Kisah ini menceritakan perjalanan seorang anak bernama Kai,
seorang pangeran dari kerajaan yang sama sekali tidak memiliki bakat dalam sihir,
dan memiliki takdir yang sangat buruk.
Dijauhi. Disakiti. Bahkan dikhianati.
Seluruh hidupnya hanya dipenuhi oleh rasa sakit yang tiada akhir.
Namun pada suatu waktu, dia tiba-tiba mendapatkan kekuatan misterius.
Kekuatan yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh para Dewa.
Dengan kekuatan yang dimilikinya itu, dia mulai merasakan perbedaan pada dirinya sendiri.
Namun seiring berjalannya waktu, dia terus-menerus dihajar oleh sebuah fakta:
Takdirnya yang buruk.
Tapi saat dia ingin menyerah dan lari karena sangat takut untuk melawan takdirnya sendiri,
dia bertemu dengan banyak orang-orang yang akan membantunya sedikit demi sedikit.
Pada akhirnya, hanya dia yang akan memutuskan:
Lari dan pasrah menghadapi takdirnya...
atau
Menghancurkan takdirnya dan membuat takdirnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon * z *, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21_Pertemuan yang ditakdirkan
Semua orang berkumpul mengelilingiku, mereka semua tersenyum kepadaku, mata berkaca haru.
Belial maju ke arahku dan mengelus kepalaku dengan lembut, senyumnya tipis tulus.
"kami akan selalu menunggumu kai" Matanya melembut.
Zafira berlari dan langsung menerjang memelukku dengan erat sampai aku hampir jatuh, mata berbinar manja.
*Bruk!*
Dia menggosok-gosokkan pipinya ke pipiku, pipinya merona.
"Kai-kuuu! Adikku yang paling imut sedunia! Jangan lama-lama ya di luar! Kakak gak bisa tidur kalo gak ada kamu!" Suaranya manja, bibir manyun.
Aku membalas pelukannya dengan canggung, wajah datar tapi pipi sedikit merah.
"tenang saja kak, aku pasti akan mengingat semua perkataan mu" Suara datar.
Dia masih belum melepas pelukannya, malah makin erat, wajahnya menempel.
"Kai tolong kau hati-hati diluar sana, ingat kau baru mencapai 15% dari pemadatan mana mu, jadi kau hanya bisa menciptakan kurang dari 10 benda saja, dan itu juga kualitas nya tidak terlalu baik! Jika kau melanggar segel yang aku buat, segel itu akan rusak dan membuat dirimu kehilangan tubuhmu sebagai manusia! Kalo tubuh manusia mu hilang, kakak gak bisa peluk-peluk Kai lagi!" Matanya berkaca panik, bibir bergetar.
Dia mencium pipiku dengan lembut berkali-kali, mata merem melek sayang.
*Cmua! Cmua! Cmua!*
"ini, ini, dan ini adalah hadiah perpisahan dariku! Semuanya punya kakak!" lalu dia tersenyum manis ke arahku dengan mata berbinar posesif, pipi merah.
Semua orang langsung menatapku dengan senyuman di wajah mereka, mata berkaca, Belial cuma geleng-geleng melihat tingkah Zafira, wajah pasrah.
Selena langsung mengangkat tongkatnya dan menutup matanya, wajahnya fokus serius, semua orang menatapnya dengan penuh kekhawatiran, napas tertahan.
Setelah beberapa menit dia membuka matanya dan menghantamkan tongkatnya ke lantai, wajahnya tegang.
*Dum!*
"Gate To Dimension" (menciptakan gerbang besar yang memungkinkan penggunanya berpindah tempat secara singkat)
Tanah di depan Selena retak dan terbelah, dari retakan itu muncul dua pilar batu hitam raksasa yang menjulang tinggi. Di antara pilar itu, ruang bergetar dan membentuk pusaran cahaya biru yang berputar seperti pintu.
*Graak... Wung...*
Selena langsung mengerutkan dahi dan alisnya, nafasnya terengah-engah, wajahnya pucat lelah.
"jika saja aku lebih kuat lagi, aku pasti bisa membuka gerbang ini langsung keluar dari lembah" Suaranya lirih, mata sayu.
Aku memegang pundaknya, wajah datar tapi mata peduli.
"kalau begitu... Aku nantikan perkembangan mu, Selena.."
Dia tersenyum dan langsung memelukku dengan erat, mata berkaca.
"maaf tuan, aku hanya bisa membuka gerbang ini satu tahun sekali, maaf.." Suaranya bergetar sedih.
Zafira langsung menarik Selena dari punggungku, wajahnya cemberut cemburu, mata melotot.
"Enak aja peluk-peluk Kai-ku! Satu tahun sekali saja sudah cukup! Jangan macam-macam ya!" Pipinya menggembung.
Aku langsung membuat sebuah topeng berbentuk serigala, dan memakainya, wajah datar tenang.
"tidak apa-apa, ...aku hargai bantuanmu yang ingin membantu ku keluar dari sini"
Aku berjalan ke arah gerbang besar itu, dan ketika aku hendak masuk, aku menoleh ke arah mereka, mata kosong tapi berkaca tipis.
"terima kasih.. semuanya, aku pasti akan kembali.. jadi tenang saja"
Semua orang langsung melambaikan tangannya kepadaku, mereka semua tersenyum lebar, mata berkaca-kaca haru.
"hati-hati kai, semoga beruntung, kami akan menunggumu.." Suara bergetar.
Zafira teriak paling kencang sambil melompat-lompat, air mata bercucuran, wajahnya merah.
"KAI! JANGAN LIRIK CEWEK LAIN! KAKAK SATU-SATUNYA YANG BOLEH CIUM KAMU! AHHH KAI-KU PERGI!" Suaranya pecah histeris.
Aku langsung masuk ke dalam gerbang besar itu, dan ketika aku masuk gerbang besar itu langsung menghilang dengan ledakan cahaya.
*Byarr!!*
Gerbang besar itu muncul di dalam lembah dengan suara gemuruh, aku melangkah maju dan melihat ke arah sekitar, wajah datar dingin.
*Dum!!*
"sudah dua tahun sejak kejadian itu.." Suaraku pelan datar.
Aku memejamkan mataku dan mulai mengingat kejadian yang ada di tempat ini dua tahun yang lalu, wajah tegang.
[Ingatan masa lalu]
Jantungku berdetak sangat kencang, nafasku tidak beraturan, mataku membelalak takut.
_ini bercanda kan.. seekor Orc, mana mungkin orang tanpa bakat seperti ku bisa melawannya_
*GRAUUU*
Orc itu mulai mengangkat tangannya, aku langsung berlari tanpa pikir panjang, tanpa menunggu lama dia memukul ke tempat aku berada dengan keras sampai tanah disekitar nya hancur.
*Duar!!*
[Akhir ingatan masa lalu]
Aku membuka mataku, dan mulai melanjutkan perjalanan di lembah tersebut, wajah datar.
"sepertinya aku berada di bagian tengah lembah"
Aku berjalan mengikuti arus sungai kecil, dan selama di perjalanan aku melihat banyak sekali mayat petualang dimana-mana, selain petualang ada juga mayat para monster yang berserakan dimana-mana, wajahku datar tapi alis sedikit bertaut.
"apa yang terjadi dengan tempat ini?? Aku tahu bahwa tempat ini sering didatangi petualang kelas D, dan juga petualang pemula seperti F dan E, tapi.. situasi ini benar-benar aneh??"
Bau besi dan anyir menyengat dari darah yang sudah mengering membuat tenggorokanku mual, wajahku meringis.
Tiba-tiba saja aku mendengar suara gemuruh langkah kaki besar dari arah depan, tanah bergetar.
*Dug... Dug...*
"suara apa itu??" Mataku menyipit.
Aku langsung berlari dengan sangat kencang ke arah suara gemuruh langkah kaki itu, aku melewati jalan demi jalan di dalam lembah, dan terus melewati banyak bangkai petualang dan para monster, saat suara gemuruh langkah kaki itu semakin dekat aku langsung membuat rantai dan menancapkan nya ke tebing lembah dan menggunakan nya sebagai tali pijakan.
*Clank!*
Dan saat aku melompat melalui rantai-rantai itu, aku berhenti dan langsung turun kembali ke tanah setelah melihat kumpulan debu dari kejauhan, aku membuat teropong dan memantau dari jauh.
"Ouh.. jadi begitu" segerombolan Orc berjalan menuju ke luar lembah ditambah adanya Orc king yang memimpin pasukan Orc itu, wajahku datar serius.
Aku menghilangkan teropong itu, dan langsung berlari mendekati mereka, alis bertaut.
_ada kemungkinan ini adalah stampede (fenomena dimana para monster keluar dari tempatnya untuk mencari tempat baru)_
Saat aku berlari aku melihat seseorang menggunakan tudung dan mantel di depan jalan, tubuh kecil.
"siapa orang itu?? Apa dia ingin mati di injak-injak para Orc itu!?" Wajahku kaget datar.
Dia berlari ke arah gerombolan Orc itu, dan mengeluarkan sebuah belati, para Orc yang melihat orang itu langsung berlari menuju nya.
*GRAUUU*
Orc itu langsung memukul ke arahnya, tanah di sekitar langsung retak, namun dia melompat ke udara dan langsung naik ke bagian belakang Orc itu dan langsung menebasnya dengan sangat cepat, darah dari Orc itu mulai bercucuran.
*Srash!*
Aku berhenti berlari dan mengamati dari jarak yang cukup dekat, mata sedikit tertarik.
"dia lumayan juga..."
Orang itu langsung melompat ke setiap tubuh Orc itu dan mulai menebas bagian belakang leher Orc itu, Orc itu mulai memukul ke udara secara membabi-buta.
*Wush! Wush!*
Orang itu langsung turun dari Orc itu, para Orc yang marah pun langsung memukul ke arahnya tanpa henti, dia menghindar ke samping tapi yang dia tidak sadar bahwa salah satu Orc itu sudah mengarahkan pukulannya ke arahnya, saat dia menoleh Orc itu langsung memukul nya dengan sangat keras.
*Bug!!*
Orang itu terpental cukup jauh, dia terkapar tidak bisa bergerak dari tempat nya sekarang, para Orc yang melihat itu mulai berlari ke arahnya.
*GRAUUU*
Dia menatap para Orc itu, matanya membelalak, air mata mulai menetes dari matanya, wajahnya pucat takut.
_tidak!! Tidak!! Aku tidak ingin mati disini, aku harus membuktikan kepada semua orang.._
Saat Orc itu mulai melayangkan pukulan ke arahnya, aku menciptakan rantai dan mengikat lehernya dengan erat, aku melompat dari tebing dan _Legacy Creations Mana_ (Menciptakan benda atau senjata dari mana) aku mulai memunculkan sabit besar.
*Clank! Wung!*
Aku memenggal kepala Orc itu dan mulai menjerat lebih banyak Orc yang lain dengan rantai ku, aku mulai mengubah sabit ku menjadi sebuah pasang belati dan mulai menebas Orc itu dengan sangat cepat, aku terus menciptakan sebuah rantai dan mengarahkannya ke tebing dan mulai berlari ke bawah para Orc itu, aku mengitari mereka semua tanpa ragu.
*Srash! Srash! Clank!*
Setelah mengitari mereka aku langsung menjerat kaki mereka semua, mereka semua langsung jatuh dan mulai menindih satu sama lain, aku memanfaatkannya dan langsung melompat ke udara, aku mengubah belati ku menjadi sebuah palu raksasa.
*Wung!*
Segel di dadaku terasa retak sedikit dan perih, wajahku meringis sekilas, efek dari pemadatan mana yang belum sempurna.
Kemudian dari atas aku terjun ke arah mereka dan langsung sambil menghantamkan palu ku kepada mereka semua, tanah di sekitar langsung hancur, darah mulai bercucuran dimana-mana bahkan tubuhku juga terkena darah.
*Duaarr!!*
Aku mengangkat palu ku dan berdiri di tumpukan mayat Orc tersebut, napas datar, lalu aku menatap ke Orc King yang mulai terlihat kesal.
"benar-benar pengecut, membiarkan semua rekanmu mati agar musuh kelelahan" Suara datar dingin.
Orc King itu langsung berlari ke arahku, dia mengayunkan tongkatnya ke arahku dengan sangat keras, namun aku sudah menduga itu dan membuat perisai raksasa dan menahan ayunan tongkatnya sekuat tenaga, alisku mengkerut, aku mulai terdorong mundur sedikit.
*Buak!!*
Aku langsung menundukkan badanku sedikit dan menghantamkannya ke perisaiku dengan sangat keras, hantaman itu membuat ayunan Orc King itu terhenti, aku langsung menghilangkan perisai itu dan langsung membuat banyak rantai dan mulai melilitkannya ke tubuh Orc King itu dengan sangat erat.
*Clank! Clank!*
Aku terus mengeratkan rantai itu ke tubuhnya, sampai-sampai tubuhnya mulai tertekan dengan kuat, Orc King itu terus meronta-ronta agar bisa lepas dari rantai-rantai milikku.
*GRAUUUU*
aku mengarahkan tanganku ke arahnya, wajah datar dingin.
"percuma saja.. karena kau.." aku mengepalkan tanganku, mata tajam.
"...sudah tamat" tubuhnya meledak menjadi beberapa bagian, darah mulai bercucuran kemana-mana, aku berdiri tegak menatap kematiannya.
*Blugh!*
Orang itu menatapku dengan mata yang berbinar-binar, mulutnya ternganga, wajahnya kagum.
_mungkinkah dia... Pahlawan_
Aku menoleh ke arah orang itu dan menghampirinya, wajah datar.
"kamu... Tidak apa-apa??" Aku langsung membantunya untuk berdiri, tangan terulur.
Tudung nya langsung lepas, dan dari balik tudungnya muncul sebuah gadis berambut putih dan telinga serigala muncul, mata biru berbinar, dia langsung melompat dan memelukku dengan erat sambil menggoyang-goyangkan ekornya dengan semangat, wajahnya merah ceria.
"KEREN BANGET!" Suaranya melengking senang.
Aku langsung mendorongnya dan mengelap noda yang ada di tubuhku, wajah datar risih.
Dia tersenyum lebar ke arahku dengan pipi memerah karena semangat.
"Ini! Pakai saja!" dia mengeluarkan sapu tangan miliknya dan meminjamkannya ke padaku dengan ceria, mata sipit senang.
Aku langsung mengambilnya dan mulai menggunakannya untuk mengelap setiap noda yang ada, wajah datar.
"noda darah ini sangat sulit untuk dibersihkan.."
Dia memiringkan kepalanya dengan riang, telinga serigalanya berkedut-kedut, mata berbinar.
"Permisi.. ada yang ingin aku tanyakan kepadamu!"
Aku langsung menatap ke arahnya, wajah datar.
"katakan saja, jika aku mampu menjawabnya, pasti aku akan menjawabnya"
Dia langsung melompat di depanku, bahunya meninggi, dan dia mengepalkan tangannya di dada dengan mata super berbinar, ekor goyang kencang.
"Apakah kamu... adalah pahlawan?? Jika iya.... Menikahlah denganku!! Ya!!"
Mataku langsung membelalak, wajah datar kaget.
"maaf..?? Apa yang baru kau bilang??"
Dia langsung memelukku dengan erat sambil cengengesan, wajahnya merah menyala.
"Menikahlah denganku.. wahai pahlawan!" Matanya berbinar-binar.
Aku langsung mengerutkan dahiku, dan melepaskan pelukannya dengan pelan, wajah datar bingung.
"maaf saja, aku tidak bisa menerima lamaranmu, karena aku bukanlah pahlawan.."
Dia langsung cemberut sebentar, bibir manyun, tapi langsung ceria lagi, mata berbinar.
"Ehh.. begitu ya, padahal kukira kamu adalah pahlawan.."
Saat dia hendak pergi jalan sambil bersenandung riang, langkahnya terhenti karena kakinya terkilir karena serangan Orc tadi, wajahnya meringis.
"Aduh! Sakit!" Matanya berkaca.
Aku menatap ke arahnya dan mulai menundukkan badanku, wajah datar.
"kau tidak akan bisa keluar dari sini dengan kondisi kaki seperti itu, biar aku hantarkan kau sampai ke luar lembah"
Dia menatap pergelangan kakinya, lalu langsung manjat ke punggung ku dengan semangat, wajah ceria lagi.
"Asiiik! Gendongan gratis! Kalau begitu mohon bantuannya ya" Ekornya goyang.
Aku langsung menggendongnya dan langsung melanjutkan perjalanan kembali, kami melewati banyak jalan dan melihat banyak sekali tulang belulang di jalan, kami kadang juga berhenti sebentar untuk beristirahat, dia terus aja ngobrol riang di belakangku, wajahnya ceria.
Saat sudah sampai di bagian luar lembah aku bertanya kepadanya, wajah datar penasaran.
"heii.. kamu, bagaimana caramu bisa selamat dari pukulan Orc itu?? Normalnya kau pasti akan terluka cukup parah setelah menerima hantaman seperti itu"
Dia menaruh kepalanya di pundakku sambil ayun-ayun kaki, wajahnya manja.
"Bukan hal yang keren kok! Aku hanya menggunakan armor ringan yang terbuat dari logam, yang ditempa khusus oleh salah satu dwarf terkenal! Keren kan! Keren kan!" Matanya berbinar bangga.
Aku langsung menatap ke arahnya, wajah datar.
"begitu ya.." saat aku sedang berjalan dia mencolek bahuku dengan jahil, aku yang sadar akan hal itu langsung menoleh ke arahnya, mata datar bingung.
"ada apa?? Apa kau kelelahan??"
Dia menggelengkan kepalanya dengan pelan sambil tertawa kecil, pipi merona.
"Hmm.. bukan! Aku hanya ingin tahu namamu, karena rasanya aneh memanggil seseorang dengan tidak menggunakan namanya!" Matanya berbinar penasaran.
Aku langsung membalikkan wajahku dan menatap kosong ke depan, mata menyipit.
_Nama asliku? Tidak. Aku tidak mungkin memberi tahu namaku kepada sembarangan orang, karena jika itu terdengar oleh kerajaan mereka akan memburuku untuk membunuhku. Untuk sekarang, aku akan menggunakan nama samaran._
aku langsung menoleh ke arahnya, wajah datar.
"namaku adalah Sora.. kalau kamu??"
Dia tersenyum super lebar ke arahku sampai matanya jadi sipit, telinga bergetar senang.
"Namaku adalah Stella! Salam kenal ya, Sora!"
Saat kami asik dengan pembicaraan kami, tanpa sadar sebuah cahaya mulai bersinar ke arah kami, kami menutup kedua mata kami, dan ketika membukanya kami melihat sebuah pepohonan yang di ujungnya terdapat padang rumput yang sangat luas.
*Byar...*
Sora menarik topeng serigalanya lebih dalam, mata waspada.
_Jika ada patroli kerajaan di padang ini, nama Kai tidak boleh bocor._
Kami berjalan melewati pepohonan-pepohonan tersebut dan akhirnya sampai Padang rumput itu.
Fajar baru saja merekah. Langit masih semburat jingga keemasan, matahari terbit perlahan dari balik bukit, sinarnya hangat menyorot embun yang berkilau di rerumputan.
*Wussh...*
Angin pagi bertiup pelan, membuat rerumputan bergoyang seperti ombak emas. Burung-burung mulai berkicau.
Kami menatap pemandangan itu dengan sangat kagum, mata membelalak, hembusan angin yang lewat membuat rerumputan di Padang rumput itu bergoyang-goyang ditambah dengan langit yang sangat cerah, mataku membelalak, wajah datar tapi berkaca tipis.
"indahnya.. jadi seperti ini dunia luar" Suaraku lirih datar tapi bergetar.
Dia langsung melompat turun dari punggungku dan berlari-lari kecil di padang rumput sambil tertawa riang, ekor goyang, wajah bersinar kena cahaya matahari terbit.
"WAAAA INDAH BANGET! Sora lihat! Lihat! Eh eh Sora kenapa dengan raut wajahmu itu?? Kau terlihat seperti pertama kali melihat dunia luar!" Matanya berbinar, pipi merona jingga.
Aku menoleh ke arahnya, wajah datar tapi mata berkaca kena sinar fajar.
"Stella, sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan kepadamu?? Kenapa.. kamu ingin menikah dengan seorang pahlawan" Suara datar penasaran.
Dia berhenti berlari, lalu tersenyum lebar ke arahku dengan semangat, rambut putihnya berkilau emas kena sunrise.
"Papah pernah bilang sesuatu ketika aku masih kecil.." Matanya berbinar hangat.
[Ingatan masa lalu]
Stella kecil sedang duduk di pangkuan ayahnya, wajahnya polos lucu.
"papah.. papah, ada yang ingin aku tanyakan" Matanya berbinar.
Ayahnya langsung tersenyum kepadanya dan mengelus kepalanya, wajah lembut.
"apa itu putri kecilku??"
Stella kecil menaruh jarinya di bibirnya dan memiringkan kepalanya, pipi menggembung imut.
"apa aku akan bisa menikah dengan seseorang yang hebat seperti ayah??"
Ayahnya langsung tertawa kepadanya dan menatapnya, mata sayang.
"hahahaha.. tentu saja, karena ayah sudah menyiapkan calon suamimu sejak kau masih berada di perut ibumu, dan calon suamimu itu pasti akan menjadi orang yang hebat seperti pahlawan"
Mata Stella kecil langsung berbinar-binar dia tersenyum lebar ke arahku, wajahnya ceria.
"benarkah.. pahlawan ya?? aku tidak sabar bertemu dengannya"
[Akhir ingatan masa lalu]
Dia tersenyum lebar sambil menatap ke arah langit sunrise dan berputar-putar riang, cahaya jingga menyorot wajahnya.
"Alasan dari perjalanan ku ini adalah untuk bertemu dengannya.. karena aku mendapatkan kabar bahwa dia menghilang beberapa tahun yang lalu! Karena itu aku berniat untuk mencarinya!" Suaranya ceria penuh harap.
Kai langsung menatap ke arah langit fajar, mata datar tapi sedikit hangat.
"tenang saja, jika dia sudah ditakdirkan untukmu, maka sejauh apapun rintangan yang kalian alami.. aku yakin kalian akan bertemu kembali" Suara datar tulus.
Dia menoleh ke arahku dan tersenyum tipis sambil mengacungkan jempol dengan ceria, mata berkaca bahagia.
"Terima kasih.. Sora! Kata-kata mu itu bikin aku semangat lagi!"
Kai langsung melanjutkan perjalanannya melewati Padang rumput itu sambil dipeluk dengan riang oleh Stella, sinar matahari terbit menyinari punggung mereka berdua, bayangan memanjang di rumput.
*Wussh...*