NovelToon NovelToon
Bulan Merah Dari Timur

Bulan Merah Dari Timur

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:444
Nilai: 5
Nama Author: Biruwarna

Ketika bulan merah muncul di langit Timur, dua saudara kembar terlahir kembali membawa kekuatan yang seharusnya tidak pernah kembali ke dunia.

Yang satu dingin dan lebih suka diam. Yang satunya galak, mageran, sombong seenaknya, dan paling malas menunjukkan kekuatannya—sampai-sampai orang di sekitarnya sering dibuat tepok jidat. Namun di balik sikap mereka yang menyebalkan, keduanya menyimpan hati yang jauh lebih baik daripada yang terlihat.

Di tengah kerajaan yang dipenuhi keindahan, sihir, dan makhluk-makhluk gaib, kemunculan mereka perlahan membangunkan sesuatu yang telah lama tertidur.

Sebab kelahiran kembali mereka bukanlah kebetulan.

Dan ketika bulan merah kembali bersinar, kekacauan dari masa lalu mulai menagih sesuatu yang pernah hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biruwarna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 9 : Bundaku tercantik

Shen Yuan benar-benar, sungguh, dan teramat sangat menyesal telah membiarkan adiknya ikut kabur ke pasar ini.

Jika tadi pagi ia berpikir menghadapi Tetua Pertama adalah neraka, maka melihat kelakuan Shen Rui atau Yui saat ini adalah siksaan batin tingkat dewa. Alih-alih mencari tempat bersembunyi yang aman sebelum festival dimulai, Yui justru sedang menggelar 'jumpa penggemar' dadakan dengan ketujuh bidadari Asrama Selatan.

Pemuda berelemen es itu duduk bersandar di pinggir jembatan batu, tersenyum kelewat manis sambil menceritakan kisah-kisah heroik fiktif yang di karangnya sendiri. Ketujuh gadis itu Mei Lin, Su Yin, Jia Li, dan yang lainnya mengerumuninya dengan mata berbinar-binar, sesekali tertawa cekikikan sambil menutup mulut dengan lengan sutra mereka.

"Jadi, saat siluman beruang raksasa itu menerkam," Yui merendahkan suaranya, mencondongkan tubuhnya ke depan, "aku hanya menatap matanya. Satu kedipan dariku, dan udara di sekitarnya membeku. Bukan karena esku, Nona-nona, tapi karena siluman itu terpesona oleh ketampananku yang mematikan."

"Kyaaa! Yui, kau luar biasa sekali!" pekik Jia Li kegirangan.

Su Yin, yang sejak tadi wajahnya bersemu merah, tiba-tiba mencondongkan tubuhnya. Terbawa suasana dan pesona sang jenius pemalas, gadis itu mendaratkan satu ciuman singkat nan lembut di pipi kanan Yui.

Cup.

Keheningan melanda selama satu detik. Yui mematung, matanya berkedip pelan. Senyumnya perlahan melebar, bersiap memberikan gombalan balasan yang lebih maut.

Namun, sebelum Yui sempat membuka mulutnya, sebuah tangan sedingin besi mencengkeram kerah belakang jubahnya dan menariknya mundur dengan kasar.

"Cukup," desis Yuan dengan aura membunuh yang membuat suhu di sekitar mereka mendadak turun sepuluh derajat. "Kau masih terlalu kecil untuk melakukan adegan dewasa di tempat umum, Shen Rui. Otakmu bahkan belum matang sempurna, beraninya kau menerima ciuman dari gadis asrama lain!"

"Hei! Kakak! Apa yang kau lakukan?!" Yui meronta-ronta di udara seperti anak kucing yang diangkat tengkuknya. "Ini namanya aku yang tampan! Pipiku ini adalah aset berharga! Kenapa kau yang sewot, dasar jomblo karatan!"

"Tutup mulutmu atau ku lempar kau ke dalam kuali rebusan mi!" ancam Yuan tanpa ampun, menyeret adiknya menjauh.

Lin Yue dan ketujuh gadis lainnya tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan kocak dua saudara kembar itu. Lin Yue menepuk perutnya yang mulai berbunyi. "Sudah, sudah! Jangan bertengkar! Lihat ke atas, langitnya sudah berubah ungu! Festival kembang api dan perjamuan agungnya akan segera dimulai!"

Malam akhirnya benar-benar turun menyelimuti kota alun-alun. Ribuan lampion terbang mulai dilepaskan ke udara, menghiasi langit malam dengan titik-titik cahaya keemasan yang menakjubkan, persis seperti lautan bintang yang turun ke bumi. Suasana seketika berubah magis.

Di pusat alun-alun, meja-meja panjang berukir naga telah ditata rapi, dipenuhi dengan gunungan makanan yang uapnya mengepul wangi di udara dingin. Bebek peking berkulit emas yang dipanggang sempurna, sate daging berbumbu pedas manis, sup sarang burung, hingga kendi-kendi arak pir manis yang harumnya bisa membuat orang mabuk kepayang.

Perut Yui bergemuruh sehebat guntur musim panas. Air liurnya nyaris menetes melihat lautan makanan gratis di depannya.

"Yuan... aku tidak kuat lagi... bisakah kita menyerbu meja itu sekarang?" rengek Yui sambil memegangi perutnya yang malang.

"Tahan nafsumu. Acara utamanya belum dimulai," tegur Yuan pelan, matanya menyapu ke arah panggung kehormatan tertinggi yang dialasi karpet merah sulaman benang emas.

Suara gong besar tiba-tiba bergema tiga kali, menggetarkan dada setiap orang yang hadir.

DENG! DENG! DENG!

Seketika, seluruh lautan manusia di alun-alun itu terdiam. Hening cipta. Kerumunan terbelah, memberikan jalan bagi rombongan agung yang baru saja tiba dari ibu kota.

Di barisan paling depan, melangkah sepasang sosok yang auranya begitu menekan namun memabukkan. Sang pria adalah perwujudan absolut dari kata 'Tampan'. Wajahnya memilik rahang yang tajam terpahat sempurna, alis pedang yang menukik tegas, dan sepasang mata elang yang memancarkan karisma mematikan. Postur tubuhnya tegap dan atletis, dibalut jubah kebesaran naga hitam emas yang berkibar berwibawa. Jika ini adalah panggung hiburan, dia pasti sudah dinobatkan sebagai idol papan atas yang ketampanannya tidak manusiawi.

Di sebelahnya, berjalan dengan anggun seorang wanita yang kecantikannya mampu membuat bulan bersembunyi karena malu. Rambutnya sehitam tinta, dibiarkan tergerai sangat panjang hingga menyentuh pinggang layaknya air terjun malam. Matanya lembut, kulitnya seputih pualam, dan senyumannya memancarkan kehangatan seorang dewi welas asih.

Mereka adalah Raja Shen Tianyi dan Ratu Bai Luoxue. Penguasa Tertinggi Kekaisaran Shen.

"Wah..." gumam Lin Yue dengan mata berbinar, menarik-narik lengan baju Yuan. "Kak Yuan, kau lihat itu? Itu adalah Raja Shen Tianyi dan Permaisurinya! Mereka sangat, sangat terkenal! Semua orang bilang ketampanan Raja tidak ada duanya, tapi Ratu Bai Luoxue adalah satu-satunya wanita yang kecantikannya tak tertandingi di dunia ini."

Yuan menatap lekat-lekat kedua sosok di atas panggung itu. Tentu saja ia tahu. Sangat tahu. Di balik wajah datarnya, hati Yuan berdesir hangat.

'Tentu saja Ratu adalah wanita paling cantik. Dia bundaku,' batin Yuan dengan penuh kebanggaan yang tersembunyi. Ia sangat sadar bahwa wajahnya dan Yui adalah cerminan dari kombinasi sempurna ayah dan bunda mereka. Namun anehnya, karena gaya pakaian mereka yang kotor ala murid luar serta kepribadian Yui yang kelewat sembarangan, tidak ada satu pun orang di sekte maupun di pasar ini yang sadar bahwa dua bocah pembuat onar ini adalah Putra Mahkota dan Pangeran Kekaisaran.

Tanpa diduga, setelah memberikan sambutan singkat, Raja Shen Tianyi dan Ratu Bai Luoxue turun dari panggung. Mereka memang dikenal sebagai pemimpin yang merakyat. Keduanya berjalan perlahan menyusuri kerumunan, menyapa rakyatnya.

Dan langkah mereka mengarah lurus ke tempat Yuan, Yui, Lin Yue, dan ketujuh gadis asrama berdiri.

"Ya Ampun! Yang Mulia Raja dan Ratu ke arah kita!" panik Jia Li. Ketujuh gadis itu, termasuk Lin Yue, langsung menjatuhkan diri, berlutut dengan kepala menunduk dalam-dalam, menunjukkan penghormatan tertinggi layaknya rakyat jelata.

Yuan buru-buru menarik lengan Yui agar ikut menunduk sedikit, menyembunyikan wajah mereka.

Langkah kaki berlapis emas itu berhenti tepat di depan mereka. Aroma wangi cendana dan teratai salju khas istana menyapu hidung Yuan.

Sebuah tangan besar yang hangat tiba-tiba mendarat di atas kepala Yuan, mengusap rambutnya dengan lembut. Sementara tangan halus lainnya yang beraroma bunga menepuk puncak kepala Yui.

"Kalian adalah murid-murid dari Sekte Cang Yue?" Suara Raja Tianyi terdengar dalam dan berwibawa, namun nada bicaranya menyimpan getaran kelembutan yang hanya bisa disadari oleh Yuan dan Yui.

Ratu Luoxue menunduk, menatap kedua remaja itu dengan mata yang sedikit berkaca-kaca menahan kerinduan. "Kalian terlihat sangat sehat... dan bertambah tinggi," bisik sang Ratu pelan, merapikan kerah jubah Yui yang sedikit kotor karena debu pasar.

Yuan menahan napas. Ia menundukkan kepala, berusaha keras menjaga ekspresi wajahnya agar tidak menangis. 'Ayah... Bunda...'

Namun, tentu saja Yui tidak bisa diam. Insting cerewetnya meledak. Ia mengangkat kepalanya, menatap lurus ke arah ayah dan bundanya dengan mata berbinar. Bagi orang luar, Yui tampak seperti bocah desa yang terlalu berani dan tak tahu tata krama. Namun bagi Raja dan Ratu, itu adalah sapaan dari putra bungsu kesayangan mereka.

"Yang Mulia Raja, Yang Mulia Ratu!" sapa Yui ceria, suaranya sengaja dikeraskan sedikit. "Apakah perjalanan dari ibu kota melelahkan? Apakah masakan istana lebih enak dari bebek peking di meja sana? Kenapa Yang Mulia terlihat sedikit kurus, apakah Yang Mulia kurang tidur akhir-akhir ini? Dan untuk Ratu yang paling cantik, apakah kau membawa... eh maksudku, apakah Yang Mulia suka makan manisan tanghulu?"

Mendengar ocehan tanpa henti itu, gadis-gadis di sebelah mereka merinding ketakutan. Lin Yue bahkan memucat, mengira Yui akan dipenggal karena tidak sopan pada Raja.

Tapi alih-alih marah, Raja Shen Tianyi justru tertawa lepas. Suara tawanya yang dalam membuat banyak orang terpesona. Sudah menjadi rahasia umum di kekaisaran bahwa Raja dan Ratu sangat, sangat menyayangi anak-anak. Hal ini menjadi alibi yang luar biasa sempurna bagi reuni keluarga rahasia ini.

"Anak yang sangat cerewet dan penuh semangat," kekeh Raja Tianyi, mencubit pelan hidung Yui persis seperti yang selalu dilakukannya di istana. "Perjalanannya menyenangkan, Nak. Dan ya, aku sedikit kurang tidur karena harus mengurus beberapa urusan negara... dan memikirkan anak-anak yang sedang belajar jauh dari rumah."

Ratu Luoxue tersenyum manis, membelai pipi Yui perlahan. "Aku sangat suka manisan tanghulu. Terutama jika dibagikan dengan anak-anak pintar sepertimu. Pastikan kalian makan yang banyak malam ini, tumbuhlah menjadi kuat dan hebat."

Ratu kemudian beralih menatap Yuan yang sedari tadi diam menahan haru. Sang Ratu menepuk pundak Yuan dengan bangga. "Dan kau, jagalah saudaramu baik-baik. Jangan terlalu keras padanya, tapi pastikan dia tidak berbuat nakal."

Yuan menelan ludah, matanya menatap mata bundanya lekat-lekat. Ia membungkuk hormat, menyembunyikan senyum tulusnya. "Hamba mengerti, Yang Mulia. Hamba akan selalu menjaganya."

Raja dan Ratu saling melempar pandangan penuh arti, lalu tersenyum puas sebelum akhirnya kembali berjalan melanjutkan sapaan mereka kepada warga lain.

Begitu pasangan nomor satu itu berlalu, Lin Yue dan ketujuh gadis itu langsung lemas dan terduduk di tanah sambil menghela napas lega.

"Yui! Kau gila ya?!" omel Lin Yue sambil memukul lengan Yui. "Jantungku hampir copot! Bagaimana kalau Raja marah karena kau bertanya soal bebek dan jam tidurnya?!"

Yui hanya tertawa bangga sambil mengusap hidungnya yang tadi dicubit ayahnya. Perasaannya meluap-luap penuh kebahagiaan. "Hahaha! Tenang saja, Lin Yue! Bukankah kau sendiri yang bilang mereka itu penguasa yang baik hati? Raja itu tidak akan pernah tega menghukum anak semanis dan setampan diriku!"

Yuan melirik adiknya dari sudut mata. Ia mendengus pelan, lalu menepuk pundak Yui dengan sedikit lebih lembut dari biasanya.

"Ayo," kata Yuan, tersenyum kecil melihat meja perjamuan. "Para petinggi sudah mengangkat gelas. Waktunya kita menghabiskan bebek peking itu sebelum kau mati kelaparan, Adikku."

***

Likeeeee karyakuuuuuu

1
Tai
kapan selesai nya pakai sikat gigi😭
Tai
cukup aku tertawa 😭
Tai
yuan tega🤣
Tai
Rui😭😭😭
Tai
bisa bisanya 😭dasar anak nakal
Tai
ngakak membayangkan nya😭
Tai
😭😭😭
Tai
aku membayangkan perannya anak sd😭
Tai
iya es buah emang enak Rui 😭
Tai
ada es buah juga 😭
Biru
🤭
Tai
gara gara lucu,😭
Tai
pink
Tai
suka pertama 😭
Tai
panik sendiri jadinya🤣
Tai
ngakak bagian ini😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!