Gavin Dewantara adalah pewaris tunggal Dewantara Group, salah satu keluarga old money terpandang di negeri ini. Bosan dengan kepalsuan kelas atas dan kekangan keluarganya, Gavin memilih kuliah di universitas negeri di luar kota, tinggal di kosan sederhana, dan menyembunyikan identitas aslinya. Di kampus, ia dikenal sebagai mahasiswa teknik yang slengean, ugal-ugalan, hobi naik motor tua, dan sering terlibat perkelahian jalanan menggunakan teknik bela diri praktis yang ia pelajari dari jalanan. Meski terlihat berandalan, Gavin memiliki prinsip hidup yang kokoh dan kesetiaan tanpa batas kepada teman-temannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 Kebocoran Identitas
Pagi hari di awal minggu ujian dimulai dengan sebuah bencana rumah tangga yang melibatkan Gavin Dewantara, seember air cucian, dan celana dalam keberuntungan milik Rian yang bermotif gambar beruang kutub.
Sebagai wujud rasa syukur karena berhasil selamat dari ujian Kalkulus II tanpa perlu mengeluarkan jurus muntah akibat ramuan mie instan kuah kopi hitam semalam, Gavin memutuskan untuk membantu Rian menjemur cucian di teras lantai dua. Dengan gaya slengean khasnya—hanya memakai celana pendek kain motif kotak-kotak dan kaos oblong bergambar ayam jago yang sudah bolong di bagian ketiak—Gavin mengangkat ember plastik bocor itu ke atas kepalanya seperti seorang pengangkat besi olimpiade.
"Yan! Perhatikan baik-baik teknik menjemur tingkat tinggi ini," seru Gavin ugal-ugalan kepada Rian yang sedang duduk lesu di ambang pintu kamar sambil memegang pulpen merahnya. "Ini namanya aerodynamic hanging technique. Kalau ditaruh di sebelah sini, angin dari knalpot Astrea gue pas dipanasin nanti bisa bantu mengeringkan celana dalam beruang kutub lu dalam waktu lima belas menit!"
Namun, takdir komedi slapstik tampaknya masih enggan beranjak dari Kos Bu Broto. Saat Gavin hendak mengibaskan kemeja kuliahnya dengan sentakan yang terlalu bertenaga, kakinya yang mengenakan sandal jepit karet mendadak tergelincir di atas genangan air sabun colek yang licin.
SREEEET! BLANG!
Gavin kehilangan keseimbangan secara dramatis. Tubuh tegapnya terhuyung ke belakang, menabrak tali jemuran kawat hingga putus, dan dalam hitungan detik, seluruh isi ember cucian basah—termasuk jaket jins lusuh kesayangannya dan celana dalam beruang kutub milik Rian—tumpah ruah tepat di atas wajah dan kepala Gavin. Sialnya lagi, ponsel pintar lawas milik Gavin yang ia kantongi di saku celana pendek ikut terlempar, meluncur mulus melewati celah pagar teras, dan jatuh bebas ke bawah tepat masuk ke dalam ember berisi sisa kuah soto milik Bu Broto yang baru selesai makan di halaman bawah.
PLOP.
"Waduh! HP gue berenang di kuah soto!" teriak Gavin gila-gilaan, langsung bangkit berdiri dengan celana dalam beruang kutub Rian yang masih tersangkut canggung di atas telinga kanannya seperti hiasan rambut avant-garde.
Rian yang melihat kejadian itu langsung meledak dalam tawa terbahak-bahak sampai terpingkal-pingkal di lantai semen, memegangi perutnya yang kram. "Hahaha! Gav! Sumpah, gaya lu udah cocok banget jadi model kalender gila tahun ini! Itu celana dalam gue balikin, woy! Jangan dijadiin bando!"
Di tengah kekacauan komedi tersebut, Dono mendadak berlari keluar dari kamarnya di ujung koridor dengan kecepatan penuh, memegang ponselnya tinggi-tinggi di udara. Wajah mahasiswa tingkat akhir itu tidak memancarkan tawa; ekspresinya adalah perpaduan antara syok, bingung, ketakutan teologis, dan histeria massal.
"Woy! Stop ketawa! Darurat militer tingkat universitas! Bumi berguncang, langit terbelah!" teriak Dono dengan suara yang melengking pecah. Ia langsung menabrak Rian yang sedang tertawa, membuat mereka berdua hampir terjungkal.
"Kenapa sih, Bang Don? Uang kas kosan kita ilang lagi ditilep jin?" tanya Gavin sambil mencopot celana dalam Rian dari telinganya dengan santai, lalu memeras jaket jinsnya yang basah.
"Bukan! Ini... grup obrolan angkatan, grup fakultas, bahkan grup gosip kampus mendadak meledak!" Dono menyodorkan layar ponselnya tepat dua sentimeter di depan hidung Rian. "Lu berdua lihat ini sekarang juga sebelum gue pingsan karena syok budaya!"
Rian membetulkan letak kacamatanya yang ditempeli selotip, menatap layar ponsel Dono. Gavin yang penasaran ikut menjulurkan kepalanya dari belakang, masih memegang ember plastik kosong.
Di layar ponsel itu, sebuah unggahan artikel dari forum anonim universitas yang baru saja disebarkan ke ratusan grup WhatsApp mahasiswa terpampang dengan sangat jelas. Judul artikelnya ditulis dengan huruf kapital tebal yang sangat provokatif: “EKSPERIMEN SOSIAL ATAU PENYAMARAN GEMBEL? SIAPA SEBENARNYA GAVIN PEWARIS TUNGGAL DEWANTARA GROUP?”
Di bawah judul tersebut, terlampir sebuah foto digital beresolusi sangat tinggi yang diambil setahun lalu di sebuah hotel mewah di Jakarta. Di dalam foto itu, berdiri seorang pemuda tampan yang sangat rapi. Potongan rambutnya klimis sempurna disisir ke belakang menggunakan pomade mahal, wajahnya bersih tanpa lebam, dan tubuh tegapnya dibalut oleh setelan jas tuksedo hitam buatan desainer Italia seharga ratusan juta rupiah yang melekat pas di badannya. Di pergelangan tangan kirinya, melingkar sebuah jam tangan kronograf mewah berdial biru safir yang memancarkan kilau emas putih. Pemuda itu sedang berdiri tegak di atas karpet merah gala kemanusiaan elite, tersenyum formal ke arah kamera sambil memegang segelas minuman mewah, tepat di samping sosok Baskoro Dewantara—salah satu orang terkaya di negeri ini.
Pemuda berpakaian mewah yang terlihat seperti pangeran mahkota korporat di dalam foto itu... tidak lain dan tidak bukan adalah Gavin Dewantara. Orang yang saat ini sedang berdiri di teras Kos Bu Broto, bertelanjang dada dengan kaos bolong ayam jago, memegang ember plastik bocor, dan rambutnya acak-acakan berbau sabun colek murah.
Sunyi senyap mendadak mengunci teras lantai dua Kos Bu Broto selama hampir satu menit penuh. Hanya ada suara tetesan air dari jaket basah Gavin yang menghantam lantai semen—tik... tik... tik...
Rian menatap foto di layar ponsel, lalu perlahan mengalihkan pandangannya ke arah wajah Gavin di dunia nyata. Ia mengucek matanya tiga kali, membetulkan kacamatanya lagi, lalu kembali menatap layar ponsel. Proses buffering di otak Rian tampaknya sedang mengalami crash sistem total.
"G-Gav..." suara Rian keluar dengan nada bergetar, sangat pelan seperti bisikan gaib. "Ini... ini editor fotonya jago banget ya. Muka gembel lu bisa diedit jadi mirip anak triliuner kayak gini. Sumpah, ini aplikasi AI jenis apa, Gav? Keren banget, rahang lu kelihatan gak burik lagi di sini."
Dono langsung menjitak kepala Rian dengan keras. "Bego lu, Rian! Itu bukan editan AI! Lihat detail bayangan sama tekstur jasnya! Itu foto asli dari dokumentasi resmi majalah bisnis nasional! Gue udah cek link aslinya! Gavin kita... si berandalan yang hobi utang kopi saset tiga ribu di warkop Cak Min... ternyata adalah anak tunggal yang punya hotel bintang lima tempat kita makrab kemarin!"
Rian mematung. Telapak tangannya yang memegang pulpen merah mendadak lemas, membuat pulpen itu jatuh dan menggelinding masuk ke dalam selokan teras. Seluruh tubuh cowok kurus itu gemetar hebat. Saraf komedinya mendadak lumpuh digantikan oleh rasa syok kultural yang luar biasa. Ia menatap Gavin dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa sungkan, canggung, ketakutan, dan sedikit rasa dikhianati yang campur aduk.
"J-jadi... selama ini... gue... gue sering nyuruh-nyuruh anak triliuner buat beliin pembalut Bu Broto pas lagi belanja? Gue sering meluk-meluk calon pemilik gedung pencakar langit sambil nangis gara-gara laptop rusak?" bisik Rian dengan wajah yang mendadak pucat pasi seperti kain kafan. "Gue... gue berdosa banget ya Tuhan... kepala gue bisa dipenggal sama algojo korporat gak setelah ini?"
Gavin melihat perubahan sikap kawan-kawannya yang mendadak berubah menjadi kaku dan penuh sekat formalitas—hal yang paling ia benci dari dunia masa lalunya. Topeng ugal-ugalan yang sempat runtuh akibat jebolnya informasi tersebut, langsung ia pasang kembali dengan cara yang paling konyol dan kasar.
Gavin melangkah maju, lalu dengan sangat ugal-ugalan menjitak kepala Rian dan kepala Dono secara bersamaan menggunakan ember plastik kosong di tangannya.
TANG! TANG!
"Aduh! Sakit, Gav!" protes Rian dan Dono spontan sambil memegangi kepala mereka masing-masing.
"Nah! Bagus! Berarti otak lu berdua belum putus talinya!" teriak Gavin dengan suara slengean andalannya, melipat kedua tangannya di dada dengan gaya angkuh yang dibuat-buat. "Lagian lu berdua bego banget! Mau gue anak Dewantara, anak dewa, atau anak angkatnya Cak Min, emang motor Astrea Grand gue di bawah mendadak berubah jadi Ferrari sport warna merah sore ini? Hah?! Emang tangki bensinnya langsung keisi penuh pake avtur pesawat terbang?! Nggak, kan?! Tetep aja gue harus nyelah motor pake kaki sampai betis gue pegel!"
Gavin menunjuk dadanya yang tertutup kaos ayam jago dengan jempolnya. "Emangnya pas lu dikeroyok sama anak buah Tyson di gang gelap kemarin, yang maju ngegebukin mereka itu sepasukan pengacara berjas mewah pake duit bapak gue? Bukan, kan?! Itu murni pake tinju jantan gue sendiri yang dibalut perban kain hitam murah! Gue ya tetep Gavin yang hobi tidur di lantai teras kosan ini dan masih punya utang gorengan lima biji di warkop yang belum dibayar! Jadi, gak usah pasang muka kayak orang abis ngeliat penampakan setan gitu depan gue, babi!"
Mendengar rentetan makian kasar, slengean, namun sangat jujur dan tulus khas Gavin tersebut, keheningan canggung yang sempat mengunci teras Kos Bu Broto langsung mencair seketika. Rian yang tadinya pucat pasi perlahan mulai mengembuskan napas lega, sebuah senyuman bodoh kembali muncul di wajah kurusnya. Ia menyadari bahwa status nominal triliunan rupiah di dalam artikel internet tersebut sama sekali tidak bisa mengubah satu persen pun dari jiwa berandalan setia kawan yang dimiliki oleh sahabat pertamanya ini.
"Sialan lu, Gav! Bikin gue jantungan aja!" umpat Rian sambil melempar handuk basahnya ke arah dada Gavin. "Tapi jujur ya, jas lu di foto itu keren banget. Besok-besok kalau kita wisuda, gue pinjem jas lu yang itu ya! Biar gue bisa pamer ke cewek-cewek Fakultas Hukum kalau gue punya temen yang levelnya setara sama menteri!"
"Halah, jas kayak gitu bikin dada sesak, Yan. Enakan pake kaos ayam jago ini, ventilasinya maknyus," sahut Gavin sambil terkekeh renyah, suasana teras kembali dipenuhi oleh tawa konyol mereka.
Namun, di tengah atmosfer komedi yang berhasil dikembalikan Gavin, pintu gerbang kosan di bawah terbuka dengan bunyi decitan besi yang keras. Kirana Putri berjalan masuk ke halaman kosan dengan langkah yang sangat terburu-buru, memegang ponselnya dengan wajah yang dipenuhi kecemasan tingkat tinggi. Dari bawah teras, ia mendongak dan menatap Gavin yang sedang tertawa di atas teras lantai dua.
Mata mereka bertemu di udara. Kirana tidak ikut tertawa. Gadis itu menatap Gavin dengan pandangan mata yang seolah berkata: “Badai besarmu sudah resmi pecah secara publik, Tuan Muda. Dan sekarang, seluruh universitas sedang menuntut jawaban dari penyamaran ugal-ugalanmu.”
Gavin melempar senyum miring pasrahnya ke arah Kirana, menyadari bahwa meskipun ia berhasil menenangkan Rian dan Dono lewat jalur komedi makian jalanan, pertempuran sesungguhnya untuk mempertahankan sisa-sisa kebebasannya di kampus baru saja dimulai secara resmi hari ini.