita lembut yang sayang anak dan cekatan mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
Namun, bagaimana bila ternyata dia menyimpan rahasia yang tak biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#30
#30
“Huaaa! Mama! Kemana Mamatu tenapa da puyang-puyang?! Huaaaa!” jerit Zea dalam tangisnya, gadis kecil itu sudah terbiasa tanpa Zion, tapi Lizie nyaris 24 jam membersamainya, jadi wajar rasanya bila sekarang ia tantrum, karena sudah lewat seminggu ia tak berjumpa dengan mamanya.
Mommy Dhera mengusap kepala dan menepuk pelan punggung Zea, “Urusan Mama belum selesai, Sayang.”
“Uyusan apa? Onty Moyen biyang mamana cakit, tenapa da ada yang yihat mama di yumah cakit? Tenapa?!”
Duh, kehabisan kata rasanya, anak sekecil Zea perasaannya pasti lebih sensitif jika dibandingkan orang-orang dewasa di sekitarnya.
Tak ada yang bisa Mommy Dhera lakukan selain diam dan menenangkan cucunya. Karena apapun yang dikatakannya tak mampu menghentikan tangisan Zea.
Semua menatap tajam ke arah Molen, tapi juga tak menyalahkan, karena Molen tak bermaksud jahat, justru bermaksud memberikan semangat. Gadis remaja itu kini sedang menyembunyikan wajahnya di balik punggung Zain. “Tolong, Bang, suwer, deh, aku gak ada maksud membocorkan rahasia.”
“Iya, aku tahu, mungkin karena Zea sedang sensitif aja. Jadi kalimat apapun yang berkaitan dengan mamanya, pasti akan langsung menarik perhatiannya. Lain kali jangan diulang lagi, ya?” bisik Zain kalem. Molen mengangguk lega, setidaknya ada yang melindunginya.
Onty Naya juga ikut membujuk, bahkan menawarkan puding yang biasanya menjadi makanan favorit Zea. Tapi tetap tidak mampu membuat Zea menghentikan tangis.
Sementara itu para tetua masih sibuk membujuk Zea yang kini tak bisa lagi dicegah keinginannya untuk bertemu kedua orang tuanya. Gadis kecil itu menangis hingga tertidur setelahnya.
“Jadi bagaimana? Kita tak bisa terus merahasiakan perihal kondisi Lizie pada Zea.” Papi Daniel sedang mode bijaksana.
“Zion bilang, Lizie belum sadar selepas keluar dari ruang operasi. Haruskah kita memaksakan diri menyusul ke sana?” gumam Daddy Danesh.
Berbagai macam pertimbangan mereka bicarakan, tapi semua tak semudah yang mereka duga, karena keselamatan Zea pum dipertaruhkan bila mereka nekat menyusul ke Moskow Rusia.
“Sebaiknya kita tetap menunggu, semoga Lizie segera pulih dan bisa kembali ke Indonesia secepatnya.”
•••
Kembali ke rumah sakit tempat Lizie menjalani perawatan.
Zion masih setia disisinya, pria itu bahkan belum bisa memejamkan mata, kendati Lizie saat ini sudah tidak berada di ruang ICU, melainkan di ruang rawat biasa. Tapi tetap, Zion menginginkan fasilitas perawatan terbaik untuk belahan jiwanya.
Dokter mengatakan, kondisi Lizie sudah tidak kritis, namun, tubuhnya perlu bekerja ekstra keras melakukan proses penyembuhan. Mungkin itulah sebabnya, kedua mata Lizie masih terpejam, itu semua adalah bentuk dari respon pertahanan dirinya.
Malam itu, Zion sedang mengusap pelipis dan leher Lizie yang berkeringat, padahal AC di kamar tersebut sedang menyala. Tapi tak apa-apa, ini bisa menjadi aktivitas tambahan untuk Zion agar tidak duduk diam terus menerus.
“Sudah beberapa jam berlalu, sejak kamu keluar dari ruang operasi. Tapi, kenapa kamu belum membuka mata, Sayang?”
Zion berpaling sejenak, membuang tisu ke tempat sampah, lalu mengganti dengan tisue basah baru, untuk mengusap kedua telapak tangan Lizie yang tidak kotor.
“Tapi nggak papa, kamu harus banyak istirahat agar lekas pulih. Kamu boleh bangun kapanpun kamu menginginkannya, dan hingga saat itu tiba, aku akan disini, menjaga dan menanimu, memastikan kamu selamat.”
Walau berjuta kali menghibur diri, tapi Zion tak kuasa menahan air mata yang terus menetes, gambaran dari hatinya yang galau merana.
Setelah selesai, Zion kembali duduk di kursinya, mengusap tangan halus yang ternyata pernah melewati begitu banyak pertarungan sengit, dengan senjata api. Bagaimana bisa tangan mungil yang seharusnya digenggam penuh cinta, namun, justru bergulat dengan ratusan rintangan untuk bertahan hidup.
Diusap dan diciumnya tangan mungil Lizie, semakin di belai, semakin terasa permukaan telapak tangan Lizie tidak benar-benar halus. Rasanya sedikit kasar dan samar-samar ada bekas kapalan yang mulai memudar seiring waktu.
Tiba-tiba ponsel Zion berdering, pria itu memalingkan kepalanya sejenak, untuk melihat siapa yang meneleponnya.
“Iya, Mom?” kata Zion lesu. Zion mengarahkan kamera ke wajahnya.
“Gimana menantu Mama, apa dia baik-baik saja?” tanya Mommy Dhera, dari nada suaranya saja sudah terlihat wanita itu amat sangat mengkhawatirkan Lizie. Dulu, sebelum hubungannya dengan ibu kandungnya membaik, dirinya begitu disayangi Mommy Bella, bahkan seperti anak perempuan sendiri.
Kini, Mommy Dhera pun ingin melakukan hal yang sama seperti Ibu mertuanya dahulu, terlebih lagi, Lizie sudah tak memiliki orang tua. Jadi rasa sayang Mommy Dhera semakin besar setiap harinya.
Zion mengangguk, “Sudah lewat masa kritisnya, Mom. Sudah pindah ke ruang perawatan biasa juga, tapi—” Ucapan Zion menggantung.
“Tapi, apa?”
“Masih belum sadarkan diri, Mom.” Zion kembali terisak, ia seperti anak kecil yang mengadukan kesulitannya pada sang Mommy.
“Nggak papa, ditunggu saja, asalkan dokter bilang baik-baik saja, maka memang begitulah adanya. Istrimu wanita kuat, pasti dia akan sanggup bertahan, dan bisa pulih kembali seperti sedia kala,” tutur Mommy Dhera lembut dan menenangkan jiwa Zion yang masih terguncang, pasca peristiwa tadi siang.
“Cobalah untuk beristirahat juga, supaya kamu tidak ikut-ikutan sakit. Kalau kamu sakit, siapa yang akan menjaga Lizie?”
“Darimana Mommy tahu aku belum istirahat?”
“Dasar bocah cengeng, Mommy ini orang yang paling mengenalmu, jadi jangan coba-coba berbohong pada Mommy, karena Mommy akan langsung bisa mengetahuinya. Lihat wajahmu kusut begitu, kedua matamu juga merah, sudah jelas terlihat kamu kurang istirahat.”
“Mommy memang luar biasa,” ungkap Zion jujur.
“Itulah istimewanya seorang ibu.”
“Iya, Mom. Akan aku coba. Oh, iya, Mom. Zea gimana?” Tak bisa dipungkiri, Zion pun mengkhawatirkan keadaan putrinya.
“Sepertinya Zea mulai rindu mamanya, hari ini moodnya benar-benar amburadul, tak mau ke sekolah, makan susah, menangis terus bawaannya.”
Ingin sekali Zion datang dan memeluk anaknya, tapi sayang, jarak mereka jauh membentang. “Maafkan kami, Mom. Karena sudah merepotkan Mommy dan Daddy.”
“Bukan masalah bagi Mommy dan Daddy, asalkan kalian selamat dan bisa kembali ke Jakarta secepatnya.”
•••
Jelang subuh.
Lizie akhirnya kembali membuka mata, punggungnya terasa nyeri, mungkin efek anestesi sudah berkurang. Tapi tak mungkin, dokter tak menambahkan obat penahan nyeri di cairan infusnya, karena itulah, rasa sakitnya masih terasa samar.
Kepala Lizie bergerak ke kiri dan kanan, mengamati ruangan sekitar, mencari-cari keberadaan suaminya. Tapi saat merasakan ada tangan hangat menggenggam tangannya, Lizie tahu suaminya tak beranjak dari sisinya.
Tangan kiri Lizie bergerak, mengusap rambut Zion yang berantakan, ia berusaha pelan agar Zion tak terganggu tidurnya. Tapi, percuma karena Zion langsung menyadari ada yang menyentuh kepala dan rambutnya.
“Sayang, kamu bangun?”
“Hmmm.”
Zion menangis haru, lalu memeluk tubuh istrinya erat-erat. “Terima kasih, Tuhan. Engkau maha baik pada kami.”
Beberapa saat setelah saling berpelukan, Zion menekan tombol merah yang berada merah diatas kepala tempat tidur agar dokter mendatangi kamar Lizie.
Dokter masuk, bersamaan dengan Louis yang ingin melaporkan sesuatu pada Zion.
“Aku bicara sebentar dengan Louis, ya?” pamit Zion.
“Iya.”
Zion mengikuti Louis keluar dari ruangan Lizie, beberapa agent AG menjaga pintu kamar Lizie secara bergantian. Kink Adam Romanov sudah siuman, maka keselamatan Lizie benar-benar menjadi prioritas.
“Ada apa?”
Louis melangkah lebih dekat ke arah Zion, “Sepertinya Adam Romanov mengutus anak buahnya mengawasi tempat ini,” bisik Louis.