Bukan tentang pengkhianatan ataupun perselingkuhan, tapi tentang obsesi cinta yang menjadi luka dan dosa.
Nisa harus menerima hatinya terluka saat suaminya, Rangga secara terang terangan pergi berkencan dengan kekasihnya, Tiwi. Tapi itu adalah harga yang harus diterimanya atas dosa yang dilakukannya sendiri.
Lalu bagaimana kisah selanjutnya saat cahaya lain hadir dalam hidup Nisa. Akankah semuanya berakhir bahagia atau sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farhati fara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembalinya Adik terkasih
Hari sudah berubah dari pagi menjadi siang. Nisa sedang larut dalam pikirannya tentang Raditya saat tiba tiba terdengar ketukan di sertai salam dari luar. Ali yang juga mendengarnya bergegas menuju pintu untuk membukanya, dan betapa terkejutnya Ali saat dia melihat siapa yang berada di balik pintu.
"Kakak!" seru Anita sembari berhambur memeluk Ali
"Nita... ya ampun adik kecilku kapan kembali ke Indonesia? Dan kenapa tidak bilang bilang sama kakak? Kan, kalau kakak tahu kakak bisa jemput" oceh Ali di tengah keterkejutannya dengan hadirnya adik keduanya yang sebelumnya berada Di Belanda menempuh pendidikan.
"Kalau aku bilang bukan kejutan lagi donk namanya" kata Nita dengan suara yang di buat imut. Dia termasuk sangat manja dengan kakak laki-lakinya, Ali.
"Ayo, mari masuk dulu. Oh ya, bagaimana studimu... lancar?" tanya Ali sambil membawa koper Nita memasuki rumah.
"Alhamdulillah, nilai nilaiku sangat baik kak" jawab Nita antusias dengan senyuman riang. Ali ikut tersenyum senang mendengarnya dan berseru saat melangkah masuk ke ruang tamu.
"Nisa, adik kecil kita pulang!" seru Ali lantang karena merasa begitu senang. Dengan tiba-tiba langkah Anita terhenti saat melihat kakak perempuannya berdiri di samping sofa dengan wajah tersenyum ke arahnya. Wajahnya seketika berubah tidak enak. Nita pulang ke Indonesia bukan untuk melihat Annisa.
"Ayo Nita, sapa kakakmu dulu!" suruh Ali masih dengan wajah tersenyum. Dia belum menyadari perubahan di wajah adik keduanya.
"Ngapain pelacur itu di sini? Apa dia sudah di buang?" kata Nisa yang meretakkan senyum di wajah Ali
"ANITA, JAGA BICARAMU!" seru Ali lantang seraya memandang marah pada Nita yang menjatuhkan tatapan benci kearah kakak perempuannya. Annisa yang mendengar perkataan adik terkasihnya mulai menundukkan wajahnya sedih. Tidak pernah di sangkanya, kebencian Anita padanya sudah begitu mengakar dan tidak pernah hilang kendati mereka sudah pernah terpisah benua beberapa bulan lamanya.
"Kenapa kak Ali? Dia bahkan lebih menjijikan dari pelacur" ucap Nita lagi seraya menunjuk Nisa dengan wajah menghadap Ali.
"Tidak pantas seorang wanita muslim mengucapkan kata-kata seperti itu apalagi terhadap kakaknya," timpal Ali lagi. Nisa mulai terisak tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun.
"Kak Ali selalu saja membela kak Nisa tanpa pernah mau mengerti perasaanku seakan- akan aku ini bukan adik Kak Ali. Aku__" perkataan Nita terpotong oleh suara lembut penuh isakan
"Nita... maafkan ka... kak" ujar Nisa dalam tangisannya
"DIAM KAU PELACUR..."
PLAAK!!
Sebuah tamparan dari Ali mendarat mulus di pipi Nita begitu kata pelacur keluar dari bibirnya. Sembari menyentuh pipinya yang memanas karena tamparan, Anita memandang tak percaya wajah kakak laki-lakinya yang tega menamparnya. Perlahan wajahnya mulai di penuhi oleh air mata. Nita menggelengkan kepalanya tanda tidak percaya dan tidak terima diperlakukan seperti itu oleh Ali, lalu kemudian gadis itu berbalik berlari pergi dari rumah yang baru saja beberapa langkah di masukinya.
"A..nita ma..." perkataan Ali terhenti saat Nita mulai berbalik untuk pergi. Ali menyesal telah menampar adiknya itu, namun itu di luar kendalinya. Tangannya spontan terayun saat mendengar kata pelacur terucap dengan lantang dari bibir Nita kepada adiknya Nisa.
"Nita, dengarkan kakak du..." Ali hendak mengejar Nita namun terhenti saat suara benda jatuh tertangkap telinganya.
Bugh!!
Dilihatnya adiknya Nisa sudah terbaring tidak sadarkan diri di lantai Marmer. Nisa yang juga hendak menghentikan Nita melangkah hendak menghampiri Ali, namun karena kondisi matanya yang tidak bisa melihat membuatnya kalang kabut hingga tanpa sengaja kakinya terhalang sisi meja kaca yang terletak di tengah tengah sofa hingga dia jatuh tersungkur dan kepalanya membentur lantai marmer yang membuat Nisa tidak sadarkan diri.
Ali yang tidak tahu harus berbuat apa akhirnya memilih menghampiri Nisa untuk menolong adiknya itu dan membawanya ke rumah sakit saat melihat darah keluar dari dahi Nisa walau hatinya juga khawatir dengan adiknya yang satu lagi. Nita baru kembali ke Indonesia dan mungkin akan sedikit asing dengan tempat tempat yang sudah mulai berubah sejak kepergiannya. Di tambah lagi Nita tidak terlalu kenal dengan orang-orang di kawasan itu.
Tapi apa yang bisa Ali perbuat? Dia harus lebih dulu membawa Nisa ke rumah sakit karena bagaimana pun juga Nisa lebih membutuhkan bantuan sekarang.
.
.
.
oh tidak bisa
dasar Tiwi ulet bulu
ah couple baru dong😍
semangat kak fara💪lanjut LG yg byk ya😄
apakah Nita punya peran besar jg di novel ini JD penasaran